
“Nak Luna." Kata ibu Tio.
“Iya ada apa, bu?” Balas Luna.
Ketika ibu Tio memeluk Luna tadi, ibu Tio merasakan hal yang sedikit mengganggu. Jika memang benar adanya, maka Luna benar-benar ceroboh.
“Kamu belum mandi kan?” Ibu Tio memastikan.
“Hhuuuuuwwaaaaaaa.... Kenapa ibu bisa tahu?” Luna berteriak dan merasa malu.
Luna merapatkan tangan dan kakinya. Dia juga sedikit mencium aroma tubuhnya sendiri. Bau keringat yang sedikit menyengat hidung telah disadari oleh Luna. Luna tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Dasar kamu ini. Kamu perempuan, masa iya ke rumah laki-laki tidak mandi dulu." Balas ibu Tio.
“Itu semua karena aku buru-buru tadi. Ibuku sebenarnya sudah mengingatkan, tapi karena aku sangat penasaran tentang Tio tadi jadi aku mengabaikannya. Lalu aku juga tidak ada rencana sampai ke sini, tapi karena aku ingin memastikan dan ada hal penting yang harus kusampaikan, jadi aku terpaksa kesini dengan keadaan seperti ini. Aku sendiri tidak menginginkan keadaan seperti ini, sungguh ini sangat memalukan.” Jawab Luna sambil menutup mukanya.
Ibu Tio berusaha memahami keadaan Luna. Bagaimanapun juga Luna telah berusaha sampai sejauh ini. Ibu Tio merasa kasihan kepada Luna. Teringat jika Tio sedang pergi, ibu Tio juga akan membantu Luna.
“Tunggu sebentar." Ibu Tio meninggalkan Luna.
Ibu Tio pergi ke kamarnya dan meninggalkan Luna di ruang tamu. Dia tidak tega melihat Luna dalam keadaan begitu. Sebagai gadis, Luna harus sedikit menjaga penampilannya apalagi dia bertamu ke rumah seorang laki-laki. Ibu Tio membuka lemari bajunya dan memeriksa koleksi baju masa mudanya. Semuanya sudah terlihat usang namun masih bersih. Setelah mencari, ada satu baju yang masih baru.
Baju berwarna pink dan celana pendek warna coklat yang masih terbungkus plastik, ibu Tio sangat ingat dengan baju itu. Baju yang dibelikan oleh ayah Tio dulu tidak dipakai oleh ibu Tio karena celananya terlalu pendek, ibu Tio tidak menyukai itu. Ibu Tio mengambil baju itu dan juga satu handuk bersih lalu keluar dari kamar. Tak lama, ibu Tio kembali ke ruang tamu. Dia melihat Luna yang sedang menahan malu.
“Ini handuk dan baju ibu sewaktu masih muda. Sana mandi dulu, mumpung Tio belum pulang." Suruh ibu Tio.
Ibu Tio memberikan Luna handuk dan pakaiannya. Luna pun bingung mau mau berbuat apa. Mandi di rumah orang lain apalagi di rumah laki-laki, ini baru yang pertama kalinya untuk Luna.
“Tapi bu..” Luna sedikit kebingungan.
“Sudah mandi dulu. Kamu perempuan, setidaknya jaga penampilan sedikit apalagi kamu sedang di rumah seorang laki-laki. Tio memang cuek orangnya tapi jangan buat dia mengkritik penampilanmu jika kamu tetap seperti ini. Apalagi ada hal penting yang harus kamu sampaikan bukan?” Potong ibu Tio.
“Baik bu, terima kasih banyak bu." Luna berterimakasih.
Luna sedikit lega karena dia akhirnya bisa segera mandi. Jujur Luna sudah tidak tahan dengan keadaannya sejak tadi, badannya lengket karena keringat. Dia segera bergegas mandi sebelum Tio pulang.
Luna selesai mandi, tubuhnya sudah wangi dan terbebas dari bau keringat yang menghantuinya dari tadi. Luna membuka baju yang diberi oleh ibu Tio dan memakainya.
"Aduh, kalau ini sih kependekan." Ucap Luna.
Luna melihat celana yang cukup pendek dan jika di pakai pasti jauh di atas lututnya. Namun melihat bajunya yang berwarna pink, Luna benar-benar suka baju itu. Mau tidak mau Luna harus mencobanya terlebih dahulu.
"Hmm, ini agak terlalu sih. Kalau dipikir-pikir tidak apa-apa deh. Daripada aku tidak memakai apapun atau harus memakai pakaian olahraga itu lagi, sama saja aku bau keringat lagi nanti." Luna melihat dirinya sendiri di cermin.
Setelah Luna memutuskan untuk memakainya, dia kemudian menyisir rambutnya. Luna menguncir rambutnya dan setelah itu dia melipat baju dan celana olahraganya lalu memasukkan ke plastik bekas baju yang di pakai Luna.
