HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 56: Solusi Yang Salah



Tok.. tok.. tok.. (Suara ketukan pintu)


Andreas mengetuk pintu ruang guru. Kemudian terdengar suara membalas yang mempersilahkan masuk.


"Silahkan masuk." Balas seseorang.


Setelah dipersilahkan, Andreas memimpin memasuki ruang guru diikuti kami berenam. Ada seorang guru yang sedang duduk di tempatnya. Andreas kemudian menyampaikan tujuannya kemari.


“Permisi, kami ingin bertemu dengan kepala sekolah." Ucap Andreas.


Setibanya kami di ruang guru, Andreas langsung mencari kepala sekolah. Karena waktu semakin mendekati jam pelajaran pertama kami semua harus cepat untuk membicarakan hal ini. Lalu kemudian, guru olahraga yang baru saja datang menemui kami


“Loh kalian, ada perlu apa pagi-pagi kemari?” Tanya Pak Indra.


Luna yang melihat kedatangan pak Indra merasa senang bisa bertemu di saat seperti ini.


"Kebetulan ada bapak." Sahut Luna.


"Ada apa Luna, ramai-ramai begini?" Tanya pak Indra lagi


Andreas lalu mendekati pak Indra, hari semakin siang dan sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.


“Keputusan para guru yang kemarin ambil sangat berbahaya bagi Tio pak. Kami sudah membaca berita tentang pengeluaran delapan siswa itu. Akan tetapi menurut kami ini adalah kesalahan besar.” Jawab Andreas.


Belum juga kami bertemu dengan kepala sekolah, bel masuk pelajaran pun berbunyi. Di sini Andreas dan kami semua sedikit bingung dengan bagaimana cara kami menyampaikan argumen kami. Kami pun memutuskan untuk segera masuk ke kelas, namun tiba-tiba kepala sekolah datang dan menuju ruangannya


“Lho kalian para OSIS kenapa berkumpul di sini?” Tanya kepala sekolah.


Kali ini pas sekali, kami bisa bertemu dengan kepala sekolah. Pak Indra sedikit membantu kami menjelaskan kepada bapak kepala sekolah tentang tujuan kami ke sini.


“Ini pak, barusan mereka bilang pada saya kalau keputusan yang kita ambil kemarin itu adalah kesalahan.” Jawab guru olahraga.


“Keputusan tentang pengeluaran siswa itu?” Lanjut kepala sekolah


Andreas langsung maju ke depan pak Indra berdiri. Andreas langsung menyerobot pertanyaan dari kepala sekolah.


“Iya pak, itu sangat membahayakan Tio.” Balas Andreas.


“Apa maksudmu? Kami para guru hanya tidak ingin hal itu terjadi di sekolah ini. Kami juga ingin melindungi Tio selama di sekolah ini. Menurut kami itu adalah keputusan yang tepat.” Argumen kepala sekolah.


“Tapi apa bapak serta guru lain memikirkan nasib Tio saat di luar sekolah?” lanjut Andreas bertanya serius.


"Kalau itu..." Kepala sekolah tampak bingung.


Andreas curiga dengan gelagat kepala sekolah. Andreas yakin mereka semua para komite pasti tidak berpikir sejauh itu.


"Itu apa pak? Kalian tidak memikirkannya bukan?" Andreas memastikan.


"Tidak, kami tidak membahasnya kemarin." Jawab kepala sekolah dengan tegas.


"Kalau begitu saya selaku ketua OSIS meminta diadakan kembali perundingan kemarin. Kali ini para OSIS akan ikut berdiskusi tentang hal itu." Andreas mengajukan perundingan ulang.


Setelah mendengarkan Andreas, kepala sekolah dan guru olahraga sedikit terkejut mendengarnya. Mereka saling berbicara satu sama lain. Kemudian kepala sekolah memutuskan


“Segera kumpulkan komite kita kemarin. Kita akan diskusikan ini lagi.” Kata kepala sekolah kepada pak Indra


“Baik pak, segera saya laksanakan.” Balas pak Indra.


Pak Indra pergi ke ruang komite untuk mempersiapkan rapat dan juga mengumpulkan semua orang. Sedangkan kepala sekolah memberitahu Andreas agar membuat surat izin tidak mengikuti pelajaran.


“Lalu nak Andreas, segera buat surat izin nanti akan bapak tanda tangani.” Kata kepala sekolah kepada Andreas


“Baik, itu artinya permintaan OSIS akan didengar bukan?” Tanya Andreas


Setelah itu, Andreas meminta Aria untuk membuat surat izin karena permintaan kepala sekolah.


