HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 144: Keahlian Phoenix



“Astaga! Ternyata ibuku sudah menelepon berkali-kali. Ibu pasti marah nanti.” Ucap Luna setelah memeriksa smartphonenya.


“Oke kita sampai di sini dulu saja kalau begitu, ingat semuanya jangan pernah nekat.” Himbau Ryan.


“Oke deh aku juga mau pulang, aku duluan soalnya mau telepon ibuku, dah!” Luna berlari keluar.


“Luna tunggu, aku ikut. Aku juga duluan, masih ada perlu dengan Luna, dah!” Aria melambaikan tangannya lalu berlari menyusul Luna.


“Dasar dua anak itu..!” Andreas menggeleng kepalanya.


Melihat adiknya yang berlari menyusul Luna, Airi pun ikut berdiri untuk segera menyusul keduanya. Namun sebelumnya dia pamit kepada semuanya yang masih duduk.


“Aku juga ikut mereka deh, lagipula apa bisa Aria pulang sendirian gelap gelap begini. Aku pulang dulu.” Airi berdiri lalu mengambil tasnya.


“Baik kak, hati-hati pulangnya.” Balas Andreas.


“Kak, kak! Airi... Aku tidak ingin merasa tua.” Airi memukulkan tasnya ke bahu Andreas.


“Aduh.. Iya, iya, dasar bawel.” Balas Andreas.


“Aku pergi dulu, sampai besok. Sampai mana mereka berdua tadi!” Airi berjalan menjauh.


Tersisa Andreas, Ryan Astrid dan Kevin yang masih duduk di restoran. Namun Astrid juga terlihat sedang bersiap-siap untuk pulang. Dan ternyata benar adanya, setelah cukup berjasa dalam pertemuan ini akhirnya Astrid pamit pulang karena jemputannya telah menunggu di depan restoran.


"Aku pulang dulu ya, aku sudah dijemput." Astrid pamit.


"Terima kasih ya, hari ini kamu adalah pemeran utamanya, Astrid!" Puji Ryan.


"Sama-sama, aku hanya memikirkan kemungkinan-kemungkinannya saja. Semua itu belum tentu benar." Balas Astrid sambil menenteng tasnya.


"Hati-hati di jalan ya!" Lanjut Andreas.


"Oke, sampai besok." Astrid pergi meninggalkan yang tersisa.


Keadaan berubah menjadi senyap. Sekarang hanya tersisa anak laki-laki aja di tempat itu. Ryan langsung bertanya kepada Andreas tentang apa yang harus dilakukan setelah itu.


“Lalu apa yang ingin kamu lanjutkan setelah mereka pergi?” Tanya Ryan.


“Kamu jeli sekali Ryan.” Puji Andreas.


“Karena instruksimu tadi bukan membubarkan diri dan juga kamu masih duduk walaupun sudah berkata untuk pulang.” Lanjut Ryan.


“Pantas Ryan belum mengajakku pulang, memang masih ada hal lain?” Tanya Kevin.


Setelah Ryan menyadari gelagat Andreas yang masih ingin membicarakan sesuatu, Kevin pun tersadar kenapa Ryan belum mengajaknya pulang. Lalu Andreas langsung menjawab pertanyaan yang mereka berdua tanyakan tadi.


“Sedikit sih, aku hanya ingin menanyakan sesuatu kepada Phoenix. Sepertinya Phoenix mengetahui tentang sesuatu yang ingin kutanyakan.” Jawab Andreas.


Phoenix yang sudah menjadi bentuk fairy kemudian terbang maju sedikit setelah mendengar ucapan Andreas barusan, dia langsung menanyakan kepada Andreas tentang apa yang ingin diketahui olehnya.


“Apa yang ingin kamu tanyakan padaku?” Tanya Phoenix


“Menurutmu kenapa musuh kita mengincar Tio?” Andreas meminta pendapat Phoenix.


Phoenix pun mau tidak mau harus berkata yang sesungguhnya karena memang dia mengetahui sesuatu tentang Tio. Ada hal unik yang Phoenix lihat darinya.


“Tio bukanlah orang biasa di mata para monster. Kami sewaktu turun ke dunia manusia saja sebelum kita turun kita sudah harus memilih partner terlebih dahulu. Bagi monster yang tidak memiliki partner akan di letakkan di Battlefield.” Jawab Phoenix.


“Lalu apa yang kamu maksud bukan orang biasa itu?” Andreas menggali informasi lebih dalam dari Phoenix.


“Dia memiliki mental yang kuat, mungkin itu semua terbentuk karena dia sudah tersiksa sejak kecil. Namun aku sendiri tidak mengetahui kenapa musuh kita mengawasi Tio sekarang. Lalu..” Phoenix terhenti bicara.


