HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 157: Ketemu



“Lalu bagaimana sekarang?” Tanya Aria.


“Kita istirahat sebentar deh, di sana ada mesin minuman.” Luna menunjuk ke sebuah mesin minuman.


Mereka memutuskan untuk istirahat sejenak untuk sedikit mengistirahatkan kaki mereka yang seharian sudah berjalan berkeliling kota. Mereka berdua kemudian membeli minuman lalu duduk sambil meminum minuman yang mereka beli.


“Sudah selama ini kita mencari tapi masih belum ketemu juga.” Aria murung.


“Yang penting kita sudah berusaha!” Balas Luna sambil minum.


Luna menyuruh Aria agar tidak menyerah, lagipula dia yang memiliki ide untuk berkeliling kota setiap harinya. Aria kemudian membuka smartphone miliknya, dia menemukan pesan chat nya telah dibaca oleh Tio. Aria langsung memberi tahu Luna.


“Luna, lihat! Pesanku sudah dibaca Tio.” Aria memperlihatkan smartphone miliknya ke Luna.


Luna sedikit terkejut mendengar Aria dan langsung melihat ke smartphone milik Aria. Ternyata benar ada tanda chat dibaca di seluruh pesan Aria.


“Eh iya! Sebentar aku cek punyaku!” Luna ikut mengeluarkan smartphonenya.


Luna mengecek pesan-pesannya yang telah dikirim ke Tio, dan memang iya semua pesannya telah dibaca oleh Tio sama seperti Aria. Berarti Tio sempat menghidupkan smartphone miliknya belum lama ini.


“Sama, punyaku juga sudah dibaca. Sebentar aku coba hubungi saja.” Luna menelepon nomor Tio.


Luna penasaran apakah Tio benar-benar sudah mengaktifkan kembali smartphone miliknya, jika memang iya berarti Luna bisa langsung menanyakan di mana dia sekarang.


“Nomor tidak aktif, silahkan tinggalkan pesan.” Suara operator.


“Masih tidak aktif.” Ucap Luna.


Harapan Luna pupus sudah ketika operator yang menjawab teleponnya lagi. Ternyata Tio hanya sesaat saja menghidupkan smartphone miliknya lalu mematikannya kembali. Namun itu sudah cukup membuat Aria kembali bersemangat.


“Kalau begitu ayo kita cari lagi! Siapa tahu dia sudah pulang.” Ucap Aria dengan semangat lalu berdiri.


“Semoga saja!” Luna ikut berdiri.


Mereka berdua melanjutkan berjalan berkeliling sambil mengobrol tentang kemungkinan kemungkinan Tio pulang. Aria masih saja membicarakan tentang pesan yang sudah dibaca tadi dan dia juga terlalu berekspektasi tinggi jika Tio sudah benar-benar pulang. Meskipun perasaan Aria sangat yakin akan hal itu tapi Luna merasa kasihan jika apa yang Aria harapkan tidak sesuai dengan keinginannya seperti contoh telepon tadi.


Di sisi lain..


Saat aku berjalan menuju ke toko game, aku berhenti di depan gerbang sekolah yang dikunci. Aku memutuskan untuk mampir dan melihat-lihat keadaan sekolah di sore ini. Aku begitu merindukan tempat ini!


“Besok akhirnya aku masuk sekolah juga. Akan tetapi, aku masih bingung untuk menghadapi mereka." Aku berbicara sendiri


Setelah itu aku melanjutkan berjalan ke toko game sebelum ada yang melihatku di sini. Karena memang arah jalan ini menuju ke rumah Luna juga jadi aku sedikit berhati-hati kalau-kalau dia lewat sini mengingat dulu aku pernah dipergoki ketika hari minggu. Saat itu aku tidak menyangka Luna sedang membeli sayur dan membuntutiku.


“Silahkan, selamat datang!” Sapa paman pemilik toko game.


“Paman, ada game offline yang bagus tidak?” tanyaku sesampainya di toko.


Aku tidak berbasa-basi lagi ketika tiba di toko. Aku sudah tidak ingin berputar-putar seperti dulu mencari game yang sudah habis. Itu menjadi pelajaranku, lebih baik aku langsung bertanya daripada menghabiskan waktu di sini.


