
Hari esok telah datang. Di hari yang cerah ini aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Namun hari ini sedikit berbeda, pada hari ini aku diajak ke pertemuan para OSIS.
Yang dari tadi aku pikirkan hanyalah bagaimana caraku menanganinya nanti. Kemarin aku mengambil keputusan tanpa bertanya bagaimana orang-orang yang ada di dalam OSIS. Mungkinkah ada pem-bully juga di sana? Aaahhhh aku khawatir, aku jadi sedikit tidak tenang hari ini.
Sesampainya di kelas, yang aku lakukan juga seperti biasa. Aku menuju tempat dudukku di pojokkan kelas. Satu-satunya yang tidak berbeda adalah sapaan pagi dari Luna. Aku sampai sudah terbiasa dengannya.
“Pagi Tio." Sapa Luna.
“Pagi juga." Balasku.
Aku melewati belakang Luna lalu kemudian duduk di kursiku. Aku meletakkan tasku di atas meja. Luna melihat ke arahku lalu bertanya.
“Sudah siap untuk hari ini?” Tanya Luna.
“Tunggu, tunggu sebentar. Bagaimana orang-orang di OSIS? Apa mungkin ada salah satu pem-bully-ku di sana?” Balasku bertanya.
“Ehh apa maksudmu?” Luna heran.
Aku harus meminta Luna menjelaskan semua orang yang ada di OSIS. Aku tidak mau ke sana sebelum Luna memberitahu semuanya.
“Sudah jawab saja, aku kemarin mengambil keputusan tanpa bertanya kepadamu dahulu bagaimana orang-orang di OSIS. Aku sedikit khawatir hari ini." Balasku sedikit memaksa.
“Oh tenang saja, semua yang di OSIS baik-baik kok. Bahkan ketua OSIS kemarin langsung pergi membuatkanmu badge setelah aku kabari kemarin." Jawab Luna.
“Syukurlah kalau begitu, aku sedikit lega." Aku menghela nafas.
Bel masuk pun berbunyi, semua siswa bergegas memasuki kelas lalu duduk di tempat masing-masing. Guru pun sudah datang dan semua siswa memulai pelajaran seperti biasa. Namun beberapa saat kemudian datanglah seorang gadis berambut pendek berwarna putih-keperakan mengetuk pintu.
“Permisi..” Ucap gadis itu.
“Ya silahkan, ada perlu apa?” Tanya guru yang mengajar di kelas.
Gadis itu kemudian masuk ke dalam kelas. Di lengannya terdapat badge OSIS, gadis itu juga membawa dua lembar kertas di tangannya.
“Ini pak, saya mengantar undangan OSIS untuk 2 orang di kelas ini." Jawab gadis itu.
“Oh, untuk siapa saja?" Tanya guru lagi
“Untuk Luna dan Tio." Gadis itu menyodorkan kertas undangan ke pak guru.
Sontak seluruh kelas terkejut. Mereka saling berbisik satu sama lain, karena selama ini para siswa kelasku tidak tahu jika Luna adalah anggota OSIS. Dan yang lebih heboh adalah mereka menggosip tentangku. Karena orang sepertiku dipanggil oleh OSIS, itu membuat mereka tidak menyangka. Mungkin Luna benar, ini awal dari menjauhkanku dari para pembully itu.
Pak guru membaca surat undangan yang diberikan oleh gadis itu. Setelah selesai, pak guru mempersilahkan aku dan Luna untuk meninggalkan kelas.
“Baiklah, silahkan Luna dan Tio untuk segera mengikuti rapat." Ucap pak guru.
Guru yang mengajar pun menandatangani undangan yang disodorkan gadis itu sebagai bukti aku dan Luna tidak mengikuti pelajaran dan mengikuti rapat OSIS.
“Ayo kita segera bergegas." Ajak Luna sambil membawa tas miliknya.
“Loh tasnya di bawa?” Tanyaku.
“Iyalah, kemungkinan rapat ini sampai sore, jadi kita tidak ikut pelajaran seharian. Bukankah kemarin aku sudah bilang!" Jawab Luna.
Aku mengikuti Luna apa kata Luna. Aku bergegas berdiri dan merapikan tempat dudukku. Aku juga membawa tasku dan mengikuti Luna dari belakang.
“Permisi pak, kami pergi ke rapat dahulu." Pamit Luna kepada pak guru.