"Aria, segera buat surat izin lalu segera kemari!" Andreas menyuruh Aria.


"Baik, aku akan segera kembali." Balas Aria.


Aria selaku sekretaris, dia langsung kembali menuju ruang OSIS untuk membuat surat izin. Setelah surat izin sudah dibuat, kemudian surat izin itu ditandatangani oleh kepala sekolah dan langsung dibagikan ke kelas masing-masing.


Tak lama kemudian, kami semua diajak ke ruang rapat para guru karena semua telah berkumpul. Kepala sekolah memulai memimpin jalannya rapat hari ini.


“Maafkan saya karena harus memanggil semuanya pagi-pagi begini.” Kepala sekolah membuka rapat.


“Ada apa memangnya pak?” Tanya salah satu guru.


Kepala sekolah menjelaskan kepada semuanya perihal pertemuan mendadak hari ini. Tujuannya adalah mengkaji pengeluaran siswa kemarin.


“Kita akan mengkaji keputusan kita tentang pengeluaran siswa kemarin.” Jelas kepala sekolah.


“Bukankah keputusan itu sudah yang terbaik?” Lanjut guru itu.


“Untuk kita para guru memang benar itu adalah keputusan terbaik. Namun untuk kali ini, saya akan persilahkan ketua OSIS agar menyampaikan argumennya.” Jawab Kepala sekolah.


Kepala sekolah kemudian berdiri dari tempat duduknya. Kepala sekolah kemudian mempersilahkan Andreas untuk mengeluarkan argumennya di depan para komite.


“Silahkan nak Andreas." Kepala sekolah mempersilahkan.


Andreas mulai berdiri, dia kemudian menundukkan kepalanya kepada seluruh guru yang ada. Andreas mulai berbicara di depan para komite.


“Terima kasih pak. Pertama-tama saya meminta maaf sebelum saya berbicara panjang lebar. Saya di sini bukan untuk mengganggu keputusan atau bertingkah sok dewasa. Ini hanyalah pendapat kami semua dan terutama menyampaikan apa yang Tio khawatirkan.” Jelas Andreas.


“Baik, silahkan beri tahu kami tentang apa yang terpikirkan oleh kalian semua para OSIS. Jujur bapak sedikit antusias.” Balas guru olahraga.


Andreas menarik nafas dalam-dalam, suasana pun menjadi tegang. Tiba-tiba, Andreas berbicara dengan tegas.


“Kalian telah mengambil keputusan yang salah, ini bukanlah solusi untuk Tio.” Andreas mulai berbicara.


“Apa maksudmu? Keputusan kami sudah benar demi melindungi anak itu.” Salah satu guru tidak terima.


Tensi langsung meninggi. Belum juga dimulai telah terjadi perdebatan antara Andreas dengan salah satu guru. Andreas mencoba menurunkan tensi dengan mengeluarkan sebuah perumpamaan.


“Sekarang saya akan bertanya kepada para guru sekalian. Ini sebuah perumpamaan. Anda semua tahu harimau?” Tanya Andreas.


“Ya, itu hewan buas.” Jawab pak Indra.


Respon yang bagus dari guru olahraga. Andreas melanjutkan apa yang sedang dia umpamakan tentang harimau tadi.


“Mereka memang hewan buas, maka dari itu harimau dibuatkan kandang khusus agar mereka tidak membahayakan. Benar bukan?” Lanjut Andreas.


“Benar, lalu?” Guru yang tidak terima tadi sedikit antusias.


Andreas mulai masuk ke inti dari perumpamaannya. Dia akan sedikit menyinggung para komite yang semena-mena mengambil keputusan itu.


“Sekarang bagaimana jika ada seseorang melepaskan harimau-harimau itu?” Andreas bertanya kembali.


“Ya pasti harimau itu akan menyerang orang yang ada di sekitar kandang.” Jawab guru yang tidak terima.


Kail yang dilemparkan Andreas akhirnya berhasil. Ikan yang sedang Andreas incar telah memakan umpan dengan sempurna. Sekarang para komite sudah tidak bisa lari lagi.


“Nah di sini kita sudah mendapatkan sebuah kesimpulan. Sekarang dengan kalian mengeluarkan para pem-bully itu, bagaimana kalian akan melindungi Tio saat di luar sekolah?” Andreas bertanya dengan serius.