
"Akhirnya selesai." Aku merasa lega.
Aku keluar dari kamar dan badan ini rasanya pegal sekali. Karena aku memang belum sembuh benar ditambah perjalanan jauh dan ditambah lagi bersih-bersih kamar tadi, rasanya lengkap sudah hari ini. Aku lelah, sungguh lelah. Aku memegang perutku yang dari tadi berbunyi karena memang aku lapar sekali sekarang. Kemudian aku berjalan menuju ke dapur.
“Sudah matang bu?” Tanyaku.
“Ini hampir siap, duduk dulu dan temani kakekmu.” Jawab ibu.
“Ya sudah.” Balasku dengan lemas.
Aku berjalan lemas meninggalkan dapur, sepertinya aku harus menahan lapar sebentar lagi. Aku pun menuju meja makan dan duduk samping kursi kakek, kakek pun menanyaiku.
“Sudah lapar kamu?” Tanya kakek.
“Dari tadi kek. Oh iya kek, apa kamarku itu jarang di bersihkan? kok tadi televisinya kotor sekali.” Aku berbalik bertanya.
“Itu karena kami takut jika televisi itu kenapa-kenapa. Nenekmu selalu membersihkan kamar itu tapi nenek maupun kakek tidak berani menyentuh televisinya.” Jawab kakek.
Benar saja apa yang aku pikirkan tadi. Nenek pasti merasa karena harga televisi itu cukup mahal jadi nenek tidak berani membersihkannya. Apalagi televisi itu begitu tipis dan akan sangat berbahaya jika tersenggol.
“Pantas saja setiap aku ke sini televisi itu penuh debu dan sarang laba-laba.” Lanjutku sedikit kesal.
“Hahaha, kakek lupa kalau kamu takut dengan laba-laba.” Kakek tertawa.
Kakek malah menertawaiku karena laba-laba. Memang binatang satu itu sungguh menjijikkan. Yang tidak aku harapkan hanyalah binatang itu menjadi hiburan kakek ketika aku di sini. Kakek sering bergurau seperti ini dan tidak jarang memberi tahu kepadaku jika ada laba-laba yang berjalan di lantai.
“Bukan takut kek, aku hanya benci laba-laba.” Tegasku.
“Bukankah itu sama saja?” Tanya kakek.
“Beda lah kek, sudah kek aku sudah kehabisan tenaga hari ini. Badanku sakit semua, mataku ngantuk dan aku sekarang benar-benar lemas.” Aku menaruh kepalaku di meja makan.
Sebenarnya memang sama saja. Jujur saja aku takut dan juga benci dengan binatang itu, namun sekarang aku tidak mau banyak bicara. Aku sudah terlalu lapar sekarang.
Nenek langsung datang menghampiriku. Nenek membawa sebuah piring yang aku tidak tahu apa isinya. Setelah menurunkan piring itu di meja makan, aku mencium aroma yang enak.
“Eeehh tidak baik seperti itu di meja makan, nih gorengan makan dulu.” Nenek menaruh sepiring gorengan di meja.
“Wah enak ini mumpung masih hangat!” Kakek mengambil gorengan.
Aku kembali ke posisi duduk biasa, aku langsung ikut-ikutan mengambil gorengan yang disiapkan nenek barusan
“Panas, panas! Oi kek, apanya yang hangat? Ini mah masih panas.” Keluhku.
Kakek bohong, gorengan ini masih sangat panas ternyata. Untung saja belum aku makan, bisa-bisa lidahku nanti yang kepanasan. Tanganku kepanasan karena gorengan ini benar-benar masih baru saja matang.
“Hahaha.” Semuanya tertawa.
"Amm.. Nyam.." Aku mengunyah gorengan dengan sedikit kesal.
Setidaknya gorengan ini bisa sedikit mengganjal perut yang sudah lapar ini. Aku masih kesal karena sedari tadi aku di jadikan bahan tertawaan saja. Aku pun melanjutkan menghabiskan gorengan yang aku pegang.
