
Andreas langsung masuk menuju ruang OSIS setelah Luna memberi tahu jika Airi benar-benar tidak terbukti bersalah. Kemudian semuanya ikut kembali masuk ke ruangan. Andreas langsung datang mendekati Airi, dengan cepat dia langsung meminta maaf.
“Aku benar-benar minta maaf kak!” Ucap Andreas.
Andreas menyesali perbuatannya itu, dia terlalu memaksakan egonya demi keyakinan dirinya ketika melihat sosok yang mengenakan hoodie tadi. Harusnya Andreas percaya kepada Phoenix dan Lancer sejak awal. Bahkan kedua monster milik kedua gadis yang berlatih tenis juga sudah mengingatkan jika Airi tidak bergerak sama sekali dari lapangan tempat latihan tenis tadi. Tidak seharusnya Andreas melakukan ini semua.
“Sudahlah Andreas, aku sendiri bahkan tidak tahu dengan apa yang kamu maksud tadi. Aku tidak memiliki hoodie dan aku tidak memiliki monster, sudah berapa kali aku bilang!” Balas Airi dengan bijak.
Airi bersikap biasa saja kepada Andreas karena dia sendiri tidak tahu apa-apa tentang semua yang dikatakan Andreas. Airi hanya menganggap ini hanyalah salah paham, dia sendiri tidak ingin memanjangkan kesalahpahaman ini lebih jauh.
Semuanya hanya diam saat menyaksikan Andreas meminta maaf kepada Airi. Di sini Ryan masih mencoba memercayai Andreas. Tidak ingin Andreas terlihat berbohong jika terpojok seperti sekarang, Ryan kemudian mulai bertanya kepada Andreas.
“Memang seberapa yakin kamu dengan wajah Airi?” tanya Ryan kepada Andreas
“Memang hanya sekilas tadi, tapi benar kan Lancer dia mirip dengan gadis ini?” Jawab Andreas lalu memastikan kepada Lancer
“Memang sedikit mirip dengannya, Andreas tidak berbohong masalah ini. Tapi ini sungguh aneh, tidak mungkin bukan jika gadis ini ada tiga?” Balas Lancer.
“Kami memang hanya kembar dua, jadi tidak mungkin kami ada tiga. Yang jelas seperti apa yang sudah diketahui tadi, aku sama sekali tidak kemana-mana sore ini. Aku terakhir bertemu Andreas ketika sehabis berganti baju tadi, itu saja.” Tegas Airi.
"Ya sudah kalau begitu, berarti musuh kita bukan Airi. Kita harus mencarinya lagi sampai dapat." Ucap Andreas dengan semangat.
Andreas akhirnya benar-benar menerima fakta yang ada jika Airi tidak terbukti sebagai musuh. Wajah Andreas terlihat sangat lega dan kembali seperti biasanya. Andreas tidak lagi termakan emosi seperti tadi. Keadaan pun kembali normal.
“Oke, kalau begitu kita akhiri saja masalah ini. Kami semua juga minta maaf telah membawamu ke sini kak, karena kami semua pun ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kedua belah pihak tidak ada yang berbohong, jadi kami perlu memastikan semuanya.” Ucap Ryan kepada Airi.
“Aku setuju dengan Ryan, tidak ada gunanya kita memanjangkan sebuah masalah yang sudah jelas akarnya.” Ucapku setuju.
“Aku juga sudah tidak apa-apa. baiklah mari kita pulang, hari mulai petang.” Ajak Airi.
Kami semua pun bubar. Selain Aria dan Airi, semuanya memutuskan untuk segera pulang. Aku ikut rombongan yang pulang, kami berjalan bersama menuju gerbang sekolah.
Aku berjalan di paling belakang. Luna melihatku lalu melambatkan jalannya. Luna kemudian mengajakku mengobrol karena melihatku yang diam saja saat berjalan menuju gerbang depan.
“Tumben kamu sekarang banyak bicara?” Luna menggodaku.
“Apa sih kamu, jangan melebih-lebihkan. Aku dari tadi diam saja bukan?" Balasku.
“Tidak, aku sama sekali tidak melebih-lebihkan! Tapi sejak simulasi pertama kamu menjadi sangat kritis. Bahkan argumenmu tentang duel tadi sangat bagus, kamu terlihat hebat dalam mengamati. Juga sewaktu masalah tadi kamu sudah ikut aktif berbicara.” Lanjut Luna.
Tidak aku sangka jika Luna menyadari semua, bahkan aku ikut tersadar setelah Luna bilang begitu. Ternyata aku sedikit berbeda sekarang. Aku lebih berani berbicara di depan banyak orang bahkan di depan kakak Aria yang sama sekali aku belum mengenalnya.
