
“Ayo pulang!” Ajak Airi.
Aria tidak menjawab dan hanya mengikuti Airi berjalan, mereka berdua pun bergegas pulang ke rumah. Di perjalanan, Airi selalu di depan Aria saat berjalan, setiap beberapa saat dia menoleh ke arah adiknya yang bahkan tidak bicara sama sekali. Airi lalu berhenti dan menanyai Aria.
“Haahhh.. Biar aku tebak kenapa kamu seperti ini hari ini.” Airi berhenti dan menghadap Aria.
Aria pun mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Airi. Masih terlihat wajah murungnya dan juga Aria tetap tidak membalas kata-kata Airi sama sekali. Airi hanya bisa menghela nafas melihat adiknya tidak bersemangat seperti itu, Airi sangat kasihan kepadanya.
“Kamu cemburu bukan? Hari ini kamu melihat Tio dan Luna makan siang bersama?” Tanya Airi.
Airi berusaha menanyakan tebakannya tadi siang saat bertemu Luna. Dan benar saja, Aria meresponnya. Wajahnya yang tadinya datar karena murung berubah menjadi memerah karena malu.
“Da-da-darimana kakak tahu?” Aria terkejut.
Aria langsung menjadi malu seperti biasa, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tidak disangka jika Airi mengetahui jika Tio makan siang bersama Luna. Memang itu yang sedang dipikirkannya, hati Aria merasa sakit ketika teringat akan hal itu.
“Aku tadi tidak sengaja bertemu dengan Luna dan dia tidak sengaja bilang padaku tentang itu. Lalu saat di kantin tadi aku bertemu dan berkenalan dengan Tio, ternyata laki-laki itu yang kamu maksud. Dia lumayan kok dan juga calon adik yang baik.” Jelas Airi sambil menggoda Aria.
“Ca-calon!! Ha-haaahh...! Kakak apaan sih, tidak usah bawa-bawa calon adik segala. Terus kakak juga curang, mendekati Tio diam-diam begitu.” Aria sedikit kesal.
Aria berubah menjadi gugup, di sini Airi cukup lega karena telah mengetahui apa yang sebenarnya Aria pendam sendiri seharian ini. Malah Aria lebih menghawatirkan jika dirinya mendekati Tio, memang adiknya jika senang dengan sesuatu pasti tidak akan boleh disentuh meski oleh kakaknya sendiri.
“Sudah, sudah. Aku tidak berniat untuk merebutnya darimu. Lupakan itu, aku ada sesuatu untukmu.” Balas Airi.
Airi mengeluarkan smartphonenya, lalu dia mengirim pesan kepada Aria. Dengan itu, kemungkinan rencana kedua sukses akan besar sekali mengingat apa yang membuat Aria murung telah diketahuinya. Semoga saja usaha Airi tadi siang bisa membuat Aria menjadi ceria kembali.
Kling.. (Bunyi notifikasi)
Smartphone Aria berbunyi, Aria pun membuka smartphone miliknya. Setelah itu dia menemukan sebuah pesan dari kakaknya.
“Kakak apaan sih! Kita kan berdekatan, kenapa mengirim pesan?” Tanya Aria.
“Sudah buka saja.” Jawab Airi.
Meskipun sempat protes karena harus mengirim pesan tapi keadaannya sedang berdekatan, Aria pun sedikit penasaran dengan apa yang kakaknya kirim itu. Aria pun membuka pesan yang dikirim Airi barusan karena Airi menyuruhnya untuk segera melihat isinya.
“Heh.. File suara?” Aria heran.
Aria mendapati file suara di pesan yang dikirim Airi. Pantas saja jika Airi mengirimkan ini kepadanya, tapi isinya apa? Karena penasaran, Aria memutar file suara tadi lalu mendengarnya.
[“Bagaimana menurutmu tentang Aria?” Airi]
[“Apanya yang menurutku?” Tio]
[“Sudah jawab saja, apapun itu. Aku harus segera kembali ini sebelum Aria ngambek nanti.” Airi]
[“Hmm.. menurutku dia baik, tidak merepotkan seperti Luna lalu.. Hmm.. Dia juga cantik.” Tio]
[“Bagus.. Itu sudah cukup. Baiklah aku harus segera kembali, aku dititipi Aria soalnya.” Airi]
Ternyata Airi merekam perbincangannya dengan Tio tadi siang. Setelah Aria mendengar itu, wajahnya kembali ceria. Dia tampak senang lalu melompat-lompat di depan Airi.
