HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 79: Rencana



Kami semua memakan makanan yang telah dibeli masing-masing di ruang OSIS. Aku juga harus memakan kedua roti ini. Jika aku hanya makan salah satunya, aku akan menyinggung perasaan salah satu dari mereka nantinya. Dengan lahap aku memakan keduanya, akhirnya perutku kenyang juga.


“Ahh kenyangnya!” Aku mengelus perutku.


“Kamu juga bisa habiskan 2 roti ternyata?” Tanya Luna.


“Aku kekenyangan sebenarnya, baru kali ini aku makan sebanyak ini.” Jawabku.


“Luna saja 2 roti seperti itu masih kurang.” Sahut Aria.


“Sshhhh.. Diam kamu Aria!” Balas Luna.


Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang telah dikatakan Aria. Luna bahkan masih kurang makan 2 roti seperti itu? Nafsu makannya sungguh luar biasa! Aku menemukan fakta baru tentang Luna, ternyata dia tukang makan.


“Buset.. Kamu lapar atau apa?” Tanyaku pada Luna.


“Tidak lah! Justru karena roti lebih ringan daripada nasi. Saat aku tidak bawa bekal aku makan 2 agar kenyang sampai sore.” Jawab Luna.


Aku hanya menggeleng kepala saja kepada Luna, tapi dia juga ada benarnya! Aku makan 2 roti memang kenyang tapi tidak sekenyang makan nasi yang kebanyakan. Semuanya telah selesai makan siang. Lalu Andreas mulai berbicara.


“Baik semua, karena sebentar lagi bel masuk berbunyi. Aku hanya akan membahas sedikit tentang nanti sore. Teknisnya akan kita bahas nanti saja.” Ucap Andreas.


“Kenapa memangnya kita harus berkumpul istirahat siang begini? Kan kalau begitu bisa kita bahas nanti sore sekalian.” Balas Luna.


“Maka dari itu kita bertemu sekarang. Ada hal yang aku khawatirkan.” Lanjut Andreas.


“Khawatirkan? Apa itu?” Tanya Astrid.


Aku pun mulai fokus ke Andreas yang sedang berbicara, tidak hanya aku namun semuanya juga. Ternyata ada yang sedang dikhawatirkan oleh Andreas sekarang.


“Sebenarnya aku sudah tahu, tetapi biar Andreas saja yang menjelaskan.” Sahut Ryan.


“Ya seperti yang Ryan bilang. Ryan memiliki firasat buruk untuk hari ini. Saat aku berdiskusi dengannya, aku jadi sedikit tidak nyaman. Makanya aku mengumpulkan kalian di sini.” Jawab Andreas.


“Lalu ada apa, sampai segitunya?” Luna penasaran.


“Sekarang hari senin bukan? Kemungkinan kita akan dimata-matai cukup besar. Jadi aku memutuskan untuk berhati-hati dalam bertindak. Kalian juga aku beri peringatan.” Jelas Andreas.


Benar juga kata Andreas, sekarang hari senin dan cukup berbahaya bagi mereka untuk melakukan simulasi. Karena hari ini semua siswa akan pulang setelah pelajaran usai berbeda dengan kamis yang ada kegiatan klub.


Aku memang tidak ikut klub manapun, namun setelah masuk ke OSIS ternyata para anggota OSIS tidak diwajibkan untuk mengikuti kegiatan klub karena OSIS sudah punya tugas tersendiri. Jujur aku senang mengetahui berita itu karena aku tidak perlu repot-repot lagi dipaksa masuk salah satu klub.


"Hmm.. Jadi begitu rupanya." Luna paham.


"Iya juga sih, kalian yang menonton harus berjaga nantinya!" Tegas Astrid.


Sedang asyik-asyiknya membahas tentang simulasi nanti sore, bel pengingat masuk kelas pun berbunyi. Kami semua harus kembali ke kelas masing-masing sekarang.


“Baik, karena bel berbunyi kita bubar. Kita lanjutkan nanti sore.” Tutup Andreas.


Kami semua bubar dan kembali ke kelas masing-masing. Sementara itu Aria dan Astrid yang sedang berjalan menuju kelasnya bertemu dengan Airi di depan toilet perempuan.


“Eh kakak!” Seru Aria.


“Loh kalian berdua dari mana?” Tanya Airi.


“Oh kami dari ruang OSIS kak.” Jawab Astrid.


