HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 81: Mata-Mata



“Hebat sekali mereka!” Luna kagum.


“Tapi bukankah sedikit dingin di sini?” Balas Aria kedinginan.


Pertarungan antara Lancer dan Fenrir telah membuat suasana di Battlefield bercampur aduk. Tadinya terasa panas karena kekuatan Lancer namun sekarang menjadi dingin sekali akibat dari kekuatan Fenrir.


“Iya juga, aku sedikit kedinginan. Bagaimana menurutmu Tio? Kamu sangat menantikan ini bukan?” tanya Luna


“Ini sungguh luar biasa. Mereka memiliki monster yang sungguh hebat!” Balasku menggigil.


Aku juga mulai kedinginan seperti mereka berdua. Aku sungguh tidak menyangka kekuatan Lancer begitu kuat, pantas jika dia menjadi ketua dari keenam monster itu. Fenrir juga membuatku kagum, meski begitu dia bisa mengimbangi kekuatan Lancer.


“Ah maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggung tentang monster.” Luna sedikit takut lalu meminta maaf.


Aku melihat ke arah Luna, dia takut aku marah lagi karena telah membahas tentang monster. Aku tidak akan marah, lagipula aku sendiri yang bilang monster mereka hebat. Luna hanya bertanya bagaimana pendapatku tentang duel ini.


“Tidak apa-apa. Aku sudah bilang kan kalau aku sudah tidak masalah dengan monster. Jika yang kamu maksud pertarungannya pun tetap kita akan membahas monsternya bukan?” Balasku pelan.


Luna hanya tersenyum kepadaku, dia terlihat lega saat aku menjawabnya. Aku pun kembali melihat duel hebat ini, aku bersyukur bisa menyaksikan sendiri sekarang. Namun kemudian, Fox menjelaskan sedikit tentang kedua monster yang sedang berduel itu kepada semuanya.


“Tapi memang kedua monster itu sejak dari Monster world sudah hebat. Dulu mereka adalah kandidat pemimpin sebelum kami turun ke sini!” Jelas Fox.


“Tapi saat itu Lancer berhasil mengalahkan Fenrir. Para dewa pun memutuskan Lancer sebagai pemimpin kami. Tidak kusangka jika pertarungan ini akan terulang di sini.” Tambah Mage.


Aku sedikit terkejut kagum dengan fakta yang baru saja kudengar. Luna juga bahkan baru mengetahuinya karena Fox sama sekali tidak memberi tahu sebelumnya kepada Luna. Ternyata Lancer dan Fenrir adalah kandidat pemimpin, pantas kekuatan mereka setara.


“Jadi dulu Lancer dan Fenrir juga pernah bertarung rupanya?" Luna antusias.


“Aku juga baru mendengarnya. Aku senang melihat pertarungan hebat mereka!” Balas Aria.


“Kita akan lihat siapa yang akan menang kali ini?” Sahut Titan.


"Aku sangat menantikannya!" Ucap Kevin.


Kami semua melanjutkan melihat duel antara Lancer dan Fenrir. Pertarungan menjadi semakin seru, mereka saling membalas skill. Kemudian Andreas berhasil membuat serangan Lancer mengenai Fenrir. Fenrir terpental, lalu Astrid berubah menjadi serius. Hal itu sedikit mengejutkan Luna.


“Tunggu Aria, kenapa Astrid begitu menyeramkan?” Tanya Luna.


“Aku juga baru melihat Astrid yang seperti ini. Biasanya dia kan selalu bertingkah ceria. Serius seperti ini aku jadi sedikit takut dengannya.” Jawab Aria.


Tatapan mata Astrid berbeda dari biasanya, Astrid yang biasanya aktif dan ceria berubah menjadi serius dan sinis. Astrid benar-benar berubah 180 derajat menjadi sangat menakutkan.


“Lain kali lebih baik kita hati-hati untuk tidak membuatnya marah.” Luna mulai takut.


“Haha, ternyata gadis itu punya sifat yang menyeramkan juga ya?” Sahut Ryan sambil tertawa.


Kemudian Phoenix keluar dari kartunya, dia muncul menjadi wujud fairy seperti Fox, Mage dan Titan yang sedari tadi sudah berbentuk fairy.


“Aku mendeteksi hawa yang tidak enak di sini!” Phoenix memberikan informasi.


“Apa maksudmu?” Tanya Ryan.


