
Waktu istirahat siang datang, Luna berjalan menuju kantin untuk membeli makanan. Setelah tiba di kantin, Luna memilih-milih apa yang ingin dia beli. Luna kemudian bertemu kembali dengan Aria dan Airi ketika sedang membeli makanan.
“Yah.. Kalian lagi.” Sindir Luna.
“Hehe.. Dunia ini sempit ya!” Canda Aria.
Airi yang terlihat lemas tidak berbicara apapun. Mereka berdua kemudian mendatangi Luna. Luna tidak biasa melihat mereka ke kantin, itu sedikit aneh menurut Luna.
“Tumben kalian ke kantin? Biasanya kan kalian bawa bekal sendiri.” Tanya Luna.
Airi yang baru saja menguap menjawab pertanyaan Luna. Padahal tadi pagi juga dia sudah memberi tahu Luna saat di depan sekolah.
“Aku kan kesiangan tadi, jadi aku tidak sempat masak.” Jawab Airi.
“Lah itu ada Aria, suruh saja dia masak.” Balas Luna.
Airi kemudian melihat ke arah adiknya. Airi hanya bisa menghela nafas.
“Jangan berharap lebih padanya. Bangun saja masih suka siang, apa lagi masak. Hangus semua nanti.” Sindir Airi sambil tersenyum kecil.
“Kakak, jahatnya.” Aria murung.
“Hehe.. Maaf, lagipula itu kenyataan bukan? Jadi aku tidak jahat kali ini.” Airi mencari-cari alasan.
Kakak beradik itu malah ribut sendiri, bukannya segera memesan makanan atau bagaimana. Luna hanya bisa melihat mereka berdua ribut, Luna kemudian berusaha menghentikannya.
“Sudah, sudah. Segera pilih makanan kalian dan ayo makan. Lama-lama waktu istirahat kita habis nanti!” Ajak Luna.
Luna mengambil 2 roti stroberi dan membayar pada kasir. Kemudian Luna membeli teh kalengan di mesin penjual minuman. Luna duduk di kursi kosong sambil menunggu si kembar datang. Aria dan Airi pun menghampiri Luna setelah memesan makanan mereka.
“Terima kasih telah mencarikan kami tempat duduk.” Airi duduk di depan Luna.
"Idih, pede banget kamu." Luna mengerutkan keningnya.
Airi dan Aria bergabung di meja yang sama dengan Luna. Kedua kakak beradik ini kembali akur, Luna heran dengan tingkah mereka yang berbalik 180 derajat itu.
“Ini kak minumanmu.” Aria duduk di samping Airi dan memberikan minuman.
“Oh terima kasih.” Balas Airi sambil menerima minum.
Kemudian ada mbak waiters yang datang membawa makanan dengan porsi besar. Luna heran siapa yang memesan itu?.
“Ini pesanannya, 2 mie goreng porsi ekstra.” Mbak waiters menurunkan pesanan di meja.
Ternyata itu adalah pesanan milik Airi dan juga Aria. Luna bertanya-tanya apakah semua itu akan dihabiskan mereka berdua?
“Widih.. Porsi ekstra. Habiskah itu?” Sindir Luna.
“Ya mau bagaimana lagi, aku lapar. Aku pasti akan habiskan.” Balas Airi.
Mereka bertiga mulai makan makanan milik mereka masing-masing. Luna tersenyum sendiri melihat saudara kembar ini kelaparan dan makan porsi ekstra. Wajar saja karena mereka tadi pagi juga tidak sarapan. Untuk yang sudah terbiasa sarapan, tidak sarapan di pagi hari akan berakibat buruk dan itu termasuk kelaparan.
“Ahh kenyangnya.” Airi mengelus perutnya.
“Aku kekenyangan malah, lain kali pesan yang wajar-wajar saja kak.” Keluh Aria.
Tidak disangka-sangka, mereka berdua berhasil menghabiskan makanan sebanyak itu. Luna bahkan tidak yakin bisa menghabiskan semua itu meski dalam keadaan sangat lapar. Luna mendapatkan hiburan siang ini.
“Hahaha..” Luna tertawa terbahak-bahak.
“Ini lagi, malah ketawa.” Protes Aria.
“Habisnya, barusan seperti aku melihat orang yang sedang lomba makan. Kalian itu seperti orang yang tidak makan selama tiga hari tahu tidak.” Luna menutup bagian mulut dengan telapak tangannya.
Drama rupanya masih berlanjut. Di sini Airi menuntut Aria untuk membayar semua makanan itu sebagai ganti rugi atas kejadian tadi pagi.
“Oh iya Aria, pokoknya kamu yang bayar ya?” Airi memastikan.
