
“Ahh aku kesiangan..!! Gara-gara begadang nonton film jadinya malah begini.” Gerutu Luna sambil mengayuh sepedanya dengan kencang.
Luna yang masih terlihat mengantuk itu harus berpacu dengan waktu agar sampai ke sekolah tepat waktu. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi dan jika dia terlambat maka gerbang sekolah akan di tutup oleh satpam.
“Ayo cepatlah sampai..! Aku tidak ingin sampai membolos karena kesalahanku sendiri.” Luna mulai kelelahan.
Akhirnya dia sampai di dekat sekolah. Dari kejauhan dia melihat pak satpam yang mengecek siswa yang belum datang sebelum pak satpam itu menutup gerbang. Luna kemudian langsung berteriak keras.
“Paaakkkk... Tungguuuu....!” Teriak Luna.
Pak satpam mendengar teriakkan Luna dari kejauhan, lalu pak satpam memberikan aba-aba untuk cepat. Luna mempercepat lagi dalam mengayuh sepedanya. Akhirnya Luna sampai disekolah sebelum bel berbunyi
“Terima kasih banyak pak.” Ucap Luna dengan nada kecapekan.
“Sama-sama nak.” Balas pak satpam.
Luna melanjutkan mengayuh sepedanya ke tempat parkir. Setelah itu, pak satpam menutup gerbang depan lalu menguncinya. Kerja keras Luna belum berakhir di sini, dia masih harus berlari menuju ke kelas sebelum bel berbunyi dan juga guru datang. Lima menit lagi bel masuk berbunyi, sementara kelas berada di lantai 2. Luna harus melewati rintangan terakhir yaitu berlari menaiki tangga.
"Hah, capeknya! aku sudah kapok, besok lagi aku tidak akan mengulangi begadang." Keluh Luna
Luna berkeringat setelah sampai di lantai 2. Pas sekali saat Luna sampai di depan kelas, bel masuk berbunyi. Dia segera masuk kelas lalu duduk di tempatnya.
"Akhirnya tepat waktu." Luna kelelahan.
Luna masih bersyukur karena bisa tepat waktu sampai di sekolah. Hari ini benar-benar berantakan karena memang film yang luna tonton semalam terlalu bagus untuk dilewatkan. Sayangnya film romantis sebagus yang Luna tonton semalam harus ditayangkan di hari minggu malam, kalau saja sabtu malam mungkin akan berbeda cerita. Mungkin Luna di hari minggu akan kena omel ibunya karena bangun siang. Akan tetapi, itu masih lebih baik daripada telat datang ke sekolah.
"Tunggu pak!" Kepala sekolah memanggil seorang guru.
"Ya, ada apa pak kepala?" Tanya guru itu.
"Bapak mengajar di kelas 2B kan sekarang?" Balas kepala sekolah.
"Iya pak, benar sekali." Jawab guru itu.
Sementara itu di ruang guru, kepala sekolah memberikan informasi kepada guru yang mengajar di kelas 2B jika Tio tidak bisa berangkat sekolah. Guru menanyakan apa alasan Tio tidak berangkat kepada kepala sekolah namun kepala sekolah hanya menjawab izin khusus. Guru itu langsung paham dan akan menginformasikan nanti saat di kelas.
Luna yang baru saja duduk kemudian tersadar akan sesuatu. Dia melihat ke tempat duduk Tio namun Tio tidak ada.
“Loh! Tio kemana?” Ucap Luna.
Pantas saja Luna tidak mendengar suara yang menurutnya familiar. Luna kemudian bertanya dengan teman di depannya apakah melihat Tio tadi namun temannya menjawab belum melihatnya pagi ini.
"Anu, kalian lihat Tio?" Tanya Luna ke teman sekelasnya.
"Kami belum melihatnya sejak pagi." Ucap salah seorang gadis.
"Oh begitu rupanya, terima kasih ya!" Balas Luna.
Luna kembali melihat ke arah tempat duduk Tio. Luna bertanya-tanya sendiri memikirkan keadaan Tio sekarang. Luna tidak ingin memikirkan hal aneh-aneh sekarang. Tidak mungkin kan Tio masuk rumah sakit lagi?
“Apakah dia terlambat?” Tanya Luna dalam hati.
