
"Terima kasih sudah melengkapi biaya administrasinya, bu." Ucap suster yang menjaga tempat pembayaran.
"Sama-sama sus." Balas ibu Tio.
Ibu Tio menyelesaikan administrasi rumah sakit dengan biaya yang cukup banyak, hampir semua tabungannya terpakai. Tapi ini semua demi kesembuhan Tio, kemudian ibu Tio kembali ke kamar di mana Tio dirawat.
Hari sudah larut malam, ibu Tio masih terjaga sambil memandangi Tio yang masih belum sadarkan diri. Ibu Tio teringat akan hari esok, ibu Tio harus membuat surat izin untuk Tio karena dia tidak mungkin bisa berangkat ke sekolah. Ibu Tio bergegas membuat surat izin selagi masih terjaga.
Ibu Tio menuju keluar rumah sakit untuk membeli kertas, amplop dan juga pulpen untuk menulis surat. Terdapat toko minimarket yang buka 24 jam di dekat rumah sakit. Ibu Tio langsung membeli apa yang di butuhkannya dan langsung kembali karena hari sudah larut.
Sekembalinya ke rumah sakit, ibu Tio langsung masuk kembali ke kamar Tio. Ibu Tio duduk di meja dekat tempat tidur Tio. Ibu Tio segera menulis surat.
"Akhirnya selesai, besok tinggal mengantar surat ini ke sekolah." Ucap ibu Tio.
Surat yang telah jadi kemudian dimasukkan ke dalam amplop. Karena hari semakin larut malam dan juga besok ibu Tio harus mengantarkan surat, ibu Tio memutuskan untuk segera tidur.
Esok hari telah tiba, ibu Tio sudah bangun sejak subuh untuk mengantarkan surat itu ke sekolah. Karena jarak rumah sakit sampai sekolah cukup jauh, jadi ibu Tio memutuskan untuk berangkat sepagi mungkin. Ibu Tio berjalan ke tempat perawat untuk menitipkan Tio sementara waktu karena sang ibu harus mengantarkan surat izin ke sekolah. Kemudian beliau melanjutkan ke depan rumah sakit untuk mencari taksi.
Sesampainya di sekolah Tio, sang ibu cukup bingung harus mengantarkan surat ini ke mana dan kepada siapa. Ibu Tio melihat ada beberapa siswa yang berlalu lalang memasuki sekolah, kemudian ibu Tio memutuskan untuk memberhentikan seorang siswi perempuan yang baru saja melewatinya.
“Nak nak, bisa minta tolong?” Panggil ibu Tio kepada seorang siswi perempuan.
Siswi itu berhenti lalu menoleh ke belakang menjawab panggilan ibu Tio.
“Ya bu, ada perlu apa?” Balas siswi perempuan itu.
Ibu Tio membuka tas yang dibawanya. Ibu Tio mengeluarkan sebuah surat lalu memberikan kepada siswi itu.
“Bisa minta tolong antarkan surat izin ini? Ibu tidak tahu harus ke mana mengantar surat ini.” Lanjut ibu Tio.
“Oh dengan senang hati bu, lalu mana suratnya?” Tanya siswi itu.
“Ini nak, terima kasih banyak. Kalau begitu ibu pamit dahulu.” Ibu Tio berterima kasih lalu pergi.
Ibu Tio telah selesai mengantarkan surat izin untuk Tio. Ibu Tio kembali masuk ke dalam taksi lalu bergegas kembali ke rumah sakit. Setelah ibu Tio memberikan surat itu dan pergi, siswi itu baru menyadari tentang sesuatu.
"Loh tidak ada nama dan kelasnya!" Siswi itu tersadar.
Kemudian siswi perempuan itu memutuskan untuk mengantarkan surat itu ke ruang guru karena dia tidak tahu surat itu untuk kelas berapa.
Tok.. tok.. (Suara ketukan pintu)
“Permisi.” Siswi itu mengetuk pintu ruang guru.
“Ya, silahkan masuk.” Balas seorang guru.
Siswi itu masuk ke dalam ruang guru sambil membawa suratnya. Kemudian dia menjelaskan tujuannya kepada seorang guru.
“Ada perlu apa?” Tanya guru itu.
“Ini pak, tadi ada seorang ibu mengantar surat izin untuk anaknya. Karena saya tidak tahu kelasnya jadi saya bawa kemari.” Jelas siswi itu.
