HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 151: Saran



"Ayo ikut aku kak!" Ajak Reza.


Aku dan Reza kembali ke gudang tempat Reza menyimpan monsternya. Lalu setelah itu aku diajak dia ke pinggir sawah, di sana ada sebuah pohon besar dan ada tempat duduk panggung yang terbuat dari kayu. Reza dan aku pun duduk di sana.


Angin di pedesaan sangatlah sejuk, aku bisa merasakan itu di tempat ini. Aku serasa ingin tidur karena terlalu nyaman di pinggir sawah seperti ini. Aku berbaring beberapa saat sebelum Reza mengajakku mengobrol.


“Kak, apa tidak sebaiknya kakak segera pulang?” Ucap Reza sambil memandang langit.


Aku bangun ketika Reza menanyakan hal itu. Ada apa dengannya di saat-saat menenangkan seperti ini malah menanyakan tentang kepulanganku dari sini.


“Kenapa kamu tiba-tiba bicara begitu?” Tanyaku sambil bangun.


“Menurutku kakak sudah hebat tadi dan juga ini hampir satu bulan kakak di sini. Apa kakak tidak ingin ke sekolah? Aku setiap hari melihat berita juga bertanya pada ibu dan ayahku apakah ada berita anak hilang lagi tapi mereka bilang tidak ada. Berarti bukankah itu sudah cukup aman untuk kakak pulang? Tunggu, aku tidak bermaksud mengusir kakak lho ya!” Reza memberiku saran.


Aku kembali merenungkan saran Reza, memang benar apa yang dia bilang jika selama tiga minggu aku di sini tidak ada anak hilang lagi di kota. Selain itu aku juga sangat yakin jika para anggota OSIS pasti sudah sibuk mencariku sekarang karena mereka pasti sudah mengetahui jika aku pergi dari rumah.


“Hmm.. Yang kamu katakan memang benar. Selama kamu pergi sekolah aku selalu memantau berita di televisi, memang tidak ada lagi berita tentang anak hilang. Nanti akan aku diskusikan dengan ibu. Oh iya aku ingat, kamu janji kan kalau akan menceritakan semuanya tentang tadi?” Balasku lalu aku teringat tentang janji Reza.


Aku menagih janji Reza terlebih dahulu sebelum dia mengalihkan topik pembicaraan lebih jauh lagi. Masalah kepulanganku nanti bisa aku bicarakan dengan ibu.


“Iya, iya, aku ceritakan! Mau dari mana dulu?” Tanya Reza


“Hmm.. Kenapa kamu menyimpan monster hebat seperti Hound di tempat itu? Bahkan kamu juga belum pernah berduel menggunakannya.” Jawabku lalu berbalik bertanya.


Reza kembali melihat ke arah persawahan, lalu dia menceritakan kepadaku kenapa harus menyimpan monsternya yang hebat itu dan juga di tempat seperti itu.


“Aku menyimpan Hound karena aku tidak ingin terlena oleh kekuatan kak. Semua temanku di kelas juga hanya mendapatkan monster Mark 1, setelah mengetahui dari Hound jika monster Mark 2 adalah monster yang spesial dalam segi kelangkaan dan juga kekuatannya. Maka aku meminta izin kepada Hound lalu memutuskan untuk melarang dia berbicara dan keluar menjadi bentuk fairy serta menyimpannya untuk sementara waktu. Aku tidak ingin menjadi sombong di hadapan teman-temanku, karena mereka sering mengajakku berduel namun aku tidak berani mengeluarkan Hound. Jika ada orang yang tidak suka padaku, mungkin nasibku akan seperti kakak yang dihajar kemarin karena monster milikku pasti akan banyak yang mengincar. Itulah kenapa aku menyimpan Hound di gudang.” Jawab Reza.


Aku berusaha memahami posisi Reza, ternyata untuk memiliki monster Mark 2 dan tetap rendah hati sangatlah sulit. Di balik kemenangan yang diperoleh menggunakan monster Mark 2 maka rasa akan merasa hebat atau di anggap hebat akan otomatis mengikutinya. Aku lalu memastikan lagi monster milik Reza itu.


“Jadi monstermu bisa bicara, selain itu kamu juga mendapatkan informasi tentang dewa itu dari monstermu?” Aku memastikan.


