HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 160: Rumah Aria



“Lepaskan sepatumu!” Aku menyuruh Aria melepaskan sepatunya


Dia mendengarkan, Aria kemudian melepaskan sepatu tingginya itu. Aku melihat luka bengkak di kaki Aria, untung terkilirnya tidak parah jadi Aria masih bisa berjalan. Tapi itu menurutku, aku langsung memastikan kepada Aria untuk lebih pastinya.


“Kamu masih bisa berjalan sampai rumah?” Aku memastikan.


“Hmm.. Sepertinya masih bisa.” Jawab Aria sambil memutar-mutar telapak kakinya.


Tidak terlihat kesakitan ketika Aria memainkan telapak kakinya, berarti memang benar lukanya tidak parah. Jadi aku tidak perlu repot-repot jika harus menggendong dia sampai ke rumahnya jika lukanya parah.


“Kalau begitu kamu tidak udah pakai sepatumu lagi.” Lanjutku.


Sepatu setinggi itu hanya akan memperparah luka terkilirnya, jadi Aria tidak usah lagi memakainya untuk saat ini. itu semua juga demi kebaikannya, lagipula kenapa harus memakai sepatu seperti itu jika mereka berjalan-jalan di kota seharian seperti tadi. Bikin repot saja!


“Lah terus aku pakai apa? Masak aku tidak pakai alas kaki sampai rumah nanti, kakiku bisa kotor semua.” Keluh Aria.


Ya wajar saja jika Aria protes begitu. Aku membuka kantong plastik belanjaanku. Kebetulan aku tadi membeli sandal jepit baru di minimarket yang membuat aku sekarang harus memakai sepatu untuk sekarang. Jarang-jarang aku mau pakai sepatu kalau keluar rumah, itu semua karena terpaksa akan kelalaianku kemarin.


Aku kemudian mengeluarkan sandal yang aku beli dan membuka bungkusnya. Aku lalu meletakkan sepasang sandal itu di tanah di depan Aria. Aku tidak tega juga dia tidak memakai alas kaki untuk pulang ke rumah.


“Nih pakai sandal, kebetulan aku beli.” Ucapku.


“Su-sudah tidak usah repot-repot, aku tidak apa-apa pakai sepatu lagi!” Aria menolak.


“Jika kamu memaksakan diri, besok bisa-bisa kamu tidak berangkat sekolah lho!” Aku menakut-nakuti Aria.


Wajah Aria berubah menjadi kebingungan. Aku sangat yakin jika sebenarnya dia juga sadar akan bahaya memakai sepatu itu lagi di kondisi kakinya yang seperti itu. Aku masih menunggu keputusan Aria.


“Tidak mau, aku besok harus berangkat pokoknya!” Protes Aria.


“Ya,sudah kalau begitu pakai itu sekarang!” Suruhku.


Aria terdiam sesaat, hanya untuk memakai sandal saja dia terlihat seperti sangat memikirkannya. Namun pada akhirnya dia menyerah juga dan mau memakainya.


“Mau bagaimana lagi, nanti aku ganti.” Aria menyerah.


“Tidak usah, pakai saja.” Balasku.


Aria memakai sandal yang aku beri. Dia berdiri lalu menyesuaikan kakinya di sandal yang dia pakai. Ternyata ukuran sandalku tidak berbeda jauh dengan kaki Aria, sandal itu hanya lebih besar sedikit dari kakinya. Setelah nyaman dengan sandal itu, Aria menenteng sepatunya lalu kami lanjut berjalan.


"Ayo kita lanjut berjalan, keburu hari semakin malam!" Ajak Aria.


"Ayo, kamu depan!" Suruhku lagi.


Hari sekarang sudah malam dan jam menunjukkan pukul 7 malam saat aku melihat smartphoneku. Untung aku sudah mandi tadi, kalau belum mau jadi apa aku sekarang yang posisinya sedang mengantar seorang gadis pulang bisa-bisa aku akan malu setengah mati jika aku belum mandi.


Aku mengabari ibu lewat pesan kalau aku agak telat pulangnya agar ibu tidak khawatir, karena memang ibu juga belum meneleponku saat ini. Jadi lebih baik aku mengantisipasi sebelum aku malu nanti ditelepon ibu ketika mengantar seorang gadis.


