
Setelah ibu Tio pergi untuk membuat minum, Luna mengeluarkan smartphonenya. Luna segera menelepon Andreas untuk memberitahu keadaan Tio.
Tuuuutttt.. (Bunyi panggilan)
“Halo Luna, bagaimana kelanjutannya?” Jawab Andreas.
“Kami sudah di tempat Tio dirawat. Dia sedang kritis dan tak sadarkan diri.” Luna memberitahu.
“Baguslah jika kalian berhasil menemukan tempatnya. Lalu di mana dia dirawat?” Tanya Andreas lagi.
“Dia ada di ruang ICU.” Jawab Luna.
“Baik kami semua akan segera ke sana.” Balas Andreas lalu menutup panggilan.
Kami semua? Bukankah tadi Andreas bilang cuma hanya ada Ryan dan Astrid? Siapa saja yang di maksud oleh Andreas?
“Kami semua? Tungg..” Lanjut Luna bertanya tapi sayangnya sudah ditutup oleh Andreas.
Luna sedikit ingin tahu, Andreas pasti merencanakan sesuatu saat ini. Lalu apakah yang sedang di lakukan Andreas sekarang? Setelah panggilan berakhir, ibu Tio datang membawa dua cangkir teh hangat untuk Luna dan Aria.
“Silahkan di minum, mumpung masih hangat.” Ibu Tio menawarkan.
Ibu Tio menaruh minuman di atas meja. Luna dan Aria kemudian mengambil minuman itu. Karena masih panas, mereka berdua hanya baru meniup-niup teh itu.
“Terima kasih bu.” Balas Luna.
Ibu Tio kemudian duduk untuk mengobrol dengan mereka berdua, namun tetap saja harus dengan pelan-pelan. Karena ini ruang ICU, jadi tidak boleh terlalu berisik.
“Sama-sama. Barusan nak Luna menelpon siapa? Ibu seperti mendengar suara telpon barusan.” Tanya ibu Tio.
“Oh, tadi aku menelepon ketua OSIS, bu. Dia juga ingin kemari untuk memastikan keadaan Tio.” Jawab Luna.
“Sebenarnya ibu tidak ingin terlalu banyak orang yang mengetahui tentang kondisi Tio saat ini. Akan tetapi karena ketua OSIS yang akan datang apa boleh buat.” Balas ibu Tio sambil melihat Tio yang masih terbaring di tempat tidur.
Aria yang sedari tadi menyimak pembicaraan Luna dengan ibu Tio sedikit merasa janggal setelah melihat kondisi Tio. Memang badannya penuh luka, namun Aria bisa merasakan sesuatu yang serius karena tidak mungkin jika hanya di pukuli bisa sampai tidak sadarkan diri bahkan kritis seperti saat ini.
“Anu.. Boleh aku bertanya bu?” Tanya Aria dengan suara pelan.
Ibu Tio menoleh ke arah Aria. Ibu Tio melihat wajah Aria yang sedikit murung.
“Ada apa nak Aria?” Balas ibu Tio.
“Sebenarnya apa yang membuat Tio tidak sadarkan diri sampai sekarang?” Lanjut Aria sambil menundukkan kepalanya.
Ibu Tio kembali melihat Tio yang masih tertidur. Ibu Tio menjelaskan kepada Aria tentang hasil pemeriksaan semalam.
“Selain luka-lukanya, Tio juga mendapat retak tulang belakang dan bahunya. Mungkin karena rasa sakit yang berlebihan membuat tubuhnya tidak kuat menahan rasa sakit itu, maka dari itu dia masih belum sadar.” Jelas ibu Tio.
“Kasihan sekali Tio.” Aria merasa iba.
Aria melihat ke arah ibu Tio. Aria sangat terpukul mendengar kondisi Tio yang sesungguhnya. Pantas jika dia sampai pingsan, retak tulang pasti sakit sekali. Aria kemudian menundukkan kepalanya lagi dan memegangi tangannya yang gemetar.
“Apa menurut ibu ini berkaitan dengan pem-bully-an Tio?” Luna melanjutkan pembicaraan.
“Jadi benar mereka pelakunya.” Luna sedikit marah.
