
[6:00 A.m.]
Tutututut... tutututut... (Suara jam weker)
Pagi yang cerah telah tiba, burung-burung berkicau saling bersahutan dengan suara jam weker yang berbunyi membangunkanku. Terdengar suara pintu kamar yang terbuka, namun mataku seakan enggan terbuka karena masih mengantuk.
Setengah sadar aku mematikan alarmku pagi ini. Hari ini hari minggu, tidak salah memang bangun sepagi ini di hari minggu. Tapi jika aku bisa, aku ingin tidur lebih lama sedikit lagi. Namun aku tidak bisa, ada suatu hal yang harus aku kerjakan di hari minggu yang sepagi ini.
“Tio bangun, bukankah kamu harus mengerjakan rutinitas hari minggumu?” Ibu membuka gorden kamarku.
Mataku silau saat jendela kamarku dibuka oleh ibu. Cahaya matahari pagi masuk ke dalam kamar, aku menutup mataku dengan tangan kananku untuk menghalangi silaunya cahaya dari luar.
“Iya sebentar bu, 10 menit lagi saja.” Jawabku setengah sadar.
Ibu melihat ke arahku yang masih bermalas-malasan di tempat tidur. Aku mengalihkan posisi tidurku menghadap ke tembok untuk melanjutkan tidurku paling tidak 10 menit lagi. Aku masih mengantuk.
“Oh begitu. Ya sudah, tapi jangan menyesal kalau kamu nanti kesiangan ya!” Kata ibu sambil meninggalkan kamar.
Mendengar ucapan ibu, tanpa pikir panjang aku langsung melompat dari kamar tidur. Aku tergesa-gesa mencari handukku. Karena masih setengah sadar sampai-sampai aku sendiri tidak ingat aku menaruh handuk di mana. Ternyata handuk yang aku cari tergantung di belakang pintu, ya memang tempatnya di situ. Karena efek ngantuk aku jadi linglung, setelah ketemu aku langsung lari terbirit-birit menuju ke kamar mandi.
“Aku harus cepat." Aku terburu-buru.
Aku berlari melewati ibu, aku segera menuju kamar mandi. Aku mandi secepat yang aku bisa, tapi aku juga tidak asal mandi. Selesai aku mandi, aku berganti baju dan segera sarapan. Aku menuju ke dapur dan ibu sudah selesai memasak sarapan untuk pagi ini. Aku harus cepat, kalau tidak aku akan kesiangan nanti. Selesai sarapan aku langsung menuju ke depan dan memakai sepatu joggingku.
“Aku pergi dulu bu." Aku pamit.
“Iya, hati-hati di jalan." Balas ibu.
Aku mulai berlari pagi. Hari ini masih dingin karena saljunya masih ada, tapi salju hari ini sudah berkurang cukup banyak karena sejak kemarin cuaca panas sesuai dengan perkiraan cuaca.
Aku mulai memacu lariku lebih kencang. Setiap hari minggu, aku selalu ada janji dengan seseorang. Aku tidak ingin kesiangan atau dia akan menunggu lama kedatanganku nantinya. Itu semua karena aku yang membutuhkannya, jadi sangat tidak enak jika aku terlambat.
[SMA]
Aku tiba di gerbang sekolah di hari minggu. Ya tidak salah dengar, aku memang selalu ke sekolah di minggu pagi. Sekolah terlihat sepi dan tenang. Ya karena tidak ada yang datang di hari minggu ke sekolah selain diriku, aneh bukan?
“Syukurlah aku sampai tepat waktu." Aku menghela nafas panjang.
Aku sudah berkeringat pagi ini, rasa-rasanya mandiku pagi ini sungguh sia-sia. Sekarang aku kecapekan karena tadi berlari cukup kencang untuk menuju kemari.
Aku ingat benar kala itu aku bilang kepada pak Indra jika aku tidak ingin mengikuti pelajaran olahraga lagi. Kemudian saat itu pak Indra menyarankan kepadaku untuk tidak mengikuti pelajaran olahraga akan tetapi aku diharuskan untuk mengganti pelajaran olahraga di hari minggu. Aku sangat senang mendengarnya, aku langsung menerima tawaran pak Indra meskipun aku harus mengorbankan waktu hari mingguku. Pak Indra sudah sangat baik kepadaku, itulah alasanku kenapa harus berangkat pagi-pagi ke sekolah pada hari minggu.
