
“Hah, aku di mana?” Luna sampai di tempat yang belum pernah dia kunjungi.
Luna melihat ke sekeliling, yang dia lihat hanyalah hamparan padang rumput yang luas. Lalu, Luna baru sadar tentang sesuatu hal.
“Tunggu.. Bukannya hari sudah malam, tapi kenapa di sini siang dan terik matahari. Di mana saljunya?” Tanya Luna pada dirinya sendiri.
Luna menjadi sedikit ketakutan karena dia hanya sendiri di sebuah tempat asing. Ternyata skill deck ini yang membawanya ke tempat ini. Luna memakai skill deck di tangannya karena benda itu memiliki pengait seperti jam tangan.
Setelah Luna memakai skill decknya, kemudian kartunya kembali bersinar seperti saat hujan salju tadi dan terbang di depannya. Kartu itu menyala sangat terang lalu berubah menjadi makhluk kecil yang terbang. Luna menjadi histeris karena ketakutan.
"Akhirnya kita bertemu." Ucap makhluk itu.
Makhluk itu bisa bicara. Luna mundur ke belakang lalu berteriak.
“Uwwaaaaahhhhh... Hantu!!" Teriak Luna.
Luna ingin berteriak minta tolong, tapi sayangnya tidak ada orang lain di sini. Dia kemudian berteriak saking takutnya.
“Tunggu, aku bukan hantu." balasnya.
“K-k-k-kamu bisa bicara dan kamu juga terbang. Tidak salah lagi, kamu beneran hantu...” Teriak Luna yang kembali histeris.
Makhluk itu berusaha menghentikan Luna. Dia ingin menjelaskan kepadanya namun terlebih dahulu Luna harus tenang.
“Tenanglah dahulu, aku akan jelaskan kepadamu." makhluk itu meminta Luna untuk tenang.
Luna mencoba untuk tenang. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan, begitu terus sampai di ulang beberapa kali. Setelah Luna tenang, dia mulai bertanya kepada makhluk itu.
“Kamu itu apa sebenarnya? Lalu aku di mana sekarang?” Tanya Luna kepada makhluk itu.
Makhluk itu senang saat Luna yang akhirnya bisa tenang. Dengan senang hati makhluk itu menjawab pertanyaan Luna lalu mulai menjelaskan kepadanya.
“Pertama-tama perkenalkan namaku Fox, monster beratribut cahaya dan seekor rubah pengendali petir. Dirimu sekarang sedang berada di Battlefield, dunia baru setelah dunia kami para monster." Jawab Fox.
“Monster.. Cahaya.. Battlefield..? Aaaaaahhhh aku benar-benar bingung." Keluh Luna kebingungan.
Luna menyerah setelah mendengar penjelasan Fox. Dia benar-benar tidak mengerti apa itu monster dan apa itu Battlefield.
“Akan aku jelaskan tentang semuanya kepadamu. Ini adalah dunia baru yang telah diciptakan oleh sang kesatria naga dan para dewa monster.” Fox menjelaskan kepada Luna.
“Kesatria naga?” Luna masih bingung.
Fox tidak menyerah. Dia terus menjelaskan secara detail sampai Luna bisa memahaminya.
“Beberapa waktu lalu di dunia kami. Para monster berada di ujung kehancuran. Ada satu dewa kegelapan yang lolos ke dunia para monster dan ingin menghancurkan dunia kami. Akan tetapi, sang kesatria naga berhasil menyelamatkan dunia itu." jelas Fox.
Luna mendengarkan penjelasan Fox. Namun menurut Luna, ada yang salah dengan apa yang diucapkan oleh Fox.
“Lalu kenapa aku berada di sini? Jika dunia para monster sudah terselamatkan, lalu untuk apa ada tempat ini?” Tanya Luna.
Ternyata penjelasan Fox kurang rinci. Fox kemudian melanjutkan penjelasannya.
“Dunia kami memang terselamatkan, namun itulah awal dari masalah baru. Sang dewa kegelapan belum benar-benar kalah. Dia berhasil melarikan diri dengan cara memecah tubuhnya sendiri menjadi 9 bagian dan salah satu pecahannya diyakini berbentuk monster dengan wujud naga hitam berkepala satu dan berekor satu. Sang kesatria naga kemudian mengorbankan nyawanya untuk membuat dunia ini lalu menyegel kami para monster ke dalam wujud kartu." Jawab Fox.
Akhirnya Luna sedikit paham dengan penjelasan Fox sama halnya dengan pelajaran sejarah di sekolah. Ibarat sebuah perang namun musuh belum benar-benar kalah. Yang harus dilakukan hanyalah mencari musuh itu demi mengalahkannya.
