HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 134: Kakak Yang Pengertian



“Kenapa kamu ke kantin? Apa masakanku hari ini tidak enak?” Pesan dari Airi.


Aria membaca pesan dari Airi yang belum dia baca, Aria kemudian menulis pesan balasan untuk Airi. Karena dari tadi Aria terlalu fokus dengan Tio, dia mengabaikan semuanya termasuk makan dan juga kakaknya.


“Tidak kak, ini aku bawa bekalku ke kantin. Masakan kakak hari ini enak kok, tidak ada yang salah.” Balas Aria.


Aria melanjutkan makan siangnya namun hanya sedikit yang dia makan. Luna jadi sedikit kasihan melihatnya. Luna pun mengirim pesan ke Airi untuk memberi tahu tentang adiknya.


“Airi.. Adikmu sedang tidak nafsu makan kayanya, dari tadi dia hanya memainkan bekalnya.” Tulis Luna.


Luna melanjutkan memakan makanannya. Tidak lama setelah pesan itu dikirim, Airi langsung membalas pesan dari Luna.


Kling.. (Bunyi notifikasi)


“Aria kenapa? Tadi pagi dia baik-baik saja bahkan saat sarapan dia makan dengan lahap.” Balas Airi.


Luna kemudian membalas lagi pesan dari Airi. Luna memberi tahu Airi jika dia dan Aria sedang menghawatirkan Tio karena tidak berangkat ke sekolah.


“Hari ini Tio tidak berangkat dan nomornya tidak aktif, jadi aku memastikan melalui nomor Aria apa memang benar nomornya tidak aktif tapi hasilnya sama saja. Malah setelah itu dia menjadi diam.” Tulis Luna.


Luna meletakkan smartphone miliknya di meja sambil melanjutkan kembali makannya. Namun tidak disangka, Airi membalas pesan Luna dengan cepatnya.


Kling.. (Bunyi notifikasi)


“Ahh mulai lagi deh... Dasar kamu tidak peka Luna!” Balas Airi.


“Hah, peka untuk hal apa nih?” Tulis Luna.


Luna sama sekali tidak mengerti dengan maksud Airi dan sekarang pesan dari Airi tadi membuatnya bertanya-tanya. Luna harus peka untuk hal apa dan kepada siapa yang dimaksud Airi.


Di saat Luna memikirkannya, smartphone miliknya kembali berbunyi. Luna langsung membaca pesan balasan dari Airi.


“Tidak, tidak apa-apa. Kalau begitu aku lebih baik segera ke sana, lagipula aku juga ingin membeli minuman. Sampai ketemu di situ.” Balas Airi.


“Lah malah datang ke sini!” Ucap Luna.


“Siapa yang datang?” Tanya Aria.


Luna tanpa sadar telah berbicara jika ada yang akan datang ke sini. Karena Aria menanyakannya, Luna harus segera membuat alasan yang masuk akal. Luna juga tidak berniat menutup-nutupi jika dia sedang saling chat dengan Airi.


“Hmm.. Airi mau ke sini, dia ingin membeli minuman jadi dia ingin kita jangan buru-buru kembali ke kelas.” Jawab Luna sambil melirik ke samping.


“Oh begitu rupanya, aku juga belum beli minum ternyata. Nanti kalau kakak ke sini saja deh.” Aria malah teringat dengan minuman.


Luna dan Aria kembali melanjutkan makan siang mereka. Luna masih memandangi Aria yang memainkan bekalnya. Luna hanya berpikir kenapa anak satu ini tidak mau makan?


Tak lama kemudian Airi muncul melewati pintu kantin. Aria lalu berdiri untuk ikut membeli minuman namun dihentikan oleh Airi yang menghampiri Luna dan Aria.


“Sudah kamu duduk saja, biar aku yang beli.” Ucap Airi.


“Ehh..? Tapi aku ingin...” Aria terhenti bicara.


Aria pun kembali duduk, dia kembali memakan bekalnya sedikit demi sedikit karena takut kakaknya datang. Di sisi Airi, dia mengeluarkan uang lalu memasukkan ke mesin penjual minuman lalu memilih 2 kaleng jus jeruk. Setelah itu 2 kaleng minuman jatuh dan siap diambil.


