HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 65: Lekas Sembuh



Aria lupa jika dia tadi tidak pamit saat pergi. Pantas saja kakaknya mengirim pesan dan menanyakan keberadaan Aria. Aria segera membalas pesan dari Airi agar kakaknya tidak terlalu menghawatirkannya.


“Sebentar lagi aku pulang, aku sedang pergi ke rumah sakit bersama Luna sekarang. Aku tidak kenapa-kenapa, aku dan Luna hanya menjenguk teman yang sedang dirawat di rumah sakit. Aku juga akan menjelaskan semua saat di rumah nanti, jadi kakak tidak perlu khawatir.” Balas Aria.


Aria telah membalas pesan dari kakaknya, dia sampai lupa pamit kepada kakaknya karena terlalu panik tadi sore. Aria hanya berharap kakaknya bisa mengerti nantinya.


Karena sudah habis waktu bagi Andreas serta Ryan dan Astrid, Astrid berinisiatif mengajak semuanya untuk pulang.


“Baiklah, ayo kita pulang. Waktu kita di sini sudah habis.” Ajak Astrid.


“Kamu benar Astrid, biarkan Tio beristirahat.” Lanjut Ryan.


Andreas pun memutuskan untuk pamit berhubung waktu untuk menjenguk sudah melewati 10 menit.


“Baiklah, kami bertiga pamit pulang dahulu, bu.” Pamit Andreas.


“Terima kasih nak sudah menjenguk dan terima kasih juga karena telah membantu Tio.” Balas ibu Tio berterimakasih.


“Sama-sama bu. Lalu kalian berdua?” Lanjut Andreas bertanya kepada Luna dan Aria.


Luna dan Aria saling bertatapan. Mereka berdua berdiskusi untuk segera pulang atau tetap tinggal karena memang Luna dan Aria tidak diberikan batas waktu untuk menjenguk Tio. Setelah sepakat, mereka berdua memutuskan untuk tetap tinggal sebentar lagi.


“Kami ingin sebentar lagi di sini.” Jawab Luna.


“Baiklah, kami pulang dulu. Hari mulai gelap, sebaiknya kalian juga bergegas pulang jika sudah selesai nanti.” Himbau Andreas.


“Sampai besok.” Astrid melambaikan tangan.


Andreas, Ryan dan Astrid pun pergi meninggalkan ruang ICU dan bergegas pulang. Setelah itu Luna pamit untuk keluar sebentar.


“Aku keluar sebentar.” Pamit Luna.


“Mau pulang sekarang?” Tanya Aria.


“Tidak, kan tadi kita sudah sepakat untuk tetap di sini sebentar lagi. Aku hanya ingin ke toilet sebentar.” Balas Luna.


Luna keluar dari ruang ICU dan menuju luar rumah sakit. Dia duduk di bangku di bawah pohon, kemudian dia mengeluarkan smartphone miliknya.


“Lebih baik aku telepon ibuku.” Luna kemudian menelepon ibunya.


Luna teringat jika dia belum pamit ketika pergi ke rumah sakit. Ibunya pasti akan khawatir kepadanya karena sampai jam segini belum pulang. Karena di dalam rumah sakit tidak ada sinyal, jadi Luna memutuskan untuk keluar sebentar.


Tuuuutttt.. (Bunyi panggilan)


“Halo nak, kamu di mana kok belum pulang?” Tanya ibu Luna dari telepon.


Benar saja, ibu Luna bahkan tidak berbasa-basi lagi. Ibu Luna sudah menunggu kepulangan Luna karena hari sudah malam namun dia belum juga pulang.


“Aku sedang di rumah sakit bu.” Jawab Luna


“APA?! Kamu kenapa nak?” Ibu Luna khawatir.


Sontak ibu Luna terkejut karena Luna hanya berbicara setengah-setengah. Luna kemudian menyuruh ibunya untuk tenang.


“Tenang dulu, bu. Aku baik-baik saja.” Luna menenangkan ibunya.


“Lalu ada apa kamu di rumah sakit?” Ibu Luna bertanya dengan serius.


Luna menjelaskan kepada ibunya kenapa dia berada di rumah sakit. Luna juga memberi tahu ibunya tentang kabar yang kurang baik untuk di dengar.


“Sebenarnya aku di rumah sakit karena Tio tidak sadarkan diri, bu. Dia dikeroyok orang jahat hingga luka-luka.” Luna memberitahu ibunya.


“Astaga.. Ibu turut prihatin. Lalu bagaimana keadaannya?” Balas ibu Luna bertanya.


“Dia mengalami retak tulang, bu. Karena itu, aku ingin meminta izin untuk ikut menemani Tio di rumah sakit. Boleh ya bu?” Luna memohon.


“Bukannya sudah ada yang menemani di situ?” Ibu Luna memastikan.


“Memang ada ibunya Tio. Namun kasihan kepada beliau yang terlihat lelah dan sepertinya kurang tidur. Jadi aku ingin menggantikan ibu Tio berjaga agar beliau bisa istirahat sejenak.” Jelas Luna.


