HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 57: Kesalahan Besar



Setelah Andreas selesai berbicara, keadaan ruangan menjadi senyap. Para guru saling berdiskusi dan menunjukkan raut pucat pada wajahnya. Mereka semua seperti ingin lari dari masalah. Kemudian Andreas melanjutkan berbicara.


“Kalian semua telah mempertaruhkan keselamatan dari salah satu siswa. Inilah yang terjadi saat kalian mengambil keputusan tanpa memperhatikan dari sudut pandang dari yang memiliki masalah. Hanya satu yang saya tegaskan di sini. Bahkan setelah kejadian ini, OSIS saja sudah tidak bisa melindungi keselamatan Tio saat di luar sekolah. Lalu saya tanya bagaimana dengan pertanggungjawaban komite ini?” Ucap Andreas dengan nada tinggi.


Andreas kembali emosi, dia geram dengan kelakuan para komite yang seenaknya mengambil keputusan. Bahkan para guru menentang jika keputusan mereka itu salah, namun setelah Andreas menjelaskan malah sebaliknya. Mereka seakan lupa dengan apa yang mereka putuskan kemarin.


“Anu.. kami..” Perkataan kepala sekolah terpotong.


Mendengar kepala sekolah yang kebingungan membalas ucapan Andreas, Andreas langsung memotong pembicaraan kepala sekolah yang ingin mencari-cari alasan.


“Kami tidak menerima alasan apapun. Kalian semua lah yang telah mengambil keputusan ini, kalian harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu kepada Tio. Jadi, bagaimana keputusannya?” Potong Andreas.


Andreas telah berhasil membekuk para komite, sekarang mereka sudah tidak bisa beralasan ataupun lari lagi. Kepala sekolah pun kemudian meminta saran dari guru olahraga.


“Pak Indra, bagaimana ini? Bukankah anda yang bertanggung jawab atas anak itu?” Kepala sekolah mengalihkan topik pembicaraan.


Kepala sekolah terlihat sekali ingin melimpahkan semua kesalahannya kepada guru olahraga. Karena sesuai perjanjian jika guru olahraga bertanggung jawab penuh atas anak itu, namun hanya untuk segi pelajaran olahraga saja.


“Tanggung jawab saya hanyalah tentang pelajaran saja, saya menolak untuk bertanggung jawab atas hal ini. Tugas seorang guru adalah mengajar murid-muridnya, itu sudah kewajiban. Bukankah kemarin sudah saya bilang bukan kalau keputusan ini bukanlah keputusan yang bagus. Dan saat kalian memutuskan tentang ini hanya saya yang tidak setuju dengan keputusan ini. Saya juga tidak ikut menandatangani keputusan dan tidak ikut bertanggung jawab setelah keputusan ini diambil.” balas pak Indra dengan dingin.


Ternyata guru olahraga tidak menyetujui keputusan yang di ambil para komite. Pantas saja sewaktu di ruang guru beliau sangat antusias dengan rapat ini. Jawaban guru olahraga sudah benar, tidak sepantasnya beliau yang bertanggung jawab.


Aku sendiri hanya bisa diam mendengarkan. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mereka semua. Dari Andreas yang berani menentang kepala sekolah hingga pak Indra yang mengabaikan perintah karena memang beliau tidak ada hubungannya dengan keputusan itu. Pak Indra adalah satu-satunya orang yang menolak keputusan itu kemarin.


Kepala sekolah sudah kehilangan kepercayaan dirinya. Beliau sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi, semua sudah terjadi dan semua juga tidak bisa di ulang kembali.


“Tapi pak..” Kepala sekolah mulai ketakutan.


Kepala sekolah dan semua guru yang ada di komite ini semuanya sudah kehilangan arah. Tidak ingin nasib temannya terancam, Andreas menyuruh Aria membuat surat pernyataan


"Segera buat surat pernyataan. Kita akan memerlukannya untuk membuat perjanjian dengan kepala sekolah dan para komite" Tulis Andreas.


Andreas mengirim pesan ke smartphone Aria. Pesan itu memberi tahu Aria apa yang harus dia tulis. Aria mengecek smartphone miliknya. Setelah melihat ada sebuah pesan dari Andreas, Aria sedikit protes.