Kan, apa aku bilang! Akan lebih mudah jika aku langsung bertanya, buktinya paman langsung mencarikan apa yang sedang aku ingin beli. Setelah kembali, paman itu membawa beberapa kaset game dalam banyak jenis genre untuk aku pilih sendiri.


“Mau yang bertarung, petualangan, balapan ataupun tembak-tembakan. Silahkan pilih sendiri!” Ucap paman itu.


Aku kemudian berpikir sejenak dalam memilih game. Kalau petualangan sudah kemarin bisa offline, bertarung ataupun balapan Reza pasti kalah. Lalu pilihan terakhirku hanyalah tembak-tembakan, aku kemudian bertanya pada paman pemilik toko.


“Paman, bukannya ini game online?” Tanyaku sambil memegang kaset game.


“Oh itu seperti game RPG yang kamu beli kemarin. Game itu bisa online bisa juga offline, juga bisa dimainkan dua orang.” Jawab paman.


Pasti seru ini jika bisa online maupun offline. Kelemahan game offline hanyalah story mode yang cukup membosankan karena ketika sudah tamat ya cara untuk memainkannya adalah mengulang dari awal. Jika ada mode onlinenya pasti akan ada misi harian seperti game yang aku beli kemarin.


“Boleh juga, aku ambil ini paman.” Aku memberikan kaset game yang ku pegang ke paman.


Tanpa basa-basi lagi aku langsung memutuskan untuk membeli game itu karena kebetulan aku belum punya game tembak-tembakan. Kalau yang ini mungkin cukup familiar seperti game tembak-tembakan di komputer yang sedang terkenal itu. Sayangnya aku tidak bisa memakai komputer dan yang paling parah aku tidak memilikinya.


“Saya bungkus sebentar.” Balas paman.


Paman membungkus game yang aku beli itu, aku kemudian membayar dengan harga yang sudah tertera di kaset itu. Tak lama paman kemudian memberikan game yang sudah di bungkus itu.


“Terima kasih paman.” Ucapku sambil meninggalkan toko.


“Sama-sama, datang lagi!” Balas paman.


Aku keluar dari toko game. Aku sedikit haus dan juga di rumah tidak ada camilan tersisa di kamarku. Aku memutuskan untuk ke minimarket dulu sebelum pulang ke rumah. Lalu aku teringat akan satu hal yaitu sandalku ketinggalan di rumah nenek. Bisa-bisanya aku melupakannya, karena malam itu aku tidak mengecek lagi seluruh rumah kakek.


“Akhirnya, semua yang aku butuhkan sudah lengkap. Minuman dan camilan sudah cukup banyak aku beli, saatnya mengisi kulkas lagi. Dan juga sandal ini dan peralatan mandi yang tertinggal semua sudah beres.” Aku bicara sendiri.


Aku melanjutkan berjalan pulang sambil membawa belanjaanku karena sebentar lagi hari akan gelap. Aku yakin pasti ibu akan ngomel nanti karena seharusnya aku beristirahat hari ini!


Sementara itu..


“Aria, kayaknya kita harus segera pulang deh. Aku sudah dicari ayahku nih! Sepedanya sudah jadi katanya.” Ucap Luna.


“Mau bagaimana lagi, sebentar lagi malam juga. Ayo pulang, tapi antar aku dulu ya!” Balas Aria.


“Iya, iya. Nanti aku antar pakai sepeda.” Lanjut Luna.


Luna kemudian membalas pesan ayahnya sedangkan Aria melihat ke sekitar tempat dia berdiri. Saat Aria melihat-lihat, dia seperti melihat Tio yang sedang berjalan. Aria memastikan kembali jika dia tidak salah lihat, dan benar ternyata yang dia lihat adalah Tio. Aria langsung berlari meninggalkan Luna.


“Ayo pulang Ari.. Loh mana itu anak?” Luna mencari Aria yang tiba-tiba menghilang.


Aria berlari kencang meskipun dia sedang mengenakan dress dan juga sepatu yang cukup tinggi. Kakinya terasa sakit namun dia tetap harus berlari mengejar Tio. Aria harus bisa menggapai Tio untuk hari ini dan memastikannya tidak lari lagi.


“Tio..!” Suara panggilan.


Aku mendengar suara yang memanggilku. Saat aku berhenti lalu menoleh ke belakang, saat itu juga aku melihat Aria yang sedang berlari. Aria tiba-tiba langsung memelukku erat saat aku berbalik badan.