HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 25: Toko Buku



"Akhirnya sampai juga." Ucap Airi.


"Nanti cepat ya memilih bukunya. Aku tidak mau pulang malam." Balas Luna meletakkan sepedanya di parkiran.


Sesampainya di toko buku, mereka langsung masuk dan disambut oleh sang pemilik toko.


“Permisi." Luna mengucap salam.


Luna membuka pintu toko. Dia masuk diikuti kedua saudari kembar di belakangnya. Seorang paman terlihat sedang menjaga kasir.


“Selamat datang.. Ahh Luna ternyata!" Kata paman itu.


“Sore paman, kami sedang ingin mencari buku." Balas Luna.


“Silahkan, silahkan." Lanjut paman pemilik toko


Mereka segera berkeliling mencari buku yang ingin Airi beli. Memang toko ini cukup lengkap, ada buku pendamping pelajaran sekolah di sini. Buku yang berisi rangkuman pelajaran yang lebih mudah dipahami dari yang diajarkan di sekolah juga ada. Ada juga buku latihan soal ujian beserta cara-cara mengerjakannya.


“Airi, hari ini kamu mau beli buku apa?” Tanya Luna.


Luna berputar-putar di sekitar rak buku yang isinya materi pelajaran SMA. Dia tidak tahu buku apa yang sedang Airi cari sekarang.


“Aku mencari buku latihan soal matematika, sungguh nilai matematikaku agak suram." Balas Airi sambil melihat ke arah rak buku.


“Benar juga kamu, aku bisa merasakan perasaanmu Airi. Aku dalam hal matematika juga kurang bagus." keluh Luna.


Luna setuju dengan Airi. Nilai ulangan matematika Luna selalu di bawah Tio, padahal nilainya juga tidak buruk-buruk amat. Ada beberapa soal yang Luna sering salah mengerjakannya.


“Bagiku matematika adalah hal yang menyenangkan." Kata Aria yang mengambil sebuah buku.


Anak satu ini malah berbeda dengan kakaknya. Nilai Aria tertinggi di kelasnya. Luna heran kenapa kakak beradik ini berbeda kemampuannya.


“Haaahh.. Bagi aku sedikit kepintaranmu itu Aria." Luna menghela nafas.


“Haha, dulu ibuku sepertinya lupa saat membagi kepintaran kami, semuanya diambil Aria." Goda Airi sambil tertawa.


Aria berhenti membaca buku yang dia pegang. Aria kemudian menoleh ke arah Luna dan kakaknya. Mendengar candaan mereka, Aria ngambek.


“Kakak ini jahatnya kepada adik sendiri." Aria cemberut.


Airi yang melihat adiknya cemberut, dia langsung mencoba menghibur adiknya.


“Maaf, maaf. Aku hanya bercanda." Airi mengelus rambut Aria.


Aria hanya membalas dengan senyuman, dia melanjutkan membaca buku yang dipegangnya.


Kemudian Luna dan Airi melanjutkan mencari buku soal matematika yang sedikit mudah dipahami. Setelah beberapa saat mencari Aria menemukan sebuah buku.


“Kakak bagaimana kalau ini?” Aria menunjukkan sebuah buku.


“Mana, mana?” Tanya Airi.


Aria memberikan buku yang dari tadi dia baca ke Airi. Airi melihat-lihat buku yang diperlihatkan Aria. Dia mulai mengamati soal-soal yang ada di buku itu serta mencermati cara menyelesaikannya.


“Menurutku buku ini cukup bagus dan harganya juga cukup murah jika dibandingkan dengan yang lain Juga dalam penyelesaiannya lebih mudah dipahami." Kata Aria


“Bagaimana menurutmu Luna?” Airi bertanya pada Luna.


Luna meminjam buku itu dan membaca beberapa soal materi kelas 2. Ternyata benar jika soal-soal di buku itu sangat mudah dipahami.


“Benar juga kata Aria, aku langsung paham dengan soal satu ini." Jawab Luna sambil menunjuk salah satu contoh soal.


"Lalu bagaimana kak? Mau beli?" Tanya Aria.


“Baiklah, aku ambil ini." Jawab Airi.


