HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 98: Nostalgia



"Hmm.. Kayaknya ada yang kelupaan deh!" Aku berpikir.


Aku kemudian berjalan menuju ke kelas, tapi ada hal yang masih janggal setelah bertemu dengan Astrid barusan. Dalam perjalanan aku masih memikirkan apa yang sebenarnya aku lupa tadi.


“Astaga.. Aku lupa menanyakan dari mana Astrid mendapatkan nomorku.” Aku teringat.


Cerobohnya diriku! Padahal Astrid sudah di depanku tadi, tapi aku malah lupa hanya karena masalah uang. Nanti siang aku harus menanyakan itu dan jangan sampai lupa lagi.


Aku sampai di kelas, aku teringat hari ini adalah jadwal piketku. Aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa setelah aku mengenal mereka, hidupku semakin bisa dinikmati. Berbeda dengan dulu saat jadwal piketku tiba seluruh kelas sangat berantakan.


"Bersihnya!" Ucapku senang.


Sekarang keadaan jauh berbeda, kelas sangat rapi seperti biasanya. Aku pun mengecek tempat sampah, ternyata hanya ada sedikit sampah disitu. Aku juga mengecek lantai kelas, debu di lantai pun hanya sedikit di beberapa tempat. Dan terakhir aku mengecek kapur tulis, ternyata masih ada banyak.


"Belum pernah terjadi satu kali pun keadaan kelas seperti ini. Ah iya, aku harus mengerjakan piket sebelum semakin ramai." Aku bergegas.


Sudah ada beberapa siswa di kelas. Aku kemudian mengerjakan tugasku dengan cepat, aku juga sampai tersenyum sendiri karena ini benar-benar seperti mimpi. Karena kapur masih banyak jadi aku segera bergegas menyapu lantai dan setelah itu membuang sampah. Tidak sampai 10 menit, semua itu selesai dengan sangat bersih. Lalu kemudian aku duduk di tempatku untuk beristirahat sambil membaca buku pelajaran pertama.


"Aku berharap kelas akan seperti ini terus seterusnya." Ucapku senang sambil memandangi langit.


Matahari pun menampakkan dirinya. Karena sudah sedikit siang, Luna pun sudah datang ke kelas dan menyapaku.


“Hai Tio, tumben pagi-pagi sudah datang?” Tanya Luna sambil meletakkan tasnya di meja.


“Aku hari ini piket kan?” Jawabku sambil melihat ke arah Luna.


“Astaga aku lupa, lalu sudah selesai?” Tanya Luna lagi.


“Sudah, hanya sedikit soalnya yang bisa kukerjakan. Kelas benar-benar bersih pagi ini!” Jawabku sambil tersenyum lega.


Luna melupakan hari di mana Tio bertugas untuk piket. Karena kejadian kemarin yang membuat Tio tidak masuk sekolah menjadikan Luna tidak ingat akan hari ini. Harusnya dia bisa berangkat lebih pagi dari ini.


Aku masih tersenyum sendiri. Luna kemudian duduk sambil memandangiku, aku menjadi sedikit risih karena dilihat Luna.


“Ada apa melihatku sampai segitunya?” Tanyaku.


“Aku hanya heran saja melihatmu senyum-senyum sendiri.” Luna heran.


Aku ingin sedikit bernostalgia ke hari itu, hari pertama aku berbicara dan bertemu dengan Luna secara sadar. Soalnya selama kelas 1 meski aku tahu dia teman sekelasku tetapi aku tidak pernah berbicara dengannya.


“Apa kamu ingat dulu waktu kita pertama bicara?” Tanyaku lagi.


“Hah.. Yang mana?” Luna bingung


“Itu lho, hari piketku. Hari itu kelas ini seperti habis diterjang topan. Semuanya berantakan dan sangatlah kotor. Hari itu juga kamu mengajakku bicara.” Jelasku.


“Oh itu aku sih ingat, kenapa memangnya?” Luna penasaran.


Aku kembali memandangi seluruh sudut kelas, aku masih saja senang karena kelas tidak sekotor biasanya. Ini semua berkat Luna juga! Tanpa dia, mungkin aku masih saja harus mengerjakan piket dengan bersusah-payah.