“Iya, iya. Ini ganti rugi untuk tadi pagi.” Aria menerima dengan lemas.
Sedang asyik-asyiknya mereka bercanda, Andreas dan Ryan datang menghampiri mereka bertiga. Andreas dan Ryan kemudian ikut bergabung.
“Yo.. Sedang apa kalian?” Tanya Andreas.
“Ini, sedang main catur.” Jawab Airi.
"Hahaha!" Ryan tertawa.
Andreas mengerutkan dahinya dan juga menatap Airi dengan datar. Pertanyaan seriusnya malah dibalas guyonan garing oleh Airi.
“Bercandamu tidak lucu kak Airi.” Sahut Andreas.
“Ya ini kan kantin, masak iya sedang apa? Pastinya di sini untuk makan bukan?” Jelas Airi.
"Kalian berdua memang tidak pernah akur ya." Ryan masih menahan tawanya.
"Dia sih!" Airi menyalahkan Andreas.
“Sudah lupakan, aku ada hal yang lebih penting. Oh iya Luna, apa ada perkembangan?” Tanya Andreas pada Luna
“Ada sih, tapi masak iya kita ngobrol di sini?” Jawab Luna sambil melihat ke kanan dan ke kiri.
Andreas setuju dengan Luna, ada banyak orang yang tidak menyukai Tio di sekolah. Jadi tidak baik menceritakan tentang keadaan Tio di depan umum. Andreas kemudian menanyakan kepada mereka bertiga sudah selesai makan atau belum.
“Kalian sudah selesai?” Tanya Andreas.
“Sudah, memang kenapa?” Airi mewakili dengan sedikit songong kepada Andreas.
Andreas berusaha biasa saja menyikapi Airi, Andreas lebih fokus untuk mendapatkan informasi dari Luna tentang keadaan Tio.
“Kalau begitu ayo pindah ke ruang OSIS, kak Airi mau ikut?” Ajak Andreas yang berpura-pura baik kepada Airi.
“Hmm.. Bolehlah. Sudah lama aku tidak mampir ke ruang OSIS.” Airi ikut.
"Oke, ayo pindah ke sana." Andreas mulai berdiri.
Mereka membayar makanan dan kemudian pindah ke ruang OSIS. Di ruang OSIS hanya ada Astrid yang sedang mengerjakan laporan keuangan. Kemudian mereka semua memasuki ruangan, Astrid sudah lama tidak melihat Airi mampir ke ruang OSIS.
“Eh ada kak Airi, tumben?” Astrid menyapa Airi.
“Kok aku merasa kesal ya? Padahal seumuran tetapi semuanya memanggilku kak.” Airi kesal.
“Hey Astrid, panggil Kevin kemari. Kita akan membicarakan sesuatu.” Suruh Andreas.
“Oh, oke.” Balas Astrid
Astrid menyimpan terlebih dahulu pekerjaannya. Astrid kemudian bergegas menyusul Kevin di kelasnya. Tak lama kemudian Kevin dan Astrid datang dan semua anggota telah berkumpul.
“Baik Luna, apa info ysng kamu dapat?” Tanya Andreas.
Luna langsung memberitahukan informasi apa yang dia dapat sejak semalam. Luna menjelaskannya dengan rinci ke semua orang.
“Kabar gembira, pagi ini Tio telah sadar. Akan tetapi dia belum boleh banyak bergerak. Lalu kabar kedua, memang para pem-bully itu adalah pelaku dari pengeroyokan. Aku baru dengar dari ibu tio tadi pagi aku akan menanyakan lebih jelas nanti karena sepulang sekolah aku akan ke rumah sakit lagi.” Jelas Luna.
“Oh iya, bagaimana kalau nanti kita semua ikut ke rumah sakit.” Usul Andreas.
“Jangan, kamu tidak ingat kemarin sulitnya masuk ke sana? Biar aku dan Aria yang ke sana." Luna menolak.
Ide Andreas sangat buruk, selain akan menggangu Tio nantinya mereka semua malah tidak akan diperbolehkan masuk. Untuk dua orang saja memasuki ruangan itu sudah cukup susah apalagi beramai-ramai.
“Oh iya ya. Ya sudah aku nanti ke ruang guru saja.” Andreas kecewa.
Bel masuk pelajaran berbunyi, waktu istirahat telah usai. Mereka semua kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran kembali. Sepulang sekolah, Luna dan Aria langsung menuju rumah sakit.
Sedangkan Andreas menuju ruang guru. Andreas menjelaskan seperti yang Luna katakan tadi. Para guru dan kepala sekolah senang mendengar Tio sudah sadar dan juga para guru juga telah mengetahui pelaku dari pengeroyokan.