HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 15: Teman Pertama



Luna tersenyum ke arahku. Dia menarik kartu skill lagi dari skill deck miliknya.


“Skill aktif, Accelerate." Luna mengaktifkan skill.


Skill yang berbeda. Aku terkejut saat Luna mengaktifkan skill kelima Fox.


“Apa...?! Dia punya 5 skill..." Aku sangat terkejut.


“Sekarang akan aku perlihatkan kepadamu apa itu perbedaan Mark pada monster." balas Luna.


Tiba-tiba kecepatan gerak Fox meningkat drastis. Dengan sekejap mata, Fox telah berada di belakang Hayase sekarang. Skill ultimate yang aku aktifkan akhirnya meleset dan tidak menyebabkan damage apapun pada Fox.


“Skill......” Aku terhenti bicara.


Saat aku ingin mengambil kartu skill, aku tersadar akan sesuatu. Skill milikku ternyata cooldown semua. Cooldown adalah jumlah waktu skill agar skill itu dapat digunakan kembali namun saat aku memegang skill deck tidak ada kartu skill yang tersisa.


“Ada apa Tio? Kehabisan skill?” Tanya Luna tersenyum.


Kali ini aku benar-benar sadar. Luna tidak salah saat memanggil Fox tadi. Fox benar-benar monster Mark 2. Perbedaan kekuatan antara Fox dan Hayase sangatlah jauh untuk sekarang.


“Sial, jadi inikah perbedaan mark, semakin tinggi mark semakin banyak skill?” Aku memastikan.


“Akhirnya kamu menyadari kesalahanmu. Waktunya mengakhiri duel ini." ucap Luna.


Aku tahu jika Luna belum mengeluarkan skill ultimate miliknya. Skak mat, jika di dalam catur itulah keadaan di mana aku tidak bisa ke mana-mana dan akan kalah. Luna kemudian menarik skill ultimate dari skill deck miliknya.


“Skill aktif, ultimate: Lightning strike." Luna mengaktifkan skill ultimate.


“Aku akan menebus kesalahanku tadi pada Luna. Dengan ini akan aku kalahkan monster itu." Batin Fox.


Kali ini langit bergemuruh sangat keras. Sambaran-sambaran petir muncul di langit. Kemudian petir-petir di langit menyambar Hayase. Cahaya yang sangat terang muncul saat skill ultimate Fox mengenai Hayase. Aku menutup telinga dan juga mengalihkan pandanganku karena skill ultimate Fox sangatlah dahsyat kekuatannya.


"Hayase..." Teriakku.


Setelah cahaya petir menghilang, Tubuh Hayase bersinar lalu kembali ke wujud kartu dan terjatuh di depanku. Aku kalah, HP Hayase habis tak tersisa. Aku sangat kecewa karena pada akhirnya aku kalah juga. Aku memukul-mukul tanah di dekat kartu monsterku. Fox juga kembali menjadi kartu dan melayang ke tangan Luna. Kemudian Luna datang mendekatiku.


“Jadi, kamu mengaku kalah kan?” Tanya Luna.


Aku menatap ke atas ke wajahnya. Mau bagaimana lagi, kalah tetap saja kalah.


“Baik, aku mengaku kalah." Jawabku.


“Ingat perjanjian tadi? Jika aku kalah maka aku akan menjauhimu tapi jika aku menang aku boleh meminta apapun darimu." Tegas Luna.


Terserah saja, intinya aku harus menuruti keinginannya kan? Aku akan mendengar apa yang dia inginkan sekarang.


“Baiklah, kamu ingin apa? Asalkan kamu tahu, aku tidak memiliki banyak uang. Tolong jangan minta yang aneh-aneh." Balasku dengan lemas.


Aku mengambil kartu Hayase lalu bergegas berdiri untuk mendengarkan keinginan Luna.


“Tidak, kamu tidak perlu mengeluarkan apapun untuk hal ini." Lanjut Luna.


Hah, tidak perlu uang? Dia mau minta apa sih? Aku jadi semakin bingung kepadanya.


“Lalu kamu minta apa?” Aku bertanya kepada Luna.


Luna dengan senyum mencurigakan mendekatiku. Dengan sedikit manja dia memberitahu apa yang dia inginkan.


“Jadikan aku teman pertamamu." pinta Luna.


“Eeeeeeeeeehhhhhhhhhhh......” Aku berteriak karena terkejut mendengarnya.


Ternyata dia meminta untuk menjadi temanku. Permintaan macam apa ini? Jika aku berteman dengannya maka aku tidak akan mungkin lagi lolos darinya.


“Itu benar-benar tidak mungkin. Aku tidak bisa mengabulkannya." Ucapku.


