HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 145: Perseteruan Antara Luna Dan Aria



“Luna... Tunggu...!” Teriak Aria dari kejauhan.


Sementara itu di parkiran sepeda, Luna sudah menaiki sepedanya dan bersiap pulang namun dihentikan oleh teriakkan Aria. Aria yang tadi berteriak pun semakin mendekat ke tempat Luna, Luna kemudian turun dari sepedanya.


“Ada apa lagi Aria? Aku disuruh ibuku untuk cepat pulang barusan.” Tanya Luna.


“Aku ingin membicarakan sesuatu sedikit lagi denganmu.” Jawab Aria.


Luna melihat ke sekelilingnya dan hanya Aria saja yang terlihat menyusulnya. Namun tidak disangka, ternyata kejahilan Airi masih saja berlanjut.


“Lalu kakakmu mana?” Tanya Luna lagi.


“Di sini..!” Airi tiba-tiba muncul.


Luna sudah menduga jika ada keanehan ketika hanya melihat Aria yang sendirian. Airi memang merencanakan sesuatu untuk mengagetkan dirinya dan juga Aria.


“Ah kamu ini bikin kaget saja.” Luna kaget dengan kemunculan Airi.


“Hehe.. Ayo pulang! Nanti tidak sampai-sampai ke rumah lho.” Ajak Airi.


Mereka bertiga melanjutkan berjalan bersama. Luna kembali harus menuntun sepedanya, di sini Luna menanyakan apa yang ingin Aria bicarakan tadi.


“Apa yang ingin kamu tanyakan padaku, Aria?” Tanya Luna


Tatapan Aria berubah menjadi serius kepada Luna. Aria masih menyimpan amarahnya tadi sewaktu membahas Tio di dalam restoran. Namun kali ini dia benar-benar tidak bisa menahannya lagim


“Luna, kamu berbohong kan tadi? Sebenarnya kamu juga ingin sekali mencari Tio? Kamu juga khawatir dengannya. Iya kan?” Tanya Aria serius.


Mata Luna langsung mengeluarkan air mata, Luna pun menjawab pertanyaan Aria. Luna pun tidak bisa menyembunyikan apa yang sedang dia rasakan sekarang.


“Lalu apa yang bisa aku lakukan Aria? Iya aku khawatir, aku takut dia hilang, tapi apa yang aku bisa lakukan? Tidak ada! Dia bahkan menjauh dari kita.” Jawab Luna sambil menangis.


“Lalu kenapa kamu berbohong padaku tadi? Bahkan kamu tidak terlihat khawatir sama sekali. Aku sempat berpikir hanya aku yang peduli pada Tio tadi, aku berpikir kamu juga hanya mementingkan keselamatanmu sendiri karena kamu takut menghilang. Iya kan?” Tanya Aria lagi.


Mereka kemudian berhenti sejenak. Aria terus memandangi Luna dan ikut meneteskan air mata, bahkan Airi tidak bisa berkata apa-apa di sini melihat mereka berdua saling berdebat.


“Itu semua karena aku menyembunyikannya, aku tidak ingin memaksakan sesuatu yang memang aku sendiri tidak tahu akan melakukan apa. Benar kata Andreas tadi, jika kita nekat mencarinya maka keselamatan kita juga akan dipertaruhkan. Aku tidak ingin Tio merasa bersalah jika terjadi apa-apa dengan kita semua.” Jawab Luna


“Tapi bukankah itu pengecut? Kamu memikirkan keselamatanmu tapi kamu tidak peduli apakah temanmu baik-baik saja atau tidak? Selamat atau tidak? Baik, jika kamu ingin berdiam diri maka aku akan mencari dia sendiri dan jika aku menemukannya maka aku tidak mengizinkan kamu mendekatinya lagi.” Tegas Aria.


Tensi mulai meninggi, Aria mulai mengungkapkan jika dia ingin memiliki Tio seorang diri dengan cara mencarinya sendirian. Dia juga tidak akan membiarkan Luna mendekat jika Tio ditemukan olehnya. Aria telah memulai perang perasaan kepada Luna.


Aria berusaha meninggalkan Luna dengan keadaan dirinya sedang marah dan juga sedih. Luna tanpa berpikir panjang memegang tangan Aria dan langsung memeluknya erat hingga sepeda miliknya jatuh.


Brukk.. (Suara sepeda jatuh)


“Berhenti berpikiran dangkal seperti itu Aria. Jika terjadi apa-apa denganmu, aku juga akan sangat sedih.” Luna menangis di bahu Aria.


Mata Aria langsung berkaca-kaca, Aria juga ikut menangis. Dia tidak menyangka jika ternyata Luna juga sangat menghawatirkannya.


“Hhuuwwaaaaa... Hiks.. Hiks..” Aria menangis.


