
Kakek terlihat berjalan mendekat menuju ke rumah. Kakek langsung menuju ke ruang tengah setelah dipanggil oleh ibu.
“Oh ada Reza rupanya. Lalu ada apa tadi kamu memanggilku, Melisa?” Tanya kakek ke ibu ketika memasuki rumah.
“Kami akan menceritakan semuanya, yah.” Jawab ibu dengan raut serius.
“Kelihatannya serius sekali! Nek buat teh dulu, kita harus mendengarkan ini.” Suruh kakek.
Nenek segera menuju ke dapur lalu membuat satu teko kecil teh. Setelah itu nenek mengambil beberapa cangkir lalu meletakkan semuanya di atas nampan. Kakek lalu mengajak kami semua duduk, aku malah masih duduk di sofa yang aku buat tidur semalam.
Nenek kembali dari dapur dan meletakkan nampan berisi teh dan cangkir di atas meja. Nenek kemudian duduk di samping kakek dan membagi cangkir-cangkir tadi lalu menuangkan teh ke satu-persatu cangkir itu.
“Lalu apa yang ingin kalian ceritakan?” Tanya kakek sambil menyeruput teh.
“Jadi begini....” Ibu memulai bercerita.
Pertama-tama ibu menyuruh kakek dan nenek agar tidak kaget mendengarnya, kakek dan nenek setuju dengan ibu. Lalu ibu mulai memberi tahu ke bagian intinya. Karena kakek dan nenek sudah mengetahui jika aku selalu di-bully, ibu memberitahu jika aku kemarin masuk rumah sakit karena dihajar oleh para pembully sampai aku babak belur dan pingsan sehingga harus dirawat.
"Yang benar Tio masuk rumah sakit kemarin?" Kakek sedikit kaget mendengarnya.
"Benar kek, aku pingsan selama hampir dua hari karena mereka." Jawabku.
Kakek dan nenek sebenarnya sangat kaget mendengarnya, tapi karena ibu sudah menyuruh agar tenang tadi mereka jadi tidak terlalu syok. Kakek menanyakan apakah aku baik-baik saja lalu aku menjawab jika badanku saat ini masih sakit karena belum pulih benar.
"Kamu tidak apa-apa nak?" Kakek memastikan keadaanku.
"Aku sekarang sudah tidak apa-apa kek, tapi aku masih dalam pemulihan karena kemarin aku mengalami retak tulang." Balasku.
"Lalu apakah karena itu kalian pergi ke sini?" Tanya kakek.
Kemudian nenek bertanya apakah itu alasan kami pergi dari rumah, tentu kami jawab bukan. Kakek dan nenek pun menanyakan alasan yang sebenarnya kenapa kami datang ke sini di saat yang harusnya tidak memungkinkan, mereka sangat ingin tahu.
Di sini aku membutuhkan peran Reza, karena dia pernah bercerita tentang monster dan juga Battlefield pada kakek dan nenek tetapi tidak dipercayai. Sekarang aku dan ibu menceritakan kepada kakek dan nenek, ibu menceritakan dengan cukup meyakinkan meskipun dia belum pernah sama sekali melihat itu semua, tapi ibu percaya padaku.
"Apa benar dunia itu ada Tio? Reza selalu saja bilang kepada kami jika dia masuk ke dunia lain bersama monster." Tanya nenek.
"Benar nek, aku tidak berani berbohong kepada kakek dan nenek tentang hal ini. Semua itu benar karena aku juga mengalaminya sendiri masuk ke dunia itu." Jawabku.
Setelah kakek dan nenek mendengar sesuatu yang tidak mungkin namun sangat meyakinkan. Kakek menanyakan apa hubungannya semua itu dengan kami pergi ke sini. Akhirnya aku mendapatkan pertanyaan bagus dari kakek.
"Lalu apa hubungannya dunia itu dengan kepergian kalian ini?" Tanya kakek.
"Akan aku jelaskan kek, tapi sebelum itu aku akan meminjam smartphone Reza terlebih dahulu." Jawabku.
"Sudah sini pinjam dulu." Balasku.
Aku meminjam smartphone milik Reza, dia langsung meminjamkan padaku. Aku kemudian mencari berita tentang anak hilang. Waktu untuk mencari berita itu cukup lama karena jaringan internet di sini sangat lambat. Setelah aku menemukan beritanya, aku menyuruh kakek membacanya. Kakek memakai kacamata lalu membaca berita sambil aku pandu menggunakan smartphone.
