
“Aku harus mencari mereka ke mana?" Astrid kebingungan.
Astrid berlari ke sana kemari mencari di mana Andreas, Ryan dan Kevin berada. Dia berhenti sejenak dan memutuskan mencari mereka ke kelas mereka masing-masing terlebih dahulu.
[kelas 2A]
Astrid tiba di kelas Andreas dan Ryan. Dia berjumpa dengan beberapa gadis yang sedang bersenda gurau.
“Kalian lihat Andreas dan Ryan?” Tanya Astrid ke seorang gadis.
“Aku tidak melihatnya. Kamu OSIS juga kan? Coba cari di ruang OSIS." Gadis itu menjawab.
“Aku baru saja dari sana, mereka tidak ada di ruang OSIS. Kira-kira di mana ya?" Tanya Astrid lagi.
"Kami tidak tahu, sejak awal istirahat tadi mereka sudah tidak terlihat." Jawab gadis lain.
"Baiklah terima kasih, kalau begitu aku akan lanjut mencarinya." Astrid kembali berlari-lari.
Kemudian Astrid dengan cepat menuju kelas 1, kelasnya Kevin. Astrid berharap ada petunjuk tentang mereka di mana. Sesampainya di kelas Kevin, dia bertemu dengan beberapa anak laki-laki.
“Permisi mengganggu sebentar. Apa kalian melihat Kevin?” Tanya Astrid kepada seorang laki-laki.
Laki-laki yang ditanyai Astrid menggelengkan kepalanya, dia tidak mengetahui Kevin ada di mana. Namun tiba-tiba ada satu anak laki-laki yang memberitahu Astrid.
“Oh Kevin. Dia di kantin dengan Andreas dan Ryan. Aku baru saja dari kantin dan melihatnya di sana." jawab salah satu anak laki-laki yang melihat Kevin.
“Oh baiklah, terima kasih banyak." Astrid kembali berlari.
Astrid langsung menuju ke kantin dengan kecepatan penuh. Dia sudah tidak peduli menjadi perhatian banyak orang karena berlari-lari di lorong sekolah.
Klotak.. Bruk.. (Suara benda jatuh)
"Aduh.." Seorang gadis terjatuh.
"Maaf, maafkan aku." Astrid meminta maaf.
Saat Astrid sedang berlari, dia menabrak adik kelas yang sedang membawa setumpuk buku dan menjatuhkannya. Astrid kemudian menolongnya lalu mengambil buku yang terjatuh.
"Kamu tidak apa-apa? Maaf aku sedang buru-buru soalnya, jadi aku tidak melihatmu saat berbelok tadi." Tanya Astrid sekaligus menjelaskan keadaan tadi.
"Aku tidak apa-apa kak." Balas gadis itu.
"Syukurlah, ini bukunya." Astrid menyodorkan buku kepadanya.
Mereka berdua kemudian kembali berdiri. Gadis yang terjatuh itu membersihkan roknya yang sedikit kotor sebelum menerima buku dari Astrid
"Terima kasih kak." Ucap gadis itu.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya jangan sampai terjatuh lagi. Aku harus cepat, dah." Astrid kembali berlari.
Itulah kenapa berlari-lari di lorong sangat dilarang. Karena itu membahayakan orang dan komisi kedisiplinan jelas melarangnya. Namun kali ini sungguh ironi sekali, anggota OSIS melanggar aturannya sendiri.
Astrid sejenak melupakan itu, yang dia pikirkan saat ini hanyalah menemukan mereka bertiga dan segera mengetahui apa yang Luna maksud sebenarnya. Karena Astrid juga cukup penasaran.
Astrid sampai di kantin lalu melihat sekeliling. Dia menemukan mereka bertiga di pojokan dekat jendela. Tanpa membuang waktu lagi, Astrid segera mendatangi mereka.
“Hoooii kalian bertiga." Astrid terengah-engah.
“Loh kenapa kamu Astrid? Lari-lari sampai berkeringat begitu?" Tanya Ryan
“Itu tidak penting. Ada hal yang sangat penting jadi aku mencari kalian. Kalian juga sih susah dicari." Jawab Astrid sambil bernafas cepat.
“Duduk dulu, kamu terlihat kelelahan." Andreas menyodorkan kursi ke Astrid.