Luna ingin berprasangka baik hari ini, dia tidak ingin Tio kenapa-kenapa lagi. Luna pun memutuskan untuk kembali duduk di tempat duduknya sekalian istirahat setelah apa yang terjadi pagi ini tadi yang membuatnya sangat lelah.
Kemudian seorang guru datang ke kelas. Ketua kelas pun mengucap salam ke guru diikuti seluruh siswa lalu kembali duduk. Di sini guru itu memberikan sebuah informasi.
“Sebelum kita melanjutkan ke pelajaran, pagi ini Tio tidak dapat hadir ke sekolah. Surat izinnya ada di kepala sekolah, jadi saya hanya dapat menginformasikan hal ini. Kalau begitu, silahkan kalian buka buku pelajaran sekarang.” Ucap guru itu.
Luna langsung kaget, dia langsung berpikir apakah Tio sakit lagi? Jika iya kenapa tidak bilang kepadanya, Luna diam-diam mengeluarkan smartphone miliknya dari dalam tas. Dia mengheningkan smartphonenya lalu menulis pesan ke Tio.
“Tio, kamu kenapa tidak berangkat? Apa kamu sakit lagi?” Tulis Luna.
Luna mengirim pesannya, karena sebelumnya dia sudah mengheningkan smartphonenya jadi tidak ada bunyi berisik saat mengirim pesan itu. Kemudian Luna kembali fokus ke pelajaran lagi.
Sementara itu, di ruang rapat telah berkumpul semua komite yang telah dihubungi oleh kepala sekolah. Kepala sekolah sudah menceritakan apa-apa saja yang perlu dibahas kepada seluruh komite. Untuk izin Tio sudah sepenuhnya disetujui dan juga akan dijaga kerahasiaannya, sekarang tinggal apakah para komite harus menghimbau para siswa agar berhati-hati setelah kasus hilangnya anak-anak yang dikeluarkan itu.
“Ini hal yang sangat sensitif bagi anak seumuran para siswa. Jika mereka mendengar hal seperti ini, pasti mereka ada yang ketakutan bahkan bisa sampai trauma.” Ucap seorang guru mengungkapkan kekhawatirannya.
“Lalu bagaimana solusi dari masalah ini?” tanya seorang guru.
Semua guru terlihat berpikir keras untuk solusi tentang pengumuman anak-anak hilang itu. Para guru pasti sangat yakin para siswa tidak tahu tentang berita besar itu karena sudah hal biasa jika anak muda tidak suka menonton berita. Yang harus dilakukan para guru adalah bagaimana memberi tahu para siswa tapi dengan cara sehalus mungkin dan tidak membuat para siswa ketakutan, panik atau trauma.
“Saya ada ide!” Ucap guru olahraga.
Ruangan rapat yang beberapa saat hening itu tiba-tiba dikejutkan oleh guru olahraga yang sudah mendapatkan ide. Semua guru pun langsung memandang ke arah guru olahraga, kemudian kepala sekolah langsung menanyakannya.
“Apa itu pak?” Tanya kepala sekolah.
“Ini sudah saya pikirkan sejak Tio izin untuk tidak berangkat sekolah kemarin. Satu-satunya cara adalah mengumpulkan semua siswa di halaman sekolah lalu kita berikan informasi ini. Namun kita tidak bisa begitu saja mengumpulkan mereka lalu memberikan himbauan. Kita harus menempel selebaran di setiap kelas jika akan ada pengumuman penting di halaman sekolah. Kita harus memberi tahu sedikit tentang hilangnya anak-anak itu agar para siswa tidak panik dan saat di lapangan nanti kita hanya tinggal menjelaskan dan juga menghimbau mereka semua agar berhati-hati saat berada di luar rumah. Namun poster itu harus siswa baca di hari di mana kita akan menjelaskan kepada semua siswa.” Ide guru olahraga.
Kepala sekolah dan para guru memikirkan ide dari guru olahraga itu. Memang itu ide yang bagus karena sebelumnya para siswa diberi tahu terlebih dahulu akar masalahnya sebelum ke penjelasannya. Kepala sekolah dan para guru saling tatap satu sama lain untuk mencari kesepakatan.
“Ide yang bagus. Bagaimana, ada yang keberatan?” Tanya kepala sekolah ke semua komite.
Semua yang hadir menggelengkan kepala, lalu setelah itu ide guru olahraga akan dijadikan agenda untuk besok pagi.