
Setelah aku memastikan Hayase masih ada dan juga naga tadi hanyalah sebuah mimpi belaka. Aku malah membangunkan Luna yang sedang tidur karena tanganku masih memegang rambutnya.
“Emm.. Ada apa Tio?” Jawab Luna yang setengah sadar.
Ternyata dia juga mendengar ketika aku memanggil namanya karena sedikit terkejut tadi. Aku harus melakukan apa? Kasihan jika aku membangunkannya di saat dia sedang tidur lelap.
“Ti-tidak apa-apa, lanjutkan saja tidurmu.” Balasku pelan.
“Baiklah kalau begitu.” Luna kembali tidur.
Luna kembali memejamkan matanya, aku pun segera mengangkat tanganku yang sedari tadi memegangi rambut Luna. Kemudian Luna langsung terkejut dan tiba-tiba bangun secara mendadak.
“Tio.. Kamu sudah sadar?” Luna bangun dan memastikan jika aku telah sadar.
“Ehh.. Kenapa kamu malah bangun.” Balasku.
Luna mengedip-ngedipkan matanya, dia juga mengucek matanya untuk memastikan sekali lagi. Luna langsung menangis meneteskan air matanya. Dia sangat senang saat melihatku tersadar meskipun masih dalam mode mengantuk.
“Syukurlah kamu sadar, hampir dua hari kamu tidak sadarkan diri.” Luna memegang bahuku.
“Aaawwwww... Sakit Luna.” Erangku kesakitan.
“Eh maaf-maaf, aku tidak sengaja.” Luna meminta maaf.
Ini kabar baik, Luna harus memberi tahu kepada ibu Tio. Luna kemudian menghampiri tempat di mana ibu Tio tidur. Luna terlihat membangunkan ibu Tio, beliau bangun dan Luna mulai berbicara.
“Bu, bangun bu.” Luna memegang kaki ibu Tio
“Ada apa nak Luna? Ini masih malam.” Ibu Tio mengucek matanya.
“Tio bu, dia sadar.” Lanjut Luna memberitahu.
Ibu Tio langsung melompat dari sofa tempat beliau tidur. Ibu Tio bangun dan langsung menuju tempat Tio tidur.
“Tio.. Kamu sadar?” Tanya ibu.
“Iya bu, aku sadar.” Jawabku lemas.
“Syukurlah, syukurlah kamu sadar nak.” Ibu ikut-ikutan menangis.
Mereka berdua terlihat tidak bisa membendung kebahagiaan saat aku sadar. Dalam hatiku, memangnya berapa lama aku tidur dan juga apa yang terjadi padaku sebenarnya. Aku pun mencoba untuk duduk, namun ada hal yang menghalangiku.
“Awwww....” Aku berteriak kesakitan.
Apa ini? Kenapa badanku begitu sakit hingga aku tidak bisa duduk. Ada apa denganku dan apa yang telah terjadi kepadaku? Aku merasakan sakit ini juga saat Luna memegangku tadi. Aku harus bertanya.
“Ya ampun, baru sadar saja sudah banyak tingkah. Istirahat saja kamu.” Ibu memarahiku.
“Memangnya ada apa denganku, bu?” Tanyaku.
“Kamu mengalami retak tulang belakang dan tulang bahu.” Jawab Luna.
Retak tulang? Separah itukah keadaanku? Wajar jika aku merasakan sakit di punggungku, jadi itu karena retak. Dan pantas sekali jika aku sampai tidak sadarkan diri, ternyata ini benar-benar sakit.
“Sudah istirahat saja kamu. Ibu akan memanggil dokter, nak Luna titip sebentar ya!” Ibu pergi meninggalkan ruangan.
Ibu pergi dari ruangan untuk memberitahu dokter jika aku sudah sadar. Sekarang tinggal tersisa aku dan Luna, lagipula kenapa anak ini ada di sini?. Aku mulai mengajaknya mengobrol untuk mencairkan suasana.
“Pantas saja tadi sakit sekali saat kamu memegang pundakku.” Aku mengeluh kepada Luna.
“Kamu ini ya? Keadaan seperti ini saja masih saja cuek. Lukamu cukup parah, jadi jangan terlalu banyak bergerak.” Balas Luna sambil merapikan selimutku.
“Aku hanya ingin duduk tadi. Ya mau bagaimana lagi, aku sudah tahu jika mereka akan melakukan ini padaku.” Lanjutku.
