HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 31: Ketidaksengajaan



Luna terlihat sedang mengayuh sepedanya, dia juga terlihat sedang kesal. Luna menggerutu sendiri di jalan sambil mengayuh sepedanya.


“Ahh.. Kenapa ibu tidak dari kemarin saja bilangnya sih?" Gerutu Luna kesal.


Di minggu pagi, Luna disuruh ibunya ke toko sayur karena bahan untuk memasak hampir habis. Dia kesal kenapa ibunya tidak bilang dari kemarin dan harus sepagi ini pergi ke toko sayur. Luna mengayuh sepedanya dengan perasaan kesal bercampur udara dingin pagi hari.


Semalam Luna mencuci baju sampai sedikit larut malam. Karena kemarin dia mengantar Airi membeli buku, Luna jadi kesorean pulangnya dan baru bisa mencuci di malam hari. Luna masih mengantuk karena tidur cukup larut akibat harus mencuci. Karena jika Luna mencuci di hari minggu, maka dia akan kecapekan sendiri. Pekerjaannya di hari minggu cukup banyak bagi seorang gadis.


Sesampainya di toko, Luna langsung memilih-milih apa yang telah ibunya tulis di catatan. Karena masih pagi jadi sayuran yang tersedia pun masih segar. Ada untungnya juga belanja sepagi ini pikir Luna.


"Masih segar nih. Kalau di masak langsung pasti enak." Ucap Luna.


Luna memasukkan sayuran yang telah dia pilih ke keranjang. Luna memastikan lagi barang belanjaannya. Setelah dirasa cukup dan tidak ada yang dilupakan, Luna membayar semua sayuran yang dia ambil.


“Bu, aku beli kentang, bayam, tomat dan bawang." kata Luna


Ibu pemilik toko itu menerima keranjang dari Luna. Ibu itu juga menimbang berat dari masing-masing sayuran itu. Pemilik toko kemudian membungkus belanjaan Luna dan menyebutkan harganya.


“Ini nak!" Ibu pemilik toko memberi Luna belanjaannya.


“Ini uangnya, bu. Terima kasih." Luna membayar.


Luna menerima kantong plastik berisi sayuran dari ibu itu. Luna kemudian kembali menuju sepedanya dan meletakkan barang belanjaannya di keranjang sepeda. Pagi ini cukup dingin karena masih ada sedikit salju.


"Dinginnya, Aku lupa pakai jaket tadi." Luna kedinginan.


Luna lupa memakai jaket saat keluar rumah tadi. Dia kedinginan saat memutuskan untuk segera pulang. Namun akan lebih baik jika dia segera pulang karena di luar masih sangat dingin, Luna tidak mau masuk angin karena terlalu lama di luar. Baru saja Luna menaiki sepedanya, dia langsung turun lagi dan bersembunyi di balik tembok.


“Tio... apa yang dia lakukan sepagi ini?” Luna kaget.


Luna melihat Tio sedang melakukan lari pagi. Dia kaget dan langsung bersembunyi. Sebenarnya Luna ingin menyapanya, tapi menurut Luna ada hal yang sedikit aneh. Kenapa Tio jogging tapi mengenakan sepatu olahraga sekolah dan juga menuju ke arah sekolah?


“Jogging? Tapi kenapa arahnya ke sekolah? Lebih baik aku ikuti dia sebelum aku menyapanya." Luna penasaran dan curiga.


Itu membuat Luna merasa curiga. Luna memutuskan untuk mengikuti Tio dari belakang. Luna menaiki sepedanya lalu mengayuh dengan sangat pelan. Dia tidak ingin di ketahui oleh Tio jika sekarang dia sedang dibuntuti dari belakang. Benar saja, ketika sampai di dekat sekolah ternyata Luna melihat Tio berhenti di depan gerbang sekolah.


"Ini aneh. Untuk apa dia berdiri di depan gerbang seperti itu?" Luna mengawasi.


Luna berhenti cukup jauh dari gerbang dan melihat Tio dari balik pohon. Tak lama kemudian, dia juga melihat guru olahraga datang menghampiri Tio. Luna langsung terkaget.