“Aku merasakan samar hawa dari Hydron!” Lanjut Phoenix.


Perhatianku dan juga yang lainnnya teralihkan kepada Phoenix yang tiba-tiba memberikan informasi jika dia merasakan hawa dewa di tempat ini. Informasi ini benar-benar mengejutkan kami semua.


“Aku tidak bercanda. Aku menjadi saksi di mana kesatria naga saat bertarung dengan Hydron. Aku tahu betul auranya.” Tegas Phoenix.


“Benar juga. Phoenix adalah saksi dari pertarungan itu. Aku sama sekali tidak meragukannya. Jadi benar pecahan dewa telah bangkit!” Sahut Fox.


Aku, Luna dan Aria pun terkejut setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Phoenix. Aku sendiri tidak menyangka akan bertemu musuh secepat ini. Aku sedikit ketakutan, tidak, tidak hanya aku. Ternyata Luna juga merasakan ketakutan yang sama denganku.


“Bagaimana ini?” Tanya Luna.


“Andreas dan Astrid juga sedang bertarung.” Lanjutku.


Ryan terlihat memikirkan sesuatu. Dia melihat ke sekeliling tempat duel. Setelah beberapa lama melihat-lihat, Ryan memutuskan akan menyusuri tempat sekitar arena duel.


“Baiklah begini saja. Kalian tetap di sini, aku akan coba berkeliling. Jika terjadi sesuatu aku mempercayakannya kepada Luna.” Jawab Ryan.


“Loh kok aku?” Luna protes.


“Karena hanya kamu yang berhasil menang duel. Aku yakin kamu telah paham tentang duel. Jadi aku mempercayakan padamu.” Jelas Ryan.


"Ba-baiklah kalau begitu." Balas Luna dengan gugup.


"Kevin, Aria dan Tio, bantu Luna jika terjadi sesuatu. Aku juga meminta bantuan kalian." Lanjut Ryan.


"Siap!" Jawab Kevin.


Aria hanya mengangguk sedangkan aku kebingungan harus berbuat apa setelah ini. Ryan kemudian berlari meninggalkan kami. Aku hanya melihat Ryan yang berlari dengan keberaniannya seorang diri mencari musuh. Aku hanya bisa meratapi diriku yang lemah ini. Andai saja aku memiliki kekuatan seperti mereka.


"Ke mana arahnya, Phoenix?" Tanya Ryan sambil berlari.


"Ke sana!" Phoenix menunjuk ke arah hutan.


Ryan langsung menuju hutan yang di tunjuk oleh Phoenix. Ryan sampai di hutan itu. Dia menoleh melihat sekeliling. Dia juga mengambil posisi agar tidak menimbulkan kecurigaan musuh.


“Di mana lagi kmau merasakannya?” Tanya Ryan pada Phoenix.


“di sana, di balik pohon.” Balas Phoenix sambil menunjuk suatu pohon.


Ryan dengan perlahan mengendap-endap menuju ke suatu pohon. Ryan terkejut karena menemukan seseorang. Dia melihat seseorang namun hanya bagian belakangnya saja. Dia mengenakan hoodie dan celana pendek dan hoodie-nya persis seperti milik rank 1. Tanpa berlama-lama lagi, Ryan langsung mengambil tindakan.


“Siapa kamu?” Tanya Ryan secara tiba-tiba.


Setelah ditanya oleh Ryan, orang itu tidak menjawab pertanyaannya kemudian log out dari Battlefield. Dia menghilang secara misterius.


“Tunggu..!” Ryan berusaha menggapainya.


Orang itu menghilang, dia berhasil kabur. Ryan kesal karena gagal menjalankan tugasnya.


“Sial..” Ryan memukul pohon karena kesalnya


“Siapa sebenarnya dia?” Tanya Phoenix.


“Mana aku tahu! Ayo kita kembali dan kita beri tahu ini kepada yang lain.” Ryan kesal.


Ryan memutuskan kembali kepada yang lain. Dia masih penasaran dengan orang yang memata-matai simulasi ini. Yang Ryan pikiran saat ini hanyalah bagaimana cara orang itu mengetahui rencana dari OSIS? Padahal semua rapat sudah dilaksanakan secara tertutup. Selain itu, Phoenix juga merasakan hawa dari Hydron dari orang itu. Ryan sangat yakin dia bukanlah orang biasa.