
“Lalu..?” Tante Rose mulai bertanya.
Kami telah selesai makan malam, karena tante sangat penasaran dengan alasan kami pergi dia langsung menanyakannya. Keingintahuannya sudah terlihat sejak tante datang ke rumah, namun ibu menahannya agar membahas tentang hal itu setelah makan malam.
“Iya, iya. Akan aku ceritakan, tapi sebelum itu apakah kamu mengetahui ada berita penting hari ini?” Balas ibu lalu berbalik bertanya.
Sesuai janji ibu, ibu akan menjelaskan semuanya kepada tante. Sebelum itu, pertama-tama ibu menanyakan apakah tante mengetahui berita hari ini. Karena berita itu adalah akar dari keinginanku pergi dari rumah.
“Berita apa?” Tanya tante Rose.
“Berita anak hilang.” Ibu memberi tahu.
“Aku malah tidak tahu, sebentar aku lihat di internet.” Balas tante
Ternyata tante tidak mengetahui tentang berita sore ini, itu cukup wajar sebenarnya mengingat pekerjaan tante cukup padat di butik. Tante kemudian mengeluarkan smartphone miliknya, dia langsung mencari berita tentang anak hilang di internet. Lalu setelah itu, tante mengetahui tentang hilangnya delapan orang anak yang misterius, tante kemudian menanyakannya kepada kami.
"Berita delapan anak hilang ini maksudnya?" Tanya tante Rose.
"Iya tante, berita itu yang kami maksud." Jawabku.
"Memangnya ada apa dengan hilangnya kedelapan orang ini?" Tanya tante.
"Biar aku jelaskan." Ibu mulai menjelaskan kepada tante.
ibu menceritakan ke tante hubungan berita itu dengan rencana pergi ini. ibu memberi tahu tante bahwa anak-anak itu yang selama ini menggangguku. Lalu aku dan ibu juga memberi tahu tentang kemungkinan tentang hilangnya anak-anak itu di Battlefield.
Berhubung tante memiliki dua anak dan anak yang kedua masih bersekolah di SD, ternyata anak tante juga sering bercerita tentang monster dan Battlefield. Di sini tante akhirnya sedikit percaya bahwa dunia yang tidak bisa dilihat oleh orang dewasa adalah sebuah kenyataan.
"Jadi dunia itu benar-benar nyata ya?" Tante Rose mulai bertanya-tanya.
"Aku sendiri juga tidak tahu, Tio dan teman-temannya mengatakan hal seperti itu juga. Aku jadi tidak bisa mengabaikannya." Balas ibu.
"Ada baiknya tante percaya kepada anak tante. Tidak enak rasanya jika yang anak tante ceritakan itu sesungguhnya benar namun tidak dipercaya oleh tante." Aku menyela pembicaraan.
"Lalu kenapa kamu berencana pergi dari sini?" Tanya tante kepadaku.
Kemudian aku menceritakan ke tante jika sekarang aku memiliki teman yang baik kepadaku. Alasanku karena kasus ini terkait denganku dan aku tidak ingin membahayakan teman-temanku sekarang. Aku juga ingin menghindari tuduhan-tuduhan yang tidak mengenakkan kepadaku nantinya. Tante akhirnya paham dengan alasan kenapa kami harus pulang ke rumah kakek.
“Jadi itu alasan kalian pergi, aku paham sekarang. Tio, akhirnya kamu sedikit menjadi dewasa sekarang, tante bangga.” Tante memujiku.
“Ini pertama bagiku, aku dikelilingi orang-orang yang baik padaku. Maka dari itu aku tidak ingin kehilangan mereka.” Balasku.
“Baiklah, kita berangkat pagi-pagi agar tidak ada orang yang melihat kita pergi. Sekarang kita tidur supaya besok kita bisa bangun pagi.” Ucap tante Rose.
Aku pun kembali ke kamar untuk melanjutkan mengemasi barang bawaanku. Setelah itu, ibu dan tante merapikan ruang makan dan mencuci piring. Ternyata hanya tinggal konsol yang belum masuk ke dalam koper, aku pun memasukkan konsol game ke dalam koper dan merapikan semua barang bawaanku.
