HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 110: Tidak Terbukti



“Sudah mengaku saja kak, soalnya aku melihat wajahmu tadi. Lalu di mana hoodie yang kamu kenakan tadi?” Tuduh Andreas.


“Hoodie apa lagi Andreas? Aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang kamu bicarakan.” Airi menjadi kebingungan.


Melihat kak Airi yang dituduh yang tidak-tidak oleh Andreas, Rin sedikit tidak terima karenanya. Kak Airi selalu ada di lapangan tenis dan tidak pergi kemanapun sedari tadi. Rin pun maju untuk membela kak Airi.


“Sebentar kak Andreas, apa yang kamu pikirkan sebenarnya? Dari tadi Airi ada di sini dan melatih aku dan Kana. Dia tidak pergi kemanapun, bahkan untuk ke toilet. Kak Airi sama sekali tidak berpindah tempat dari tadi. Lalu tiba-tiba kamu datang dan menuduh kak Airi ke Battlefield? Itu sangat lucu kak Andreas.” Rin membela Airi.


“Apa katamu?” Andreas terbawa emosi.


Andreas terprovokasi kata-kata Rin, dia menjadi emosi. Semua monster lalu keluar menjadi bentuk fairy termasuk Lancer yang kemudian bergegas menenangkan Andreas.


“Tunggu Andreas, sepertinya gadis ini benar. Aku sama sekali tidak merasakan hawa monster apapun darinya, benar kan Phoenix?” Tanya Lancer pada Phoenix.


“Lancer benar, aku sama sekali tidak merasakan apapun dari gadis ini.” Jawab Phoenix.


Lancer dan Phoenix bilang jika tidak ada hawa monster apapun dari Airi. Jika monster saja tidak ada, maka kemungkinan untuk pecahan dewa juga sangat tidak mungkin. Andreas kemudian sedikit menenangkan dirinya, dia merasa terlalu banyak keanehan yang terjadi. Andreas sangat yakin yang dilihatnya adalah Airi, namun saat menemuinya tidak ditemukan apapun.


“Ini benar-benar aneh.” Andreas kesal.


Saat keenam monster keluar menjadi bentuk fairy, tiba-tiba ada monster lain yang bisa berubah menjadi bentuk fairy, yaitu monster milik Rin dan Kana.


“Salam bertemu para monster pilihan.” Sapa Sirena


“Kami tidak menyangka bertemu kalian di sini.” sahut Butterfly


Sirena dan Butterfly muncul. Sirena adalah monster milik Rin, dia berbentuk duyung beratribut Water. Sedangkan Butterfly adalah monster milik Kana, dia berbentuk peri kupu-kupu beratribut Wind.


Setelah aku melihat ada monster lain yang bisa berbicara, dalam hati aku menjadi kecewa lagi. Ternyata selain enam monster ini, bahkan dua gadis itu lebih beruntung daripada aku. Tetapi kali ini aku masih bisa menerima, aku menganggapnya seperti hal biasa untuk saat ini. Aku pun harus memikirkan diriku sendiri. Aku harus kuat dengan monsterku ini.


“Oii Sirena, sudah aku bilang bukan untuk jangan keluar sesukanya. Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian karenamu.” Keluh Rin.


“Sudah Rin, justru bagus mereka keluar sekarang. Jika kalian masih tidak percaya dengan apa yang kami katakan, silahkan tanya dengan monster milik kami. Aku yakin dia tidak akan berbohong.” Ucap Kana pada kami.


Sirena dan Butterfly keluar untuk membela partnernya dalam menjelaskan keadaan kepada keenam monster pilihan itu. Phoenix pun tanpa ragu menanyakan semuanya kepada kedua monster itu.


“Benarkah itu Sirena dan Butterfly? Apakah gadis ini tidak pergi dari sini sama sekali?” Tanya Phoenix kepada Sirena dan Butterfly.


Phoenix ingin memastikan jika gadis yang bernama Airi pernah meninggalkan tempat itu dalam waktu dekat atau tidak. Semua itu sangat dibutuhkan untuk menguak siapa musuh sebenarnya.


“Benar apa yang mereka utarakan, gadis ini dari tadi hanya di sini sambil melatih partner kami.” Jawab Sirena.


“Kami pun berani bersaksi atas itu, kami juga tidak merasakan apapun di gadis ini. Gadis ini memang tidak memiliki partner.” Lanjut Butterfly.


Keterangan dari sumber yang sangat dipercaya sudah didapat. Kedua monster itu tidak mungkin berbohong dan berarti benar jika bukan Airi pelakunya. Namun tetap saja Andreas bersikeras menuduh Airi dan tidak mempercayai kesaksian kedua monster itu.


