
Sesampainya di depan kelas 3, Aria bertanya kepada salah satu siswi perempuan apakah kakaknya ada di kelas
“Anu.. Airi ada?” Tanya Aria.
Gadis yang ditanyai oleh Aria menoleh ke arahnya, siswi itupun menjawab.
“Oh Airi, ada di tempat duduknya.” Jawab siswi itu.
Kemudian siswi tadi berteriak memanggil Airi, ada adiknya yang datang ke kelas mencarinya.
“Oii Airi, dicari adikmu nih!” Teriak siswi itu.
Airi kemudian menoleh dan membalasnya. Airi menyuruh adiknya untuk memasuki kelas.
“Oh iya, biarkan dia masuk!” Balas Airi.
“Nah silahkan!” Lanjut siswi itu mempersilahkan Airi masuk.
“Terima kasih ya!” Ucap Aria pada siswi itu.
Aria kemudian memasuki kelas diikuti Rin dan Kana. Mereka bertiga berjalan menuju tempat duduk Airi. Ternyata Airi masih makan siang di kelas.
“Loh ada Rin dan Kana juga? Ada perlu apa kalian kemari?” Tanya Airi sambil makan.
Aria kemudian menjelaskan tentang kejadian yang sebenarnya ke Airi. Rin dan Kana telah salah mengira jika Aria adalah Airi dan itu tujuan mereka kemari.
“Aku mengantar mereka kemari karena tadi mereka berdua salah mengira jika aku itu kakak. Aku sudah menduga kalau kakak sedang makan, jadi aku antar kemari.” Sahut Aria.
“Oh, jadi kalian berdua yang mencariku? Ada apa memangnya?” Tanya Airi pada Rin dan Kana.
Airi pun memahaminya, bukan hanya Rin dan Kana yang salah mengira satu sama lain. Banyak teman-teman Airi dulunya juga begitu, namun sekarang sudah tidak lagi karena sudah banyak yang mengenal Aria. Airi kemudian menanyakan kenapa adik kelasnya datang menemui Airi ke kelas.
“Yang seperti kak Airi bilang bukan? Aku bilang pada teman sekelasku tentang pengajuan alat baru untuk klub, terus aku suruh mengisi ini. Kenapa kakak tidak memberitahu jika aku harus mengisi yang seperti ini?” Jawab Rin sambil menunjukkan surat pengajuan.
Airi melihat ke surat yang dipegang Rin. Airi hanya bisa tertawa saat mengetahui Rin tidak bisa mengisi surat pengajuannya. Wajar saja karena Airi belum pernah mengajarinya.
“Haha.. Astaga aku lupa! Maaf, maaf. Aku selalu minta surat itu pada Kevin dan langsung menulisnya di sana karena aku sudah hapal yang klub butuhkan apa saja. Aku memang menyuruh kalian bilang pada Kevin tetapi kalian juga harus tahu apa saja yang ingin kalian ajukan.” Airi menjelaskan sambil tertawa.
Rin kembali melihat surat pengajuan yang masih kosong yang masih dia pegang. Rin sangat tidak menyangka tugas seorang ketua klub begitu berat.
“Kalau jadi ketua seberat ini, rasanya aku ingin mundur saja!” Rin lemas.
“Jangan begitu! Dulu juga aku kerepotan saat pertama menjadi ketua. Tetapi saat sudah terbiasa aku jadi merasa senang saat menjalani kegiatan klub. Lagipula menjadi ketua akan mendapat nilai tambahan bukan? Aku memilih kamu sebagai ketua selain permainanmu bagus, kamu juga masih kelas 1. Akan lebih efisien daripada aku memilih anak kelas 2 yang hanya bisa menjabat selama satu tahun saja sedangkan kamu bisa sampai kelas 3 nanti. Ini semua demi klub kita.” Jelas Airi pada Rin.
Rin sedikit merenung, memang benar apa yang dikatakan kak Airi kepadanya. Jika kelas 2 yang menjadi ketua klub pada akhirnya dia juga akan dipilih menjadi ketua saat kelas 2 nanti. Itu semua hanya tinggal waktu saja yang menentukan.
“Huufftt.. Yah mau bagaimana lagi, tapi sebelum kak Airi vakum ajari aku semua tentang klub loh!” Lanjut Rin.