“Heh? Mereka?” Luna penasaran.
Belum juga Luna bertanya, para dokter memasuki ruang ICU. Para dokter melakukan pemeriksaan lebih lanjut kepadaku sehingga ibu dan Luna disuruh menunggu di luar.
“Tio tadi berkata mereka, jadi benar mereka pelakunya.” Luna memberitahu ibu Tio.
“Jadi begitu, jadi semua itu benar.” Balas ibu Tio.
Mereka berdua sama-sama tidak menyangka jika memang benar pelaku penganiayaan itu adalah para siswa yang telah di keluarkan. Luna kesal sekali setelah mengetahui kenyataannya.
“Jahatnya mereka.” Luna kesal.
“Kita harus tanyakan yang sesungguhnya terlebih dahulu nanti pada Tio.” Lanjut ibu Tio.
Mereka berdua menunggu di depan pintu sambil mondar-mandir kesana-kemari karena saking tidak tenangnya. Lalu Luna teringat dengan Aria. Dia berjanji akan mengabari jika terjadi sesuatu dengan Tio. Luna mengeluarkan smartphone miliknya dan menulis pesan untuk Aria.
Sementara itu di rumah Aria yang sunyi, smartphone milik Aria berbunyi.
Kling.. (Bunyi notifikasi)
Aria mendengar smartphone miliknya berbunyi. Aria terbangun, tetapi tidak membuka matanya.
Kling..
Kling..
Kling.. (Bunyi notifikasi)
Notifikasi datang bertubi-tubi, terpaksa Aria harus bangun. Kemudian Aria membuka matanya dan mengambil smartphonenya.
“Siapa sih jam segini mengirim pesan?” Gerutu Aria.
[4 Pesan Baru, Luna]
Di layar smartphonenya tertera pemberitahuan beberapa pesan dari Luna. Aria membuka pesan di smartphone miliknya dan membaca semua pesan itu.
“Aku ada kabar bagus.” Pesan dari Luna.
“Kabar bagus? Apa itu?” Tanya Aria dengan penasaran.
Aria langsung membaca pesan berikutnya dari Luna. Dia ingin tahu kabar baik apa yang di berikan oleh Luna.
“Tio telah sadarkan diri, sekarang dia sedang diperiksa dokter.” Pesan dari Luna.
“Aku juga mengetahui sesuatu, namun aku tidak bisa memberi tahu untuk saat ini. Aku harus tanyakan terlebih dahulu kepada Tio nanti.” Pesan dari Luna.
“Jika ada kabar lagi nanti akan aku beritahu. Maaf jika aku membangunkan tidurmu. Sampai besok, dah.” Pesan dari Luna.
Senyum lebar tergambar di wajah Aria. Dia meneteskan air mata karena pada akhirnya Tio sadar. Aria tidak bisa membendung rasa bahagianya.
“Yeeyy.. Syukurlah.” Aria senang.
Tanpa sadar, Aria membangunkan Airi yang sedang tertidur pulas. Karena terlalu terbawa suasana, Aria ternyata mengeluarkan suara cukup keras.
“Oi Aria, heboh sekali kamu ini. Ada apa memangnya?” Airi terbangun.
“Ma-maafkan aku jika membangunkanmu kak. Temanku akhirnya sadarkan diri, aku sangat senang mendengarnya.” Balas Aria.
Airi menguap dan mengucek matanya, dia ingin sedikit berbincang dengan adiknya yang sedang terlihat senang itu. Airi merencanakan sesuatu, sekarang waktunya Airi menebak-nebak.
“Hmm.. Biar kutebak, kamu suka padanya bukan?” Tanya Airi dengan keadaan setengah sadar.
“Anu.. Itu.. Ahh kakak ini jangan menggodaku seperti itu.” Aria malu.
Tanpa di beri tahu pun Airi bisa dengan mudah menebak perasaan Aria. Wajah senang itu tidak bisa disembunyikan lagi oleh Aria. Airi mengetahui ternyata adiknya sedang menyukai seseorang. Airi pun ingin segera mengetahuinya besok.
“Ya sudah kita lanjut besok pagi, aku ngantuk. Segera tidur, jika tidak kamu akan kesiangan besok.” Airi mengingatkan.
Airi kembali tertidur. Namun karena saking senangnya, Aria masih terjaga memikirkan tentang keadaan Tio. Tidur Airi pun masih sedikit terganggu karena ulah adiknya.