
“Ayo segera berlari ke sana." Andreas mulai berlari.
Ryan dan Kevin merespon, mereka berdua langsung mengikuti Andreas. Sedangkan Astrid, ya dia sudah tidak bisa diharapkan lagi kalau soal berlari lagi. Mereka berempat mulai berlari menuju lab IPA.
“Tunggu.. Aku sudah tidak kuat jika berlari lagi." Astrid mengeluh.
Astrid terseok-seok berlari di belakang mereka bertiga, dia sudah tidak kuat lagi.
“Kamu boleh tidak ikut kalau capek." Balas Andreas sambil berlari.
“Gila kamu. Teman kita sedang dalam kesulitan, mana bisa aku tidak ikut." Balas Astrid yang sudah terengah-engah.
Mereka berempat berinteraksi sambil berlari menuju ke gedung lab IPA. Astrid yang sudah pasrah sampai di sini, dia merasa makan siangnya tadi sia-sia. Astrid sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk berlari.
“Lalu apa rencanamu tadi Andreas?” Tanya Kevin.
“Kita akan bagi 2 kelompok. Aku lewat bawah lalu Kevin dan Ryan lewat lantai 3." Jawab Andreas.
“Haaah.. Kenapa aku lewat lantai 3?” Ryan mengeluh.
“Hanya kamu yang lumayan dalam bela diri Ryan. Karena kata Astrid di foto itu ada beberapa kaki, jadi kemungkinan lebih dari 1 orang. Aku tidak mau jika kita semua dari bawah mereka akan kabur lewat atas. Kita harus mengepung mereka." Jelas Andreas.
“Oh itu ternyata alasanmu. Baiklah aku lewat lantai 3 kalau begitu." Ryan paham.
Meskipun mereka berempat tidak mengetahui masalah apa yang terjadi pada Tio. Singkatnya Andreas sedikit menerka apa yang terjadi, jika sekarang Tio berurusan dengan beberapa orang. Ryan juga terlihat mempersiapkan diri, dia mengepalkan tangannya.
“Jika mereka memutuskan untuk turun akan lebih mudah kita menyergapnya. Walau aku sendiri tapi akan lebih banyak orang jika mereka lari ke bawah. Aku akan mengerahkan semua siswa dengan meneriaki mereka nanti.” Lanjut Andreas.
“Sip lah. Aku mengerti." Balas Ryan.
“Siap ketua." Sahut Kevin.
Astrid merasa terabaikan. Dia sama sekali tidak disebutkan dalam rencana Andreas. Astrid yang dalam mode kelelahan itu protes ke Andreas.
“Lalu aku ngapain?” Astrid mulai kehabisan tenaga.
“Lagian untuk apa kamu mengikuti kami? Aku punya tugas lebih mudah untukmu." balas Andreas.
“Apa itu? Cepat katakan.” Tanya Astrid lagi.
“Bukankah kamu sendiri yang bilang tadi? Kamu cepat pergi ke guru pembimbing OSIS. Laporkan jika ada masalah." Jawab Andreas.
“Astaga, bilang dari tadi lah. Baiklah kalau begitu." Balas Astrid.
“Sampai ketemu di sana, kami duluan." Lanjut Andreas.
Astrid berhenti berlari, dia kemudian melihat ke arah mereka bertiga yang dengan semangatnya berlari.
"Awas, awas." Teriak Kevin.
"Permisi." Sahut Andreas.
"Maaf, mengganggu jalan kalian." Ucap Ryan.
Terdengar suara mereka yang berlari melewati siswa-siswa di lorong. Astrid kemudian berjalan berputar arah dan menuju ruang guru untuk melaporkan hal ini.
Sesampainya Astrid di ruang guru, penampilannya sudah tidak karuan lagi. Meski rambutnya pendek, tapi semuanya berantakan. Bajunya pun sampai keluar dari rok. Sebelum masuk ke ruang guru, Astrid merapikan penampilan terlebih dahulu.
Tok.. tok.. (Suara ketukan pintu)
Setelah Astrid merapikan diri sebisanya, dia kemudian mengetuk pintu ruang guru. Terdengar balasan dari seorang bu guru.
"Ya, silahkan masuk." Seorang bu guru membalas.
Astrid kemudian memasuki ruangan, dia menuju guru yang mempersilahkannya masuk. Dengan sopan Astrid bertanya keberadaan pak guru pembimbing OSIS.
"Pak pembimbing OSIS ada, bu?" Tanya Astrid.
Astrid berusaha menyembunyikan jika dia sedang kelelahan. Dia mengatur nafas agar nada berbicaranya tetap sopan ke guru.
"Oh ada di ruangannya, silahkan langsung ke sana." Bu guru itu menunjuk ke salah satu ruangan.
"Terima kasih bu." Astrid menundukkan kepalanya.
Astrid bergegas menuju ruangan pembimbing OSIS. Dia kembali mengetuk pintu.
Tok.. tok.. (Suara ketukan pintu)
"Masuk.." Terdengar suara mempersilahkan masuk.
Astrid membuka perlahan pintu ruangan itu. Astrid kemudian menghadap pembimbing OSIS.
"Permisi pak." Astrid mengucap salam.
"Oh nak Astrid, ada perlu apa?" Tanya guru pembimbing OSIS.
"Anu pak, kami para OSIS membutuhkan bantuan bapak sekarang." Jawab Astrid.
