
Karena sudah berjam-jam kami bermain game akhirnya aku memutuskan untuk menyudahi dahulu dan melanjutkannya nanti ataupun besok. Aku mematikan konsol dan juga televisi karena hari sudah gelap. Tiba-tiba Reza menanyakan suatu hal yang membuatku sedikit kaget.
“Kak, apa kami tidak khawatir jika teman-temanmu mencarimu?” Tanya Reza.
“Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan itu?” Balasku bertanya.
Aku melihat ke arah Reza setelah mematikan konsol gameku. Aku benar-benar tidak menyangka jika Reza akan menanyakan hal itu kepadaku. Aku kembali menanyakan alasan Reza kenapa dia menanyakan tentang teman-temanku.
“Bagaimana ya, jika memang teman-temanmu itu peduli denganmu pasti mereka akan mencarimu bukan? Mereka akan khawatir dengan keadaanmu yang menghilang begitu saja. Mereka pasti akan mencarimu dan di situ apakah kakak tidak takut mereka menghilang saat sedang mencarimu?” Reza memperdalam pertanyaannya.
Aku sedikit tersentak karena pertanyaan Reza. Benar-benar anak satu ini begitu peduli kepadaku dan sekarang dia juga mempedulikan keselamatan teman-temanku. Aku juga harus jujur kepada Reza jika sebenarnya aku pun ketakutan karenanya.
“Tentu saja aku takut, juga aku sudah sadar sebelum kamu menanyakan itu. Mereka sudah pasti mencariku apalagi seorang gadis yang selama ini menggangguku. Aku sangat yakin dia akan mencariku. Soalnya kemarin sewaktu aku masuk rumah sakit gadis itu yang sangat peduli padaku. Sebenarnya masih ada satu orang lagi yang akan mencariku, tapi aku belum begitu yakin. Sebelum aku memutuskan kemari, aku sangat memperhitungkan keputusanku sebelum aku mengambilnya. Karena orang-orang yang hilang itu pernah setidaknya berada didekatku meski mereka jahat padaku maka lebih baik aku menjauh dari teman-temanku. Kemungkinan mereka dalam bahaya memanglah ada, tapi tidak sebesar jika aku berada di sana. Aku memang tidak tahu motif orang ataupun apalah itu yang telah menghilangkan orang-orang yang selama ini jahat padaku, tapi teman-temanku sangat berharga untukku maka dari itu aku pergi ke sini.” Jelasku panjang lebar
Reza mendengarkanku dengan sangat antusias. Dia mulai paham dengan situasi yang sedang aku alami. Dia pun bertanya lagi padaku.
“Kalau kakak mengambil opsi untuk pergi, berarti kakak sudah mempertimbangkan soal seberapa aman teman-teman kakak. Apa aku benar?” Reza memastikan.
“Kamu benar, mereka berenam bukanlah orang yang lemah. Mereka diberkahi dengan monster Mark 2 semuanya. Aku sendiri pernah berduel dengan salah satu dari mereka dan berakhir kalah.” Jawabku.
Aku sedikit merasa bangga terhadap Reza yang mampu menganalisa masalah yang sedang aku hadapi. Reza dengan santainya bisa mengetahui jika teman-temanku bukanlah orang lemah. Namun setelah itu, sikap Reza malah berubah.
“Cih.. Monster Mark 2 lagi.” Reza sedikit kesal.
“Kamu kenapa?” Aku sedikit heran pada Reza.
Ketika aku bilang monster Mark 2, Reza seperti tidak menyukainya. Reza juga terlihat kesal dan aku mulai merasa ada hal yang janggal padanya. Jangan-jangan Reza sedang menyembunyikan sesuatu dariku?
“Tidak.. Tidak apa-apa, lanjutkan ceritanya kak. Lalu apakah monster Mark 2 milik mereka semua itu kuat?” Reza melanjutkan pertanyaan.
“Baru 5 dari 6 monster yang sudah aku lihat. Keenam monster itu adalah utusan dewa dari dunia mereka untuk menghentikan pecahan dewa yang telah bangkit, jadi mereka semua bukanlah monster yang lemah.” Jawabku lagi.
“Oh begitu rupanya, aku pernah mendengar soal pecahan dewa terkuat saat di Battlefield.” Balas Reza.
“Dari mana kamu dengar?” Tanyaku serius.
Reza bilang mendengar, aku pun langsung refleks menanyakan hal itu kepada Reza. Karena jika mendengar berarti dia dijelaskan oleh monster dan bukan membaca di skill deck. Dengan serius aku memandangi Reza yang tak kunjung menjawab pertanyaanku.
“A-ada lah, waktu aku masuk aku tidak sendirian disana.” Jawab Reza dengan tingkah aneh.
“Begitu rupanya.” Balasku.