Mereka berdua saling menangis satu sama lain, Airi juga tidak dapat membendung emosinya, mata Airi meneteskan air mata tanpa dia sadari.


“Maaf, maafkan aku Aria. Aku benar-benar tidak bermaksud mengabaikan Tio. Aku yang membawa dia mengenal kalian semua, aku merasa sangat bertanggung jawab mengenai keselamatannya. Kemarin sewaktu masuk rumah sakit, betapa terpukulnya aku melihat dia yang tak sadarkan diri. Aku hanya tidak ingin jika dia menghilang, aku tidak ingin jika aku tidak bisa melihatnya lagi


Aria langsung tersadar, tangisannya semakin keras. Aria menyadari betapa egoisnya dirinya. Aria lebih mementingkan perasaan daripada sahabatnya sendiri. Aria merasa benar-benar bodoh karena dirinya telah mengatakan hal buruk kepada Luna. Dia pun meminta maaf ke Luna.


“Aku juga minta maaf Luna, aku egois. Aku hanya memikirkan apa yang menurutku baik. Aku tidak memikirkan sejauh apa yang kamu pikirkan. Aku benar-benar minta maaf.” Balas Aria.


“Huhuhu.. Aku terharu!” Ucap Airi sambil menyeka air matanya.


Mereka berdua pun menyudahi pelukan mereka. Aria dan Luna menyeka air mata masing-masing. Keduanya sudah kembali akur setelah saling meminta maaf.


“Yang penting kamu jangan melakukan hal yang gegabah Aria, pikirkan juga perasaan orang lain yang khawatir denganmu. Tio pergi juga karena dia khawatir dengan kita semua, lalu apa gunanya dia pergi jika kita sendiri malah membahayakan diri sendiri.” Luna mengingatkan.


“Iya Luna, aku tersadar barusan. Aku juga akan berhati-hati mulai sekarang. Tapi bagaimana jika aku masih ingin mencarinya? beri aku solusi.” Tanya Aria.


Luna pun memikirkan cara yang aman, bagaimanapun juga Aria menghawatirkan keadaan Tio dan itu cukup bagus untuknya. Karena ada orang lain yang telah menghawatirkan Tio selain dirinya, Luna pun tidak ingin melihat Aria yang sebegitu sedihnya seperti sekarang.


“Hmm.. Bagaimana kita mulai besok bersepeda keliling kota setiap sepulang sekolah? Jika kita berdua pasti akan lebih aman.” Ide Luna.


“Ide bagus, kenapa tidak mulai dari sekarang?” Tanya Aria


“Tapi sudah malam, tidak bisa jauh-jauh.” Jawab Luna.


“Itu sudah cukup. Aku boleh pergi kan kak?” Tanya Aria kepada Airi.


Airi hanya bisa tersenyum melihat adiknya yang kembali ceria itu. Tidak ingin membuat suasana hatinya kembali buruk, Airi pun mengijinkan Aria untuk pulang agak malam.


“Iya boleh, tapi jangan malam-malam pulangnya!” Airi mengingatkan.


“Oke kak, kakak tidak apa-apa pulang sendiri?” Tanya Aria lagi.


“Haha.. Jangan remehkan aku ya! Aku tidak apa-apa pulang sendiri.” Jawab Airi.


Aria sudah mengantongi izin dari kakaknya, sekarang tinggal Luna. Dia harus memberi tahu ibunya jika dirinya juga akan pulang agak malam kalau tidak ingin dimarahi.


“Sebentar, aku telepon ibuku lagi.” Luna menjauh dari Airi dan Aria.


Aria mendirikan sepeda Luna yang jatuh tadi, dia kemudian menaikinya. Sementara Luna menelepon ibunya dan menjelaskan sesuatu. Luna kembali ke tempat Airi dan Aria.


“Bagaimana? Boleh?” Tanya Aria.


“Aku cuma bilang kalau acaranya sedikit lama lagi, itu saja.” Jawab Luna.


“Oke ayo bonceng, biar aku yang di depan.” Lanjut Aria dengan semangat.


“Yakin nih? Oke, aku bonceng!” Luna membonceng.


Aria pun bersiap dengan meletakkan kakinya di pedal sepeda. Setelah Luna membonceng, Aria langsung mengayuh sepeda Luna sambil pamit kepada kakaknya.


“Dah kakak, hati-hati di jalan. Sampai ketemu di rumah!” Teriak Aria sambil melambaikan tangannya.


Airi tidak habis pikir melihat kelakuan adiknya, namun semua itu sedikit menghiburnya. Airi masih tidak menyangka bahwa kembarannya bisa juga bersenang-senang seperti itu.


“Dasar anak itu!” Airi menggeleng kepalanya.


Airi juga bergegas pulang. Dia mulai berjalan menuju ke rumahnya sendirian