
“Hmm.. Sebenarnya yang ada di surat ini tidaklah berat, yang berat cuma raket-raket ini!” Keluh Astrid.
Setelah Astrid membaca surat itu, dia langsung menandatangani surat itu sebagai persetujuan dari bendahara. Astrid hanya mengeluhkan tentang kedua raket tenis rusak itu.
“Lalu kapan kamu akan belanja?” Tanya Kevin.
“Nanti sepulang ini bisa.” Jawab Astrid.
“Oke kalau begitu!” Balas Kevin.
Andreas kemudian menanyakan kepada Aria apakah dia sudah menulis di catatannya tentang pengajuan klub tenis itu. Bagaimana juga, hal itu juga masuk ke dalam laporan sekretaris.
“Aria, sudah kamu tulis tentang pengajuan klub tenis?” Tanya Andreas pada Aria.
“Sudah kok, Andreas. Oh iya Astrid, jangan lupa laporan kwitansinya. Hal buruk darimu hanya sering lupa laporan kwitansi setelah belanja.” Aria mengingatkan
“Hehe iya, iya. Besok aku kabari. Lagipula besok juga kita akan berkumpul lagi kan. Besok kan simulasi antara Ryan dan Kevin.” Balas Astrid.
“Oh iya besok kamis ya? Kalau begitu ayo segera pulang, kita lanjut besok lagi.” Andreas mengakhiri kegiatan sore ini.
Semuanya bersiap untuk pulang. Aku tidak menyangka jika besok sudah mau simulasi kedua saja. Setelah itu Andreas mempersilahkan semuanya untuk pulang. Satu persatu anggota keluar ruangan. Saat di depan ruang OSIS, Andreas mengunci pintu dan pamit pulang.
“Aku pulang dulu. Kalian semua juga segera pulang, sudah sore ini.” Himbau Andreas.
Semuanya bergegas pulang. Namun saat aku hendak berjalan pulang, aku melihat Astrid yang seperti sedang kebingungan.
“Ada apa Astrid?” Tanyaku.
“Ini baterai smartphoneku habis, mana aku lupa bawa charger. Bagaimana aku menghubungi supir yang menjemputku?” Jawab Astrid yang sedang kebingungan.
“Kamu hafal nomor rumahmu?” Tanyaku lagi.
“hafal, kenapa memangnya?” Balas Astrid.
Setelah mendengar itu, aku merogoh smartphone yang ada di kantong celanaku. Aku mengambil smartphone milikku untuk kupinjamkan kepada Astrid.
“Nih pakai punyaku! Tapi kemungkinan tidak bisa menelpon lama karena kebetulan pulsaku tidak banyak.” Aku menawarkan.
Aku tidak tega kepada Astrid karena kebetulan semua anggota OSIS sudah bergegas pulang, sekarang hanya tinggal aku dan Astrid yang tersisa. Mengingat barang bawaannya kedua raket itu tidak seharusnya jika aku hanya diam saja.
“Wah terima kasih banyak, aku pinjam sebentar ya?” Astrid mengambil smartphoneku.
Aku meminjamkan smartphoneku kepada Astrid. Astrid sedikit menjauh dari tempatku berdiri untuk menelpon supir yang menjemputnya. Terdengar sedikit percakapan Astrid dan dia menelepon tidak berbasa-basi. Dengan cepat dia menyelesaikan teleponnya.
“Terima kasih ya! Nih smartphonemu, aku akan ganti nanti pulsanya.” Astrid mengembalikan smartphoneku
“Lalu bagaimana?” Tanyaku sambil menerima smartphoneku.
“Supir keluargaku sedang menuju kemari. Aku bilang padanya jika baterai smartphoneku habis dan aku meminjam smartphone temanku. Jadi aku akan menunggu di depan gerbang setelah ini.” Jawab Astrid lega.
“Ya sudah, sini aku bantu bawa raketnya.” Balasku.
“Tidak usah repot-repot, kamu sudah membantuku dengan meminjamkan smartphonemu barusan.” Astrid menolak.
“Sudah, cuma sampai gerbang kan? Aku tahu seberat apa raket itu, jadi alangkah baiknya aku bawa satu seperti tadi dengan Kevin.” Balasku sedikit memaksa.
“Kalau begitu terima kasih lagi.” Astrid berubah pikiran.
Astrid memberikan satu raket padaku. Aku dan Astrid segera berjalan menuju gerbang. Di saat kami berjalan, Astrid berbicara panjang lebar dan aku sama sekali tidak paham dengan apa yang dia maksud. Astrid menjelaskan tentang bagaimana tugas bendahara setelah surat pengajuan sampai kepadanya.
Astrid bilang dia harus kesana-kemari untuk berbelanja. Aku pun hanya mengangguk-angguk saat mendengarkan. Dalam hati aku berkata, masih ada gadis lain ternyata yang lebih merepotkan daripada Luna. Tetapi yang ini beda, gadis ini hanya banyak bicara.
“Baiklah aku pulang duluan, ini raketnya!” Aku memberikan raket yang kubawa pada Astrid.
Setelah kami sampai di gerbang, aku segera ingin pulang karena hari memang sudah mulai petang. Aku tidak ingin sampai rumah dalam keadaan gelap karena tubuhku belum sembuh. Selain itu aku takut jika dihadang oleh mereka lagi.