Luna cemberut menggembungkan pipinya. Dia sudah tidak mau tahu lagi.


“Aku tidak menerima penolakan dan aku tidak menerima kata tidak darimu. Kamu sudah kalah dan kamu sebagai laki-laki harus memegang kata-katamu tadi. Aku tidak akan mundur dari tantangan ini, itu kan yang kamu ucap sebelum duel?” Balas Luna.


“Hhhhhhaaaaaaaahhhhhhh.... Aku menyerah. Lakukan apa yang kamu mau padaku." Keluhku menghela nafas.


Aku putus asa dengan gadis ini. Silahkan saja mau kamu apakan diriku ini.


“Baiklah mari kita berteman." Luna tersenyum senang.


Luna mengulurkan tangannya padaku, sebenarnya aku masih ada sedikit keraguan dengan keputusanku. Aku pun menerimanya, aku menjabat tangan Luna dan itu membuatku cukup kaget. Ternyata tangan seorang gadis selembut ini.


“Iya-iya kita berteman, tapi aku meminta satu hal padamu." Balasku.


“Apa itu?” Tanya Luna.


Meskipun aku setuju berteman dengannya, tapi tetap saja aku akan memberinya syarat. Agar dia tidak semena-mena nantinya kepadaku.


“Tolong jangan buat aku dalam masalah. Kamu itu sungguh gadis yang menyebalkan bagiku." Tegasku.


Luna kembali cemberut, tidak kali ini raut wajahnya terlihat sedikit marah.


“Kejamnya kamu padaku. Jadi kamu selama ini menganggap diriku menyebalkan." Luna marah.


Kami masih berjabat tangan. Tiba-tiba Luna mencubit tanganku sekeras-kerasnya.


“Aw-aw.. sakit tahu. Maaf, maaf, tolong hentikan." Aku memohon kepada Luna.


"Habisnya kamu sih.." Luna berhenti mencubit tanganku.


Aku mengelus-elus tanganku yang dicubit Luna. Tanganku merah, gila ini anak. Lain kali aku akan berhati-hati.


"Aku hanya tidak tahu berteman itu seperti apa. Karena kamu selalu menggangguku aku jadi berpandangan jika kamu menyebalkan, aku minta maaf." Aku menundukkan kepalaku pada Luna.


"Kalau itu nanti akan aku beritahu sedikit demi sedikit. Aku berjanji untuk tidak terlalu menganggumu mulai sekarang. Aku ingin kamu punya teman mengobrol agar kamu tidak diam saja di pojokan kelas." Balas Luna.


"Terimakasih banyak." Aku berterima kasih kepada Luna.


“Ayo kita kembali ke sekolah, kita sudah selesai di sini." Ajak Luna.


“Aku juga ingin pulang. Perutku sudah lapar." Lanjutku.


“Battlefield, Out." Aku dan Luna.


Aku dan Luna keluar dari Battlefield. Aku masih tidak percaya jika aku akan memiliki teman. Aku memang kalah hari ini, tapi ini tidak terasa seperti kekalahan bagiku. Aku merasa aneh hari ini.


“Eeeeeeeeeehhhhhhhhhhhhh." Luna berteriak karena terkejut


“Luna, apakah kita selama itu di Battlefield?” Tanyaku memastikan.


Sekembalinya kami ke sekolah, ternyata hari sudah gelap dan jam menunjukkan pukul 7 malam. Aku dan Luna pun cukup kaget, ternyata waktu untuk kami berduel di Battlefield memakan waktu cukup lama. Luna terlihat khawatir dan kebingungan, aku pun menanyakan ke Luna.


“Kenapa Luna? Kamu terlihat kebingungan." Aku bertanya kepada Luna.


“Bagaimana ini? Aku pasti akan dimarahi ibu saat pulang nanti." Luna ketakutan.


Ternyata itu yang ditakutkan Luna. Ya wajar sih karena dia seorang gadis, orangtuanya pasti akan khawatir saat anak gadisnya pulang malam. Aku merasa kasihan padanya dan aku memikirkan sesuatu untuknya.


“Ayo aku antar pulang." Ajakku.


“Eehhh." Luna kaget.


Wajah Luna memerah tersipu malu. Luna memainkan kedua telunjuknya saat aku mengatakan itu. Kenapa sih dengan anak ini?


“Aku akan bilang pada ibumu nanti kalau kita tadi sedang belajar bersama dan lupa waktu." Balasku


“Te-terima kasih, ayo kita ambil sepeda dulu di parkiran." Luna tersenyum gembira sambil menarik tanganku.


“Baiklah." Jawabku pasrah.


Aku berjalan sambil ditarik tangannya oleh Luna. Dia terlihat bersemangat sekali sekarang.