“Lihat hari ini, semuanya berbeda. Saat aku datang hampir seluruh kelas bersih, sampah juga sedikit. Semuanya berubah karena kamu.” Ucapku ke Luna


“Ehh.. A-aku.. Kok aku sih!” Luna jadi salah tingkah


Aku masih saja berandai-andai soal hari itu. Andai Luna tidak mengajakku bicara, andai dia adalah orang jahat, andai dia ikut gerombolan romi, lalu apakah aku masih akan bisa seperti hari ini?


“Andai hari itu kamu seperti yang lain yang membiarkan aku selalu sendiri. Jika kamu tidak menggangguku dan sampai mengajakku berduel, aku tidak tahu sampai hari ini aku akan seperti apa?” Lanjutku.


“A-ah.. Kalau itu sih biasa saja. Ja-jangan berlebihan.” Luna masih salah tingkah


“Aku hanya penasaran dengan suatu hal.” Aku terpikir sesuatu.


“Apa itu?” Tanya Luna.


Ada yang aneh dengan gerombolan Romi, harusnya mereka bisa saja tahu aku hanya masuk rumah sakit. Akan tetapi aku sudah sama sekali tidak bertemu mereka, sedikit aneh jika mereka melepaskan aku begitu saja.


“Setelah aku keluar dari rumah sakit, aku belum bertemu dengan mereka lagi ternyata.” Jawabku memberi tahu Luna.


“Mereka? Gerombolan pem-bully itu?” Lanjut Luna bertanya.


“Iya, aneh bukan?” Balasku


“Kamu memangnya ingin bertemu mereka lagi? Mau masuk rumah sakit lagi?” Tanya Luna.


“Ya bukan begitu juga. Aku hanya heran harusnya mereka tidak melepaskan aku semudah itu bukan? Aku yakin mereka masih belum puas dengan membuatku masuk rumah sakit. Apalagi saat mendengar aku sudah keluar dan sembuh, harusnya mereka pasti mencariku lagi kan?” Aku heran.


Luna langsung terdiam, ada benarnya dengan apa yang dikatakan oleh Tio. Gerombolan itu pasti tidak akan dengan mudah melepaskan Tio yang sudah membuat mereka keluar dari sekolah meskipun kelakuan mereka sendiri penyebabnya. Ya, ini aneh menurut Luna.


“Kalau dipikir-pikir iya juga sih, kamu ada benarnya. Meskipun cukup aneh tapi bukankah seperti ini sudah cukup bagus untukmu, kenapa harus memikirkan mereka lagi? Intinya berarti kamu sudah bebas dari mereka.” Balas Luna.


Benar kata Luna, bebas dari mereka ternyata juga cukup melegakan. Aku menyadari sesuatu pagi ini sewaktu piket, pandangan siswa sekelas tidak seperti biasanya kepadaku. Mereka sudah lebih cuek dengan keberadaanku tidak sewaktu masih ada Romi dan kawan-kawan, pandangan mereka sinis menusuk.


“Hmm.. Sebisa mungkin akan kunikmati masa-masa ini. Aku yakin mereka pasti kembali mencariku, aku harus bersiap untuk itu.” Lanjutku.


Kemudian saat kami asyik mengobrol, guru pelajaran pertama pin memasuki kelas. Seluruh siswa langsung kembali ke tempat masing-masing lalu mengucapkan salam.


"Berdiri.." Ketua kelas menginstruksikan untuk berdiri.


Kami semua berdiri untuk memberi salam kepada guru yang akan mengajar pagi ini.


"Beri salam!" Instruksi ketua kelas


"Selamat pagi, bu guru!" Ucap kami sekelas.


"Ya, selamat pagi!" Sahut guru yang mengajar.


"Duduk!" Instruksi ketua kelas.


Kami semua kembali duduk setelah selesai menyambut guru pelajaran pertama. Bu guru itu kemudian menyuruh kami untuk bersiap belajar.


"Keluarkan buku kalian dan buka halaman 48." Suruh bu guru.


Aku kemudian mengeluarkan buku pelajaran dari tasku, tidak hanya aku tapi juga semua siswa kelasku. Kemudian pelajaran pagi ini dimulai, sedangkan aku masih tersenyum sendiri dengan keadaan pagi ini. Entah kenapa pagi ini begitu damai untukku, aku akan sangat menikmati masa-masa seperti ini.