Astrid kemudian berusaha menjelaskan tentang apa yang sedang terjadi ke guru pembimbing. Bahwa anggota OSIS baru mungkin saat ini sedang mendapatkan sebuah masalah.
"Itu pak, anggota baru OSIS yang bernama Tio mungkin baru saja mendapatkan sebuah masalah. Tio tadi mengirim sebuah foto yang sedikit blur dan itu berada di dekat lab IPA. Di foto tersebut terlihat ada beberapa kaki orang. Menurut Luna, Tio sedang dalam bahaya. Maka dari itu saya mencari bapak kemari karena disuruh Luna." Jawab Astrid menjelaskan situasi
Guru pembimbing OSIS pun mulai berpikir. Memang benar jika area gedung lab IPA tergolong sepi. Tidak ada salahnya untuk memastikan terlebih dahulu.
"Baiklah, ayo kita segera ke sana nak." Ajak guru pembimbing OSIS.
"Terima kasih banyak pak." Astrid berterima kasih.
Pak guru pembimbing OSIS pun mulai berjalan dengan sedikit cepat. Astrid kemudian mengikuti dari belakang
Di lain tempat, mereka bertiga hampir sampai di tempat tujuan. Andreas segera menginstruksikan mereka untuk berpencar.
“Kita berpencar. Ingat saat di lantai 3 jangan buat suara langkah yang mencurigakan." Andreas mengingatkan.
“Iya, iya." Ryan mengangguk.
Mereka bertiga berpisah seperti rencana. Sementara itu Luna dan Aria sampai di tempat itu terlebih dahulu dan mendapati Tio yang hampir dihajar.
“Kali ini akan aku buat kau babak belur." Kata Romi kepadaku.
Gerombolan Romi langsung bersiap mengeroyokku. Aku sudah pasrah karena tidak bisa lari lagi. Aku kemudian memejamkan mataku, namun saat mataku terpejam terdengar suara yang tidak asing di telingaku.
“BERHENTI KALIAN....!” Teriak Luna.
Aku membuka lagi mataku lalu melihat ke bawah ke arah suara. Ternyata Luna dan Aria datang ke tempat ini, bagaimana bisa?
“Luna..” Aku menoleh pada Luna.
Luna melihat aku yang sedang ingin dicelakai dan langsung berteriak. Gerombolan itu pun merasa terganggu lagi dengan kehadiran Luna.
“Cih.. Kamu lagi." Romi kesal.
“Lepaskan dia." Suruh Luna
“Kali ini aku tidak ragu lagi. Aku sudah tidak takut lagi denganmu. Meskipun kau OSIS, kau hanya seorang perempuan. Bisa apa kau di sini?" Romi meremehkan Luna.
Aku takut saat Romi bilang begitu. Aku bukannya takut aku akan dicelakai, namun aku lebih takut Luna dan Aria yang terluka nantinya.
“Cepat pergi dari sini." Teriakku ke Luna.
“Tidak.. Aku tidak mau." Balas Luna.
Sungguh keras kepala. Namun pada akhirnya Luna diabaikan oleh gerombolan Romi, Luna menjadi sedikit putus asa. Benar yang dikatakan Romi. Luna di sini tidak akan bisa melakukan apa-apa. Namun tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
“Jadi kalian hanya berani dengan perempuan dan orang yang lemah, begitu menurut kalian?” Andreas muncul dari belakang Luna dan Aria.
Aku terkejut dan juga tersenyum saat mendengar suara Andreas. Tidak hanya Luna dan Aria yang datang, bahkan hingga Andreas juga.
“Sial, ada ketua OSIS." Balas salah satu anak.
“Kenapa anggota OSIS semuanya ke sini?” Romi heran.
Andreas hanya tersenyum meladeni Romi. Andreas menyuruh Romi dan teman-temannya membuka mata mereka.
“Apa kalian tidak melihat apa yang ada di lengannya?” balas Andreas sambil menunjuk lenganku.
Ketika gerombolan Romi melihat ke arah lenganku, mereka sudah terlambat menyadari jika aku juga adalah anggota OSIS.
“Sial, dia anggota OSIS rupanya. Kita akan dapat masalah kalau begini." Balas anak yang lain.
“Bagaimana ini?” Salah satu anak mulai ketakutan.
Romi memutuskan mundur untuk sekarang, dia tidak ingin melanjutkannya lebih jauh lagi.
“Ayo kabur, kita lepaskan dia untuk hari ini." Romi melepaskanku.
Para gerombolan itu mencoba kabur ke atas, sesuai dengan perhitungan Andreas. Rencana Andreas berhasil sampai sini.
“Tidak semudah itu jika kalian ingin kabur." Ryan menghadang dari atas.
Romi terkejut melihat kemunculan Ryan dan Kevin. Tidak hanya gerombolan Romi yang terkejut, aku sendiri tidak menyangka mereka akan muncul dari atas.
“Sial kita ke kepung." Romi terkejut.
“Ayo lari ke bawah saja." Saran anak yang lain.
Rencana kedua Andreas berjalan, mereka memutuskan untuk turun ke bawah. Tak lama kemudian Astrid datang.
“Berhenti kalian di situ!" Ucap guru pembimbing OSIS.
Astrid datang dengan guru pembimbing OSIS dan langsung menahan gerakan gerombolan Romi. Guru itu pun melihat semua yang terjadi dari kejauhan dan langsung menyuruh gerombolan Romi berhenti.
“Kali ini kalian sudah tidak bisa lari." Andreas sedikit tersenyum.