
“Aku haus..” Ucapku sambil mengelus tenggorokan
“Astaga! Aku lupa hanya bawa satu botol minum, kamu mau?” Luna menawarkan aku minum.
Setelah aku selesai makan, ternyata Luna hanya membawa sebotol air putih. Tidak hanya itu, dia juga sudah meminumnya tadi. Itu berarti ciuman tidak langsung bukan? Lalu aku langsung menolak tawaran Luna.
“Tidak, aku beli di kantin saja nanti.” Balasku.
“Tapi nanti kamu tersedak lho!” Lanjut Luna.
“Aku sudah terbiasa setelah makan lalu tidak minum.” Alasanku.
Sebenarnya sih ini tidak bisa di tahan lagi karena di tenggorokanku begitu seret, tapi mau bagaimana lagi daripada aku harus minum dari botol Luna lebih baik aku segera ke kantin setelah ini. Namun belum juga aku berdiri, ada seseorang datang ke sini.
“Anu... Kalian sedang apa ya? Maaf kalau mengganggu.” Ucap Aria sambil mengintip dari balik semak.
Aku sedikit kaget dengan suara Aria, dia bersembunyi di balik semak dan tadinya itu suara hantu. Aku hampir saja dibuat berteriak oleh tingkah Aria yang mengejutkan itu.
“Eh Aria, sejak kapan kamu di situ? Kami sedang makan siang, kebetulan aku bawa bekal dua tadi.” Jawab Luna
“Oh maafkan aku telah mengganggu, kalau begitu aku pergi dulu.” Pamit Aria.
Aria mulai berdiri dan menampakkan diri dari balik semak. Wajah Aria terlihat sangat murung dan kemudian dia bersiap untuk berjalan pergi.
“Tidak, tidak. Lagipula kami juga sudah selesai. Aku sebenarnya juga ingin pergi ke kantin barusan.” Balasku.
“Iya, aku juga baru saja ingin kembali ke kelas. Lalu ada apa kamu sampai datang kemari?” Tanya Luna pada Aria.
Aria pun mengurungkan niatnya untuk pergi. Aria kemudian mengeluarkan buku milik Luna yang dia sembunyikan di belakang badannya.
“Aku hanya ingin mengembalikan buku kemarin, soalnya besok Minggu takutnya aku lupa mengembalikannya. Lalu aku mencarimu tadi ke kelasmu dan seseorang di kelasmu bilang kamu masih di lapangan. Ini bukunya, terima kasih banyak.” Aria mengembalikan dan memberi Luna bukunya.
“Sama-sama.” Luna menerima bukunya.
“Kalau begitu, aku pergi dulu.” Aria langsung berlari kencang.
Aria langsung pergi, aku dan Luna menjadi heran kenapa dia barusan. Tingkah Aria begitu aneh padahal hanya ingin mengembalikan buku saja sampai harus bersembunyi dan juga mengagetkan seperti itu. Setelah mengembalikan juga dia berlari kencang meninggalkan kami, dia kenapa?
“Anak itu kenapa?” Aku heran kepada Aria.
“Entah, aku juga tidak tahu.” Balas Luna.
Sudahlah, aku mau ke kantin sekarang. Tenggorokanku benar-benar sudah seret karena sehabis makan tadi belum minum sama sekali. Aku ingin segera minum.
“Ya sudah, aku mau ke kantin dulu. Aku haus.” Lanjutku
“Kalau begitu aku juga ingin kembali ke kelas.” Luna membereskan barang-barangnya.
"Terima kasih ya! Bekal hari ini masih tetap enak seperti dulu." Aku berterima kasih kepada Luna.
Luna hanya tersenyum membalasku. Setelah berterima kasih sekali lagi pada Luna, aku langsung berjalan ke kantin untuk membeli minuman sedangkan Luna memutuskan untuk kembali ke kelas. Kami pun berpisah sekarang.
“Hhaaaaahhhh... Kasihan sekali kamu Aria!” Aria murung.
Setelah melihat Luna dan Tio makan berdua tadi, mood Aria turun drastis saat itu juga. Aria merasa dia telah dikalahkan lagi oleh Luna hari ini. Dia pun berjalan menuju kelasnya sambil menundukkan kepalanya.
“Makan ah! Yang terpenting jangan lupa makan.” Aria masih kesal.