Akhirnya semua selesai, semua yang aku butuhkan sudah masuk ke dalam koper. Aku kemudian berbaring di tempat tidurku sambil memikirkan apakah semua akan baik-baik saja. Apakah aku juga akan menghilang juga? Itulah yang ada di dalam benakku. Aku mengeluarkan kartu Hayase lalu melihatnya.
Aku memandangi kartu Hayase, namun sayang sekali kartu ini tidak membalasku. Aku kemudian memasukkan Hayase lagi ke kantongku. Aku bergegas merapikan tempat tidurku lalu tidur agar hari esok cepat datang. Aku memastikan untuk segera tidur karena aku tidak ingin kesiangan besok.
Hari sudah pagi, terdengar suara pelan yang membangunkanku. Aku mulai membuka mataku sedikit dan langsung melihat jam wekerku. Tepatnya pukul 4 pagi, ibu membangunkanku. Bahkan alarm yang aku pasang pun belum berbunyi.
“Nak bangun.” Ibu membangunkanku.
“Ahh sebentar lagi bu, ini masih malam.” Balasku setengah sadar.
“Ini sudah jam 4 nak, jika kesiangan nanti ada yang melihat kita. Tante sudah bersiap sekarang dan ibu juga sudah selesai, tinggal kamu saja.” Lanjut ibu.
Meskipun suara ibu begitu pelan tapi aku mendengar jika tinggal hanya aku saja yang belum bersiap. Tanpa berpikir panjang, aku langsung bangun dan memaksa mata ini untuk terbuka. Aku mengambil handuk dan bergegas mandi.
“Dingin..” Aku kedinginan.
Ternyata air di hari sepagi ini seperti air di dalam lemari es, dinginnya menembus tulang. Tapi entah kenapa dengan ini malah rasa ngantukku hilang. Aku harus cepat, aku ingin segera keluar dari kamar mandi karena dingin sekali. Selesainya aku mandi, aku segera memakai baju yang sudah aku siapkan dengan sengaja sejak kemarin sore. Karena hampir semua bajuku aku masukkan ke dalam koper jadi kalau tidak di siapkan bisa-bisa aku harus membuka lagi semua yang sudah aku tata.
Setelah aku selesai bersiap, semua barang-barang telah masuk ke mobil. Tante juga sedang memanasi mobilnya sedangkan ibu masih menata barang bawaan di mobil.
"Loh koperku mana bu?" Tanyaku kebingungan.
Aku lupa menaruh koperku di mana. Perasaanku tadi masih ada di sekitar kamar? Aku kemudian melihat ibu yang berjalan keluar sambil membawa barang bawaan. Aku menghentikan ibu untuk menanyakan koperku di mana.
"Bu, lihat koperku?" Tanyaku.
"Oh, sudah ibu masukkan ke dalam mobil." Jawab ibu.
"Loh kan mau aku bawa sendiri." Keluhku.
"Koper seberat itu mau kamu bawa sendiri? Ingat kamu masih dalam masa pemulihan." Ibu mengingatkan.
Aku sudah tidak bisa melawan ibu lagi, ibu sudah menghawatirkanku. Yang aku khawatirkan malah konsol game yang ada di dalam koper. Apakah ibu tadi membawa koperku dengan kasar atau tidak?.
"Tapi di dalam koper ada konsol gamenya, bu!" Sahutku.
"Sudah ibu bawa dengan hati-hati tadi kopermu." Balas ibu.
Aku pun sedikit merasa tenang setelah mendengar ibu membawanya dengan hati-hati. Karena semua sudah selesai, aku pun menyusul ke luar. Ibu kemudian kembali ke dalam, dia memeriksa semua pintu dan jendela apakah sudah terkunci semua atau belum dan juga menutup semua gorden. Ibu juga melepas gas di dapur, mematikan saklar listrik yang tidak penting lalu memastikan semua kran air telah tertutup rapat. Ibu kembali keluar lalu mengunci pintu depan.
“Aku titip rumah ya! Seperti biasa, kamu cukup lewat sini tiap pagi dan sore untuk menyalakan lampu lewat meteran listrik.” Ibu memberikan kunci rumah ke tante.
“Iya, iya. Aku sudah paham. Ayo masuk mobil, kita segera berangkat sebelum ada yang melihat.” Ajak tante.
Kami semua masuk ke mobil setelah itu kami berangkat menuju stasiun.