"Hilang secara misterius?" Kakek bertanya-tanya
"Kemungkinan mereka hilang di Battlefield kek." Jawabku.
Sontak muncul pertanyaan besar di benak kakek dan nenek karena semua ini. Mereka telah mendengar hal yang mustahil bagi mereka, lalu ditambah lagi dengan berita tentang anak hilang ini. Di sini aku dan ibu menjelaskan lebih jauh.
Kami memberitahukan jika semua anak yang hilang tadi adalah sebagian kecil anak-anak yang selama ini mem-bully-ku. Di sini kakek dan nenek kaget serta menjadi antusias. Aku juga menjelaskan jika di berita sampai saat ini mereka belum ditemukan di seluruh penjuru kota. Polisi pun beberapa hari pencarian tidak menemukan hasil. Kakek pun berpikir jika ini penculikan, namun aku langsung menepis argumen kakek barusan
Aku berpendapat jika tidak mungkin kebetulan penculik membawa semua anak itu dan semuanya ada hubungannya denganku. Aku kemudian mengeluarkan argumen ku jika mereka hilang di battlefield. Aku memberitahu jika di Battlefield sekarang ada seseorang yang sangat berbahaya, Reza sekarang yang menjadi antusias. Setelah aku bilang jika ada seseorang yang membawa kekuatan dewa, Reza mulai ikut bicara. Menurut Reza, memang battlefield bukanlah tempat yang aman. Tidak adanya pengaruh orang dewasa bisa saja disalah gunakan oleh seseorang yang memiliki niat jahat seperti menghilangkan anak-anak tadi.
"Benar kata kak Tio, Battlefield bukanlah tempat yang aman." Ucap Reza.
"Sekarang ditambah lagi dengan adanya seseorang yang jahat berkeliaran di dunia itu, sebenarnya tugasku dan teman-temanku adalah menghentikan orang itu. Namun untuk sekarang, akan sangat berbahaya jika aku masih ada di sana. Teman-temanku mungkin bisa saja terancam keselamatannya." Lanjutku.
"Lalu kalau berbahaya kenapa kalian bermain di dunia itu?" Tanya nenek dengan khawatir.
"Aku baru satu kali ke sana dan tidak memiliki niat untuk kembali nek. Sejak awal aku merasa dunia itu memang tidak aman bagiku. Meskipun aku memiliki monster langka, tapi itu semua belum tentu menjamin keselamatanku." Jawab Reza.
Reza juga bilang jika dia jarang masuk ke battlefield dan juga jarang mengeluarkan kartu monsternya di dunia nyata agar dia terhindar dari bahaya. Karena Reza memberitahu aku jika monsternya cukup spesial dan langka. Aku malah menjadi penasaran dengan monster milik Reza sekarang.
"Kalau aku, itu memang tugas yang harus aku emban bersama teman-temanku. Jika aku tidak masuk ke sana dan mencari orang jahat itu maka semuanya tidak akan pernah selesai." Jawabku.
"Sudah jelas kan ayah, ibu? Kami bertiga tidak berbohong kali ini. Bahkan Tio dan Reza saja baru bertemu." Lanjut ibu.
Kakek dan nenek akhirnya paham. Di sini mereka mau tidak mau harus percaya dengan apa yang aku, ibu dan Reza bilang karena tidak mungkin ada tiga orang yang berbohong padahal mereka baru saja bertemu. Lalu kakek bertanya lagi apakah itu semua yang menyebabkan aku pergi ke sini.
"Jadi itu alasan kalian pergi?" Tanya kakek lagi.
"Bukan kek." Jawabku.
Aku jawab lagi kalau bukan itu alasanku pergi. Aku memberitahu kakek, nenek dan Reza jika aku telah memiliki beberapa teman yang sangat baik padaku. Setelah itu semua aku jelaskan jika aku tidak ingin mereka menghilang seperti anak-anak yang mem-bully-ku. Karena semua ini ada sangkut pautnya denganku, jadi aku pikir menjauh dari teman-temanku adalah jalan terbaik untuk saat ini.
"Itulah alasan kenapa aku pergi." Ucapku setelah menjelaskan.
Setelah mendengarnya, kakek dan nenek berdiri lalu datang menghampiriku. Mereka memelukku erat sambil mengelus rambutku.