
Alasan Andreas semakin bagus. Celah orang itu untuk memata-matai aktivitas simulasi nantinya akan semakin kecil. Simulasi dilakukan rahasia bertujuan agar kemampuan para monster tidak bocor ke orang misterius itu. Kemampuan para monster mereka adalah informasi yang sangat berharga.
“Aku setuju dengan Andreas." Balas Ryan
“Alasan yang masuk akal dan juga rencana yang bagus." Luna sependapat.
“Aku tadi sengaja menyuruh kalian keluar dari Battlefield karena hari sudah sore. Akan sangat berbahaya jika musuh menemukan kita di sana tanpa persiapan sama sekali. Apalagi kita juga harus masih pulang ke rumah, tidak baik jika pulang larut.” Lanjut Andreas.
“Benar juga, sekarang sudah sore ternyata." Astrid melihat ke luar jendela.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, di mana bel pulang sekolah berbunyi. Tak terasa kami membahas hal seperti ini sudah seharian. Karena hari sudah sore, Andreas memutuskan untuk mengakhiri pertemuan ini.
“Karena sudah sore, kita cukupkan sampai di sini terlebih dahulu. Untuk kelanjutannya, akan bahas saat kita melakukan simulasi." Ucap Andreas.
“Baik." Balas semuanya serentak.
“Aria, sudah kamu tulis kan apa yang kita bahas hari ini?” Tanya Andreas ke Aria.
“Sudah kok, sudah semua." Jawab Aria.
“Baiklah kalian boleh pulang, ingat tetap rahasiakan pembicaraan kita hari ini. Rapat hari ini cukup sampai di sini. Terima kasih atas kerjasamanya." Andreas menutup rapat dan berterima kasih.
Kami merapikan tempat duduk masing-masing lalu membubarkan diri. Kami semua berjalan keluar dari ruang OSIS, seperti biasa aku di paling belakang. Setelah semua keluar dan mengunci ruang OSIS, Andreas mendatangiku.
“Ini badgemu." Andreas memberiku badge OSIS.
Andreas datang memberikan badge OSIS-ku. Di badge juga tertera namaku dan juga posisi yang aku kerjakan.
“Terima kasih banyak." Balasku berterima kasih.
“Ingat, selama di sekolah kamu wajib memakainya setiap waktu. Jangan contoh dia." Andreas menyindir Luna sambil melirik ke arah Luna.
“Dia..? Dia siapa maksudmu?” Tanya Luna dengan nada kesal.
“Siapa ya..?” Andreas berbasa-basi.
Pada akhirnya, perseteruan kedua orang ini berlanjut. Sekarang mereka sibuk meributkan tentang badge Luna. Kali ini aku tidak mau ikut-ikutan.
“Kamu ini ya! Sudah aku bilang bukan kalau aku hanya tidak ingin terlihat mencolok dengan badge ini." Jelas Luna.
“Ah, alasan saja kamu ini." Andreas tidak percaya.
“Iiihhhhhh." Luna sebal.
Ah tidak baik, sepertinya aku harus melerai mereka. Kalau tidak, aku takutnya mereka akan seperti tadi saat di ruang OSIS.
“Hahaha.. Baiklah aku akan memakai ini saat di sekolah." Aku menyela obrolan mereka.
“Nah itu, Tio saja mau pakai dengan senang hati. Jadi mulai besok sudah tidak ada alasan lagi." Tegas Andreas ke Luna.
“iya, iya. Aku juga pakai mulai besok, puas kamu?” Luna semakin kesal.
“Hehe, sangat puas." Jawab Andreas sambil tersenyum menggoda Luna.
Aku mengeluarkan smartphoneku. Jam menunjukkan jika waktu semakin sore. Aku juga harus segera pulang ke rumah.
“Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu." Aku menyela lagi.
“Aku juga mau pulang. Bosan aku melihat Andreas terus hari ini." Balas Luna.
“Baiklah.. Sampai besok." Luna melambaikan tangannya.
Kami pun berpisah satu sama lain. Aria, Astrid, Kevin dan Ryan sudah terlebih dahulu pulang. Dan yang tersisa hanya aku dan Luna sekarang. Aku berjalan dengannya menuju ke depan sekolah.