“Iya, iya. Nanti sehabis aku makan kita ke ruang penyimpanan klub. Kita akan cek apa saja yang kita butuhkan.” Balas Airi.
Rin pun lega mendengarnya. Rin juga harus semangat menjalankan tugasnya sebagai ketua klub, nyatanya kak Airi saja bisa dan kak Airi juga melakukannya sejak kelas 1. Sementara itu, tugas Aria sudah selesai. Sekarang waktunya Aria pergi ke kantin karena sedari tadi dia belum minum sama sekali.
“Kalau begitu aku pergi dulu ya!” Pamit Aria.
“Mau kemana kamu?” Tanya Airi.
“Nitip ya! Belikan aku teh hijau.” Lanjut Airi.
“Uangnya?” Tagih Aria.
“Hehe, uangmu dulu deh!” Airi tersenyum.
Aria mengerutkan keningnya, dia sudah menduga ini akan terjadi. Aria sudah sering deja vu dengan situasi seperti ini, di mana ketika Airi menitip sesuatu pasti selalu menggunakan uangnya terlebih dahulu.
“Sudah kuduga, ganti lho ya!” Balas Aria.
“Iya bawel, nanti di rumah aku ganti.” Sahut Airi.
Karena Airi kadang lupa mengganti uangnya, jadi Aria menagih uang dari Airi terlebih dahulu. Yah Aria sebenarnya tidak pernah perhitungan dengan kakaknya, dia juga sering ditraktir es krim ketika selesai belanja oleh kakaknya. Jadi tidak perlu mempermasalahkan uang ketika urusan jajan dengan Airi.
“Lalu ke mana minumannya aku antar nanti?” Tanya Aria.
“Hmm.. Ruang klub saja deh! Sehabis makan aku mau ke sana.” Jawab Airi.
“Baik, akan kuantar nanti.” Balas Aria.
Aria kemudian meninggalkan kelas Airi dan bergegas ke kantin. Sekarang di dekat Airi hanya menyisakan Rin dan Kana yang masih ada urusan dengan Airi.
“Sebentar, aku habiskan dulu makan siangku.” Ucap Airi.
Airi melanjutkan memakan bekalnya. Kemudian mereka bertiga saling berbincang membicarakan sedikit tentang bagaimana cara mengisi surat pengajuan itu. Airi menjelaskan tentang tiga kolom yang ada di surat itu.
Kolom pertama adalah nama barang yang dibutuhkan klub, di situlah apa yang dibutuhkan klub ditulis. Kolom kedua adalah jumlah barang yang kita butuhkan. Klub bisa mengajukan beberapa barang namun dengan jumlah yang terbatas. Setiap klub diberi budget dan barang yang ditulis dalam surat pengajuan tidak boleh melebihi budget.
Airi memberi contoh semisal klub membutuhkan tiga raket baru namun itu melebihi budget sehingga raket baru yang bisa diberikan sekolah hanyalah satu. Di sini kolom ketiga berfungsi. Kolom ketiga berfungsi untuk pengajuan perbaikan alat.
Di kasus tadi jika ada 2 raket yang senarnya rusak semisal, klub bisa mengajukan 2 raket itu agar diperbaiki. Setelah Airi menjelaskan sedikit tentang surat pengajuan itu, Rin dan Kana akhirnya sedikit paham.
"Bagaimana?" Tanya Airi.
"Oh jadi begitu cara mengisinya, cukup mudah sebenarnya." Jawab Rin
"Itu malah mudah sekali, kamu saja yang belum paham!" Sahut Kana.
"Ah, kamu saja tadi juga tidak tahu mengisinya!" Balas Rin
"Hehehe." Kana tertawa.
"Sudah, sudah. Kalian malah bertengkar seperti itu. Kalian menggangu orang yang sedang makan lho!" Tegur Airi.
"Maaf kak." Rin meminta maaf.
"Maafkan kami kak!" Tambah Kana.
Airi telah menyelesaikan makan siangnya, dia merapikan kotak bekalnya terlebih dahulu. Airi pun berhasil membuat keduanya akur kembali.
“Nah begitu dong! Kalian harusnya akur seperti itu, dalam hal belajar pasti ada yang belum dipahami dan itu wajar.” Nasihat Airi.
“Baik, kak!” Balas Rin dan Kana serentak.