“Tumben, ada apa lagi memang?” Airi bertanya lagi.


“Tadi Tio sudah masuk sekolah dan juga kita sedang membahas simulasi.” Jawab Aria.


“Sudah berangkat dia? Mana orangnya?” Airi melihat sekeliling.


“Sudah kembali ke kelasnya lah. Oh iya aku lupa menghapus papan tulis tadi. Aku duluan ya, Aria.” Astrid berlari sambil melambaikan tangan.


Astrid teringat jika papan tulis di kelasnya masih penuh coretan pelajaran sebelumnya. Dia kemudian berlari pergi meninggalkan Aria dengan kakaknya. Aria kemudian berbincang sebentar sebelum kembali ke kelas.


“Oh kita hanya akan berduel antar anggota OSIS.” Jawab Aria.


“berduel? Maksudmu berduel dengan monster itu?” Lanjut Airi.


“Iya kak, kami perlu tahu kekuatan kami masing-masing. Jadi kita akan latihan berduel.” Jelas Aria.


Airi tidak paham sama sekali dengan duel dan juga monster. Dia hanya berusaha mengikuti alur pembicaraan saja setelah itu.


“Lalu kamu?” Tanya Airi.


“Aku akan melawan Luna, tetapi masih lama.” Jawab Aria


Bel masuk pelajaran berbunyi. Airi pun memberi semangat kepada Aria sebelum pergi kembali ke kelas.


“Semangat, kalahkan Luna. Dengan begitu laki-laki itu akan menjadi milikmu.” Goda Airi.


“Ihh.. Kakak!” Aria malu.


“Ya sudah, aku kembali ke kelas dulu. Dah!” Airi melambaikan tangan lalu pergi.


“Dah kak!” Aria membalasnya lalu kembali ke kelas.


Semuanya kembali ke kelas dan melanjutkan pelajaran. Hingga saatnya sore telah tiba! Para anggota OSIS sudah berkumpul kembali di ruang OSIS. Andreas pun menjelaskan rencananya.


“Baik untuk berjaga-jaga, aku dan Ryan akan masuk terlebih dahulu ke Battlefield untuk mengecek kondisi di tempat kita akan melakukan simulasi. Aku akan segera kembali, ayo Ryan ” Jelas Andreas.


“Baik, aku siap!” Balas Ryan.


“Battlefiald, In.” Ucap mereka berdua.


Andreas dan Ryan tiba di Battlefield. Tempat yang dituju oleh mereka sangat sepi. Mereka kemudian menyisir seluruh tempat di sekitar dan memastikan jika tempatnya aman.


"Bagaimana Ryan?" Tanya Andreas.


"Bagian sebelah dekat hutan aman." Balas Ryan memberi tahu.


"Bagus, bagian dekat bukit juga aman." Lanjut Andreas.


Tidak ada yang mencurigakan di sini. Setelah memastikan semua aman, mereka kembali ke ruang OSIS untuk memberi tahu semuanya.


"Ayo kita kembali!" Ajak Andreas.


"Ayo!" Ryan mengangguk.


"Battlefield, Out." Mereka berdua keluar dari Battlefield.


Ternyata Andreas merencanakan untuk mengecek Battlefield terlebih dahulu. Itu wajar karena aku juga sedikit takut jika akan bertemu musuh kuat itu. Hayase tidak akan sanggup melawan dia yang sudah banyak mengumpulkan kemenangan, bahkan Hayase saja belum pernah satu kali pun menang. Setelah beberapa saat kami menunggu, mereka akhirnya kembali.


“Bagaimana?” Tanya Kevin kepada Andreas


“Aman, tempat itu tidak ada orang.” Jawab Andreas.


“Yuhu.. Akhirnya hari ini datang!” Astrid senang.


“Ayo kita semua segera ke sana!” Ajak Andreas.


Semuanya memakai skill deck masing-masing, begitu juga aku. Dengan semangat aku masuk menuju Battlefield.


“Battlefield, In.” Ucap kami semua.


Setelah memasuki Battlefield, Andreas dan Astrid maju ke depan. Andreas dan Astrid mengambil posisi cukup jauh lalu berhadapan satu sama lain. Tampak mereka berdua sedang mempersiapkan diri.


“Kamu sudah siap Astrid?” Tanya Andreas.


“Hari ini aku yang akan menang!” Balas Astrid.