HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 30: Pelajaran Tambahan



Pak Indra memeriksa kembali posisi tiang, sudah benar tegak lurus berdirinya atau belum. Pak Indra juga memastikan pijakan sudah benar dan kuat menahan beban. Beliau kemudian memasang mistar di ketinggian 1,5 meter. Pak Indra lalu menyuruhku bersiap mengambil ancang-ancang.


“Sudah siap?” Tanya beliau.


“Sangat siap pak." Jawabku.


“Baiklah, mulai." Pak Indra membunyikan peluitnya.


Aku mulai berlari dan melompati tongkat itu. Ketinggian 1,5 meter telah sukses aku lonpati. Kemudian berlanjut dengan meninggikan mistar sejauh 10 cm setelah aku sukses melompatinya. Lalu aku melanjutkan ke ketinggian-ketinggian berikutnya.


Sampailah aku di ketinggian 2,5 meter, jujur saja staminaku sudah menipis dari tadi. Bagaimana tidak, sehabis sarapan aku lari ke sekolah lalu melompat-lompat seperti ini. Perutku bagaikan berputar-putar ingin mual, tapi aku tidak akan menyerah. Aku harus mendapatkan nilai tertinggi.


“Hebat kamu Tio, kamu sampai di ketinggian 2,5 meter. Tidak banyak yang sampai ke ketinggian ini kemarin." Pak Indra memujiku.


“Terima kasih pujiannya pak, mari kita mulai lompatan selanjutnya pak." Balasku dengan semangat


“Baiklah, mulai." Pak Indra meniup peluitnya.


Aku mulai berlari sekuat tenaga dan melompat setinggi yang aku bisa. Jika ini lolos aku akan cukup sampai di sini, perutku sudah tidak kuat lagi. Aku berhasil melewati ketinggian 2,5 meter tanpa menjatuhkan mistarnya. Dengan ini nilai lompat tinggiku tertinggi di kelas. Aku terjatuh di matras dan terkapar kelelahan.


“Bagaimana hasilnya pak?" Tanyaku memastikan.


“Kamu lolos ketinggian 2,5, ini yang tertinggi di kelasmu. Bagaimana mau lanjut?” Tanya pak Indra.


“Cukup pak, bagiku itu sudah lebih dari cukup. Perutku sudah tidak kuat lagi." Jawabku sambil mengelus perut.


“Baiklah, Kamu sama seperti Luna nilainya. Kalian sama-sama di ketinggian 2,5 meter.” kata pak Indra


“Gadis itu lagi." Kataku dalam hati.


Kata pak Indra tadi 2,5 meter tertinggi di kelasku. Lalu kenapa dia bilang seperti itu padahal Luna juga mencapai ketinggian yang sama denganku? Pak Indra sungguh membingungkan.


"Loh katanya aku tertinggi di kelas pak? Kenapa Luna juga di ketinggian yang sama?" Tanyaku dengan nada lemas.


"Kan bapak tidak bilang kamu tertinggi di kelas. Yang bapak bilang adalah 2,5 meter tertinggi di kelasmu. Luna juga di kelasmu bukan? Dia juga mencapai tinggi 2,5 meter." Jawab pak Indra.


Sial, aku terjebak oleh kata-kata pak Indra. Kalau tahu begitu aku akan mencoba melompat satu kali lagi. Namun mengingat perutku sekarang, aku sudah tidak kuat lagi.


"Capeknya." Keluhku.


“Baiklah, kita rapikan semua ini dan istirahat sebentar." Kata pak Indra.


Aku bergegas bangun untuk membantu merapikan gudang. Karena penilaian yang selanjutnya tidak membutuhkan peralatan dari gudang, aku dan pak guru merapikan gudang serapi mungkin karena besok senin pasti akan ada yang mengambil peralatan olahraga dari sini. Kebetulan gudang sangat berantakan karena para siswa tidak mengembalikan barang-barang dengan rapi, sekalian istirahat aku mengembalikan semua barang di tempat yang seharusnya.


“Sudah rapi, mau langsung lanjut atau istirahat dahulu?” Tanya pak Indra.


“Lanjut saja pak, hari sudah semakin siang. Aku tidak enak juga selalu merepotkan bapak di hari minggu." Jawabku.


“Baiklah, kamu ingin yang mana dahulu? Sprint atau lompat jauh?" Tanya beliau.


“Sprint dahulu saja pak." Jawabku lagi.


Aku dan pak Indra keluar dari gudang. Pak Indra kemudian mengunci pintu gudang seperti semula. Aku dan pak Indra berpindah menuju ke lapangan untuk melakukan penilaian selanjutnya.


