
“Tio, aku ingin memberitahu jika besok sepulang sekolah adalah simulasi terakhir yang akan kita lakukan.” Ucap Aria.
“Loh duelmu belum dilakukan?” Aku kaget.
Sontak aku terkejut mendengar apa yang diberi tahu oleh Aria. Ternyata simulasi ketiga tidak seperti apa yang aku bayangkan kemarin. Aku kira mereka akan melakukan simulasi itu sewaktu aku pergi ke rumah kakek kemarin, tapi nyatanya tidak begitu.
“Iya, kami sengaja menundanya sampai kamu pulang dan di saat kamu pulang saat itu juga duel akan dilakukan.” Lanjut Aria.
“Astaga.. Maafkan aku Aria. Ternyata sampai ditunda selama itu simulasi terakhirnya. Aku pikir kalian sudah melakukan itu jauh-jauh hari kemarin.” Aku meminta maaf.
Sangat disayangkan karena mereka telah menunda simulasi itu sebegitu lamanya. Aku benar-benar merasa bersalah karena mungkin duel yang dinanti oleh Aria ternyata belum dilakukan hanya gara-gara aku yang tidak begitu penting dalam simulasi itu. Meski begitu, aku juga sedikit senang karena akhirnya aku bisa melihat simulasi terakhir yang sebenarnya aku cukup penasaran siapa yang menang.
“Tidak apa-apa kok, itu semua keputusan dari Andreas yang kami semua dukung. Tapi ada satu hal yang ingin aku bilang padamu.” Wajah Aria menjadi serius.
“Apa itu?” Tanyaku.
Aria berubah menjadi sangat serius kali ini dan itu cukup membuatku takut. Karena biasanya Aria adalah sosok yang pemalu namun kali ini dia ternyata bisa serius juga.
“Bolehkah aku meminta satu permintaan padamu?” Ucap Aria memohon
Melihat dia memohon padaku dan aku juga menjadi penyebab dari mundurnya simulasi dia dan Luna, aku kemudian mengiyakan apa yang ingin dia minta padaku selagi apa yang dia minta bisa aku turuti.
“Boleh, asalkan aku bisa menurutinya dan juga ada syaratnya!” Ucapku ke Aria.
“Kalau begitu, jika besok aku menang maukah sabtu besok kamu menungguku di pohon yang kemarin kamu bersama Luna itu sewaktu istirahat?” Aria memberi tahu apa yang dia minta.
“Hanya itu?” Tanyaku memastikan.
Permintaan apa itu? Masa iya cuma disuruh datang ke pohon yang biasanya aku duduk sewaktu olahraga. Tapi ya untungnya permintaannya sangatlah sederhana, aku tidak mau Aria berubah pikiran akan itu.
“Iya hanya itu, dan pastikan saat itu kamu jangan makan siang dulu!” Jawab Aria.
“Kalau hanya itu aku bisa saja.” Aku setuju.
“Terima kasih banyak Tio, aku akan berjuang besok!” Aria senang lalu menjabat tanganku dan melompat lompat.
Melihat betapa senangnya Aria sekarang aku menjadi khawatir dengannya. Yang dia akan lawan adalah Luna dan Fox, di mana Fox adalah pengendali petir yaitu ketakutan Aria. Aku sebenarnya ingin menjadi netral, namun saat orang bertemu dengan apa yang dia takuti maka kekuatannya juga pasti akan berbeda. Aku sedikit memberi tahu Aria tentang Fox agar Aria bisa menghadapinya besok.
“Jangan senang dulu, yang kamu lawan besok adalah Luna.” Balasku.
“Luna kenapa memangnya?” Tanya Aria.
“Bukannya kamu takut petir? Fox adalah pengendali petir.” Jawabku.
Tekad Aria sudah sangat jelas dan itu adalah poin tambahan untuknya agar bisa menang. Aku pun cukup lega karena Aria sudah siap untuk melawan Luna besok, lagipula monsternya juga Mark 2 lalu apalagi yang harus dikhawatirkan? Kekuatan mereka seimbang besok.