“Aku hanya ingin sedikit berubah. Dua duel ini sangatlah menarik, sayang untuk dilewatkan. Sejak aku sadar aku sangat ingin melihat duel ini. Lagipula itu hanyalah pendapat dari sudut pandangku, semua orang punya pendapat yang berbeda bukan. Dan juga ketika masalah tadi, jika tidak segera diselesaikan maka akan berakibat buruk terhadap hubungan mereka bukan?” Jelasku
“Tapi tetap saja, kamu mengalahkan kami semua yang menyaksikan duel. Bahkan Astrid dan Aria pun tidak bisa berkata apa-apa karena duel hari ini sangat menarik. Jujur aku sedikit merasa bangga dengan perubahanmu yang semakin hari semakin baik itu.” Puji Luna.
Aku malu dipuji berlebihan oleh Luna seperti itu. Lebih baik aku mengalihkan pembicaraan ke duel yang akan datang yaitu duel Luna dengan Aria. Bagaimana juga dia harus bersiap melawan Aria besok.
“Sudah, lebih baik pikirkan giliranmu. Lawanmu adalah Aria. Kamu sangat hebat bagiku karena aku pernah berduel denganmu, aku sama sekali tidak tahu dengan kemampuan monster Aria jadi lebih baik kamu bersiap untuk itu. Kalau begitu aku pulang dulu.” Lanjutku.
"Oke, sampai besok." Balas Luna.
Aria dan Airi menuju lapangan tenis sebelum pulang. Airi perlu menjelaskan kepada yang lain jika ada kesalahpahaman sedikit dan juga dia harus membubarkan para anggota untuk yang terakhir kalinya. Karena selanjutnya semua tugas itu sudah Rin yang melakukannya.
"Semuanya berbaris." Instruksi Airi
Para anggota klub tenis berbaris di depan Airi termasuk Rin dan Kana. Airi kemudian bergegas menjelaskan kepada mereka semua.
"Maafkan tadi ada sedikit kesalahpahaman dengan OSIS namun sekarang masalah itu sudah selesai. Bukan masalah serius jadi jangan terlalu dipikirkan." Jelas Airi.
Para anggota klub saling berbisik lega karena tidak ada masalah serius yang terjadi kepada Airi. Kemudian Airi menghela nafas dan segera membubarkan mereka semua untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Baiklah, ini terakhir kalinya aku membubarkan kalian karena mulai pertemuan besok yang akan bertugas seutuhnya adalah Rin. Silahkan bubar dan pulang ke rumah." Airi membubarkan barisan.
Setelah semuanya bubar, Airi mengajak Aria untuk segera pulang karena hari sudah sore. Sementara terlihat Rin dan Kana sedang membereskan peralatan klub.
“Pulang yuk!” Ajak Airi
“Yuk, tapi apa kakak tidak ikut membereskan alat-alat klub?” Tanya Aria.
“Tidak, aku sudah resmi mundur dari keanggotaan klub. Posisiku sekarang hanyalah anggota biasa.” Jawab Airi
“Kalau begitu ayo segera pulang, aku lapar.” Aria mengelus perutnya
“Kamu ini makan saja yang dipikir!” Balas Airi.
“Hehe, habis makanan kakak enak sih.” Aria memuji masakan Airi.
Mereka berdua bergegas pulang, namun sebelum itu Airi pamit pulang kepada Rin dan Kana. Airi tidak ikut beres-beres sore ini.
"Kalian berdua, aku pulang dulu ya!! Maaf aku tidak ikut beres-beres." Teriak Airi.
"Ya kak, tidak apa-apa!" Balas Kana.
Mereka kemudian pergi meninggalkan lapangan tenis. Di perjalanan, Aria masih sedikit terpikir tentang hal tadi. Dia pun menanyakan kepada Airi.
“Kak, kenapa tadi kakak tidak membantah ataupun marah ketika dituduh Andreas?” Tanya Aria.
“Jika aku membantah itu berarti aku akan terlihat seperti orang yang bersalah.” Jawab Airim
“Tapi kan tadi kakak tidak terbukti bersalah, lalu kenapa kakak masih bisa tenang?” Aria bertanya lagi.
“Dengar Aria, mau kamu benar atau salah yang terpenting adalah biarkan orang yang berpikir kamu bersalah untuk memastikan sendiri. Jika kamu memang tidak bersalah jangan takut. Kamu jangan membantah ataupun marah padanya, dan jika pada akhirnya kamu tidak terbukti bersalah, orang yang menuduhmu akan meminta maaf padamu. Seperti tadi, bukankah cara itu yang terbaik. Kita tidak perlu melawan kemarahan orang dengan kemarahan juga, itu tidak akan menyelesaikan apapun.” Jawab Airi sambil menasihati Aria.
“Ohh begitu, aku paham kak. Kakak benar-benar sudah dewasa.” Puji Aria.
“Dasar kamu ini, oh iya ayo mampir belanja. Aku mau beli sayur dan bumbu dapur.” Balas Airi sambil mengelus rambut Aria.
“Baik kak!” Jawab Aria dengan tersenyum.
Kakak beradik itu pun akur seperti biasanya. Mereka mampir ke minimarket sebelum sampai ke rumah. Aria harus menahan laparnya sedikit lama lagi.