
“Aku benar-benar minta maaf, aku terbiasa seperti itu karena sejak aku kecil teman-temanku selalu meminta lebih dari apa yang telah dia keluarkan untukku. Aku tidak tahu jika jumlah segitu terlalu banyak untukmu. Sekali lagi aku minta maaf.” Astrid meminta maaf.
Astrid menundukkan kepalanya, aku merasa tidak tega melihat Astrid yang menunduk ketakutan seperti itu. Ternyata ada alasan kenapa Astrid mengembalikan sebanyak itu karena teman-temannya dulu sering memanfaatkan Astrid. Aku tidak tahu jika Astrid juga memiliki masalahnya sendiri. Aku berusaha memahami karena kami berdua sesama orang yang memiliki masalah. Aku kemudian menenangkan diri lalu kembali membalas permintaan maafnya.
“Sudah aku tidak marah kok. Aku hanya ingin mengembalikan apa yang bukan hak ku.” Balasku.
Astrid kemudian segera berdiri biasa setelah aku bilang tidak marah. Wajah Astrid terlihat seperti sedang menghawatirkan sesuatu yang begitu dia takutkan, dia juga tampak kebingungan.
“Benar kamu tidak marah?” Astrid memastikan.
“Iya, aku tidak marah. Apa mungkin kamu teringat saat aku konflik dengan Andreas dulu?” Tanyaku.
“Iya, maka dari itu aku sedikit takut saat kamu bicara seperti itu. Aku jadi merasa bersalah dengan apa yang aku lakukan kemarin.” Jawab Astrid dengan nada pelan.
Dugaanku ternyata benar. Aku memang sedikit arogan dulu saat pertama masuk ke OSIS. Itu semua karena memang aku tidak tahu harus melakukan apa saat berbicara dengan orang baru. Selain itu, dulu aku memang belum terima kenapa aku mendapat monster lemah seperti ini. Tidak di dunia game ataupun dunia Battlefield, aku hanyalah orang yang lemah. Tetapi itu pemikiranku yang dahulu, sekarang aku mencoba menerima semua itu, karena semua yang ada di OSIS telah baik padaku.
“Asal kamu tahu Astrid, aku yang sekarang bukanlah seperti aku saat masuk ke OSIS dulu. Setelah kalian menyambutku dan juga setelah apa yang aku alami kemarin ketika beberapa hari aku masuk rumah sakit, sekarang aku sadar bahwa aku pun harus berubah. Aku harus bisa membaur dengan kalian semua bagaimanapun caranya. Aku harus melawan rasa takutku bertemu dengan orang lain. Berkat kalian juga aku bisa terbebas dari orang-orang yang selama ini menggangguku. Aku harusnya berterima kasih pada kalian termasuk kamu, Astrid.” Jelasku.
Aku berusaha menenangkan Astrid. Aku sudah tidak ada alasan lagi untuk marah kepada siapapun, aku juga mulai sekarang sudah memaklumi Andreas sejak kejadian kemarin. Aku tidak ingin ada salah paham lagi dengan semuanya.
“Syukurlah kalau begitu! Tapi jika kamu mengembalikan pulsa kemarin, aku harus mengganti dengan apa?” Tanya Astrid yang kembali ceria.
“Tidak usah mengganti pun tidak apa-apa!” Jawabku.
“Hus.. Jangan begitu! Aku juga telah membuat kesalahan, jadi paling tidak biarkan aku melakukan sesuatu untukmu.” Sahut Astrid.
Astrid tetap saja memaksa untuk mengganti pulsaku yang kemarin dia pakai. Sepertinya aku harus mengalah dan menerima apa yang akan dia berikan selama masih masuk akal.
“Hmm.. bagaimana ya? Baiklah ganti dengan cara lain saja jika kamu bersikeras, tapi ingat! Harus yang wajar-wajar saja.” Balasku menerima tawaran Astrid.
Astrid terlihat sangat senang, dia kemudian berpikir keras setelah aku bilang begitu. Astrid kemudian mondar-mandir sambil berpikir dia harus mengganti dengan apa? Namun kemudian dia mendapatkan suatu ide.
“Bagaimana jika aku traktir di kantin nanti siang?” Saran Astrid.
