HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 37: Perbincangan Serius



“Anuuu...” Luna mulai gugup berkeringat.


Setelah Tio pergi meninggalkan rumah dan menuju ke minimarket, keadaan di ruang tamu pun menjadi canggung. Hanya tinggal ibu Tio dan Luna yang tersisa. Luna mulai kebingungan, dia tidak tahu harus berbuat apa. Tak lama, ibu Tio memulai kembali pembicaraan


“Sekarang Tio sudah pergi bukan?" Kata ibu Tio.


“I-iya bu." Luna sedikit takut.


“Baiklah ibu akan menanyakan hal yang ibu tidak ingin Tio tahu." Lanjut ibu Tio.


Dengan tatapan mencekam ibu Tio menatap Luna, Luna pun harus sangat berhati-hati dengan apa yang dia katakan. Ibu Tio kali ini sangat berbeda, beliau menjadi sedikit menakutkan. Jadi tujuan ibu Tio menyuruh Tio ke minimarket adalah ingin bertanya kepada Luna lagi. Luna merasa seperti terjebak, dia tidak bisa kabur karena sepedanya dibawa oleh Tio.


“Apa itu, bu?” Jawab Luna dengan pelan.


“Selain yang kamu katakan tadi, kenapa kamu ingin berteman dengannya?” Tanya ibu Tio.


Luna tidak bisa lari lagi, dia harus dengan jujur menjawab pertanyaan dari ibu Tio. Tidak ada celah bagi Luna untuk menghindarinya.


“Baiklah aku akan jawab yang sebenarnya. Jujur aku sedikit kasihan dengannya. Aku ingin sekali membantunya dan setelah melihat itu semua, aku sangat ingin melindunginya. Aku tidak mungkin mengatakan hal itu langsung kepadanya, dia pasti akan marah kepadaku." Jawab Luna.


“Baik, kali ini ibu puas dengan jawabanmu. Lalu tentang suatu hal tadi apa yang terjadi?” Lanjut ibu Tio.


Ibu Tio bertanya tentang hal yang tidak bisa diceritakan oleh Luna. Ibu Tio masih penasaran dengan apa yang terjadi dan kenapa sampai mereka bisa berteman. Ini belum pernah terjadi sebelumnya.


“Tetapi ini sedikit mustahil untuk diceritakan. Saya tegaskan terlebih dahulu, apakah ibu mau mempercayainya?" Luna memastikan.


“Ibu percaya padamu selama kamu benar-benar jujur. Setelah mendengar jawabanmu sebanyak tadi, ibu sedikit menaruh harapan padamu." Kata ibu Tio.


Luna menarik nafas panjang, dia bersiap untuk bercerita kepada ibu Tio. Tidak ada pilihan lain selain menuruti kemauan ibu Tio sekarang. Luna kemudian mulai menceritakan hal yang mustahil bagi ibu Tio.


“Baiklah akan aku jelaskan sedikit. Pertama-tama, ibu ingat tentang fenomena salju kemarin?” Tanya Luna.


“Iya ibu ingat, memang ada apa tentang itu?” Balas ibu Tio.


“Itu bukanlah fenomena biasa. Bagi orang dewasa mungkin itu hanya hujan salju, tapi bagi kami para remaja dan anak-anak itu adalah hujan kartu." Jelas Luna.


“Kartu? Kartu apa maksudmu?” Ibu Tio mulai tidak mengerti.


Ibu Tio mulai kebingungan padahal baru awalnya saja dari seluruhnya. Luna mencoba menjelaskan sebisa mungkin dan sejelas yang dia bisa.


"Kalau begitu ibu minta maaf, silahkan lanjutkan." Ucap ibu Tio.


Luna melanjutkan penjelasannya. Dia sangat berhati-hati saat memilih kata yang akan di katakan kepada ibu Tio. Agar nantinya paling tidak ibu Tio sedikit paham dengan apa yang disampaikannya.


"Karena orang dewasa tidak bisa melihat kejadian sesungguhnya di balik salju yang turun kemarin. Intinya salju itu adalah para monster yang turun ke dunia manusia dengan berbentuk kartu." Lanjut Luna.


“Jadi begitu, salju itu bukan salju yang turun seperti biasa. Lalu di mana letak kalian bisa berteman?” Ibu Tio bertanya kembali.