Astrid pun duduk dan sedikit menenangkan diri. Setelah berlari-lari hingga ke kantin, dia pun memesan minuman terlebih dahulu. Astrid memanggil mbak waiters lalu memesan.
“Mbak, tolong lemon tea satu. Jangan lama-lama ya, aku minta tolong sekali." Astrid memesan minuman.
“Baik akan segera saya antar." Balas mbak waiters.
“Silahkan, satu lemon tea." Mbak waiters meletakkan segelas lemon tea di meja.
“Terima kasih mbak, ini uangnya." Astrid segera membayarnya.
"Terima kasih banyak." Balas mbak waiters.
Setelah mbak waiters meninggalkan Astrid, dalam hitungan detik saja segelas lemon tea diminum habis oleh Astrid. Hal ini membuat mereka bertiga heran.
"Cepatnya habis!" Ucap Kevin.
"Aku haus Kevin." Balas Astrid.
Setelah Astrid sedikit tenang, Andreas mulai menanyakan kenapa dia sampai berlarian seperti itu.
“Kenapa kami Astrid? Ada apa sebenarnya?” Tanya Andreas penasaran.
“Luna mengatakan ada hal gawat tadi. Aku langsung disuruh mencari kalian." Jawab Astrid.
“Hal gawat katamu?” Lanjut Andreas.
“Apa itu?” Ryan juga penasaran.
“Kata Luna, Tio dalam bahaya." Astrid memberi tahu mereka.
Astrid masih dalam keadaan sehabis lari, nafasnya cepat dan juga bicaranya setengah-setengah. Itu membuat Ryan semakin ingin tahu dengan apa yang terjadi.
“Apa maksudmu sih? Cerita jangan setengah-setengah begitu dong." Ryan sedikit kesal.
“Tunggu sebentar kenapa, aku masih capek berlari-lari tadi." Balas Astrid
Setelah Astrid cukup memiliki tenaga, dia langsung menceritakan semuanya.
“Tadi Luna dikirimi foto oleh Tio, tapi foto itu blur dan hanya gambar kaki yang terlihat." Jelas Astrid.
“Lalu kenapa dengan foto kaki itu?” Tanya Andreas.
“Setelah Aria melihat foto itu, Aria bilang familiar dengan tempat itu. Itu ada di tangga dekat lab IPA. Kata Aria tempat itu jarang sekali di lewati orang. Setelah beberapa saat, Luna tiba-tiba menjadi sangat khawatir dan menyuruhku mencari kalian." Lanjut Astrid.
“Lalu Aria?” Andreas kembali bertanya.
“Karena dia juga penasaran, Aria mengejar Luna tadi. Aku disuruh mencari kalian dan memberitahu guru pembimbing." Jawab Astrid.
Andreas tidak mengerti, tidak hanya dia melainkan semuanya tidak mengerti. Andreas mulai berpikir tentang hal ini.
“Sebenarnya ada apa ini?" Andreas mulai berpikir.
“Tunggu.. Apa ini ada hubungannya dengan masalah pribadi Tio?” Duga Ryan.
“Apa maksudmu masalah pribadinya?” Tanya Kevin sedikit bingung.
“Kalian lihat sendiri bukan? Kemarin Luna begitu membela Tio saat Andreas salah bicara? Lalu sekarang Luna dengan tergesa-gesa menuju tempat itu, bukankah ini bukan hal biasa?" Lanjut Ryan menjelaskan.
“Benar juga kamu. Tadi Luna juga terlihat aneh gelagatnya.” Astrid tersadar.
“Kalau di pikir-pikir memang masuk akal. Baiklah aku ada ide, tapi sebelum itu kita bayar dulu makanan kita." Balas Andreas.
Kemudian Ryan memanggil mbak waiters. Mbak waiters yang sedang berdiri sambil membawa nampan itu terlihat menoleh ke arah Ryan. Setelah itu, mbak waiters mendatangi mereka.
“Mbak, kami mau bayar." Teriak Ryan.
“Baik, saya segera ke sana." Jawab mbak waiters.
Mbak waiters datang sambil membawa nota mereka. Andreas kemudian membaca berapa jumlah yang harus mereka bayar. Mereka bertiga mengumpulkan jumlah uang yang harus di bayar oleh masing-masing.
“Ini uangnya mbak." Andreas membayar.
“Terima kasih banyak.” Balas mbak waiters