“Jangan terburu-buru menuduh orang, lebih baik kita tanyakan langsung saat Tio sadar nanti. Kita masih belum ada bukti.” Ibu Tio menasehati Luna.
Ibu Tio, Luna dan Aria melanjutkan perbincangan mereka. Sembari menunggu Andreas datang, Luna dan Aria minum teh buatan ibu Tio sambil beristirahat setelah capek mengayuh sepeda ke rumah sakit.
Di ruang rapat, Andreas yang menelepon menggunakan loud speaker didengar oleh semua guru dan juga kepala sekolah. Mereka hanya bisa tertunduk lesu setelah mendengarnya.
"Kalian semua dengar?" Tanya Andreas.
"Ya, kami mendengarnya dengan jelas." Kepala sekolah mewakili menjawab.
Andreas mematikan layar smartphone miliknya lalu mengantongi lagi smartphonenya di saku bajunya. Andreas mengajak mereka untuk segera bergegas.
"Kalian semua bersiap, kita segera berangkat ke rumah sakit." Tegas Andreas.
Para komite dan juga guru olahraga segera bersiap berangkat. Kepala sekolah kemudian menghubungi supirnya untuk segera menjemput para rombongan di sekolah. Kali ini yang ikut dari OSIS hanyalah Andreas, Ryan dan Astrid. Tak lama kemudian, sebuah mobil van datang. Mereka semua masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan ke rumah sakit.
Rombongan Andreas pun datang di rumah sakit bersama para guru dan kepala sekolah. Mereka langsung menuju ruang ICU namun dihadang oleh petugas keamanan rumah sakit.
“Maaf mengganggu, semuanya ada perlu apa? Ruang ICU tidak boleh masuk beramai-ramai. Karena sebelumnya ada dua orang yang sudah masuk, silahkan menunggu giliran.” Jelas petugas keamanan.
Andreas maju untuk menjelaskan keadaannya. Tidak enak jika nantinya terjadi salah paham.
“Maafkan kami pak, namun saya kemari membawa orang-orang yang bertanggung jawab atas musibah yang dialami pasien yang bernama Tio.” Balas Andreas.
“Benarkah begitu?” Tanya petugas keamanan kepada para guru.
Kepala sekolah angkat bicara, beliau mewakili para guru untuk meyakinkan petugas keamanan itu.
“Benar pak. Karena kami telah melakukan kesalahan, siswa kami jadi seperti ini. Kami kemari untuk melihat keadaannya, cukup sebentar saja.” Jawab kepala sekolah.
“Baik, tunggu sebentar. Saya akan melaporkan kepada atasan terlebih dahulu.” Balas petugas keamanan.
Petugas itu lalu menelepon atasannya tentang izin untuk memasuki ruang ICU. Kemudian atasan dari petugas keamanan tadi mendatangi rombongan dan berdiskusi. Setelah berdiskusi beberapa saat, akhirnya rombongan diperbolehkan masuk.
“Permisi” Andreas mengucap salam dengan pelan
“Ya, silahkan.” Ibu Tio menjawab.
Ibu Tio terkejut melihat rombongan yang datang. Luna langsung tersadar, jadi ini yang di maksud Andreas “Kami semua” tadi. Andreas membawa semua yang bertanggung jawab atas kejadian ini.
“Maafkan kami jika kami datang beramai-ramai begini.” Andreas meminta maaf kepada ibu Tio.
“Sebenarnya ada apa ini?” Ibu Tio mulai kebingungan.
Ibu Tio merasa tidak nyaman dengan kedatangan orang-orang sebanyak ini. Ibu Tio khawatir akan menggangu di ruang ICU ini. Kemudian seorang petugas keamanan masuk ke dalam dan menjelaskan jika sudah diizinkan untuk sebentar saja. Petugas itu juga menghimbau agar segera menyelesaikan urusan di tempat itu.
Mendengar itu, Andreas sudah tidak mau berlama-lama lagi. Dia segera memperkenalkan dirinya dan juga menjelaskan kepada ibu Tio tujuannya membawa orang-orang sebanyak ini ke rumah sakit.
“Sebelumnya biarkan saya memperkenalkan diri, saya Andreas ketua OSIS. Saya datang ke sini membawa orang-orang yang bertanggung jawab atas keadaan Tio sekarang.” Jelas Andreas.