HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 141: Tempat Berkumpul



“kapan dia pergi bi?” Tanya Luna.


“Sejak minggu sore rumah ini telah kosong tidak ada orang, tapi sabtu bibi masih melihat Tio pulang sekolah di sore seperti ini.” Jawab bibi.


Luna memperkirakan kepergian Tio berarti minggu pagi dan benar saja berarti sabtu sore Tio dan ibunya telah mengurus izin khusus ke sekolah.


“Kenapa dia pergi diam-diam?” Ucap Luna.


"Bibi juga tidak tahu, tadi ada orang kemari bilang mereka ada urusan mendadak." Balas bibi.


Aria penasaran dengan keberadaan Tio sekarang. Aria berinisiatif untuk bertanya siapa tahu dia bisa mencarinya jika memang informasinya jelas.


"Lalu di mana rumah kakek Tio, bi?" Tanya Aria.


"Rumahnya jauh nak, kamu harus menaiki kereta melalui stasiun di seberang kota untuk bisa ke sana." Jawab bibi.


Aria pun langsung diam dan pesimis setelah mendengar itu. Jika menaiki kereta di stasiun itu berarti Tio sekarang sudah pergi sangat jauh. Tidak mungkin lagi Aria mencari seorang diri untuk sekarang.


“Kalau begitu bibi pergi dulu, masih ada yang bibi harus kerjakan.” Bibi itu pamit.


“Terima kasih banyak infonya bi.” Balas Luna berterima kasih.


Bibi kemudian kembali ke rumahnya. Mereka bertiga memutuskan untuk pulang karena hari mulai gelap. Karena tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan untuk sekarang.


“Ayo kita pulang, hari mulai gelap.” Ajak Airi.


Mereka bertiga mulai meninggalkan rumah Tio, di sini Aria menyarankan agar memberitahukan ini kepada anggota OSIS yang lain seperti yang sudaj dijanjikan tadi pagi.


“Luna, Kakak.. apa tidak lebih baik kita beritahukan ini kepada anggota OSIS yang lain?” Tanya Aria.


“Kan bisa besok.” Balas Airi.


“Tidak Airi, aku setuju dengan Aria. Memberi tahu mereka sekarang menurutku itu penting. Kita sudah berjanji bukan tadi pagi? Aku akan menelepon semuanya untuk ke tempat biasa, aku titip sepedaku ya, Aria!” Luna setuju dengan Aria.


“O-oke.” Aria menuntun sepeda Luna.


Setelah sepedanya dibawa Aria, Luna mengeluarkan smartphonenya lalu berjalan sedikit cepat ke depan untuk menelepon semua anggota OSIS. Di sini Aria menyuruh kakaknya pulang terlebih dahulu karena Airi masih ada tugas memasak makan malam.


“Kakak kalau mau pulang dahulu boleh, aku bisa nanti pulang sendiri.” Ucap Aria kepada Airi.


“Hmm.. Aku ikut saja deh. Memang kita mau kemana?” Tanya Airi.


Ternyata Airi memutuskan untuk ikut karena memang dia masih penasaran. Airi pun menanyakan mereka mau ke mana setelah ini.


“Kita mau ke restoran cepat saji kak, tempat biasa kami berkumpul.” Jawab Aria.


“Pas sekali kalau begitu, aku juga sudah lapar jadi nanti tidak perlu masak lagi di rumah.” Balas Airi.


Sementara itu Luna mulai menelepon. Dia menghubungi Andreas terlebih dahulu, kontak Andreas dipilihnya dan Luna langsung memanggilnya.


Tuuuttt... (Bunyi panggilan)


“Halo!” Jawab Andreas.


“Halo Andreas, kamu sibuk?” Tanya Luna.


Andreas mengangkat panggilan dari Luna. Luna pun langsung menanyakan apakah Andreas bisa keluar sebentar sekarang.


“Tidak, aku sedang belajar. Ada apa memang?” Andreas berbalik bertanya.


“Bisa kamu ke tempat biasa? ada hal yang harus aku dan Aria bicarakan. Ini penting mengenai Tio serta tentang pengumuman tadi pagi.” Jawab Luna.


“Oke, aku segera ke sana. Sampai ketemu nanti.” Andreas menutup panggilan.


Andreas dengan cepat menyanggupi ajakan Luna dan langsung mematikan teleponnya karena segera bergegas berangkat. Luna melanjutkan menelepon Astrid karena dia sedikit susah dalam hal waktu ketika sudah berada di rumah.