“Lalu apa?” Tanya Andreas.


“Iya Phoenix, jangan berhenti di tengah cerita.” Ryan juga penasaran.


Phoenix membuat semuanya semakin penasaran karena terhenti saat bercerita. Semuanya ingin tahu kenapa menurut Phoenix Tio itu berbeda.


“Menurutku monster miliknya bukanlah monster biasa.” Lanjut Phoenix.


Tiba-tiba Phoenix bilang jika monster milik Tio bukanlah monster biasa. Hal ini jelas menimbulkan pertanyaan mengingat karena monster Tio hanyalah Mark 1.


“Apa monsternya kuat?” Tanya Andreas lagi.


“Bukan, kuat atau tidaknya aku juga masih belum tahu. Tapi monsternya memiliki 2 elemen di dalam tubuhnya. Monster itu memiliki atribut fire serta atribut dark. Monster itu berusaha menyembunyikan atribut dark miliknya namun malah Tio juga ikut menjadi pengendali fire serta dark meskipun dia tidak mengetahuinya.” Jawab Phoenix.


Sontak apa yang dilihat Phoenix dari Tio membuat ketiganya terheran-heran. Mereka semua baru mengetahui jika monster milik Tio adalah monster dengan dua atribut. Itu sangatlah unik dan membuat Andreas sedikit lega ketika mendengarnya.


“Memang benar katamu Lancer, Phoenix bisa membaca seseorang maupun monster.” Ucap Andreas pada Lancer.


“Jadi ini ulahmu Lancer?” Tanya Phoenix


“Maafkan aku, Phoenix! Karena Andreas ingin mengetahui keahlian kita semua jadi terpaksa aku menceritakan keahlianmu membaca sesuatu kepadanya.” Lancer meminta maaf.


Phoenix memang memiliki kemampuan khusus membaca sesuatu. Entah dari mana dia mendapatkan kekuatan itu tapi yang jelas kekuatan itu sangatlah berguna dalam membaca situasi apalagi dalam situasi melawan musuh hebat yang sedang dicari oleh mereka semua. Namun ada satu ancaman di mana kemampuan Phoenix bisa meleset.


“Tidak, aku tidak marah. Hanya saja keahlianku sekarang terancam oleh kekuatan pengendalian waktu milik Hydron. Jika waktu bisa berhenti satu detik saja maka masa depan bisa berubah sesuai keinginan pengendali Hydron itu. Hasil pembacaan milikku juga pasti akan meleset, namun keahlianku itu tidak berlaku di dalam duel karena itu melanggar aturan.” Jelas Phoenix


“Jadi sekarang kita mengetahui jika Tio bisa mengendalikan 2 atribut sekaligus, bukankah itu hal hebat? Kita harus memberitahukan ini pada Tio besok, dia pasti akan senang!” Ide Kevin.


“Menurutku jangan, belum saatnya Tio mengetahui hal ini. Bisa saja ini yang diincar oleh musuh kita, bisa monster Tio maupun kekuatan Tio yang bisa mengendalikan dua atribut itu.” Ryan tidak setuju dengan Kevin.


“Menurutku juga begitu, bahkan selain kita bertiga jangan ada orang lain yang mengetahui hal ini. Ini adalah rahasia kita. Kita tidak akan tahu bahaya apa yang akan Tio hadapi lagi setelah dia memiliki kekuatan itu. Untuk yang sekarang saja sudah menakutkan bagiku.” Lanjut Andreas.


Ide Kevin ditolak mentah-mentah oleh Andreas dan juga Ryan. Karena sejujurnya Tio masih belum berpengalaman dalam mengendalikan monsternya, ditambah lagi emosinya ketika melihat monster Mark 2 yang muncul di depannya itu semakin membuat Tio tidak seharusnya mengetahui tentang fakta ini. Karena musuh juga sedang mengincarnya lebih baik mereka merahasiakannya untuk sekarang.


“Kalau begitu ayo kita pulang, aku mau mengerjakan PR tadi.” Ryan menghabiskan minumannya.


“Astaga aku lupa, untung kamu mengingatkan.” Andreas teringat PR nya


“Oke sampai ketemu besok, ayo Kevin kita pulang!”,l Ajak Ryan.


“Nah ini kalau mau pulang, ayo!” Balas Kevin.


Mereka bertiga juga ikut membubarkan diri pulang ke rumah masing-masing. Pertemuan darurat itu pun berakhir dengan diputuskannya membatasi aktivitas di dalam Battlefield dan juga menguak fakta rahasia yang begitu menarik.