
“Tio.. Bangun sudah subuh!” Ibu membangunkanku.
“Hah.. Iya bu, aku bangun.” Perlahan aku membuka mata.
Hari masih gelap, sekarang juga belum ada jam 5 pagi. Tapi aku harus tetap bangun jika tidak ingin ketinggalan bus pertama. Karena bus di sini hanya ada beberapa kali saja yang lewat dan untuk yang pagi, biasanya bus itu sembari mengangkut para pelajar namun karena ini minggu mungkin busnya akan sedikit sepi.
"Huaamb." Aku menguap.
Aku kemudian bergegas mandi lalu sarapan, karena memang ibu telah membuat sarapan untuk kami semua di rumah ini. Hari mulai terang, Reza juga sudah bangun serta paman dan bibi sudah datang ke sini. Aku dan ibu pun pamit.
“Kami pulang dulu ya!” Pamit ibu.
“Hati-hati di jalan ya!” Ucap kakek.
Aku dan ibu sudah membawa barang bawaan masing-masing. Sekarang aku membawa tas milik ibu juga karena ternyata selama aku di sini, kesembuhanku sudah benar-benar pulih. Ada untungnya juga aku pergi ke desa.
“Tio, segera temui teman-teman mu sekembalinya kamu ke sana.” Nenek mengingatkan.
“Baik nek.” Balasku.
Tidak perlu disuruh pun aku kemungkinan akan langsung bertemu dengan mereka. Namun aku juga harus membuat nenek senang dengan berjanji akan menemui teman-temanku nanti.
“Selamat jalan kak, hiks..!” Reza menangis.
“Sudah jangan cengeng, besok juga aku ke sini lagi.” Balasku.
Tidak aku sangka jika Reza akan menangis ketika aku pulang. Aku pun menenangkannya jika besok lagi aku pasti akan datang lagi. Ya memang waktunya agak sedikit lama sih bisa berbulan-bulan.
“Kalian selamat jalan, hati-hati.” Ucap paman.
“Terima kasih dik, kalau begitu kami pergi dulu!” Balas ibu.
Aku dan ibu pergi meninggalkan rumah kakek. Aku menoleh ke belakang dan melihat semuanya melambaikan tangan padaku. Aku menjadi sedikit sedih saat melihatnya, namun tekadku untuk pulang juga semakin besar. Aku dan ibu sudah keluar dari area rumah kakek lalu lanjut berjalan menuju halte bus.
"Huh.." Aku menghela nafas.
Aku cukup kelelahan membawa semua barang-barang ini. Sesampainya di halte ada beberapa orang yang sudah menunggu datangnya bus. Ibu kemudian bertanya kepada salah satu orang apakah kami ketinggalan bus pertama, orang itu menjawab belum karena memang bus pertama saja belum datang. Ibu pun sedikit lega karena bisa berangkat dengan sedikit santai.
Aku kemudian bersandar di tiang halte sembari menunggu bus datang. Aku bosan karena tidak ada yang bisa aku mainkan saat ini karena smartphoneku masih mati di dalam tas. Aku juga masih mengantuk karena tidur terlalu malam dan bangun terlalu pagi. Kombinasi antara bosan dan rasa ngantuk sudah bagaikan skill ultimate bagiku.
Tak lama kemudian, bus pertama datang. Kami semua bergegas naik karena memang bus di sini tidak lama berhenti di halte. Aku dan ibu mengecek barang bawaan sebelum naik, semuanya ada lalu kami pun segera naik ke bus. Kali ini aku membawa seluruh barang bawaan ke dalam bus karena supir busnya tidak seperti yang kemarin di terminal menawarkan barang bawaan kami untuk dimasukkan ke bagasi.
Aku menata terlebih dahulu barang-barang yang aku bawa dengan rapi. Aku tidak ingin tas koperku berada di pinggir jalan karena takut hilang saja. Karena setelah ini aku ingin beristirahat jadi akan lebih baik jika seluruh barang bawaan sudah aman.
