
“Ahh.. Bosan!!” Ucapku sambil bersandar di pohon.
Baru kali ini aku merasa bosan berada di pohon ini. Di bawah sini tidak ada angin dan juga aku tidak bisa melihat apapun selain semak-semak yang ada dindepanku. Aku pun hanya memainkan buku catatanku tanpa aku menulis apapun hari ini.
"Harus bagaimana aku mengganti pelajaran olahraga hari ini?" Aku masih terpikir akan hal itu.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah yang sedang menuju kemari. Langkah kaki itu terdengar seperti sedang berlari. Aku berpikir pak guru datang kemari, akhirnya aku bisa bertanya padapak guru tentang bagaimana hari Minggu besok. Kemudian seseorang pun mendatangiku.
“Pak...! Eh ternyata kamu Luna.” Aku yang tadinya semangat menjadi lemas kembali.
“Loh, kenapa wajahmu jadi begitu setelah melihatku datang?” Tanya Luna dengan sedikit kesal.
“Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin ribut hari ini, aku sedang bosan. Ada perlu apa kamu ke sini? Nanti dimarahi pak guru lagi lho!” Aku sedikit menakut-nakuti Luna.
Luna kemudian duduk di sampingku. Dia tidak terlihat takut sama sekali. Luna terlihat menyembunyikan sesuatu di belakang badannya, aku sedikit ingin mengintip namun Luna begitu menutupinya.
“Justru aku ke sini karena disuruh pak guru.” Balas Luna
“Mustahil, itu mustahil menurutku. Kalau begitu, biar aku panggil pak guru dulu!” Aku tidak percaya.
Masa iya pak guru membiarkan Luna membolos pelajaran. Aku sangat tidak percaya jika Luna benar disuruh oleh pak Indra, kemarin saja pak Indra begitu memarahi Luna, masa iya hari ini dibiarkan begitu saja?
“Silahkan, silahkan. Tapi aku kemari membawa soal untuk kita kerjakan hari ini sebagai ganti pelajaran olahraga yang tidak kita ikuti loh!” Jelas Luna.
Luna mengeluarkan dua lembar kertas yang dia sembunyikan di belakang badannya. Jadi itu yang dia sembunyikan tadi, ternyata soal untuk dikerjakan sebagai ganti tidak mengikuti pelajaran. Akan tetapi, tunggu dulu..
“Oh begitu.. Eh tunggu, tunggu dulu. Kita? Memangnya kamu kenapa sampai harus tidak ikut pelajaran?” Tanyaku.
Aku baru saja sadar jika Luna bilang untuk kita kerjakan. Dia kenapa sampai tidak mengikuti pelajaran olahraga? Gelagat Luna juga sedikit aneh hari ini. Hmm.. Aku jadi curiga kepadanya.
“A-a-aku demam.. Iya.. Aku sedang demam, jadi aku harus mengerjakan soal ini hari ini.” Luna mencari alasan.
“Benarkah? Coba aku cek!” Aku sedikit ragu pada Luna.
Aku mencoba menempelkan telapak tanganku ke kening Luna, namun Luna langsung menghentikanku. Wajahnya memerah dan memang seperti sedang demam.
“Berhenti di situ! Laki-laki dilarang menyentuh gadis, itu tidak baik!” Luna keberatan.
“Iya juga sih, kenapa aku jadi kurang kerjaan barusan. Ya sudah, aku bodo amat lah. Lalu mana soal yang harus aku kerjakan?” Tanyaku.
Aku lebih mementingkan soal yang harus aku kerjakan sekarang daripada keadaan Luna, tapi kasihan juga sih dia. Wajahnya begitu merah tadi, apa Luna baik-baik saja? Apa tidak seharusnya dia ke UKS saja agar membaik keadaannya? Tunggu dulu, sejak kapan aku menjadi perhatian seperti ini kepadanya?
“Iissshh kamu ini ya, serba salah aku menghadapimu. Ini kertasnya! Oh iya, ini pulpennya juga.” Luna memberiku kertas soal dan pulpen.
“Lah siapa suruh juga kamu meladeniku, padahal aku hari ini tidak ingin ribut denganmu malah kamu mulai dulu. Oke, terima kasih pulpennya.” Balasku.
