
“Kek.. Nek..” Panggil seorang anak laki-laki.
Seorang anak laki-laki yang mengenakan seragam SMP membuka pintu depan sambil memanggil kakek dan nenek Tio. Anak itu terlihat membawa sesuatu. Kemudian nenek Tio menghampirinya dan menyuruh jangan berteriak sekeras itu.
“Shhh, pelan-pelan! Ada apa kamu teriak-teriak begitu?” Nenek Tio membalas.
“Ini nek aku mengantar ubi rebus. Kemarin ayah panen banyak dan pagi ini kami merebus beberapa.” Ucap anak itu sambil memberi nenek ubi rebus yang dibawanya.
“Sshh.. Terima kasih, tetapi jangan kamu berteriak begitu.” Nenek Tio mengingatkan.
Anak itu terlihat kebingungan, biasanya juga dia melakukannya seperti itu. Namun sekarang malah nenek terlihat menahan dirinya agar tidak bersuara keras-keras.
“Kenapa memangnya nek?” Tanya anak itu dengan suara yang masih keras.
Anak itu masih saja mengeluarkan suara keras. Lalu tanpa sadar ternyata dia membangunkan seseorang yang tertidur di sofa.
Di saat aku masih tertidur, tiba-tiba ada suara orang berbicara di dekat tempatku. Karena suaranya cukup keras, aku malah jadi terbangun meskipun aku masih ngantuk, sebenarnya siapa sih yang ribut di kamarku sekarang.
“Eeeeeemmmmmhhh...” Aku menggeliat.
“Tuh kan kamu membangunkan Tio.” Nenek memarahi anak itu.
Anak itu langsung terkejut saat melihat ke sofa. Ternyata dia membangunkan kakaknya yang sedang tertidur pulas di sofa.
“Heh.. Kak Tio?! Kapan kesini?” Tanya seorang anak.
Aku mengucek mataku lalu mengedip-ngedipkannya. Aku melihat ke arah orang yang berbicara kepadaku, ternyata anak dari paman datang ke rumah nenek.
“Eeemmhh.. Reza ternyata, semalam aku datang.” Jawabku sambil mengucek mataku yang masih ngantuk ini.
Reza adalah anak laki-laki pamanku, dia sekarang masih kelas 3 SMP. Dari dulu dia sangat bersikeras untuk ikut sekolah di kota, namun ayahnya tidak menyetujui karena terhalang biaya. Nada bicaranya memang sedikit keras, pantas aku sampai bangun.
“Kenapa kakak ke sini? Kan sekarang bukan liburan?” Tanya Reza.
“Harusnya aku yang tanya kamu dulu, kenapa kamu ribut sekali di kamarku? Aku masih ngantuk tahu!” Keluhku setengah sadar.
Reza dan nenek kompak mengerutkan keningnya. Ternyata kakaknya masih belum sadar sepenuhnya, Reza pun menyuruh kakaknya untuk bangun terlebih dahulu.
“Kak, kak! Lebih baik kamu melek dulu deh.” Balas Reza
“Haaah.. Memangnya kenapa?” Aku perlahan membuka mata.
Setelah aku bangun, aku kaget saat melihat sekelilingku. Kenapa aku jadi tidur di sofa? bukankah aku semalam tidur di kamar?
“Hoi.. Siapa yang memindahkan aku tidur di sini?” Aku kaget.
“Siapa juga yang kuat mengangkatmu ke sini? Jelas-jelas semalam setelah makan kamu tertidur di sini.” Jawab nenek.
Hah, iyakah? Aku kembali mengingat kejadian semalam. Aki ingat ketika aku kenyang setelah makan aku menuju ke sofa. Lalu aku duduk dan berandai-andai, setelah itu aku berbaring lalu...
“Oh iya juga ya. Aku ketiduran.” Aku teringat.
"Dasar kamu ini." Balas nenek.
Di saat itu juga aku teringat kalau aku belum bercerita alasanku datang kemari kepada kakek dan nenek karena aku semalam tertidur. Karena ada Reza di sini sekarang, aku jadi memiliki ide agar kakek dan nenek percaya dengan alasanku nanti. Aku harus segera memanggil ibu.
“Bu.. Ibu..” Teriakku.
“Kakak aneh, ditanya apa malah memanggil bibi.” Keluh Reza.