Setelah selesai, Luna menuju dapur mencari ibu Tio sambil membawa handuk yang baru saja dia pakai. Luna tidak tahu harus di mana handuk itu di letakkan. Luna menemui ibu Tio yang sedang mencuci piring di dapur.
“Terima kasih banyak bu. Ibu sudah membiarkan aku untuk mandi di sini." Luna menundukkan kepalanya
“Sama-sama nak, kalau segar begitu kan enak dilihat." Balas ibu Tio.
"Oh iya bu, handuk ini taruh mana ya?" Tanya Luna.
"Taruh di tempat baju kotor itu saja, biar nanti ibu cuci." Jawab ibu Tio.
Luna kemudian menaruh handuk itu di tempat baju kotor. Melihat ibu Tio yang sibuk, Luna jadi tidak enak. Luna kemudian teringat dengan pekerjaan rumahnya yang sama sekali belum dia kerjakan. Mencuci, memasak dan pekerjaan lainnya terbengkalai. Entah mau jadi apa saat Luna pulang nanti. Luna kemudian bertanya kepada ibu Tio, apa yang harus dia bantu saat ini.
“Lalu apa ada yang aku bisa bantu sekarang bu?” Luna menawarkan diri.
“Tidak, tidak usah repot-repot. Lebih baik kamu menunggu Tio di kamarnya." Jawab ibu Tio.
“Heeeehhh.. Di kamarnya?” Luna sedikit terkejut.
Momen apalagi ini? Luna benar-benar tidak menyangka jika akan memasuki kamar laki-laki. Apa yang akan terjadi padanya nanti.
“Sudah tidak apa-apa dan jangan berpikir aneh-aneh. Tidak enak jika kalian membicarakan hal yang penting di ruang depan. Ibu tidak ingin mengganggu kalian untuk nanti." Balas ibu Tio.
“Ba-baik bu”, Luna menenangkan diri.
Luna menurut apa kata ibu Tio. Dia kemudian berjalan menuju sebuah kamar yang di tunjuk oleh ibu Tio dan membuka pintunya.
“Permisi..” Bisik Luna.
Dia melihat ke sekeliling, kamar Tio terlihat rapi namun juga terlihat berantakan jika melihat ke arah televisi. Di situ terdapat sebuah televisi besar dan sebuah konsol game, di dekatnya terdapat tumpukan kaset game yang sedikit berantakan.
“Jadi inilah yang selama ini menemaninya." Ucap Luna.
Luna berjalan menuju tumpukan kaset itu. Dia mengambil satu-persatu kaset yang berantakan itu dan melihatnya.
“Dasar dia itu ceroboh sekali. Harusnya hal seperti ini dirapikan setelah dipakai." Luna membereskan kaset itu dan menatanya.
Luna malah memulai kebiasaannya membereskan sesuatu. Karena Luna di rumahnya selalu mengerjakan kegiatan rumah, jadi dia setengah sadar saat membereskan kamar Tio.
“Eehhh.. Apa yang aku lakukan? Ini kamar orang lain!" Luna tersadar.
Luna menyelesaikan pekerjaannya, dia menaruh kaset-kaset itu di tempatnya. Karena Luna melihat ada kaset lain di dekat televisi, dia menata semua kasetnya di tempat itu. Setelah selesai, Luna kemudian duduk di atas kasur.
Tak lama kemudian, akhirnya aku sampai rumah lagi. Aku sudah capek mondar-mandir kesana-kemari. Aku menyetandarkan sepeda Luna dan mengambil belanjaanku yang aku letakkan di keranjang.
“Aku pulang..” Aku memasuki rumah.
“Stooopp.. Berhenti di situ." Teriak ibu dari dapur.
“Eh, ada apa bu?” Aku heran.
Ibu datang dan membawa handuk serta pakaian bersih untukku. Ada apa ini?
“Ini, mandi dulu sana. Jangan masuk ke kamarmu dulu." Kata ibu.
“Loh kenapa memang? Masak aku tidak boleh masuk kamar sendiri?" Tanyaku.
“Karena ada Luna di kamarmu." jawab ibu.
“Haaaahh.. Apa yang ibu lakukan..? Memasukkan seorang gadis ke kamarku." Aku terkejut.
“Sudah sudah, mandi sana. Ibu tidak tega membiarkan dia di ruang tamu. Atau kamu menyembunyikan sesuatu di kamarmu? Sebaiknya ibu periksa besok." Balas ibu
“Tidak, aku tidak menyembunyikan apapun. Ya sudah aku mandi dulu, ini cemilannya tolong kasih Luna." Aku memberikan kantong plastik ke ibu lalu bergegas mandi.