Tak lama kemudian, makan malam pun siap semua. Ibu dan nenek menyajikan semuanya di meja makan. Akhirnya aku bisa makan, aku langsung makan dengan lahap, entah karena aku lapar atau lelah saat makanku habis aku langsung nambah lagi. Namun setelah itu aku malah kekenyangan.
“Kenyangnya.. Aku ke sofa dulu deh cari angin.” Pamitku.
Semua masih melanjutkan makan malam sambil mengobrol ringan. Setelah pamit mau ke sofa, aku berdiri dan menuju sofa di ruang tengah. Aku duduk sambil mengelus perutku yang rasanya penuh ini.
"Damainya di sini! Andai aku besar di desa, mungkin semua ini tidak akan terjadi kepadaku." Ucapku pada diri sendiri.
Aku mulai berandai-andai saat duduk di sofa. Suasana di rumah kakek benar-benar nyaman karena selalu ada suara tawa di sini. Lalu aku memutuskan untuk rebahan namun malah aku sampai bablas ketiduran.
“Tio..!” Ibu Tio memanggil.
Karena kakek dan neneknya Tio sangat ingin tahu alasan kenapa mereka datang ke desa di saat bukan waktu libur, ibu Tio memanggil Tio untuk ikut menjelaskan ke kakek dan nenek. Namun setelah beberapa kali dipanggil tetap tidak ada jawaban, ibu Tio datang menghampiri ke ruang tengah.
“Lah, tidur ternyata.” Ucap ibu Tio.
Ibu Tio mendapati Tio yang tertidur pulas di sofa, dia tampak kelelahan. Kakek dan nenek Tio pun ikut datang ke ruang tengah. Kakek Tio benar-benar tidak tega jika harus membangunkannya tidur hanya untuk menjelaskan hal yang belum tentu penting.
“Bagaimana ini ayah, ibu?” Tanya ibu Tio.
“Ya sudah biarkan dia tidur. Dia tampak sangat lelah, kasihan jika harus dibangunkan.” Jawab kakek Tio.
“Iya, besok saja ceritanya. Lebih baik kamu juga istirahat. Kamu pasti capek juga kan, Melisa?” Lanjut nenek Tio.
Ibu Tio kembali melihat Tio yang tertidur pulas di sofa, wajahnya terlihat begitu lelah. Bagaimana tidak lelah, dia sendiri belum sembuh total dan juga ditambah perjalanan jauh menuju ke sini. Ibu Tio pun setuju untuk segera beristirahat, karena beliau juga merasa sedikit capek.
“Baiklah kalau begitu bu.” Balas ibu Tio.
“Kalau begitu biar aku yang bantu membersihkan dapur, kamu lebih baik mandi lalu istirahat juga.” Ucap kakek.
Ibu Tio hanya mengangguk membalas ayahnya. Setelah itu, kakek dan nenek kembali ke dapur lalu mencuci piring yang kotor. Sudah rutinitas mereka berdua jadi ibu Tio tidak perlu khawatir jika ayah dan ibunya mencuci piring sendiri.
Melihat Tio yang tidur semakin pulas, ibu Tio menuju kamar nenek untuk mencari selimut. Ibu Tio membuka lemari tempat biasanya menyimpan selimut, lalu ibu Tio mengambil sebuah selimut yang cukup tebal. Ibu Tio kembali ke ruang tengah kemudian menyelimuti Tio yang sedang tidur.
"Selamat tidur nak." Ucap ibu Tio.
Ibu Tio mengelus rambut Tio yang sedang tidur. Tio menggeliat sedikit lalu ibu Tio menghentikan mengelus rambutnya. Ibu Tio sudah tidak kuat jika harus memindahkan Tio ke kamarnya karena dia sudah besar. Jika memaksakan harus memindahkan ke kamar, Tio pastinya akan bangun nanti jadi untuk terpaksa malam ini Tio tidur di sofa.
Ibu Tio bergegas meninggalkan Tio untuk segera mandi karena air hangat sudah di siapkan oleh nenek. Kemudian malam pertama di desa berakhir dengan beristirahat.