“Tapi aku masih belum percaya.” Ucap Andreas.


“Apa lagi yang ingin kamu ketahui Andreas? Bahkan beberapa pihak sudah bilang jika kakak tidak bersalah, kamu mau apalagi?” Aria sedikit kesal kepada Andreas.


Andreas kemudian memiliki rencana untuk menginterogasi Airi lebih dalam. Jika dalam interogasi ini Airi tetap tidak terbukti memiliki monster, maka Andreas akan langsung menerimanya.


“Kak Airi, boleh ikut kami sebentar ke ruang OSIS?” Andreas


“Baik, aku tidak masalah.” Jawab Airi.


“Ambil tas serta semua barang yang kamu bawa hari ini. Jika memang tidak ada apapun, aku akan minta maaf nanti.” Lanjut Andreas.


Airi menurut, dia meninggalkan lapangan tenis dengan dikawal oleh anggota OSIS. Para anggota klub tenis pun sedikit gaduh dan bertanya-tanya dengan apa yang barusan terjadi.


"Entah, mereka kelihatan serius."


"Belum pernah aku melihat ketua OSIS seserius tadi."


"Semoga tidak ada apa-apa di antara Airi dan para OSIS."


Para anggota klub tenis terhenti berlatih karena kejadian barusan. Mereka saling membahas dan mengira-ngira apa yang sebenarnya terjadi tadi. Rin hanya bisa melihat kak Airi yang dibawa para OSIS. Rin pun hanya berharap kak Airi tidak apa-apa.


"Apa yang kalian lakukan? Lanjutkan latihannya." Teriak Rin


Anggota klub tenis yang lain langsung terkejut mendengar teriakkan Rin. Mereka semua kembali melanjutkan latihan mereka masing-masing.


Kami menuju ruang klub tenis untuk mengambil tas dan seragam sekolah milik Airi. Kami memastikan tidak ada yang tertinggal, serta tidak lupa memeriksa seluruh ruangan. Airi diawasi penuh dan dia terlihat hanya diam saja.


"Sudah semua?" Andreas memastikan.


"Barang bawaan Airi sudah semua." Jawab Astrid.


"Ruangan juga tidak ada lagi yang mencurigakan." Sahut Ryan.


"Baiklah, kita berpindah ke ruang OSIS." Instruksi Andreas.


Setelah tidak ditemukan apapun di ruang klub, kami berpindah ke ruang OSIS. Kami berjalan lagi menuju ruang OSIS seperti tadi, kami mengawasi Airi. Tidak ada gerak mencurigakan darinya. Setelah kami sampai di ruang OSIS dimulailah penggeledahan.


“Geledah apa yang dibawa Airi hari ini.” Suruh Andreas


Karena Airi adalah seorang gadis, jadi yang bertugas menggeledah barang bawaan Airi adalah para gadis. Kami para laki-laki hanya mengawasi saja.


“Nihil.” Ucap Luna setelah memeriksa semua barang bawaan.


“Kami tidak menemukan skill deck ataupun kartu monster apapun.” Lanjut Astrid.


“Kalau begitu ini yang terakhir. Kami berempat akan keluar dari ruangan, periksa badan Airi.” Lanjut Andreas.


Andreas pun menyuruh para gadis untuk memeriksa Airi. Bisa jadi dia menyembunyikan sesuatu di badannya. Airi harus diperiksa secara menyeluruh kali ini.


“Tapi..” Aria terhenti bicara.


“Ayo keluar, aku menyerahkan kepada kalian bertiga.” Andreas sambil mengajak para laki-laki keluar.


Aria tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya tertunduk lesu setelah Andreas mengajak semua keluar dari ruangan. Kami para laki-laki kemudian menutup pintu dengan rapat dan berdiri di depan pintu sambil menghadap ke halaman sekolah.


“Maafkan kami kak, kami juga ingin membuktikan jika kakak tidak bersalah.” Aria mulai memeriksa kakaknya.


“Tidak apa-apa Aria, aku juga tidak ingin dituduh seperti ini oleh Andreas. Jadi silahkan periksa aku." Balas Airi.


Para gadis mulai memeriksa badan Airi. Setelah memeriksa, hal yang melegakan adalah Airi benar tidak bersalah. Tidak ditemukan apapun pada Airi bahkan setelah para gadis memeriksanya. Luna pun keluar menghampiri para laki-laki.


“Hoi kalian!” Luna membuka pintu dan memanggil kami semua.


“Bagaimana?” Tanya Andreas.


“Nihil.. Airi tidak bersalah.” Jawab Luna.


“Astaga.. Baiklah aku akan meminta maaf padanya." lanjut Andreas.