
Kami berenam telah tiba di Battlefield tanpa adanya Andreas. Ryan mulai menanyakan kesiapan Kevin untuk menghadapinya.
“Kamu siap Kevin?” Tanya Ryan
“Aku siap, tapi aku sedikit memikirkan Andreas.” Jawab Kevin.
Ryan tidak boleh membiarkan Kevin terlalu fokus kepada Andreas. Bagaimanapun juga, Ryan sangat menantikan simulasi yang akan dilakukannya sekarang.
“Fokuslah dengan duelmu Kevin. Semuanya pasti juga akan memikirkan Andreas untuk saat ini. Aku dan yang lain juga akan bersiaga nantinya.” Sahutku.
Aku tidak ingin Kevin memikirkan hal lain selain duelnya. Aku sangat ingin melihat duel antara mereka berdua, aku sangat berharap jika duel antara Ryan dan Kevin akan sehebat Andreas dan Astrid. Aku yang sudah mempercayai Andreas tidak ingin Kevin sepertiku tadi siang ketika bersama Luna.
“Tio benar, bukan saatnya kita memikirkan hal lain. Walaupun ini hanya sebuah simulasi, tapi untuk pertarungan sesungguhnya ini sangatlah penting.” Lanjut Ryan.
“Hmm.. Oke kalau begitu. Ayo segera ambil posisi!” Ajak Kevin
Ryan dan Kevin berdiri di tempat masing-masing. Mereka bersiap untuk duel. Ryan dan juga Kevin sudah memasang skill deck di tangannya. Tensi antara mereka mulai meninggi.
Sedangkan aku memperingatkan Astrid, Luna dan Aria tentang apa yang akan kita lakukan jika situasi darurat itu terjadi. Aku hanyalah orang lemah di sini, sebagai laki-laki aku tidak bisa melindungi mereka bertiga nantinya. Justru kemungkinan malah aku yang dilindungi oleh ketiga gadis itu, sungguh menyedihkan sekali.
“Astrid, Luna, Aria. Kita juga harus bersiap.” Ucapku sambil mengecek skill deck di tanganku.
“Oke!” Astrid siaga.
“Aku akan selalu di belakangmu, Tio.” Balas Aria.
Astrid dan Aria ikut bersiaga, mereka berdua terlihat mengecek kembali skill deck milik mereka masing-masing. Namun di sini, Luna lah yang kebingungan sendiri.
“Bersiap untuk apa?” Tanya Luna.
“Malah bertanya, di simulasi ini kita tidak kehadiran orang terkuat, mau tidak mau kita harus bisa membantu salah satu pihak. Jika Andreas membutuhkan kita, kita bisa langsung bergegas menuju dia. Tapi jika orang itu mengacaukan simulasi ini, kita bisa membantu Ryan dan Kevin dengan langsung.” Jelasku
“Oh begitu, aku juga akan bersiap!” Luna kemudian mempersiapkan skill decknya.
“Aku juga akan berjuang semaksimal mungkin, meski monsterku seperti ini setidaknya aku bisa sedikit membantu. Oke semua siaga!” Tambahku.
“Baik!!” Astrid, Luna dan Aria serentak.
[Skill deck ready]
Terdengar suara jika skill deck dari kami semua telah dalam keadaan standby. Dalam hati aku berjanji, aku akan melindungi semuanya sebisaku jika hal buruk terjadi.
Kembali ke Ryan dan Kevin yang sekarang sudah siap sepenuhnya untuk berduel. Skill deck mereka sudah siap untuk berduel.
[Skill deck ready]
“Duel!!” Ryan dan Kevin serentak.
Ryan memegangi kartu monsternya. Dia memanggil Phoenix sambil melempar kartunya ke atas. Cahaya hijau bersinar terang saat Phoenix dipanggil.
“Aku memanggilmu, burung suci penebas angin. Mk II, Phoenix.” Ryan memanggil Phoenix.
Dari kartu Ryan muncul sang Phoenix legendaris. Wujudnya sekarang sedikit berubah. Warna bulu apinya masih ada tapi sudah padam dan sekarang bercampur bulu hijau tanda dari atribut angin.
Sekarang giliran Kevin memanggil monsternya. Kevin memegang kartu monsternya lalu melemparkannya ke atas. Cahaya coklat bersinar ketika Kevin memanggil monsternya.