Namun aku masih penasaran dengan pak Indra yang mau merelakan waktunya di hari minggu hanya untuk seorang sepertiku. Aku pernah bertanya kepada pak Indra tentang alasannya melakukan ini semua. Beliau hanya mengatakan jika beliau sering berolahraga berlari sampai ke sekolah.
Dan sampai kelas 2 ini, beliau masih mengajar di kelasku. Ketika kenaikan kelas, aku merasa senang saat melihat daftar guru yang mengajar di kelasku. Yang pertama aku lihat adalah guru olahraga, dan ternyata masih pak Indra. Aku sangat senang mengetahuinya, aku tidak dapat membayangkan jika guru olahraga diganti dengan orang lain. Pasti nilai olahragaku akan merah semua karena tidak pernah mengikutinya.
Cukup lama aku berdiri di depan gerbang sekolah, sudah sekitar 15 menitan aku di sini. Tak lama kemudian, aku melihat seseorang berlari menuju ke sini. Ternyata pak Indra sudah sampai di sekolah, beliau berlari sambil membawa tas miliknya yang berisi tabel penilaian.
“Pagi Tio, kamu pagi sekali datang ke sini?” Sapa pak Indra.
“Pagi juga pak. Itu karena aku tidak ingin terlambat, aku harus datang lebih pagi agar pak guru tidak lama menunggu kedatanganku.” Jawabku.
“Kamu ini, kan bisa mengirim pesan ke bapak jika kamu terlambat." Kata beliau.
“Tapi tetap saja pak, hari ini sangat penting bagiku. Jika aku tidak datang pasti nilaiku akan kosong untuk pelajaran kemarin." Balasku.
“Baiklah, ayo segera mulai!" Ajak beliau.
Pak Indra kemudian membuka pintu gerbang dengan kunci yang sudah beliau siapkan. Aku dan pak Indra pun masuk ke dalam area sekolah lalu segera menuju ke gudang olahraga. Aku membuka buku catatanku, aku menulis tentang pelajaran sabtu kemarin yang di pelajari adalah sprint 100 meter, lompat jauh dan lompat tinggi. Aku dan pak guru menuju ke gudang olahraga untuk mengambil semua yang dibutuhkan untuk praktik hari ini.
Pak guru kembali membuka pintu gudang dengan kunci yang beliau bawa. Saat gudang dibuka, sungguh debu-debu semuanya beterbangan. Aku batuk-batuk karena debu-debu ini. Pak Indra memasuki gudang, aku kemudian mengikutinya.
“Baiklah, kita akan mulai dengan lompat tinggi saja terlebih dahulu. Karena akan susah jika kita mengeluarkan matras besar ini keluar, kita hanya dua orang saja hari ini. Kamu tidak apa-apa kan melakukannya di sini?” Tanya pak Indra.
“Bahkan di tempat sekotor apapun aku akan melakukannya pak. Aku sangat ingin mendapat nilai." Jawabku dengan semangat.
“Dasar kamu ini, tidak segitunya juga. Segera lakukan pemanasan dan peregangan otot. Bapak tidak ingin kamu cedera di hari sepagi ini." Kata beliau.
Aku segera melakukan pemanasan. Walaupun aku sangat ingin segera melakukan lompat tinggi, aku tidak boleh terburu-buru saat melakukan pemanasan. Karena pemanasan itu penting dan juga bagian dari olahraga. Aku harus dengan benar melakukannya, kalau tidak kemungkinan cedera akan sangat tinggi.
Sedangkan pak guru mengatur matras untukku melakukan lompat tinggi. Pak guru juga mengatur tiang kanan dan kiri untuk meletakkan mistar pengukur ketinggian.
“Selesai pak." Aku selesai melakukan pemanasan
“Baiklah, ayo kita mulai." Balas pak Indra.