Aku kemudian mengambil kertas soal dan pulpen dari Luna. Dengan sangat antusias aku membaca soal-soal yang diberikan pak Indra untuk dikerjakan hari ini. Aku sangat senang dengan adanya soal yang harus aku kerjakan ini. Aku akhirnya bisa terbebas dari kebosanan yang aku rasakan sejak tadi.
“Bawel ah, kalau begitu aku tidak jadi berterima kasih. Aku akan berterima kasih kepada pak guru saja nanti.” Balasku.
“Aaarrgghh..!!” Luna menjadi kesal padaku.
“Sudah jangan marah. Segera kerjakan sana, awas jangan mencontek!” Aku menutupi kertas soalku.
“Terserah kamu saja deh!” Luna menyerah.
Luna tidak menyangka jika harus menghabiskan energinya di pagi ini untuk berdebat dengan Tio. Katanya tadi dia tidak ingin berdebat, tapi dia sendiri yang mulai. Luna hanya tersenyum melihat tingkah laku Tio pagi ini. Dia begitu semangat dalam mengerjakan soal-soal itu.
Aku dan Luna mengerjakan soal olahraga yang diberikan oleh pak Indra. Akhirnya semuanya terjawab sudah, besok aku tidak perlu datang ke sekolah untuk mengganti pelajaran hari ini, aku sedikit senang saat mengetahuinya.
“Akhirnya selesai, loh sudah siang ternyata!” Ucap Luna.
“Cepatnya! Kamu ngasal ya?” Tanyaku.
Luna selesai mengerjakan soalnya. Dia melipat kertas soal itu lalu menjepitnya dengan pulpen. Dia kemudian bersantai-santai bersandar di pohon.
“Tidak lah, aku hanya tidak ingin dianggap mencontek olehmu. Makanya aku harus selesai lebih dulu.” Balas Luna.
Sial, aku tidak dapat membalas Luna di sini. Masih ada beberapa soal yang aku harus kerjakan. Aku pun segera menyelesaikan tugasku mengingat hari sudah hampir siang.
“Aku juga sudah selesai, Weeekkkk...” Aku menjulurkan lidahku.
Aku juga melipat kertas soal milikku dan menjepitnya dengan pulpen. Setelah itu aku letakkan di atas rumput. Akhirnya aku menyelesaikan tugasku hari ini, aku lega sekarang.
“Lama, pasti banyak yang salah nanti.” Ejek Luna.
“Enak saja, aku berpikir dengan sungguh-sungguh tadi.” Balasku.
“Ah masa?” Goda Luna.
Ini anak ngajak berantem ya? Dari tadi selalu saja membuatku kesal. Aku sudah tidak memiliki tenaga lagi sekarang, perutku mulai lapar dan keroncongan. Aku tidak mau meladeni Luna untuk sekarang.
“Terserah kamu saja deh, aku sedang malas berdebat denganmu. Aku lapar dan aku tidak mempunyai cukup tenaga untuk ribut hari ini.” Balasku.
Luna teringat dengan bekal yang dibawanya. Dia kemudian mengambil bekal yang dia sembunyikan di sampingnya. Luna mengeluarkan bekalnya yang dibungkus taplak dan memperlihatkannya kepada Tio.
“Apa itu yang kamu bawa?” Tanyaku
“Ayo kita makan, ini sudah hampir jam istirahat bukan. Aku bawa dia bekal hari ini.” Jawab Luna.
Luna kemudian membuka taplak yang membungkus bekalnya, taplak itu kemudian digelar di bawah sebagai alas. Terlihat dua tumpuk bekal, tempat bekal yang Luna bawa kali ini berbeda seperti biasanya. Bekal yang Luna bawa berukuran besar dan ketika dibuka sudah ada nasi dan lauknya di kedua tempat makan itu.
Tidak seperti waktu gerombolan Romi menggangguku di kelas, kali ini Luna tidak perlu membagi bekalnya seperti dulu karena memang sudah dipisahkan porsinya. Aku sedikit heran dengan Luna hari ini, pasti ada apa-apanya kan di balik itu semua? Tidak mungkin dia berangkat ke sekolah membawa bekal dengan wadah sebesar ini tanpa sengaja?