Mereka membawa buku itu menuju ke kasir untuk membayar buku itu dan tugas untuk membayar di serahkan kepada Luna. Raut wajah gembira terpancar dari wajah Airi sedangkan raut wajah yang lemas ditunjukkan oleh Luna.


“Paman, aku mau beli buku ini." Luna menyerahkan buku itu ke paman.


Paman pemilik toko sedikit bingung dengan buku yang dibeli oleh Luna. Paman itu kemudian menanyakan kepada Luna.


Paman itu merasa aneh dengan Luna. Karena tidak biasanya anak kelas 2 membeli buku latihan ujian akhir di toko ini.


“A-a-anu paman. Bukankah jika kita mempersiapkannya sejak awal kita akan lebih mudah saat besok naik ke kelas 3? Dan juga kemungkinan meningkatkan nilai jadi lebih baik. Aku kurang bagus dalam hal matematika, paman." Alasan Luna.


“Oh jadi begitu, benar juga kamu nak Luna. Hari ini paman akan kasih diskon 20% untuk buku ini." Kata paman itu.


“Terima kasih banyak paman.” Ucap Luna.


Di belakang Luna, Airi sangat senang saat Luna di berikan diskon 20%


“Yeeeeeyyyy..!" Airi berbisik kepada Luna.


“Awas kamu Airi." Balas Luna.


Setelah disebutkan harga bukunya oleh paman, Luna membayar buku itu dan langsung pamit pulang karena hari sudah sangat sore.


“Terima kasih paman karena sering memberiku diskon saat aku membeli buku di sini." Luna berterima kasih.


Paman memberikan buku yang sudah dimasukkan ke dalam kantong kertas ke Luna. Luna kemudian menerima buku itu dari paman.


“Sama-sama. Kamu kan anak sahabat paman, paman sudah menganggapmu keponakan sendiri. Setidaknya paman bisa memberimu sedikit diskon agar uang jajanmu masih tersisa dan bisa kamu gunakan untuk hal lainnya. Salam untuk ayahmu saat pulang nanti." Kata paman itu


“Baik paman, nanti aku akan sampaikan." Balas Luna.


"Terima kasih banyak paman." Airi dan Aria serentak.


Mereka semua pamit dan meninggalkan toko, sementara Luna agak kesal dengan Airi. Saat sudah di luar, Luna langsung mengingatkan Airi.


“Ingat ya Airi, ini yang terakhir kalinya aku membantumu mencari diskon. Lihat paman tadi sudah curiga padaku." Luna sedikit kesal.


“Iya, iya. Terima kasih Luna yang cantik, manis dan imut." Goda Airi.


“Aku tidak seperti Aria, jadi tidak usah memujiku seperti itu. Aku tidak terpengaruh oleh godaan seperti itu." Balas Luna.


"Heh.. Apa maksudnya?" Aria tidak paham.


"Tidak apa-apa kok, Lebih baik sekarang kita pulang." Luna mengabaikan pertanyaan Aria.


"Yuk." Sahut Airi


Luna mengambil sepedanya. Luna kemudian berjalan menuntun sepedanya dan diikuti Airi yang langsung menyusulnya. Aria masih berdiri diam karena penasaran dengan apa yang di maksud Luna tadi. Aria langsung berlari menyusul mereka berdua.


"Tunggu Luna, kakak. Apa yang kamu maksud tadi tidak sepertiku." Teriak Aria sambil berlari.


Luna menoleh ke belakang melihat Aria, Luna sedikit ingin bercanda dengan Aria.


"Tidak apa-apa." Balas Luna.


"Hahaha." Airi tertawa.


Aria kemudian cemberut karena tidak dijelaskan apa maksud dari perkataan Luna tadi.


"Iih kalian, jangan begitu dong. Luna apa maksudnya tadi?" Tanya Aria cemberut.


"Tidak apa-apa Aria." Jawab Luna tersenyum.


"Hahaha.. kejam kamu Luna." Airi tertawa lagi.


"Aaaaahh... kakak jahat." Aria memukul-mukul pundak Airi


"Loh kok cuma aku?" Tanya Airi.


"Pokoknya kakak." Aria hampir menangis.


"Hahaha." Giliran Luna yang tertawa.


Mereka bertiga melanjutkan perjalanan pulang sambil bercanda lagi. Kali ini bahan candaan mereka adalah Aria.