Ibu Luna diam sejenak, Luna was-was dengan jawaban dari ibunya.


“Baiklah, apa boleh buat. Tapi hanya untuk malam ini saja.” Ibu Luna memberikan izin.


“Tapi ingat, besok harus masuk sekolah.” Tegas ibu Luna.


“Iya bu, pasti. Lagipula besok pagi-pagi sekali aku akan pulang ke rumah terlebih dahulu. Buku pelajaranku untuk besok masih di rumah bukan.” Lanjut Luna.


“Baiklah kalau begitu, nanti ibu akan beri tahu ayahmu. hati-hati saat berada di situ.” Balas ibu Luna dan mengakhiri panggilan.


Luna merasa senang karena telah diizinkan oleh ibunya. Akhirnya dia bisa sedikit meringankan beban ibu Tio. Luna segera kembali ke ruang ICU untuk memberitahu Aria jika dia tidak akan pulang malam ini. Aria menghampiri Luna dan membicarakan sesuatu.


“Kamu boleh pulang duluan, Aria.” Ucap Luna.


“Ehhh..? Lalu kamu?” Aria terkejut.


Luna memberitahu Aria jika dia akan menginap di rumah sakit. Luna ingin menemani ibu Tio malam ini karena telah diizinkan menginap oleh ibunya.


“Baru saja aku menelpon ibuku jika aku akan menemani ibu Tio untuk malam ini, jadi aku akan menginap di sini. Kamu pasti sudah dicari kakakmu bukan?” Lanjut Luna menjelaskan.


“Iya sih, tapi..” Aria bingung.


“Aku ingin menemani ibu Tio karena kasihan beliau kelelahan. Kasihan kakakmu pasti khawatir kamu belum pulang sudah malam begini.” Tegas Luna.


“Ya sudah mau bagaimana lagi. Aku akan pamit terlebih dahulu.” Balas Aria.


Akhirnya Aria mengalah, dalam lubuk hatinya sebenarnya Aria juga ingin menginap di sini. Namun mengingat kakaknya, pasti dia tidak akan mengizinkan Aria untuk menginap. Mereka berdua menghampiri ibu Tio dan Aria berpamitan untuk segera pulang.


“Bu, aku pamit pulang dahulu. Kakakku sudah mencariku.” Pamit Aria.


“Nak Luna juga pulang?” Tanya ibu Tio.


“Aku masih di sini bu.” Jawab Luna.


“Baiklah, hati-hati di jalan ya nak Aria.” Lanjut ibu Tio.


“Terima kasih, bu.” Balas Aria.


Kemudian Aria mendekat ke tempat tidur Tio. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Tio. Aria menempatkan telapak tangan kanannya di dekat bibirnya, Aria membisikkan sesuatu ke telinga Tio.


“Lekas sembuh.” Bisik Aria


Setelah itu, Aria memegang tangan kiri Tio dengan kedua tangannya. Setelah selesai, kemudian Luna mengantar Aria sampai depan rumah sakit sampai Aria mendapatkan taksi untuk pulang.


"Aku pulang dulu, tolong jaga Tio. Jika terjadi sesuatu padanya segera beri tahu aku." Pamit Aria.


"Pasti, pasti akan aku kabari." Balas Luna.


Aria mendapatkan sebuah taksi, Luna dan Aria saling melambaikan tangannya. Mereka berpisah di hari ini. Sesampainya di rumah, Airi telah menunggu Aria di depan rumah.


“Aria..!” Airi berlari menuju taksi yang berhenti di depan rumah


“Kak Airi, aku pulang.” Aria turun dari taksi.


Sesampainya di dekat taksi, Airi mengecek seluruh tubuh Aria dengan teliti. Ternyata benar Aria tidak apa-apa. Aria kemudian membayar taksi itu terlebih dahulu. Taksi itupun pergi setelah Aria membayar tagihannya.


“Dari mana saja kamu? Sampai malam begini baru pulang?” Tanya Airi khawatir.


“Aku tidak apa-apa kak. Aku dari rumah sakit, temanku luka parah.” Jawab Aria murung.


“Memangnya temanmu kenapa?” Airi penasaran.


“Dia menjadi korban bully. Kakak ingat berita tentang pengeluaran siswa itu?” Lanjut Aria.


“Ingat, memangnya kenapa?” Airi kembali bertanya.


“Merekalah para pem-bully temanku, kemungkinan besar mereka yang telah mengeroyok temanku sampai masuk rumah sakit.” Jelas Aria.


“Kasihan sekali dia, pantas saja kamu sampai murung begitu. Ya sudah segera mandi, air panas sudah siap. Aku akan menyiapkan makan malam.” Lanjut Airi.


Aria bersyukur karena Airi bisa memahaminya. Aria senang karena kakaknya begitu perhatian kepadanya. Bahkan makan malam dan air panas untuk mandi sudah siap ketika Aria pulang.


“Baik kak." Balas Aria dengan tersenyum.