Sesampainya di kelas, Aria membuka tas miliknya dan mengeluarkan bekal yang dia bawa. Dia membuka bekal itu dan bersiap untuk makan
Namun saat teringat bekal yang dia bawa adalah buatan Airi, Aria kembali murung. Nafsu makannya langsung ikut turun mengikuti moodnya hari ini.
“Tapi ini bekal buatan kakak. Aahhhh.. Menyedihkannya diriku.” Keluh Aria lagi.
Lalu Aria hanya memainkan makan siangnya sambil memikirkan jika dirinya masih kurang dibandingkan Luna maupun kakaknya. Dia adalah gadis yang tidak bisa memasak dan itu juga kelemahan terbesar Aria.
Sementara itu, Airi telah selesai makan siang. Dia berniat untuk mengajak Aria membeli minuman. Hari ini Airi lupa membawa minuman dan seperti biasa, Airi malas ke kantin sendirian.
“Kenyangnya, tapi aku lupa bawa minum. Beres-beres deh lalu ajak Aria sekalian ke kantin!” Ucap Airi.
Airi mengemas kembali kotak makannya yang telah kosong, lalu dia memasukkan ke dalam tas. Airi langsung menuju ke kelas Aria setelah itu.
Sesampainya di kelas Aria, Airi bertanya ke salah satu siswi di depan kelas untuk memastikan keberadaan adiknya itu.
“Aria ada?” Tanya Airi.
“Itu di dalam, kak. Dia tampak murung dan hanya bermain dengan makan siangnya sejak tadi.” Jawab salah satu siswi
“Murung? Kenapa?” Tanya Airi lagi.
“Kami juga tidak tahu kak, tadi kami juga sudah menyapanya tapi dia tidak membalas.” Jawab siswi itu lagi.
“Terima kasih ya, aku ke sana dulu.” Balas Airi.
Airi kemudian masuk ke dalam dan menghampiri Aria. Airi memikirkan kenapa Aria murung hari ini? Apakah bekal buatannya tidak enak? Setelah sampai di tempat duduk Aria, Airi duduk di depan Aria dan bertanya.
“Kamu kenapa? Apa bekalku tidak enak hari ini sampai kamu cuma mainkan seperti itu?” Tanya Airi.
Aria sedikit terkejut dengan kedatangan Airi ke kelasnya. Aria sudah tahu tujuan kakaknya pasti mengajak dia ke kantin sekarang. Namun Aria sedang merasa tidak ingin melakukan apapun saat ini.
“Enak kok kak, cuma entah kenapa nafsu makanku hilang tiba-tiba.” Jawab Aria lemas.
“Kamu ini ya. Kalau bekal ini tidak kamu makan, mulai besok pagi aku tidak akan buatkan kamu bekal lagi.” Ancam Airi.
Airi sedikit kesal kepada Aria yang terlihat tidak menghargai masakannya. Airi yakin Aria memiliki masalah sekarang, tapi tidak seharusnya adiknya itu melampiaskan masalahnya kepada makanan yang sudah susah payah Airi buat.
“Iya, iya! Ini aku makan.” Aria mengambil sesuap nasi lalu mengunyahnya.
“Nah begitu, kamu kenapa memangnya?” Tanya Airi penasaran
“Aku tidak apa-apa kak.” Jawab Aria lagi.
“Ya sudah deh kalau tidak mau cerita. Aku mau ke kantin, mau ikut?” Ajak Airi.
“Aku titip saja kak. Belikan aku kopi, ini uangnya.” Aria memberi uang ke Airi.
Airi mengedip-ngedipkan matanya sambil melihat ke arah Aria. Ini tidak salah Aria mau minum kopi? Kan dia tidak suka yang pahit-pahitm
“Loh-loh tumben kamu beli kopi? Bukankah kamu tidak suka karena pahit?” Airi kaget.
“Aku kepingin saja kak!” Aria melanjutkan makannya.
“Kamu aneh sekali hari ini? Oke, aku akan segera kembali!” Airi heran dengan adiknya.
Airi pun melanjutkan berjalan ke kantin. Saat di jalan dia bertemu dengan Luna. Airi lalu terpikir dengan tingkah aneh Aria hari ini. Airi pun memanggil dan menghampiri Luna untuk menanyakannya.