“Aku memanggilmu, sang raksasa. Mk II, Titan.” Kevin memanggil Titan.
“Uwaaa.. Gempa!!” Astrid heboh sendiri.
"Aku jatuh.. Aku jatuh!!" Luna berusaha menyeimbangkan diri.
"Luna.. Tolong aku." Aria memegangi baju Luna
Mereka bertiga heboh dengan getaran yang terjadi barusan. Namun aku malah fokus melihat ke arena duel melihat para monster yang dipanggil.
“Benar-benar hebat monster Kevin.” Aku kagum.
Sedangkan aku malah cuek dengan getaran yang ditimbulkan Titan, saat ini aku hanya bisa kagum dengan apa yang baru saja aku lihat.
Fenrir kemudian keluar dari kartu lalu menjadi bentuk fairy. Dia menjelaskan fakta sebenarnya tentang Titan kepada kami semua.
“Titan adalah monster terbesar di dunia kami. Tidak hanya itu, kemampuan bertahan miliknya juga sangatlah hebat.” Jelas Fenrir.
"Hebat?" Tanyaku penasaran.
"Ya, tidak banyak monster yang bisa menembus dinding tanah miliknya. Pertahanan Titan adalah pertahanan mutlak." Jawab Fenrir.
"Hebat!" Luna ikut terkagum
Aku kembali melihat ke arena duel, aku semakin mengagumi monster milik Kevin. Ternyata Kevin salah satu dari yang beruntung mendapatkan monster hebat apalagi ditambah dengan fakta monster terbesar, dia harusnya sangat bangga sekarang. Setelah itu, kami melanjutkan melihat duel.
“Aku mulai, skill aktif: Cyclone slash.” Ryan mengaktifkan skill.
“Terima ini Titan. Wahai anginku, tebaslah musuh di depanku!” Phoenix mengeluarkan kekuatannya.
Ryan menarik kartu skill lalu mengaktifkannya. Phoenix mengepakkan sayapnya dan meluncurkan 2 tebasan angin menuju Titan. Tebasan itu meluncur dengan kencang layaknya angin di lautan lepas.
“Skill aktif: Earth wall.” Kevin mengaktifkan skill.
“Tidak akan semudah itu. Muncullah pertahanan terkuatku!” Titan mengeluarkan kekuatannya.
Kevin membalas mengaktifkan skill pertahanan. Dinding tanah mengitari Titan muncul ke atas dan itulah pertahanan terkuat milik Titan. Karena kerasnya dinding itu, tebasan Phoenix pun sampai tidak terasa saat menerjang dinding itu.
“Sial, dia mengeluarkan pertahanan terkuatnya. Dinding itu tidak akan hancur jika skillku tidak cukup kuat untuk menembusnya.” Ucap Phoenix pada Ryan.
“Lalu apakah kita bisa menghancurkan dinding itu?” Tanya Ryan.
“Teruslah mencoba. Kelemahan dari dinding itu hanyalah cooldown yang sangat lama. Tidak heran jika dia mengaktifkan itu di awal duel. Tapi hati-hati dengan skill serangannya, kita tidak akan tahu dengan tanah yang ada di bawah kita saat ini.” Phoenix mengingatkan.
Baru saja Phoenix mengingatkan Ryan, Kevin membuat serangan kejutan untuk mereka. Kevin mengambil satu skill dari skill decknya lalu mengaktifkannya.
“Aku lanjut. Skill aktif: Earth spike.” Kevin mengaktifkan skill.
"Muncul dan seranglah wahai tanah, jatuhkan musuh dengan ketajamanmu." Titan mengeluarkan kekuatannya.
Tanah-tanah runcing muncul dari bawah. Tanah itu tumbuh cepat ke atas lalu sukses mengenai Phoenix. Phoenix terkena serangan Titan.
“Ugh..” Erang Phoenix.
Ryan kaget dengan serangan yang dilancarkan Kevin. Meskipun Phoenix terbang namun ternyata dia tidak boleh lengah sama sekali. Buktinya benar apa yang dikatakan Phoenix, dia sama sekali tidak akan tahu dengan tanah yang ada di bawahnya. Meskipun bukan Battlefield tanah, namun tetap saja di manapun dia berada meskipun di tengah lautan pasti juga ada tanah yang bersembunyi di bawahnya.
“Kamu benar Phoenix, kita tidak akan pernah tahu dengan tanah yang ada di bawah kita.” Ryan tersadar.