“Ya sudah, kalau begitu selamat berjuang besok. Sekarang aku pulang dulu takut dicari ibu.” Aku pamit lagi.
“Hati-hati di jalan ya!” Balas Aria dengan penuh perhatian.
“Terima kasih, dah.” Aku melambaikan tangan lalu pergi
Aku berjalan meninggalkan rumah Aria. Aku menoleh ke belakang melihat Aria yang kembali masuk ke rumah bersama Airi. Aku sampai lupa menanyakan ke Aria mau apa dia besok Sabtu dan juga menyuruhku agar tidak makan siang? Memangnya kenapa dengan makan siang? Ah aku tidak mau menanyakannya sekarang. Siapa yang menang aku belum tahu juga. Jika aku menanyakannya sekarang dan Aria kalah itu juga hanya akan menjadi percuma. Dan lupakan saja, semua itu kesalahanku karena tidak bertanya tadi. Aku kemudian melanjutkan berjalan pulang.
Setelah Aria masuk ke rumah, Airi langsung penasaran dengan apa yang Aria akan lakukan besok sabtu itu karena tadi samar-samar mendengar pembicaraan mereka berdua di depan.
“Mau apa kamu besok Sabtu?” Tanya Airi ke Aria.
“Itu akan aku jelaskan besok kak, yang penting besok aku harus menang melawan Luna!” Jawab Aria dengan penuh semangat.
“Hmm.. Kelihatannya menarik nih!” Airi ikut bersemangat.
Keesokan harinya, aku kembali berangkat sekolah. Akhirnya aku bisa memakai seragam lagi dan kembali belajar. Tapi kata ibu semalam aku harus berangkat pagi oleh guru olahraga agar datang ke kantor guru terlebih dahulu. Sesampainya aku di kantor guru, aku sudah disambut oleh kepala sekolah dan juga guru olahraga.
Mereka hanya bilang padaku untuk tidak memusingkan pelajaran tiga minggu kemarin karena nilai dari pelajaran selama tiga minggu akan ditanggung oleh nilaiku saat ulangan semester nanti. Kepala sekolah dan guru olahraga hanya mengingatkan agar aku mendapat nilai tinggi saat ulangan, itu saja. Jujur aku cukup terkejut akan itu, namun sekarang aku tidak perlu lagi memusingkannya. Yang harus aku lakukan adalah belajar lebih giat lagi.
Setelah itu aku kembali ke kelas dan duduk di bangku tempat dudukku. Suasana familiar telah menyambutku pagi ini, bagiku itu adalah hal biasa.
“Lihat dia sudah berangkat!” Ucap seorang siswa.
“Jangan dekat-dekat dia, nanti menghilang lho!” Sindir seorang siswi
“Masih berani berangkat dia, padahal kemarin dia menghilang begitu saja.” Ucap siswa lain.
Aku mengabaikan perkataan mereka semua karena memang bagiku itu tidak penting. Sekarang aku harus serius belajar, aku sangat semangat pagi ini karena aku sangat rindu bersekolah.
Sore harinya, aku diajak Luna ke ruang OSIS. Di sana semuanya sudah berkumpul. Aku tadi sempat diberi tahu Luna kalau sekarang adalah simulasi terakhir. Sebenarnya aku sudah tahu tapi aku pura-pura tidak tahu saja deh daripada kena masalah lagi. Setelah kami masuk dan semua sudah berkumpul, Andreas langsung memulai inti acaranya.
“Oke dengan pulangnya Tio maka kesepakatan kita adalah melaksanakan simulasi terakhir. Mungkin Tio belum tahu atau mungkin Luna juga sudah memberi tahu jika hari ini kita akan melakukan simulasi terakhir. Di sini aku tegaskan kita sudah tidak perlu memperdulikan musuh kita, simulasi terakhir ini kalau bisa kita menarik keluar musuh sehingga kita bisa langsung menemukan pecahan dewa itu. Kalian semua mengerti?” Tanya Andreas.
“Mengerti!” Jawab kami serentak.
“Kalau begitu sekarang kita masuk ke Battlefield.” Lanjut Andreas.