HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 70: Terungkapnya Pelaku



Aria dan Airi mengikuti Luna yang sedang memarkirkan sepedanya. Luna heran dengan tingkah mereka berdua.


“Lho kenapa kalian masih mengikutiku?” Tanya Luna.


“Bukankah kamu tadi pagi bilang padaku jika kamu tahu tentang sesuatu? Aku ingin mengetahuinya.” Jawab Aria sambil memainkan jarinya.


“Oh itu, tapi itu masih belum pasti. Karena saat aku pulang Tio tidur, jadi aku belum menanyakannya.” Lanjut Luna


“Yaahh..” Aria kecewa.


Melihat Aria yang seperti itu, Luna pun agak tidak tega. Dia lalu mengirim pesan ke ibu Tio untuk memastikannya terlebih dahulu.


“Sebentar, aku akan menanyakannya.” Luna mengeluarkan smartphone miliknya.


Luna kemudian menulis sebuah pesan kepada ibu Tio. Ngomong-ngomong, sewaktu sebelum Luna pulang dari rumah sakit ternyata ibu Tio memberikan nomor teleponnya kepada Luna. Jadi Luna bisa bertanya kepada ibu Tio untuk saat ini.


“Oh iya bu, apa tio sudah bangun? Apa ibu sudah menanyakan apa yang terjadi padanya dan siapa pelakunya?” Tulis Luna.


Kling.. (Bunyi notifikasi)


Ibu Tio membalas, Luna langsung membaca pesan yang masuk.


“Baru saja dia bangun dan ibu sudah menanyakan hal itu. Ternyata memang benar kedelapan orang itu yang menganiaya Tio saat pulang sekolah.” Balas ibu Tio.


Kemudian Luna membalas pesan itu dengan menahan rasa marah yang dia rasakan.


“Berarti dugaan dari awal semuanya benar. Aku akan membahasnya dengan anggota OSIS nanti. Terima kasih bu informasinya.” Tulis Luna.


Luna memasukkan kembali smartphone miliknya ke dalam tas. Kemudian Luna menyampaikan informasi barusan kepada Aria.


“Ternyata benar, merekalah pelakunya. Itu yang ingin aku beritahu kepadamu. Aku baru saja menanyakan langsung kepada ibu Tio.” Luna memberitahu dengan geram.


“Maksudmu siswa yang dikeluarkan?” Tanya Aria memastikan.


“Iya mereka. Kata ibu Tio barusan, Tio dianiaya saat pulang sekolah.” Jawab Luna.


“Teganya mereka.” Aria merasa kasihan.


Hanya Airi yang tidak paham dengan pembicaraan mereka berdua. Airi masih diam sambil mengikuti alur pembicaraan. Apa yang mereka bicarakan terlihat sangat serius.


“Ya sudah kita akan lanjut bahas nanti saat istirahat bersama para OSIS. Oh iya, nanti sore aku mau ke rumah sakit lagi. Kamu mau ikut?” Luna menawarkan kepada Aria.


“Kalau aku sih ikut saja deh. Kakak mau ikut?” Tanya Aria kepada kakaknya.


“Emm.. Aku tidak ikut saja. Lagipula jika aku ikut siapa yang akan memasak nanti? Aku juga tidak mengenalnya bukan?” Balas Airi.


“Hehehe.. Iya juga. Nanti aku mau makan apa, tadi saja sudah tidak sarapan.” Aria tertawa sekaligus mengeluh kepada Airi.


"Kamu bisanya cuma makan saja, gara-gara kamu juga aku kesiangan bangunnya." Airi masih kesal.


Aria hanya bisa menundukkan kepalanya, dia sudah tidak ingin melawan kakaknya lagi karena memang dia yang salah. Setelah itu, mereka bertiga berpisah dan masuk ke kelas masing-masing.


Sementara itu, sosok misterius ternyata melihat semua kejadian pengeroyokan di dalam Battlefield. Dia yang sedang duduk di atas pohon membayangkan semua kejadian kemarin. Sosok misterius itu teringat akan percobaannya.


"Sekarang giliran mereka yang akan tersiksa." Ucap sosok misterius.


Di siang itu, para siswa yang dikeluarkan karena kasus pem-bully-an semua sedang berkumpul di lahan kosong di sebuah gang sempit. Mereka sedang tertawa terbahak-bahak saat mendengar Tio masuk rumah sakit.


“Akhirnya dia masuk rumah sakit. Semoga saja tidak sadar lagi, hahaha.” Ucap Romi


“Aku juga senang mendengarnya.” Balas salah seorang anak


“Hahahaha.” Semuanya tertawa.


Kemudian sosok misterius mendatangi gerombolan itu. Entah dari mana dia muncul, tiba-tiba saja dia bisa berada di tempat itu.


“Wah.. Wah.. Ada acara kumpul-kumpul rupanya.” Kata sosok misterius sambil berjalan perlahan.


Datanglah seorang perempuan dengan memakai hoodie dan celana pendeknya. Namun wajah dari perempuan itu tidak terlihat karena dia menunduk.


