HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 28: Sosok Misterius



Setelah berpisah dengan Luna, Airi dan Aria melanjutkan berjalan pulang. Mereka berdua berjalan tanpa mengobrol satu sama lain. Airi kemudian melihat ke atas memandang langit sore yang berwarna oranye.


“Tadi ada apa Aria?” Tanya Airi.


Tanpa basa-basi, Airi menanyakan kembali ke Aria tentang apa yang Aria bahas dengan Luna tadi. Airi masih penasaran tentang hal itu.


“Kan sudah aku bilang besok senin ada rapat kak." Jawab Aria.


“Jangan bohong, aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu Aria. Aku sangat hafal tingkah lakumu saat kamu sedang berbohong." Balas Airi.


Ketika Aria sedang bohong atau menyembunyikan sesuatu, dia pasti akan diam. Karena Aria adalah anak yang jujur, ketika dia berbicara kadang malah menguak kebohongan yang sedang Aria sembunyikan. Airi sudah hafal dengan sikap Aria itu dan sekarang dia diam tanpa mengajak Airi berbicara.


“Kakak ini memang pandai membaca situasi ya?" Aria kagum dengan kakaknya.


“Kita kan saudara kembar, aku sudah terlalu paham denganmu. Lalu kenapa tadi?” Tanya Airi lagi.


Aria sedikit menceritakan ke kakaknya jika dia tadi sedikit merasakan hal aneh. Aria juga menjelaskan ke Airi dengan kata-kata yang mudah di mengerti.


“Aku juga belum tahu banyak kak. Aku hanya merasakan hal aneh tadi.” Jawab Aria.


“Hal aneh?” Airi bingung.


Aria juga bingung bagaimana menjelaskan ke Airi. Kemudian Mage keluar menjadi bentuk fairy. Aria meminta Mage untuk sedikit menjelaskan.


“Mage, sebenarnya ada apa tadi? Aku merasakan sesuatu yang aneh." Tanya Aria ke Mage.


“Sang pecahan dewa telah muncul. Begitulah singkatnya." Jawab Mage.


“Pecahan dewa yang kemarin kamu ceritakan di Battlefield itu maksudmu? Yang menyebabkan adanya Battlefield?” Aria memastikan.


“Benar, dia sudah memasuki Battlefield sehingga prasasti kegelapan merespon keberadaannya. Para Guardian mengirim pesan telepati kepada kami berenam dan hal itu yang kamu rasakan tadi." Lanjut Mage.


“Oohh jadi begitu. Pantas aku merasakan hawa yang sangat kuat datang. Dadaku berdebar-debar tadi.” Aria memegang dadanya.


Di sini Airi sudah tidak mengerti sama sekali dengan apa yang sedang Aria bicarakan dengan Mage. Airi sudah kebingungan dan tidak mampu berkata apapun selain pertanyaan tentang pembicaraan mereka.


“Pecahan dewa? Apa maksudnya?” Airi tidak bisa mengikuti alur pembicaraan Aria dengan Mage.


Aria kemudian menjelaskan ke Airi tentang kisah sang dewa yang mengacau di Battlefield. Aria menceritakan kepada Airi persis seperti yang Mage ceritakan di Battlefield.


“Jadi dahulu ada dewa yang jahat di dunia para monster kak. Tapi dia berhasil dikalahkan namun dewa itu memecah kekuatannya menjadi 9." Jelas Aria ke kakaknya.


"Lalu kenapa dengan dewa itu? Dan juga prasasti tadi prasasti apa? Bukankah prasasti adalah benda peninggalan?" Tanya Airi panjang lebar.


"Meskipun sudah dikalahkan, dewa itu meninggalkan sebuah prasasti yang menulis syarat agar dewa itu bangkit dengan sempurna. Dan sekarang pecahan dewa telah muncul, sehingga tahap pertama di prasasti itu aktif." Lanjut Aria.


“Ohh begitu rupanya." Airi mulai mengerti.


Bagi Airi, cerita Aria seperti dongeng saja. Airi hanya bisa mendengar penjelasan Aria, karena Airi tidak memiliki monster seperti Aria untuk membuktikan kebenaran cerita Aria.


“Lalu apa yang akan kita lakukan Mage?” Tanya Aria.


“Kita akan mendengar keputusan kapten dulu besok. Kita tidak boleh main-main dengan naga itu. Selain dia kuat, dia juga telah menyebabkan nyawa kesatria naga ditukar menjadi Battlefield. Sampai saat ini belum ada monster yang mampu bersaing dengannya. Walaupun dia sekarang hanya pecahan, kita sama sekali tidak boleh meremehkannya." Tegas Mage.