Kling.. (bunyi notifikasi)


“Andreas, kita kan ada di ruangan yang sama? Lalu kenapa kamu mengirim pesan padaku?” Bisik Aria.


“Sudah buka pesan itu dan buat segera. Kita masih ada materai kan di ruang OSIS?” Balas Andreas bertanya.


“Masih, memang mau buat apa?" Aria sedikit heran.


"Baca pesannya, nanti kamu akan tahu." Suruh Andreas.


"Baiklah akan aku baca dahulu." Balas Aria.


“Sudah selesai.” Aria telah menyelesaikan tugasnya.


Andreas mengecek pekerjaan Aria. Surat yang ditulis oleh Aria sudah benar, sekarang tinggal di cetak.


“Baiklah Kevin, segera ambil printer yang bisa untuk scan di ruang OSIS.” Suruh Andreas.


“Hah? Untuk apa?” Tanya Kevin.


“Sudah ambil saja, kamu akan tahu nanti.” Jawab Andreas.


Kevin langsung bergegas meninggalkan ruang rapat. Setelah mendengar itu, para guru mulai keheranan dengan apa yang OSIS rencanakan. Untungnya para guru masih belum sadar apa yang Andreas rencanakan. Sekembalinya Kevin dari mengambil printer di ruang OSIS, Andreas langsung bertindak. Andreas menghubungkan printer ke laptop milik Aria lalu mencetak surat pernyataan yang sudah dibuat. Kemudian Andreas menempelkan sebuah materai lalu mulai berbicara


“Baik, aku baru saja membuat sebuah surat pernyataan. Silahkan baca dan tanda tangani. Jika kalian menolak, smartphone milikku sudah siap untuk menelepon kantor polisi sekarang juga.” Tegas Andreas.


Kepala sekolah dan komite sangat tidak menyangka dengan apa yang di lakukan oleh Andreas. Mereka baru sadar jika para OSIS merencanakan untuk membuat surat pernyataan.


"Kami tidak harus setuju dengan itu." Seorang guru keberatan.


"Silahkan, lagipula kami sejak tadi merekam semua pembicaraan kalian di sini." Andreas mengeluarkan smartphone miliknya.


Guru itu langsung terbungkam. Meskipun sempat ada penolakan, pada akhirnya kepala sekolah ingin melihat isi surat pernyataan itu.


"Biarkan kami melihat isinya." Ucap kepala sekolah.


Andreas membawakan surat pernyataan kepada kepala sekolah. Para guru beserta kepala sekolah membaca surat itu dengan seksama. Ada 7 kolom tanda tangan di surat itu dan kolom untuk kepala sekolah bermaterai. Walau sebenarnya ada 8 orang saat rapat kemarin, namun guru olahraga tidak menyetujui sama sekali, jadi kami tidak memasukkan beliau. Setelah membaca surat itu, kepala sekolah mulai merasa keberatan.


“Ini sungguh tidak bisa diterima. Kami semua adalah orang penting di sekolah ini dan kami semua berhak mengambil kebijakan apapun.” Kepala sekolah melakukan pembelaan


“Tapi kalian semua sangat tidak berhak mengambil paksa kebebasan orang lain, bahkan Tio itu murid kalian sendiri. Betapa tega kalian kepada siswa sendiri.” Balas Andreas.


“Pokoknya kami tidak akan tanda tangan." Salah satu guru menolak.


“Baik kalau begitu, kalian akan berbicara semua itu di depan yang berwajib. Saya siap menaikkan kasus ini dan ayah saya memiliki pengacara.” Andreas mulai memanggil nomor di smartphonenya.


“Tunggu, hentikan itu. Baiklah kami akan tanda tangani surat itu. Asal kamu hentikan panggilan itu.” Kepala sekolah ketakutan menghentikan Andreas.


“Baik, segera lakukan.” Balas Andreas sambil mematikan telepon.


Andreas menyodorkan surat pernyataan itu. Satu persatu para guru menandatangani surat itu. Setelah selesai, Andreas memeriksa kembali tanda tangan para guru dan setelah valid, Andreas mengkopi surat itu melalui printer.


“Aku sudah mengkopi surat ini. Satu kopi untuk kalian, satu kopi untuk Tio dan yang asli akan kami bawa.” Jelas Andreas.