“Di pagi setelah kejadian itu, aku bertemu Tio di gerbang sekolah. Aku salah satu orang yang beruntung karena mendapatkan monster level tinggi. Setelah Tio mengetahui monsternya level rendah, dia sedikit kesal kepadaku. Kelakuan monsterku saat itu sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Monsterku mengejek monster milik Tio dan wajar kalau saat itu Tio marah kepadaku. Lalu aku mengajaknya berduel dengan taruhan jika aku menang dia harus mengikuti apa saja perintahku dan jika aku kalah, aku akan menjauh darinya dan tidak akan pernah lagi mendekatinya. Kami pun berduel dan aku menang, aku hanya meminta agar aku dijadikan temannya dan meminta maaf atas kejadian pagi itu.” Jelas Luna.


Ibu Tio mendengarkan penjelasan Luna dengan antusias. Ibu Tio sudah benar-benar tidak paham lagi dengan apa yang dibicarakan oleh Luna. Meski begitu, Luna tidak memperlihatkan jika dirinya sedang berbohong. Ibu Tio mencoba mengikuti alur cerita Luna.


“Tapi bukankah itu curang? Jika monster milikmu lebih bagus dari Tio berarti sejak dari awal kesempatan menangmu lebih besar darinya.” ibu Tio mencoba mempercayai cerita Luna tentang monster.


“Memang begitu keadaannya, secara tidak langsung aku memanfaatkan keadaan saat itu. Aku memprovokasi Tio agar Tio mau berduel denganku, jika aku tidak memanfaatkannya mungkin sampai saat ini Tio masih sendiri. Dan saat kemarin para pem-bully datang ke kelas, aku pun mungkin akan diam saja membiarkan Tio di-bully di depan banyak orang. Tapi saat itu aku sudah berteman dengannya, aku benar-benar marah sast itu sehingga aku membanting mejaku sendiri demi mengusir mereka. Bisa-bisanya semua orang acuh dengan seseorang yang sedang diperlakukan tidak adil, aku benar-benar marah.” Luna menjawab semua pertanyaan dari Ibu Tio.


Luna bercerita sambil menangis di depan ibu Tio. Air matanya mengalir dan menetes melewati pipinya. Setelah itu semua, tiba-tiba ibu Tio juga menangis. beliau sudah mencapai batasnya. Semua beban yang selama ini ibu Tio pikul sudah tersampaikan ke orang lain. Ibu Tio langsung berdiri dan memeluk Luna


“Syukurlah." Ibu Tio menangis sambil memeluk Luna.


“Kenapa bu..? Apa aku membuat kesalahan?” Luna semakin kebingungan.


Ibu Tio menghentikan pelukannya. Beliau menatap wajah Luna dengan ekspresi bahagia.


“Tidak nak, tidak. Ibu hanya senang mengetahui kamu memang anak yang baik." Balas ibu Tio.


“Tidak bu, aku hanya ingin sedikit menolongnya. Mungkin aku tidak sebaik yang ibu pikirkan.” Jawab Luna.


“Tapi ibu ingin kau berjanji satu hal. Apa yang akan kamu lakukan jika kamu membuat Tio kecewa seperti para pem-bully itu?” Tanya ibu Tio.


“Aku akan menjauhi Tio sejauh mungkin bu. Aku berjanji dan ini janji antara perempuan. Jadi izinkan aku berteman dengannya.” Jawab Luna sambil menundukkan kepalanya.


Luna meminta persetujuan dari ibu Tio. Luna benar-benar ingin membawa Tio ke kehidupan barunya yang dikelilingi oleh teman yang peduli dengannya. Karena Luna telah memiliki rencana untuk Tio kedepannya. OSIS adalah rumah yang bagus untuk Tio selama di sekolah. Orang-orang di OSIS juga semuanya baik.


“Baiklah ibu terima janjimu. Jaga Tio dengan baik.” Ibu Tio sedikit tersenyum.


Luna pun turut senang. Keberadaan Luna kini telah diakui oleh Tio dan bahkan oleh ibunya. Namun mulai dari sini Luna harus lebih berhati-hati karena dia sudah berjanji pada ibu Tio dan janji itu lumayan berat untuknya. Luna tidak boleh membuat Tio kecewa.