Nah ini baru aku mau, tawaran Astrid kali ini sangat menggiurkan bagiku. Aku lebih senang di traktir di kantin daripada harus menerima dalam jumlah besar seperti kemarin. Aku pun menyetujui tawaran Astrid.
“Boleh, kebetulan aku lupa sarapan karena berangkat terlalu pagi tadi.” Aku setuju.
Gara-gara Astrid, aku sampai lupa sarapan pagi ini. Bahkan aku berangkat ke sekolah saja masih dalam keadaan mengantuk karena harus berangkat pagi. Sebenarnya tidak hanya untuk ini aku bangun pagi karena hari ini adalah jadwal piketku, tapi tetap aja aku tidak sarapan pagi ini.
Astrid terlihat puas dengan kesepakatan yang basu saja kami buat. Akhirnya aku bisa membuat Astrid tidak lagi khawatir akan dugaannya jika aku akan marah, aku pun ikut senang.
“Iya, iya. Nanti aku ke sana! Baiklah sampai nanti.” Aku bergegas menuju kelas.
Akhirnya masalah uang dengan Astrid sudah selesai, sekarang aku tidak lagi merasa berhutang kepada Astrid. Aku sangat lega sekali pagi ini, sekarang waktunya menuju ke kelas untuk mengerjakan piket sebelum kelas semakin ramai. Jam sudah menunjukkan waktu di mana para siswa datang ke kelas, aku harus cepat.
“Eh tunggu sebentar Tio!” Astrid menghentikanku
“Apa lagi?” Tanyaku.
Astrid membuka amplop yang kuberi tadi, dia juga mengeluarkan dompet dari tasnya. Astrid mengeluarkan semua uang yang ada di amplop itu kemudian Astrid memasukkan sebagian banyak ke dompetnya dan menyisakan sedikit lalu dimasukkan kembali ke amplop itu.
“Ini aku kembalikan 20% uangnya untuk orangtuamu.” Astrid mengembalikan amplop itu padaku.
“Tapi..” Aku terhenti bicara.
“Dengar dulu, ini untuk orangtuamu. Bagaimana juga uang ini pasti dari orangtuamu bukan? Jadi aku titip ini untuk mereka, jadi terima ya!” Jelas Astrid.
Aku sebenarnya keberatan di sini, tapi setelah Astrid bilang begitu aku pun berpikir dua kali. Aku terpaksa menerimanya, lagipula itu juga untuk ibu nantinya. Astrid tidak bilang bahwa ini untukku, jadi kali ini aku menerimanya.
“Baiklah aku terima, nanti akan kusampaikan pada ibuku.” Balasku.
Astrid kemudian memberikan amplop itu dan aku menerimanya. Aku melihat terus ke arah amplop yang aku pegang. Aku hanya bisa menghela nafas dengan tingkah laku Astrid yang sulit ditebak.
“Oke, oke. Sampai ketemu nanti.” Lanjut Astrid.
Astrid kemudian pergi meninggalkanku, dia bergegas berjalan menuju kelasnya. Aku melihat ke arah Astrid pergi kemudian melihat kembali amplop yang aku pegang. Aku memasukkan amplop berisi uang itu ke dalam tas karena aku takut hilang jika tidak aku simpan dengan benar. Ini di sekolah, banyak kasus kehilangan barang termasuk uang yang dilaporkan para siswa. Aku takut jika uang yang dikembalikan untuk ibu diambil orang nantinya jika aku tidak berhati-hati.
Aku pun bergegas menuju kelas karena urusanku sudah selesai. Aku berpikir ternyata di luar sana masih banyak orang yang baik padaku dan semoga saja tidak hanya di OSIS, suatu hari aku pasti akan bertemu dengan orang-orang baik seperti mereka lagi.
Astrid yang sedang berjalan menuju ke kelasnya kemudian tersadar dengan apa yang barusan Tio katakan. Ada keanehan saat Astrid mendengar kata-kata Tio yang terakhir.
“Hah.. Ibuku?” Astrid heran.
Astrid heran kenapa Tio hanya menyebut ibunya saja. Memangnya ayahnya ke mana? Apakah ayahnya bekerja jauh dari rumahnya? Pertanyaan-pertanyaan muncul di benak Astrid. Akan tetapi apakah dia harus menanyakannya?