Resa kesal kepadaku karena tidak menjawab pertanyaannya tadi. Nanti juga akan aku jelaskan karena aku akan bercerita kepada semuanya. Aku juga melihat jam dinding, ternyata masih pagi dan aman untuk Reza ikut mendengarkan semuanya. Aku pun langsung menyuruhnya untuk diam sebentar.
“Sshhh.. Diam dulu, aku ada ide!” Aku menyuruh Reza diam sebentar
Setelah aku memanggil ibu, tak lama ibu pun datang menghampiriku. Ibu masuk dari belakang lalu ketika mendatangiku, ibu langsung menanyakan ada apa mencarinya.
“Ada apa teriak-teriak nak?” Tanya ibu.
“Semalam kita belum bercerita bukan?” Aku memastikan.
“Kamu saja sudah tidur semalam, ibu belum bercerita apa-apa.” Jawab ibu.
Benar-benar waktu yang sangat pas sekali. Aku tidak menyangka jika Reza akan datang ke sini pagi-pagi begini. Dia bisa aku jadikan sebagai sosok pendukung nantinya.
“Lebih baik sekarang saja bu, mumpung ada Reza dan dia juga belum berangkat sekolah.” Lanjutku.
“Hehh.. Aku kenapa?” Reza semakin bingung.
Reza saat ini memang sudah berpakaian seragam sekolahnya. Ini saat yang tepat untuk menjelaskan semuanya karena aku yakin Reza pasti tahu dengan battlefield dan juga dia pasti memiliki monster.
"Baiklah kalau begitu, ibu akan memanggil kakekmu dulu." Ibu pergi kembali menuju belakang.
Setelah ibu berpikir, ibu pun setuju lalu memanggil kakek yang sedang ada di halaman belakang rumah. Sekarang Reza benar-benar penasaran, dia kemudian meminta aku menjelaskan kepadanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
“Kak jelaskan sedikit dong! ada apa sih?” Reza penasaran.
“Kamu tahu Battlefield kan?” Tanyaku.
Aku memandangi Reza dengan sangat serius sambil menanyakan tentang Battlefield kepadanya. Reza terlihat sedikit ketakutan namun dia tetap menjawab apa yang aku tanyakan.
“Tahu lah, tetapi ayah dan ibu serta kakek dan nenek semuanya tidak percaya dengan itu.” Jawab Reza.
“Berarti kamu punya monster kan?” Tanyaku lagi.
Wajah Reza langsung berubah menjadi gugup, dia juga langsung berkeringat dan tidak berani menatapku. Pandangannya lari kesana-kemari dan dia tak kunjung menjawab, aku mengerutkan kening saat melihat Reza yang tiba-tiba aneh seperti itu.
"Hoi Reza, punya tidak?" Tanyaku sekali lagi.
“Pu-punya sih, tapi aku simpan." Jawab Reza dengan gugup.
“Bagus, karena para monster dan skill deck tidak dapat dilihat oleh orang dewasa jadi mereka pantas untuk tidak mempercayainya. Tapi untuk ibuku, ibu sudah percaya dengan itu semua.” Jelasku.
“Ohh begitu, jadi bibi percaya? Apa bibi melihat monster atau memiliki monster?” Tanya Reza.
“Tidak lah, kan aku sudah bilang orang dewasa tidak bisa melihat monster.” Jawabku.
“Lalu?” Reza semakin penasaran.
“Aku dan teman-temanku yang meyakinkan ibuku.” Lanjutku.
Reza langsung mengedip-ngedipkan matanya. Dia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Reza ingin memastikannya, apakah dia tidak bermimpi saat mendengar itu tadi?
“Kak, cubit aku. Aku sedang tidak bermimpi kan? Mana mungkin kakak mempunyai teman di saat kakak sama sekali tidak ingin mendekati orang lain?” Reza tidak percaya.
Memang Reza tahu dengan masalahku satu ini. Tapi setelah aku mendengar Reza barusan aku menjadi sedikit kesal, aku pun mencubit pipi Reza.
“Aww.. awww... Sakit kak!” Reza mengelus pipinya.
“Katanya tadi suruh cubit, sudah pokoknya aku butuh bantuanmu sekarang.” Balasku
“Terserah kakak saja.” Reza masih kesakitan.
Ternyata Reza tidak bermimpi. Dalam hati, Reza sedikit merasa senang akhirnya kakaknya yang penyendiri itu bisa juga memiliki teman. Besok dia akan mencoba menanyakan kenapa secara tiba-tiba kakaknya itu memiliki teman.