“Siapa kau? Apa urusanmu datang ke sini?” Tanya Romi.


“Oh aku hanya sekedar lewat saja. Ngomong-ngomong apa kalian ada yang ingin berduel denganku?” Tanya sosok misterius sambil menunjukkan skill deck miliknya.


“Kalian bebas melakukan apapun denganku, atau jika kalian ingin mengambil monster milikku juga tidak apa-apa. Monsterku Mark 2, cukup hebat bukan?” Jawab sosok misterius sambil menunjukkan kartu monsternya


Setelah sosok misterius itu menawarkan penawaran yang menggoda. Romi pun mengajak semuanya berunding, kemudian mereka memutuskan.


“Baik tapi kami berdelapan, kau akan melawan kami semua.” balas Romi memberi syarat.


Sosok misterius itu pun hanya tersenyum. Dia sudah tahu dan menduganya.


“Baiklah, dengan senang hati aku terima.” Sosok misterius mempersiapkan diri.


Romi dan gerombolannya hanya tertawa saat mendengar jawaban perempuan asing itu. Mereka hanya berpikir telah mendapatkan mangsa seorang perempuan.


“Haha kapan lagi kita akan bersenang-senang dengan perempuan. Kita harus menang, setelah itu kita nikmati dia.” Kata Romi.


“Baiklah. Battlefield, In.” Sosok misterius memasuki Battlefield


“Battlefield, In.” Mereka berdelapan mengikuti.


Setelah memasuki Battlefield, sosok misterius menjatuhkan sebuah kunci beraura kegelapan ke bawah. Kunci itu kemudian menghilang ketika memasuki tanah.


“Apa kalian sudah siap?” Tanya sosok misterius.


“Tentu saja, kami akan mulai.” Jawab Romi.


Mereka berdelapan memanggil monster mereka semua. Delapan monster sudah siap di arena untuk melawan sang sosok misterius.


“Keluarlah monsterku.” Sosok misterius memanggil monsternya.


Tanpa menggunakan kalimat pemanggil, monster milik sosok misterius tiba-tiba sudah muncul di arena. Monster itu dikelilingi oleh kabut hitam dan tidak memperlihatkan wujud aslinya. Tidak hanya orangnya, monsternya pun sangat misterius.


“Aku akan mulai. Aku hanya akan menggunakan 2 skill saja. Sisanya terserah kalian, jika bisa kalahkan aku.” Sosok misterius mengeluarkan 2 kartu dari skill decknya.


“Kau terlalu meremehkan kami, serang.” Romi termakan ucapan sosok misterius.


Mereka berdelapan menyerang sosok misterius seperti saat mereka menyerang Tio. Mereka akan mengulang kemenangan licik mereka.


“Hmph..” Sosok misterius tersenyum mengejek.


Sosok misterius mengaktifkan 2 skill yang dipegangnya secara bersamaan. Itu adalah serangan Dual skill. Serangan itu terjadi jika ada 2 skill yang saling mendukung satu sama lain dan parahnya 2 skill itu adalah skill ultimate.


Kekuatan besar langsung menghantam para monster milik mereka berdelapan, dan juga mereka semua terlempar ke belakang dan mengerang kesakitan. Mereka semua babak belur ketika diterjang kekuatan dari monster sang sosok misterius.


“Benar-benar monster, siapa kau sebenarnya.” Tanya Romi yang mengalami luka.


“Siapa aku itu tidaklah penting. Yang terpenting kalian merasakan sakit juga pada akhirnya.” Jawab sosok misterius.


Romi dan gerombolannya harus segera kabur dari Battlefield. Mereka sudah kalah, mereka harus melarikan diri.


“Ayo kita keluar dari sini!” Ajak salah satu anak.


“Battlefield, Out.” Ucap mereka semua.


Akan tetapi tidak ada yang terjadi, skill deck milik mereka tidak merespon.


“Ada apa ini?” Romi panik.


Sosok misterius maju mendekati mereka semua. Dia menjelaskan kepada mereka dengan senyuman jahatnya.


“Kalian tidak akan pernah bisa kembali lagi, tempat kalian bukanlah di dunia manusia lagi.” Sosok misterius melempar sebuah kartu beraura kegelapan dan mendarat di depan kedelapan orang itu.


Kemudian sebuah portal kegelapan muncul dan menyeret mereka berdelapan masuk ke dalamnya. Para pembully itu hanya bisa berteriak minta tolong dan berakhir menghilang bersama dengan portal kegelapan itu.


“Jadi dia orangnya. Lebih baik aku amati lagi perkembangannya.” Ucap sosok misterius itu.


Sosok misterius mengambil kunci yang dia jatuhkan dan juga kartu yang dia lempar.


“Meskipun kunci dan kartu ini belum sempurna, akhirnya percobaanku berhasil. Sebentar lagi aku akan mengirim kalian ke dalam dimensi Graveyard.” Lanjut sosok misterius.


Sosok misterius itu keluar dari Battlefield dengan menghilang ditelan Aura kegelapan.