“Dunia ini adalah tempat bertarung untuk para monster. Tempat ini berfungsi untuk menambah kekuatan dan level para monster. Hanya dengan bantuan manusia saja kami para monster dapat kembali ke bentuk kami yang sesungguhnya dan menggunakan kekuatan kami seutuhnya. Skill deck itu adalah kumpulan kemampuan kami para monster. Tanpa manusia yang mengaktifkannya, kami para monster tidak bisa bertarung. Kecuali monster level atas yang berada di Monster world, yaitu dunia asal kami. Mereka bisa bertarung tanpa bantuan manusia." Jawab Fox dengan jelas.
Luna semakin paham setelah mendengar penjelasan Fox. Jadi fungsi skill deck adalah mengeluarkan kemampuan para monster yang ada di dalam kartu.
“Oh jadi begitu rupanya, aku sedikit paham sekarang. Kalian para monster hanya bisa menggunakan kekuatan kalian dengan bantuan manusia, begitu singkatnya?" Luna memastikan.
“Benar, hanya di dunia ini juga kekuatan kami bisa digunakan. Di dunia manusia, kami para monster tidak bisa menggunakan kekuatan kami. Kami juga tidak bisa dipanggil saat berada di dunia manusia dan juga skill deck tidak akan bisa aktif walaupun kalian para manusia memaksa menggunakannya saat berada di dunia kalian. Di dunia manusia kami hanya bisa menjadi bentuk kami yang seperti sekarang, ini dinamakan Fairy mode, bentuk kecil para monster. Tidak semua monster memiliki bentuk Fairy mode, hanya monster level atas yang memilikinya. Selain itu, orang dewasa tidak akan bisa melihat kami dalam bentuk ini ataupun bentuk kami dalam kartu dan juga skill deck, karena hanya remaja dan anak-anak yang dapat melihat kami para monster." Jelas Fox.
Luna menemukan jawaban tentang ayah dan ibunya tidak melihat fenomena salju yang bersinar dan menjadi kartu. Jadi alasannya adalah hanya kami para remaja dan anak-anak yang bisa melihat kejadian itu.
“Pantas saja ayah dan ibuku tadi tidak bisa melihat salju yang berubah menjadi kartu. Aku benar-benar paham sekarang." Ujar Luna.
“Aku sangat yakin kalau sang kesatria naga tidak salah menyerahkan kami para monster kepada manusia. Mulai sekarang aku akan menjadi partnermu. Kalimat pemanggilku ada di kartu, cobalah baca untuk memanggilku." ucap Fox.
Fox kembali ke bentuk kartu, dia juga kembali ke tangan Luna. Luna mencari kalimat pemanggil Fox di kartu, dan dia menemukannya.
“Oh ini. Aku memanggilmu, sang rubah pengendali petir. MK II, Fox." Luna membaca kalimat pemanggil.
Kartu itu terbang ke atas lalu menyala terang seperti saat Fox menjadi bentuk Fairy tadi. Kemudian muncullah rubah raksasa di depan Luna.
“Inilah wujudku yang sebenarnya. Saat aku bertarung dengan monster lain, nantinya aku akan berwujud seperti ini." Fox menunjukkan dirinya.
Luna tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Rubah putih besar yang sangat indah berada di depannya. Luna mengagumi bentuk asli dari Fox.
“He-hebat, besar sekali." Luna terkagum.
Fox kemudian kembali ke wujud kartu dan kembali ke tangan Luna. Dia kembali keluar menjadi bentuk Fairy mode lagi.
Luna melihat ke sekeliling. Ternyata benar dengan apa yang Fox jelaskan. Tak berselang lama banyak anak-anak lain yang juga datang ke tempat ini. Bermacam-macam cahaya muncul satu-persatu.
Setelah cukup lama mendengar dan juga memahami penjelasan Fox. Luna sangat ingin pulang. Dia menanyakan cara keluar dari tempat ini kepada Fox.
“Lalu bagaimana aku keluar dari dunia ini? Apa aku akan terkurung di sini selamanya” Tanya Luna ketakutan.
“Tidak, tidak usah khawatir. Kamu tinggal mengatakan seperti yang tertera di skill deckmu, setelah itu kamu akan kembali ke titik awal sebelum kamu pergi ke dunia ini." jawab Fox.
Luna melihat lagi skill decknya. Di layar tertulis "Battlefield, Out" dan dia langsung membacanya.
“Baiklah. Battlefield, Out." Ucap Luna.
Cahaya kuning pun kembali muncul di sekeliling Luna. Pada akhirnya, dia pun kembali ke kamarnya.
“Syukurlah aku bisa pulang. Aku kira aku akan terkurung di sana selamanya." Luna merasa lega.
Tak lama kemudian, ibunya mendatangi kamar Luna. Ibu Luna membuka pintu kamar Luna sambil membawa secangkir coklat panas untuknya.
“Luna, ini coklat panasmu.” Ibu Luna memberikan secangkir coklat panas.
“Terima kasih banyak bu." balas Luna sambil menerimanya.
Dinginnya malam itu terobati dengan secangkir coklat panas, namun sebenarnya Luna sudah kepanasan sejak saat di Battlefield tadi.