"Loh ada pak guru juga? Apa yang mereka lakukan sepagi ini?" Luna semakin penasaran.


Tio dan guru olahraga pun segera masuk ke dalam sekolah. Luna keluar dari balik pohon dan dengan perlahan mengayuh sepedanya ke depan gerbang sekolah lalu berhenti sejenak. Dia penasaran dengan apa yang mereka lakukan di hari minggu begini.


Luna langsung pulang dan mengayuh sepedanya sekencang mungkin menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, dia langsung menaruh belanjaan dan begegas ganti baju dan tanpa ingin membuang banyak waktu.


“Aku pulang, ini bu belanjaannya. Aku mau ganti baju lalu mau ke sekolah." Luna tergesa-gesa.


“Ada apa kamu Luna mau ke sekolah?” Ibunya bertanya namun Luna sudah masuk ke kamarnya.


Luna menuju ke balkon untuk mengambil baju olahraga yang semalam dia cuci bersama baju seragam serta baju hariannya.


"Yah masih sedikit basah." Ucap Luna.


Luna mendapati baju olahraga miliknya belum terlalu kering. Apa boleh buat, Luna langsung berganti baju olahraganya yang belum kering setelah dia cuci semalam. Luna beralasan nanti pasti akan kering saat dia ke sekolah. Tidak lupa Luna juga memakai badge OSIS-nya. kemudian dia keluar kamar dengan tergesa-gesa.


“Ada apa nak sebenarnya?” Ibunya bertanya kembali.


Luna tidak ada waktu mengobrol dengan ibunya. Dia menuju langsung ke ruang depan mencari sepatu olahraganya. Luna dengan tergesa-gesa memakai sepatu itu dengan tanpa sadar menggunakan kaos kaki bekas kemarin.


“Aku tidak ada waktu, bu. Aku harus cepat." Balas Luna.


“Tapi kamu belum mandi Luna." Kata ibunya.


“Nanti bu sepulang dari sekolah. Aku sudah tidak ada waktu sekarang." Luna menaiki sepedanya kemudian mengayuhnya kembali dengan cepat.


Pagi ini Luna terlihat sangat sibuk. Berawal dari rasa kesal karena disuruh ibunya belanja pagi-pagi lalu berakhir penasaran saat melihat Tio dan guru olahraga ke sekolah di hari minggu dan sepagi ini.


Sesampainya di sekolah, Luna tidak memarkirkan sepedanya di parkiran sekolah. Dia berhenti di sebuah toko sebelah sekolah dan menitipkan sepedanya di situ. Akan gawat jika Luna memarkirkan sepedanya di parkiran sekolah. Jika ketahuan maka dia akan dicap sebagai penguntit.


Luna melihat bapak yang menjaga toko itu. Kebetulan Luna mengenal bapak itu karena sering membeli sesuatu saat sepulang sekolah di toko yang bapak itu jaga. Luna menyetandarkan sepedanya di depan toko, Luna kemudian menitipkan sepedanya ke bapak yang sedang menyapu halaman toko.


“Permisi pak, aku titip sepeda di sini ya?” Luna meminta izin.


“Eh nak Luna, apa yang kamu lakukan sepagi ini kemari? Juga kenapa tumben sekali kamu menitipkan sepeda di sini?" Tanya bapak penjaga toko.


"Anu pak, aku mau masuk ke sekolah hari ini." Jawab Luna.


"Loh kenapa sepedanya di taruh sini? Kenapa tidak dibawa masuk saja?" Tanya bapak itu lagi.


“Ceritanya panjang pak, aku sedang tidak ada waktu untuk menjelaskan. Jadi tolong ya pak jaga sepedaku sebentar saja." Jawab Luna tergesa-gesa


Luna langsung berlari menuju sekolah tanpa menjawab pertanyaan bapak itu. Si bapak hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil melanjutkan menyapu.


“Dasar anak itu." Bapak itu menggeleng kepalanya.