“Oh baik, terima kasih kalau begitu. Nanti akan saya titipkan ke guru yang mengajar.” Balas guru itu.
“Baiklah pak, saya permisi mau untuk masuk ke kelas.” Siswi itu pamit.
“Silahkan, silahkan.” Lanjut guru itu.
Setelah siswi itu pergi, guru itu membuka surat yang tidak memiliki nama dan tujuan. Setelah membaca surat izin itu ternyata surat itu ditujukan ke kelas 2B. Guru itu pun menitipkan ke guru yang mengajar di kelas itu.
“Lho dimana Tio? Padahal bel masuk sudah berbunyi.” Luna memandangi tempat duduk Tio dengan penuh penasaran.
Beberapa saat setelah bel masuk berbunyi, guru yang mengajar pelajaran pertama datang memasuki kelas dan mengumumkan sesuatu.
“Sebelum kita memulai pelajaran hari ini, ini ada surat ixin untuk Tio. Dia sakit hari ini dan tidak dapat mengikuti pelajaran.” Ucap guru itu.
Luna terkejut mendengarnya, kemarin Tio masih baik-baik saja dan tidak menunjukkan gejala sakit. Bahkan baru kali ini Luna melihat Tio tidak datang ke sekolah. Luna merasa semakin merasakan kejanggalan.
“Sakit? Bukankah kemarin dia masih sehat-sehat saja? Ini aneh, aku harus menjenguknya nanti.” Batin Luna dalam hati.
Luna melanjutkan untuk fokus ke pelajaran. Meskipun terpikir dengan keadaan Tio, namun dia tetap harus belajar. Luna harus menahan rasa penasarannya sampai nanti pulang sekolah.
Sepulang sekolah, dengan tergesa-gesa Luna segera menuju rumah Tio. Namun saat dia hendak mengambil sepedanya, Luna bertemu dengan Aria
“Loh, loh. Kenapa kamu lari-lari begitu?” Tanya Aria.
Luna mengerem mendadak saat ditanya oleh Aria. Dengan panik Luna menjelaskan semuanya kepada Aria.
“Tio sakit, aku harus segera menjenguknya.” Jawab Luna dengan panik.
“Hah, sakit apa?” Aria bertanya kembali.
“Mana aku tahu, makanya aku harus segera ke sana.” Jawab Luna kecapekan.
Aria langsung curiga dengan kata-kata Luna barusan. Ke sana? ke mana maksudnya? Apa rumah Tio? Aria semakin penasaran dengan itu.
“Memangnya kamu tahu rumah Tio di mana?” Tanya Aria penasaran.
“Minggu kemarin sebelum pertemuan baru saja aku dari sana.” Jawab Luna dengan polosnya.
Setelah mendengar penjelasan Luna, Aria sedikit merasa cemburu. Ternyata Luna pernah ke rumah Tio. Kemudian Aria memutuskan untuk ikut menjenguk Tio.
“Aku ikut.” Ucap Aria dengan sedikit cemberut.
Aria sangat ingin ikut menjenguk Tio. Ini tidak adil bagi Aria, Luna sudah selangkah di depannya.
“Ehhh.. Tapi aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk memboncengkan dirimu, Aria.” Keluh Luna
“Biar aku yang di depan, kamu yang bonceng saja.” Balas Aria dengan serius.
“Benarkah? Terima kasih banyak, kamu sangat menolongku Aria.” Luna senang.
Tujuan Aria hanyalah ikut menjenguk Tio bagaimanapun caranya. Meskipun harus berkorban memboncengkan Luna, Aria harus tetap ikut.
“Sama-sama, ayo segera berangkat sebelum hari semakin sore.” Ajak Aria.
"Ayo!" Balas Luna.
Luna dan Aria segera menuju parkiran sepeda untuk mengambil sepeda Luna. Sesampainya di parkiran, dengan sigap Aria langsung mengambil sepeda Luna dan menaikinya.
"Ayo naik." Aria mempersilahkan Luna.
Luna kemudian membonceng di belakang dengan posisi miring.
"Sip, ayo berangkat!" Seru Luna
Aria segera mengayuh sepedanya. Mereka berdua bergegas menuju ke rumah Tio. Luna yang di belakang mengarahkan Aria sambil menunjukkan jalannya.