“Ya silahkan." Balas pak guru.
Aku menunduk dan mengikuti Luna keluar kelas. Di luar kelas, Luna berjalan bersama gadis itu tadi. Luna dan gadis itu asyik berbincang, sedangkan aku di belakangnya hanya diam saja. Kami pun segera menuju ruang OSIS.
“Jadi ini orang yang kemarin kamu maksud?” Tanya gadis itu ke Luna.
“Iya, dia orangnya." Jawab Luna.
“Hmm.. Lumayan juga." Balas gadis itu.
“Hus, kamu itu memang kebiasaan ya." Sindir Luna
“Hehe, maaf." Lanjut gadis itu sambil tertawa.
Aku di belakang mereka berusaha untuk tidak mendengarkan pembicaraan mereka. Berurusan dengan Luna saja sudah membuatku lelah apalagi ditambah satu ini. Jika gadis ini juga sama seperti Luna, aku sudah tidak tahu mau berbuat apa.
Tiba-tiba gadis itu berhenti. Dia berjalan berbalik arah menuju tempatku. Dia kemudian menanyaiku.
“Hei kamu, siapa namamu?” Tanya gadis itu
“A-aku?” Aku menunjuk diriku sendiri.
“Iya kamu, memangnya aku bertanya pada siapa lagi selain kamu?” Balas gadis itu.
“Ahh, aku Tio. Salam kenal." Aku memperkenalkan diri dan menundukkan kepala.
“Oh namamu Tio. Aku Astrid, salam kenal juga." Astrid memperkenalkan diri.
Dekatnya dia sekarang, dia juga sekarang sedang mengitariku. Aku mohon sedikit menjauh dariku. Aku tidak terbiasa dengan gadis yang terlalu aktif seperti dia. Aku sedikit terganggu dengan perilaku Astrid yang mengitariku dari tadi.
“Luna tolong aku." Bisikku ke Luna.
Luna mendengar bisikanku. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Luna mencoba untuk menghentikan Astrid.
“Hei Astrid! Ayo segera bergegas, semua pasti sudah menunggu. Selain itu kamu membuatnya sedikit takut, dia tidak terbiasa dengan orang asing jadi berhentilah mengganggunya." Luna menegur Astrid.
“Oh maafkan aku, sungguh aku minta maaf. Aku sudah terbiasa begini. Aku tidak tahu tentang dirimu jadi sekali lagi aku minta maaf." Astrid menundukkan kepalanya.
Akhirnya anak satu ini berhenti juga. Dia kemudian sedikit menjauh dariku dan mendekat ke Luna.
“Ti-tidak apa-apa. Ayo segera ke ruang OSIS." Balasku
“Baiklah, ayo!" Lanjut Astrid.
Kami pun segera menuju ruang OSIS karena semua sudah menunggu di sana. Namun sesaat setelah kami melanjutkan berjalan, aku terpikir akan sesuatu. Tidak ada salahnya aku mengajak Astrid untuk mengobrol. Akan tetapi aku tidak tahu apa yang harus aku tanyakan. Aku teringat dengan pertanyaanku ke Luna sewaktu di kelas. Aku akan mencoba bertanya juga kepada Astrid.
"Hei Astrid!" Aku memanggil Astrid.
"Ya?" Astrid menoleh kepadaku.
"Bagaimana dengan orang-orang di OSIS? Maksudku apakah mereka semua orang-orang yang baik?" Tanyaku kepada Astrid.
Luna tersenyum melihatku, sedangkan Astrid kebingungan dengan apa yang sedang aku tanyakan. Namun pada akhirnya Astrid tetap menjawabnya.
"Hmm.. Aku pikir semuanya baik kok." Astrid terlihat berpikir.
"Syukurlah." Balasku.
Luna masih saja tersenyum saat aku bertanya kepada Astrid. Luna mengetahui jika itu hanya basa-basi semata.
"Astrid Astrid!" Ucap Luna
"Ada apa lagi Luna?" Balas Astrid.
"Tidak, tidak apa-apa." Jawab Luna.
Kami akhirnya sampai di depan ruang OSIS. Astrid dengan bangga memberi tahu kepadaku jika kita sudah sampai.
"Kita sudah sampai. Inilah ruang OSIS kebanggaan kita!" Ucap Astrid.