“Baik, ambil posisi. Lari dari garis start dan bapak akan tunggu di garis finish." Instruksi pak Indra.


Aku memang sudah merencanakan ini sebelumnya. Aku memilih sprint dahulu ketimbang lompat jauh karena aku menyadari satu hal. Karena aku dalam pelajaran olahraga jarang ikut, staminaku tidak sebaik anak yang lain dan pasti nilaiku saat sprint nanti juga hanya rata-rata. Dan keuntungan aku melakukan sprint terlebih dahulu adalah otot kaki akan mendapat performa lebih saat aku selesai berlari. Aku mengambil sikap start menunggu aba-aba dari pak guru.


Priiitttt... (Suara peluit)


Aku berlari sekuat tenaga agar otot kakiku mencapai performa terbaik. Dan sampai di finish, aku kembali dan menanyakan hasilnya


“Bagaimana pak hasilnya?" Tanyaku.


“Kamu di waktu rata-rata, banyak siswa di waktu segini." Jawab beliau.


Sudah kuduga di sprint aku hanya akan rata-rata, tapi hal yang berbeda akan terjadi di lompat jauh. Karena aku sudah berlari tadi, otot kakiku sudah mencapai performa terbaiknya.


“Sekarang tinggal lompat jauh." Kata beliau.


Pak Indra mengajakku berpindah ke bak pasir untuk melakukan lompat jauh. Aku mengambil ancang-ancang sebaik mungkin untuk ini.


“Aku sudah siap pak." Ucapku.


Aku mengambil kuda-kuda dan bersiap berlari menuju ke kotak pasir berisi salju yang ada di depanku.


“Siap.. mulai..” Pak Indra memberi aba-aba


Aku berlari sekuat tenaga dan juga memastikan lompatanku tidak gagal. Aku mulai melompat dan mendarat cukup jauh. Aku juga merasakan kedinginan karena saljunya


"Luar biasa. 4, 34 meter." Kata pak Indra.


“Sial, masih kurang jauh bagiku.” Aku sedikit kesal.


Aku berdiri dan membersihkan pasir-pasir dan salju yang menempel di badanku. Aku kemudian menghampiri pak Indra yang baru selesai mengukur lompatanku.


“Ini bagus, lompatanmu paling jauh Tio. Kamu akan tertolong dengan nilai lompat jauh ini." Lanjut beliau.


“Terima kasih banyak pak." Aku berterima kasih.


“Ayo kita ke pohon sana, tempatmu berteduh. Kita istirahat sebentar." Ajak pak Indra.


“Baik pak." Balasku.


Aku dan pak Indra menuju pohon yang biasanya aku duduk mengawasi para siswa saat berolahraga. Aku bersyukur memiliki guru seperti beliau. Beliau mau meluangkan waktu hari minggunya demi nilaiku.


“Terima kasih banyak pak." Kataku kepada pak Indra.


“Terima kasih untuk apalagi Tio?” Tanya beliau.


“Terima kasih karena sudah menjadi guruku dan terima kasih juga karena pak guru mau mengerti keadaanku." Aku meneteskan air mata.


“Tidak masalah nak, justru bapak tidak ingin kamu putus asa hanya karena masalah seperti itu. Kamu boleh tidak memiliki teman, tapi jangan sampai kamu tidak memiliki semangat belajar hanya karena di kucilkan." Kata beliau.


Di samping hal buruk yang sering aku alami, ternyata masih ada hal baik yang terjadi padaku. Pak Indra adalah salah satunya, dan sekarang ada Luna yang kemarin juga membelaku. Aku melihat ke atas, dahan-dahan pohon masih menyisakan salju yang turun kemarin. Salju yang semakin hari akan semakin menghilang, aku juga berharap hal buruk yang terjadi padaku bisa hilang seperti salju-salju itu nantinya.


“Sungguh aku sangat beruntung memiliki guru seperti bapak." Balasku.


“Bapak sudah bilang kepada kepala sekolah, bahwa bapak akan menjadi guru olahraga untuk kelasmu sampai kelas 3 nanti. Itu sudah mendapat izin dari kepala sekolah dan sudah di setujui oleh para guru yang lain. Bapak sama sekali tidak keberatan datang hari minggu seperti ini untuk memberikan kamu nilai, itu sudah tugas seorang guru." Lanjut beliau.


“Benarkah pak? Terimakasih, aku sungguh berterimakasih." Balasku senang.


Aku pun sedikit lega mendengar kabar dari pak Indra karena pada akhirnya aku tidak perlu khawatir lagi tentang pelajaran olahraga kedepannya. Ini sungguh sebuah keajaiban bagiku.