“Kakak, terima kasih kak! Aku sangat senang saat ini.” Aria memeluk Airi.
"Syukurlah jika kamu senang." Balas Airi.
"Dari mana kakak dapat rekaman ini?" Tanya Aria.
"Hmm.. Setelah aku bertemu Luna dan mengetahui apa yang kamu alami hari ini, aku pergi ke kantin dan hampir ditabrak Tio saat ingin membeli minuman." Jawab Airi.
"Di-ditabrak!! Apakah Tio menyentuh kakak?" Sahut Aria.
Belum juga selesai bercerita, Aria langsung memotong pembicaraan Airi. Aria lebih mempermasalahkan kakaknya yang hampir ditabrak oleh Tio dan Aria langsung memikirkan yang tidak-tidak setelah kakaknya bilang begitu.
"Tenang dulu! Aku bilang hampir, jadi aku tidak menyentuhnya sama sekali, kamu jangan khawatir." Balas Airi.
"Syukurlah, lalu setelah itu?" Tanya Aria.
Aria lega mendengar jika Airi "Hanya" ingin ditabrak Tio. Karena Aria sendiri bahkan belum pernah menyentuh Tio sama sekali jadi dia tidak mau didahului kakaknya.
Airi pun melanjutkan menjelaskan apa yang dia lakukan tadi siang karena Aria sekarang begitu antusias ingin mengetahui di balik rekaman suara tadi.
"Ketika aku menyadari laki-laki itu adalah Tio, aku kemudian memiliki sebuah rencana. Aku kemudian mentraktir dia minum dan kami berbicara sebentar di kantin. Lalu aku mengeluarkan smartphoneku dan mencari celah pembicaraan agar sampai ke situ. Aku pun merekamnya." Jelas Airi
"Oh begitu rupanya!" Aria paham.
"Meski begitu, dia sempat salah menyangka jika aku adalah dirimu. Bagaimana ya jika aku tadi tiba-tiba menyatakan jika aku suka padanya?" Goda Airi
"Kakak! Jangan pernah lakukan itu! selamanya jangan!" Balas Aria dengan cepat
Aria kesal dengan kakaknya, dia cemberut dan menggembungkan pipinya sambil melihati Airi. Padahal Airi hanya ingin menggoda Aria karena tadi siang Tio langsung sadar dengan siapa dia sebenarnya.
"Hahaha, ekspresimu lucu sekali. Tidak mungkin aku bilang tadi, soalnya Tio langsung sadar jika aku adalah kakakmu." Airi tertawa.
"Iihhh kakak." Aria gemas.
“Dasar kamu ini, ayo segera pulang sebelum kesorean.”, Airi mengelus kepala Aria.
“Hemm..” Aria tersenyum.
Airi senang karena bisa membuat adiknya yang seharian murung itu kembali ceria seperti biasanya. Airi paham betapa sesaknya ketika orang yang disukai malah berduaan dengan gadis lain. Makanya tadi sewaktu di kantin, Airi berinisiatif untuk mentraktir Tio dan mengajaknya ngobrol untuk mengambil rekaman itu dan semua berhasil. Mereka berdua melanjutkan berjalan pulang bersama sambil bercanda.
“Ahhh... Akhirnya selesai. Pulang ah sebelum malam.” ucapku
Aku merapikan buku milikku lalu memasukkan ke dalam tas. Akhirnya tugas sudah selesai dan besok aku bisa bersantai untuk bermain game kemarin. Itu sangatlah seru ternyata, makanya aku ingin mengerjakan tugasku sekarang karena nanti ataupun besok aku tidak ingin di ganggu oleh tugas yang belum selesai.
Setelah itu aku bergegas pulang, aku tidak ingin ibu menungguku jadi aku harus cepat. Aku masih belum bisa berlari, aku memutuskan untuk mengabari ibu kenapa aku pulang sedikit sore. Aku mengeluarkan smartphone milikku lalu menulis pesan untuk ibu. Sekarang aku bisa pulang dengan santai.
“Aku pulang!” Aku membuka pintu rumah.
Aku telah sampai di rumah, seperti biasa aku disambut oleh ibu. Ibu langsung menanyakan tentang tugas yang baru saja aku kerjakan tadi.
“Bagaimana tugasmu?” Tanya ibu.
“Sudah selesai semua, bu. Karena aku ingin bermain game jadinya lebih baik aku mengerjakan tugasnya terlebih dahulu.” Jawabku
“Bagus kalau begitu.” Lanjut ibu.