Setelah cukup lama aku dan Aria berjalan akhirnya kami tiba di depan rumah Aria. Dia senang telah sampai di rumah dan juga kakinya tidak apa-apa, hanya memar kecil. Aria membunyikan bel yang ada di depan pagar rumah untuk memanggil kakaknya untuk membukakan pintu.


"Rumahmu besar juga!" Aku terkagum dengan rumah Aria.


"Heh..!" Aku terkejut.


Rumah Aria tidak begitu besar karena memang rumah ini hanyalah rumah singgah orang tuanya saat bekerja dan sekarang dijadikan rumah untuk tinggal Aria dan kakaknya saat bersekolah di sini, itu yang dijelaskan Aria padaku. Yang aku tidak habis pikir adalah rumah yang cukup mewah ini adalah rumah singgah milik orangtua Aria, aku jadi penasaran dengan rumah Aria yang sebenarnya.


Sesaat setelah itu, Airi keluar lalu membuka pintu rumah namun belum membuka pintu pagar, karena pagar dan rumah jaraknya tidak terlalu jauh. Ketika Airi membuka pintu, dia dikejutkan oleh adiknya.


“Sudah pulang kamu Ari..” Airi terhenti bicara.


Airi malah bengong saat melihatku dengan Aria di depan pagar. Dia kemudian bersandar di tembok lalu mulai menggoda Aria.


“Wah ternyata Aria sudah berani membawa laki-laki ke rumah ya!” Goda Airi.


“Ihh kakak, aku hanya meminta Tio mengantarkan pulang. Luna tadi disuruh pulang ibunya jadi kakak jangan berpikir yang aneh-aneh.” Balas Aria sedikit kesal.


“Hehe maaf, maaf.” Airi mendekat ke pagar.


Airi membuka pintu pagar agar Aria bisa masuk rumah. Namun malah Airi memaksaku untuk mampir ke dalam sebelum aku pulang.


“Hmm.. Mumpung sampai sini bagaimana kalau mampir dulu?” Tanya Airi padaku.


“Haaaahhh..!” Aria terkejut.


“Anu.. Tidak usah Airi, aku juga harus pulang.” Jawabku menolak.


Pandangan Airi langsung terlihat datar ketika aku menjawabnya. Tanpa basa-basi lagi tanganku dipegang olehnya dengan erat dan langsung menarikku.


“Sudah ayo masuk!” Airi menarikku ke dalam rumah.


“Kakak, tunggu!” Teriak Aria.


Sekarang giliran Aria yang menutup pintu gerbang karena Airi sudah masuk duluan sambil membawaku ke dalam rumah. Sekarang mau tidak mau aku harus mengikuti keinginan Airi. Namun masuk ke dalam rumah gadis aku baru ini mengalaminya, aku mau di apakan di sini? Jujur aku sedikit merasa takut dengan apa yang akan terjadi nanti. Aku kemudian masuk lalu disuruh Airi untuk duduk di ruang tamu.


“Kakak main tarik-tarik saja!” Protes Aria sesampainya di ruang tamu.


“Habisnya tamu kita menolak untuk mampir sih!” Balas Airi.


“Tapi bukan begitu juga caranya kak, kan bisa baik-baik.” Lanjut Aria.


Aria benar, ini sudah bisa dikategorikan sebagai pemaksaan. Padahal tugasku untuk mengantar Aria pulang sudah selesai dan sekarang malah aku ditahan di rumahnya.


“Oke deh, Tio aku tanya lagi ya! Kamu mau mampir ke rumah kami?” Tanya Airi.


“Sudah telat, aku kan sudah masuk rumah!” Balasku datar.


Selera humor Airi sangatlah tinggi. Bisa-bisanya aku yang sudah dia masukkan ke dalam rumah masih ditanya mau mampir atau tidak? Benar-benar hebat kakak Aria ini memang, pantas saja Aria sering kesal kepada Airi. Aku bisa merasakan itu sekarang.


“Tuh kan dia tidak keberatan!” Ucap Airi ke Aria.


“Iya lah, kakak sudah membawa masuk dia sih.” Jawab Aria dengan datar juga.