“Baiklah, aku akan mengikuti apa yang kamu bilang Mage. Jujur aku belum pernah berduel, jadi aku tidak tahu apa-apa tentang itu. Selain itu, yang kita akan lawan bukanlah monster sembarangan. Dia berkekuatan dewa." Ucap Aria sedikit takut.


Mendengar nada bicara Aria yang menunjukkan ketakutan, Airi merespon dengan perasaan khawatir. Bagaimanapun juga mereka adalah saudara kembar, mereka memiliki ikatan batin yang kuat dalam hal perasaan.


“Aria, jangan melakukan hal berbahaya. Walau aku tidak memiliki monster tapi jika apa yang kamu lakukan itu membahayakan dirimu sendiri, aku akan melarangmu pergi." Airi menghawatirkan Aria.


“Untuk hal itu sebaiknya serahkan kepada kami berenam. Aku juga akan sekuat tenaga melindungi Aria jika dalam keadaan bahaya." Kata Mage kepada Airi


“Apakah aku bisa mempercayaimu? Tadi kamu bilang monster itu berkekuatan dewa. Apa kamu sudah gila akan melawan dewa?” Airi sedikit emosi kepada Mage.


“Kak, tenang dulu. Pokoknya semuanya akan kami bahas besok. Aku akan janji pada kakak, aku akan berhati-hati." Aria menenangkan Airi.


“Tapi Aria...” Airi terhenti bicara.


Aria yang hampir menangis itu kemudian langsung menuju kakaknya. Aria memeluk erat Airi agar tidak menghawatirkannya.


“Maaf telah membuatmu khawatir kak. Aku akan baik-baik saja, aku janji." Aria memeluk kakaknya.


Mereka berdua akhirnya saling menangis satu sama lain. Airi menyudahi pelukan mereka, dia meminta Aria untuk berjanji kepadanya.


“Janji ya?" Airi menangis dan menyodorkan jari kelingkingnya.


“Janji kak!" Aria mengaitkan kelingkingnya.


Mereka berdua saling tersenyum. Mereka juga mengelap air mata masing-masing. Setelah itu, Airi teringat jika dia harus berbelanja. Stok bahan makanan di rumah sudah menipis.


“Oh iya, ayo mampir ke minimarket dulu." Airi kembali ceria


“Lho mau apa ke minimarket?” Tanya Aria.


Airi berubah menjadi sedikit kesal ke Aria. Adiknya yang tidak bisa memasak ini mana tahu jika bahan makanan di rumah habis.


“Hei Aria, aku tahu kamu tidak bisa masak dan hanya bisa makan saja, tapi kalau ini sih sudah keterlaluan. Bahan makanan kita hampir habis, apa kamu mau makan nasi putih saja?” Jawab Airi kesal.


“Hehe maaf, maaf. Aku mana tahu soal stok makanan kita. Yang penting bagiku masakan kakak enak." Aria memasang wajah tidak bersalah.


“Oh kalau begitu, besok begini saja. Aku akan coba tidak masak seharian. Aku ingin lihat kamu mau makan apa?" Airi semakin kesal.


“Ampun kakak, ampun. Tadi Aria hanya bercanda. Jangan jahat-jahat ke adik sendiri." Tangis Aria meminta ampun.


Airi senang bercanda soal memasak dengan Aria. Aria tidak akan bisa melawan Airi jika sudah masuk ke sesi masak-memasak. Sungguh Airi sangat jahil.


“Hahahaha.. Kena kamu. Kalau sudah tentang masak pasti begini. Aria, Aria, kamu itu perempuan. Di mana daya tarik perempuan kalau tidak bisa memasak?" Goda Airi.


“Habisnya aku selalu gagal saat mencoba." Aria murung.


“Sudah, sudah. Ayo segera belanja, keburu hari semakin malam. Aku sudah lapar nih." Ajak Airi.


“Kalau ada kembalian beli es krim ya kak." Pinta Aria.


“Dasar kamu ini, jajan terus." Balas Airi.


"Hehe." Aria hanya bisa tertawa.


Kedua bersaudari itu melanjutkan hari ini dengan berbelanja bahan makanan. Orangtua mereka memang berada di luar negeri karena berbisnis di sana. Maka dari itu, Airi sebagai kakak selalu mengurus Aria saat tinggal berdua di kota ini.


Sementara itu, di Battlefield muncul sosok misterius yang berhasil memenangkan banyak duel.


“Hmmm.. Ternyata keberadaan kita sudah diketahui." Ucap sosok misterius.


Dia melihat skill deck di tangannya.


“Dengan hasil ini, akan aku buat mereka merasakan mimpi buruk. Sampai bertemu kalian berenam. Battlefield, Out." Sosok misterius itu menghilang.