“Dengan ini pasti dia akan kembali ceria.” Ucap Airi.


Airi kembali menuju tempat di mana Luna dan Aria duduk sambil membawa minuman yang masih dingin dinginnya itu


“Nih untukmu!” Airi meletakkan minuman di depan Aria.


Airi kemudian ikut duduk dan berkumpul bersama Luna dan Aria. Airi duduk di samping adiknya yang memang terlihat lesu hari ini. Untung saja Luna bilang penyebab adiknya menjadi seperti itu jadi Airi bisa mencari cara mengantisipasinya.


“Kenapa kakak bisa tahu aku ingin jus jeruk?” Tanya Aria.


“Tahu lah, karena jika suasana hatimu sedang buruk pasti kamu mau minum itu bukan?” Jawab Airi sambil membuka minumannya.


Aria melihati kakaknya yang sedang meminum jus jeruknya. Aria senang karena kakaknya bisa memahami perasaannya. Di sini Aria hanya bisa berterima kasih kepada kakaknya.


“Terima kasih kak, nanti aku akan..” Aria terhenti lagi.


“Sudah tidak usah diganti, aku traktir hari ini!” Potong Airi.


“Kakak serba tahu ihh..!” Balas Aria.


Aria tidak menyangka jika Airi bisa membaca apa yang terpikirkan olehnya. Aria memegangi dadanya yang berdebar-debar itu. Aria tidak tahu jika saudara kembar bisa memiliki ikatan batin sekuat itu.


“Kamu hebat juga ya, Airi!” Puji Luna.


“Aku sudah tahu dengan Aria. Selain kami kembar, kami juga telah hidup bersama sejak kecil. Sebagai kakak, aku paham benar dengannya.” Balas Airi.


"Hmm.." Sahut Aria yang sedang minum.


Airi melihati adiknya yang sedang membuka jus jeruk yang diberikan olehnya tadi. Saat Aria sedang meminum minumannya, Airi melihat betapa sama persisnya mereka berdua dalam meminum minuman itu. Pada akhirnya, mereka berdua pun saling bertatapan.


“Enak ya punya saudara kembar!” Luna berandai-andai.


Airi menoleh ke arah Luna setelah mendengar dia berandai-andai memiliki saudara kembar. Memang menyenangkan jika beruntung memilikinya dan itulah yang sedang dirasakan Airi sekarang.


“Ya ada enaknya ada juga tidaknya. Hal paling menyenangkan jika memiliki saudara kembar itu seperti aku sedang berbagi nyawa dan tubuh dengan orang lain. Aku bisa melihat aku yang lain melakukan kehidupannya sendiri." Balas Airi.


"Kalau dipikir-pikir iya juga ya! Kalau kembar identik seperti kalian berdua pasti sebagian besar sama. Yang tinggal membedakan hanyalah sifat dan juga wataknya." Luna tersadar.


Airi kembali melihat ke adiknya. Airi melihat Aria yang makan dengan sedikit-sedikit, Airi tahu pasti adiknya takut jika dia akan marah jika tidak memakan bekal itu. Ternyata memang benar apa yang dikatakan Luna jika Aria sedang tidak nafsu makan. Namun bagaimanapun juga Aria sekarang sedang memikirkan sesuatu dan sebagai kakak, Airi juga harus bisa memahami Aria. Airi berniat untuk sedikit menghibur Aria agar dia mau makan bekalnya karena Airi juga merasa sedikit kasihan kepadanya.


"Maka dari itu sejak kecil aku sangat menyayangi Aria. Meskipun saat dewasa kami berbeda, tapi Aria tetaplah kembaranku dan perbedaan itu yang membuat kami masing-masing memiliki ciri khas. Contohnya nih, aku bisa masak lalu dia tidak. Awas ya kalau tidak habis, besok aku tidak buat bekal!” Jelas Airi lalu menggoda Aria untuk makan.


Aria terkejut dengan ancaman kakaknya, meskipun bekalnya enak namun suasana hatinya sedang buruk hari ini. Akan tetapi, daripada dia tidak dibuatkan bekal lagi besok dengan terpaksa Aria harus menghabiskan bekalnya itu.


“Iya, iya! Aku makan.” Aria cemberut.