“Iya kak. Di battlefield aku dijelaskan semua oleh Hound. Akan ada enam pahlawan yang turun ke dunia manusia untuk menghadang bangkitnya dewa yang terpecah itu. Setelah mendengar cerita kakak, aku sangat mengerti perasaan kakak saat ini. Bertahan dengan dikelilingi enam pahlawan yang kuat tidaklah mudah, sedangkan kakak sendiri tidak seberuntung mereka dan juga tidak seberuntung aku. Sejak itu sebenarnya keputusanku semakin bulat untuk tidak menggunakan Hound lagi, aku merasa bersalah kepada mereka yang hanya mendapatkan monster biasa.” Lanjut Reza.


Jawaban Reza sangatlah realistis, meskipun dia beruntung mendapatkan monster hebat tapi dia tetap bisa memahami apa yang orang lain rasakan dengan hanya mendapatkan monster lemah. Jujur aku sangat salut pada Reza, namun aku harus menghentikannya dari pemikirannya itu.


“Hentikan itu, aku akan sangat marah jika kamu berpikiran seperti itu!” Aku menatap Reza dengan serius.


“Loh kenapa kak?” Reza sedikit takut melihatku.


Kali ini aku benar-benar marah kepada Reza. Meskipun dia baik tapi apa yang dia lakukan adalah salah. Bahkan menurutku, Reza seperti sudah menginjak-injak perasaan orang yang tidak seberuntung dia dengan perasaan baiknya itu.


“Kakak..!” Mata Reza berkaca-kaca.


“Sudah jangan cengeng begitu, sudah aku bilang kan aku sudah tidak ada masalah dengan monster Mark 2 lagi.” Balasku.


Reza mengucek matanya, dia juga menghilangkan air matanya dengan lengannya. Setelah itu Reza mengeluarkan kartu Hound dan memegangnya.


“Kalau begitu, Hound kamu bebas sekarang. Aku akan membawamu ke mana saja mulai hari ini. Kamu juga boleh keluar serta berbicara, namun jangan ketika aku sedang di sekolah”, ucap Reza pada kartu Hound


Reza mencabut semua larangan Hound. Hound keluar dari kartunya, dia menjadi bentuk fairy dengan wujud anjing kecil di bahu Reza. Hound kemudian berbicara padaku.


“Terima kasih, kamu telah membuat Reza berubah pikiran. Perkenalkan aku adalah Hound, mulai saat ini aku juga akan memanggilmu kakak untuk menghormatimu!” Ucap Hound.


Aku terkejut ketika Hound berbicara kepadaku, apalagi dia juga berniat memanggilku kakak, itu benar-benar memalukan. Aku pun segera membalasnya untuk mengurungkan niatnya itu.


“Tidak perlu begitu, aku hanya teringat dengan monster milik temanku. Dia pernah dihukum tidak boleh bicara dan dia seperti sangat tersiksa. Lagipula sayang jika monster kuat sepertimu tidak digunakan dengan semestinya. Jangan panggil aku kakak, panggil Tio saja aku sudah merasa dihormati.” Balasku.


“Baik Tio, terima kasih sekali lagi. Dengan ini aku sudah terbebas.” Hound menundukkan kepalanya.


Dan apa yang aku barusan katakan ternyata benar. Larangan Reza yang dia terapkan kepada Hound sedikit menyiksanya sama seperti sewaktu Luna menghukum Fox. Untung saja aku melihat kejadian itu dulu, sekarang giliranku untuk menasihati Reza lagi.


“Tuh lihat! Apa kamu tidak merasa bersalah pada Hound?” Aku kembali menatap Reza.


Reza pun ketakutan, dia langsung meminta maaf kepada Hound.


“Maafkan aku Hound. Ternyata keputusanku selama ini telah membuatmu terkekang. Aku benar-benar minta maaf.” Reza meminta maaf.


“Tidak apa-apa, sebagai monstermu aku hanya bisa menuruti apa yang pertnerku inginkan. Aku menghormati setiap keputusanmu selama itu benar, aku tidak keberatan.” Balas Hound.


Aku kembali menyela pembicaraan mereka berdua untuk mengingatkan Reza jika memiliki monster hebat itu bukanlah hal yang salah. Yang terpenting adalah cara menggunakannya sudah benar atau salah. Untuk masalah musuh, akan banyak musuh hebat bertebaran di Battlefield nantinya seperti yang sedang aku dan teman-teman akan hadapi ini.


“Ingat Reza, tidak perlu memikirkan tentang lawan sepadan. Kelak kamu akan menemukan lawan yang bahkan kamu tidak akan sanggup melawannya. Jadi untuk sekarang tidak ada salahnya melawan semua dengan kekuatan Hound, tapi ingat jangan sampai kamu menjadi sombong akan kemenangan.” Aku mengingatkan Reza.


“Baik kak!” Reza merasa senang.