"Tio, bangun! Kita sudah sampai di terminal" Ibu membangunkanku lagi.
Aku tertidur di bus karena memang saat kami berangkat masih sangat pagi, aku juga masih ngantuk gara-gara semalam bermain game. Saat aku bangun, kami telah sampai di terminal bus di kota kecil di sini. Aku diajak ibu untuk turun dari bus, aku membawa barang-barangku lagi. Kami melanjutkan berjalan menuju ke stasiun.
Setibanya kami di stasiun, kami langsung check-in untuk memasuki stasiun. Setelah check-in kami menunggu kereta di ruang tunggu. Ibu mengirim pesan ke tante di kota untuk meminta tolong agar menjemput saat kami tiba di kota nanti. Karena memang tante cukup sibuk jadi kami tidak bisa seenaknya meminta bantuan tante. Tante langsung membalas pesan ibu, dia bilang sangat bisa karena kebetulan butik sedang tutup hari ini.
"Kereta api tujuan kota datang di jalur 2. Di ulang kembali, kereta api tujuan kota datang di jalur 2." Suara dari pengeras suara pemberitahuan.
Kereta pun datang, sudah lama kami menunggu. Bukan karena keretanya yang terlambat tapi karena memang kami yang terlalu pagi berangkat ke sini. Aku dan ibu masuk ke kereta lalu menata barang bawaan kami di tempat duduk yang sudah ditentukan oleh tiket. Setelah itu, aku langsung duduk lalu melanjutkan tidur karena jujur aku masih sangat mengantuk.
"Hah, lelahnya pagi ini!" Aku sedikit mengeluh.
"Kalau begitu kamu tidur saja, perjalanan masih jauh juga." Balas ibu.
Kalau begitu aku tidur lagi saja karena tadi sewaktu tidur di bus seperti masih kurang ternyata. Kali ini aku tidak menikmati perjalanan lagi karena aku sudah benar-benar tidak kuat dengan mata ini. Aku segera memejamkan mata setelah kereta mulai berangkat.
"Tio, bangun! Kita sudah sampai." Ibu membangunkanku ketiga kalinya.
Aku yang tertidur pulas tidak sadar saat dibangunkan oleh ibu. Saat aku membuka mata pemandangan familiar sudah mulai terasa. Ya sebentar lagi aku sampai di stasiun kota. Aku mulai membuka mataku lebar-lebar lalu bertanya pada ibu.
“Sudah memberi kabar ke tante bu?” Tanyaku yang baru bangun.
“Sudah dari tadi, tante sudah di stasiun katanya.” Jawab ibu.
Mendengar itu aku juga harus bersiap-siap. Aku menggeliat terlebih dahulu sebelum aku benar-benar bangun dari posisi yang sangat nyaman ini. Akhirnya aku benar-benar sadar dan akhirnya aku sampai.
Kereta mulai berhenti dan inilah tujuan akhir kami. Aku menginjakkan kaki di kota lagi. Rasanya sedikit berbeda, ada perasaan takut dan juga perasaan bersalah kepada para anggota OSIS. Aku masih belum terpikir bagaimana menemui mereka besok.
"Haahh." Aku menggeliat lagi.
Aku menghirup udara di kota dan rasanya berbeda dengan di desa. Di sini tidak sejuk dan alami lagi karena sudah tercampur dengan suasana kota. Aku pun segera menyingkir setelah keluar kereta dan bergegas menuju peron stasiun. Kami berjalan keluar stasiun sambil membawa barang bawaan kami.
"Selamat datang di kota!" Ucap Tante.
"Kami pulang!" Balas ibu.
Tante sudah menunggu di depan lalu menyambut kedatangan kami. Setelah itu kami menata barang bawaan kami di bagasi mobil tante kemudian naik ke mobil untuk melanjutkan pulang ke rumah.