Tuuuttt.. (Suara panggilan)


“Halo Luna.” Jawab Astrid


Yang pertama Luna tanyakan kepada Astrid adalah waktunya. Luna sangat tidak ingin mengganggu Astrid jika memang sedang sibuk di rumah.


“Hmm.. Aku tidak ada acara sih, ini baru saja aku mandi. Kamu mau mengajakku keluar?” Astrid berbalik bertanya.


“Aku hanya ingin mengajakmu ke tempat biasa, ada hal penting yang ingin aku bicarakan tentang pengumuman pagi ini. Andreas juga sudah berangkat.” Jawab Luna.


“Baiklah aku segera berangkat juga, aku ke sana sekarang.” Balas Astrid.


“Okez sampai ketemu di sana!” Luna menutup panggilan.


Astrid akhirnya juga ikut. Luna masih melanjutkan menelepon Ryan kali ini. Anak ini jika sudah sampai rumah biasanya susah untuk diajak keluar. Luna mencari kontak Ryan dan langsung memanggilnya.


Tuuuttt.. (Suara panggilan)


“Haaahh.. ada apa kamu memanggilku sesore ini?” Jawab Ryan


“sudah kuduga kamu akan protes, kamu bisa keluar?” Tanya Lunam


“Kalau sudah sore begini agak malas sih.” Jawab Ryan.


“Ada hal penting tentang pengumuman pagi ini soalnya, aku ingin membahasnya dengan kalian semua. Andreas dan Astrid sudah bisa datang.” Jelas Luna.


“Hal penting apa?” Tanya Ryan.


“Sudah kamu datang saja ke tempat biasa, nanti akan aku beri tahu bersama Aria dan Airi juga.” Jawab Luna.


“Hmm.. Aku ke sana deh. Aku siap-siap dulu, dah.” Ryan menutup telepon.


Meskipun sempat meragukan, namun Ryan akhirnya bisa ikut untuk berkumpul. Terakhir tinggal Kevin, untuk satu ini Luna sedikit santai karena memang Kevin memiliki waktu luang yang lebih biasanya.


Tuuuttt.. (Suara panggilan)


“Halo Luna, ada apa meneleponku sesore ini?” Kevin langsung bertanya


“Anu Kevin.. Kamu bisa ke tempat biasa sekarang? Ada hal penting yang ingin kami bicarakan dan semua anggota OSIS juga sedang menuju ke sana.” Jawab Luna.


“Oh begitu, aku juga akan segera ke sana kalau begitu, sampai nanti.” Balas Kevin dan langsung mematikan panggilan.


Anak yang satu ini paling gampang dalam hal ini. Tidak ada protes maupun pertanyaan berlebih dari Kevin. Semua sudah dipastikan datang, Luna mengantongi kembali smartphonenya. Dia berjalan melambat agar Airi dan Aria bisa menyusulnya.


“Bagaimana Luna? mereka bisa datang?” Tanya Aria.


“Mereka semua bisa datang, kita juga sebaiknya cepat ke sana.” Jawab Luna.


“Ngomong-ngomong soal cepat, nih sepedamu! Aku sudah tidak kuat lagi membawanya.” Keluh Aria.


Luna melihati Aria yang menuntun sepedanya. Baru sebentar saja menuntun sepeda sudah capek, Airi pun langsung tertawa karenanya.


“Hahaha, kamu ini memang Aria!” Airi tertawa.


“Iya nih, baru segitu saja sudah lelah. Aku sudah dari tadi menuntun sepeda ini.” Lanjut Luna.


Airi pun memiliki ide untuk menggoda adiknya. Mengingat sepeda Luna hanya bisa untuk dua orang saja dan Airi memutuskan untuk ikut, jadi Airi berniat mengajak Luna berboncengan.


“Begini saja Luna, ayo kita boncengan ke sana dan biarkan Aria jalan kaki. Bagaimana?” Airi ingin mengerjai Aria.


“Ide bagus!” Luna setuju.


“Ihh kalian jahat banget kepadaku, aku ngambek nih!” Ancam Aria.


“Hahahaha.” Luna dan Airi tertawa.


Wajah Aria langsung cemberut setelah itu, Airi langsung menenangkan Aria karena takut adiknya benar-benar ngambek nantinya.


“Hahaha.. sudah, kami hanya bercanda.” Ucap Airi sambil tertawa.


Aria kembali tersenyum dan malah ikut tertawa setelah itu. Mereka bertiga juga bergegas menuju tempat itu sebelum semuanya berkumpul di sana.