“Hei Tio!" Luna memanggilku.
“Ya, ada apa?” Balasku.
“Apa kamu benar-benar tidak apa-apa?" Tanya Luna dengan gelisah.
Luna masih terlihat menghawatirkanku. Aku paham dengannya, tapi untuk sekarang aku sementara sudah tidak apa-apa.
“Oh yang tadi, aku sudah tidak mempermasalahkannya." Jawabku sambil melihat ke arah Luna.
“Tapi..” Luna terhenti bicara.
“Sudah, aku sudah menerima fakta kalau monsterku adalah monster level bawah. Aku sudah tidak keberatan. Lagipula tadi sudah dijelaskan Ryan bukan jika monster level bawah bisa menjadi kuat" Aku memotong pembicaraan Luna.
“Baguslah kalau begitu, aku benar-benar lega mendengarnya." Luna terlihat senang.
“Aku percaya pada monsterku, suatu saat akan kubuat dia menjadi monster yang hebat." Kataku sambil mengeluarkan kartu monsterku.
"Hem.. Semoga saja." Balas Luna dengan tersenyum.
Setelah aku mengatakan itu, aku sekilas melihat kartu monster miliku sedikit menyala mengeluarkan aura api, namun api itu terlihat aneh. Ada dua api bercampur antara api merah dan hitam.
“Ehhh..!” Aku sedikit kaget.
“Ada apa Tio?” Tanya Luna.
“Oh.. Tidak apa-apa kok." Jawabku mengalihkan pertanyaan Luna.
Apa maksudnya barusan? Baru kali ini monsterku memperlihatkan hal ini. Dia memang tidak bisa bicara, tapi barusan dia seperti membalas kata-kataku. Api merah dan hitam yang saling menyatu, pertanda apa itu? Aku menjadi berpikir sangat dalam karena hal itu.
Aku dan Luna sampai di halaman depan sekolah. Sebelum aku berpisah dengannya, ada hal yang ingin kusampaikan.
“Eh Luna, aku sangat berterima kasih padamu." Aku berterima kasih kepada Luna
“Hah, untuk apa?” Luna sedikit bingung.
Jelas aku berterima kasih kepadanya. Meskipun di awal aku masuk OSIS terjadi hal yang tidak aku inginkan, namun orang-orang di OSIS sangat baik padaku.
“Karena kamu telah membawaku ke OSIS. Aku belum pernah berinteraksi secara bebas dengan orang lain seperti tadi seumur hidupku. Aku sangat senang hari ini." Lanjutku dengan tersenyum.
Meskipun Andreas masih aku waspadai, tidak dipungkiri kalau dia cukup baik dan bertanggung jawab. Ada Ryan yang seperti kakak sendiri rasa-rasanya. Ada Kevin yang menghargai argumenku dan juga ada Aria yang menenangkan hati saat berada di OSIS. Untuk Luna dan Astrid adalah pengecualian, mereka berdua wajib diwaspadai.
“Jadi itu alasanmu mengesampingkan masalah pribadimu?” Tanya Luna.
“Iya, aku seperti menemukan kehidupanku yang baru saat di ruang OSIS tadi." Jawabku.
“Baiklah kalau begitu, sama-sama. Aku turut senang mendengarnya.” Balas Luna.
Berkat Luna, hidupku sedikit berubah sampai saat ini. Aku seperti terlepas dari kehidupan burukku yang selama ini aku rasakan. Cacian, makian dan kata-kata menusuk tidak aku rasakan saat ada di ruang OSIS tadi. Luna benar, OSIS adalah rumah terbaik saat di sekolah.
Aku juga sama sekali tidak menyesal mendapati monsterku lemah. Karena monsterku lemah, aku bisa kalah dari Luna lalu berteman dengannya. Dan sekarang dia membawaku ke tempat yang lebih baik lagi. Sekarang ada lebih banyak lagi orang baik di sekitarku. Itu merupakan kemajuan terbesar selama hidupku. Selamat datang kehidupan baruku, OSIS...