“Terima kasih ya sudah membantu dua kali.” Astrid berterima kasih
“Sama-sama, maaf aku tidak bisa menemanimu sampai jemputanmu datang.” Balasku.
“Tidak apa-apa, aku bisa sendirian.” Lanjut Astrid dengan tersenyum.
Aku pun bergegas pulang dan meninggalkan Astrid. Aku mulai berjalan menjauh dari sekolah, sesekali aku melihat ke belakang untuk melihat Astrid yang berdiri di depan gerbang. Sebenarnya aku tidak tega membiarkan Astrid sendirian, tapi di sisi lain aku harus segera pulang sebelum hari mulai gelap. Aku masih ketakutan pulang sore-sore.
Tak beberapa lama, jemputan Astrid datang. Sebuah mobil mewah berhenti di depan Astrid. Seorang supir keluar dari mobil lalu membukakan pintu belakang mobil untuk Astrid. Supir itu juga terlihat membawa sebuah kotak kecil di tangannya.
“Sore nona, maafkan saya sedikit terlambat. Ini powerbank anda sudah saya bawa.” Pak supir keluar mobil sambil memberikan pesanan dari Astrid.
“Tidak apa-apa pak, lagipula ini salah saya sendiri tadi pagi lupa bawa charger ataupun powerbank.” Balas Astrid.
“Kalau begitu, silahkan masuk nona.” Pak supir membuka pintu belakang mobil.
Astrid kemudian masuk mobil. Pak supir menutup pintu belakang dan segera masuk mobil. Di saat pak supir mengemudi, Astrid memberi tahu pak supir jika dia harus mampir ke suatu tempat.
“Pak, mampir ke toko olahraga yang biasa ya! Aku ada tugas OSIS hari ini.” Ucap Astrid.
“Baik nona.” Balas pak supir
Astrid kemudian men-charge smartphonenya dengan powerbank. Setelah hidup dia mengirim pesan kepada Luna untuk meminta nomor Tio.
Kling.. (Bunyi notifikasi)
Luna yang baru saja sampai rumah mendengar smartphone miliknya berbunyi. Luna mengeluarkan smartphonenya untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan kepadanya. Setelah dilihat ternyata Astrid yang mengirim pesan.
"Luna, aku minta nomor Tio dong!" Pesan dari Astrid.
"Hah? Untuk apa anak ini meminta nomor Tio? Lagipula mana berani aku memberikan nomor Tio seenaknya." Ucap Luna setelah membaca pesan dari Astrid.
Luna terpaksa harus menolak permintaan Astrid. Dia tidak mau membuat masalah dengan Tio, apalagi ini menyangkut privasi.
Astrid melihat pemandangan luar sambil menunggu balasan dari Luna. Tidak lama, smartphone milik Astrid berbunyi.
Kling.. (Bunyi notifikasi)
Astrid langsung membuka pesan dari Luna untuk memastikan balasannya. Namun Astrid harus sedikit kecewa kali ini.
"Maafkan aku Astrid, aku tidak bisa begitu saja memberikan nomor Tio kepadamu. Aku takut dia akan marah kepadaku nantinya." Pesan dari Luna.
"Yah Luna, ini penting tahu!" Astrid kecewa.
Astrid kemudian membalas pesan Luna kembali dan kali ini dia menuliskan alasan kenapa harus meminta nomor Tio. Astrid sangat berharap jika Luna mau memberikan nomor Tio kepadanya.
Kling.. (Bunyi notifikasi)
Smartphone Luna kembali berbunyi, dia langsung membaca pesan dari Astrid lagi.
"Aku minta nomor Tio karena tadi dia telah membantuku. Baterai smartphoneku habis lalu Tio meminjamkan smartphonenya kepadaku untuk menelepon ke rumahku. Kamu tahu sendiri kan menelepon ke telepon rumah itu tidak murah. Makanya aku harus mengganti pulsa miliknya yang sudah aku pakai tadi. Jadi aku minta tolong sekali, berikan ya!" Pesan dari Astrid.
"Yah kalau begitu sih apa boleh buat." Luna sedikit memahami Astrid.
Astrid harap-harap cemas menunggu balasan dari Luna. Dia sudah merasa tidak enak jika tidak mengganti pulsa milik Tio tadi. Astrid merasa tidak seharusnya memanfaatkan orang yang sudah membantunya.
Kling.. (Bunyi notifikasi)
Dengan cepat Astrid membuka pesan dari Luna. Dia terlihat tersenyum ketika membaca pesan balasan dari Luna.
"Ya sudah ini nomornya tapi ingat ya! Jangan bilang dari aku." Pesan dari Luna.
Awalnya Luna menolak, namun setelah Astrid menjelaskan apa yang terjadi akhirnya Luna memberi nomor Tio. Astrid membuka aplikasi m-banking miliknya kemudian segera mengirim pulsa kepada Tio.
Kling.. (Bunyi notifikasi)
Aku kemudian mengambil smartphoneku. Ada pemberitahuan masuk dan aku segera membacanya.
“Astaga banyak sekali!!” Aku terkejut.
Aku mendapati kiriman pulsa yang cukup banyak. Menurutku Astrid sungguh berlebihan mengirim dengan jumlah segini.
“Aku harus bicara dengannya besok, ini kebanyakan! Tapi tunggu, dari mana dia dapat nomorku?” Aku penasaran.