Aku sedikit merasa lega karena aku kira Reza juga seberuntung mereka yang memiliki monster Mark 2. Sebenarnya aku tidak apa-apa jika Reza memiliki monster Mark 2 karena mungkin dia akan terlihat hebat nantinya seperti mereka.
Reza melanjutkan pertanyaannya, kali ini pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin aku jawab. Karena mengingat semuanya saja sudah cukup menyakitkan namun apa yang bisa aku lakukan? Tidak ada lagi.
“Ya aku sangat kesal. Karena monsterku hanya Mark 1 dan tidak bisa bicara, mengalami kekalahan dan mengetahui keenam monster itu semuanya Mark 2 yang bisa bicara sangat membuatku depresi. Kenapa aku tidak mendapat monster hebat seperti mereka? Itu yang aku pikirkan dulu. Sekarang aku bisa sedikit menerima kenyataan karena memang tidak semua monster yang turun kesini itu semua sama hebat.” jawabku
“Baguslah jika kakak bisa menerima, memang di suatu sisi semuanya kadang tidak adil dan mau tidak mau kita juga harus menerimanya.” Balas Reza.
Reza sudah panjang lebar bertanya kepadaku. Sekarang giliranku yang bertanya kepada Reza karena aku belum melihat Reza mengeluarkan kartu monsternya di hadapanku. Reza biasanya jika mempunyai sesuatu yang baru pasti akan memamerkannya kepadaku, namun untuk monster malah kebalikannya. Dia juga bilang jika dia menyimpannya.
“Sekarang giliranku bertanya, apa kamu pernah berduel?” Tanyaku.
“Belum kak, setelah fenomena itu aku sama sekali belum pernah kembali lagi ke Battlefield. Dan setelah mendengar semua penjelasan kakak, aku semakin yakin untuk tidak menggunakan monsterku. Aku tidak ingin membuat orang-orang yang tidak beruntung menjadi iri padaku.” Jawab Reza.
Jawaban Reza begitu ambigu, memangnya monster Reza seperti apa sampai-sampai dia bicara seperti itu? Aku baru kali ini melihat Reza merendah seperti ini.
“Apa monstermu hebat? Sini aku lihat!” Aku penasaran dengan monster Reza
“Tidak tahu lah kak, kan aku sudah bilang aku setelah fenomena itu belum menggunakan monsterku lagi sama sekali. Aku menyimpan monsterku dan juga skill deck di suatu tempat yang aku kunci. Setelah mendengar kakak tadi aku menjadi sangat belum siap menggunakannya.” Jelas Reza.
“Loh kenapa memang?” Aku menjadi heran.
“Battlefield bukanlah tempat yang aman kak, begitu juga monster. Kita punya tanggung jawab dengan monster kita masing-masing. Kuat atau lemah, di dunia itu semua orang sangat mungkin terluka karena serangan monster. Bagi beberapa orang mungkin tempat itu menyenangkan, tapi bagiku tempat itu tidak lebih dari melukai satu sama lain.” Reza menceritakan alasannya.
Aku tertampar dengan jawaban Reza. Bagiku malah aku mementingkan menang dengan menggunakan Hayase. Sedangkan aku sendiri tak kunjung menang dan melihat semuanya memiliki monster Mark 2 yang membuatku iri, semua itu telah membutakan jika Battlefield memang tempat yang tidak aman. Buktinya aku sendiri babak belur di Battlefield kemarin, aku benar-benar naif.
“Benar juga kata-katamu, aku malah baru terpikirkan setelah kamu bilang begitu.” Aku tersadar.
Lagi asyik-asyiknya kami membahas soal monster dan Battlefield, ibu tiba-tiba datang dan membuka pintu kamarku.
“Sudah malam, mandi dulu gih semua. Makan malam juga hampir siap, oh iya Reza mau makan di sini?” Tanya ibu.
“Tidak bibi, aku mau pulang saja karena ibu pasti juga memasak. Sayang nanti masakan rumah akan bersisa.” Jawab Reza
“Kalau begitu nanti ke dapur dulu, biar bibi bawakan sesuatu untukmu bawa pulang.” Lanjut ibu.
“Baik, aku segera ke sana.” Balas Reza.
“Kamu Tio, mandi sekarang.” Suruh ibu.
“Iya, iya, ini juga sudah aku matikan semua. Kami sudah selesai main game dari tadi.” Balasku.
Hari ini berakhir dengan aku bersenang-senang bersama Reza dan juga bertukar pikiran dengannya. Aku sedikit mempunyai pemahaman baru setelah mendengar penjelasan Reza. Ada kalanya seseorang harus bisa memahami bahaya dari Battlefield dan juga dari para monster. Itulah yang mungkin kami hadapi kedepannya, karena kami akan menghadapi orang yang telah menghilangkan anak-anak itu dan juga orang yang membawa pecahan dewa.