
Siang itu di waktu istirahat, Kevin didatangi oleh dua orang gadis saat berada di kelas. Salah satu dari gadis itu terlihat mengajak Kevin bicara.
“Kevin, ada waktu?” Panggil Rin.
“Ada apa kalian berdua?” Tanya Kevin.
“Kami ada perlu tentang klub.” Jawab Kana.
Rin dan Kana adalah teman sekelas Kevin, mereka berdua ikut dalam klub tenis. Karena mereka sedang memerlukan sesuatu, lantas mereka mendatangi Kevin yang di mana memegang bagian itu di OSIS.
“Lalu apa yang kalian perlukan?” Lanjut Kevin.
Rin disuruh untuk menyampaikan kepada Kevin jika beberapa peralatan klub ada yang rusak dan juga ada beberapa yang sudah usang. Jadi Rin diminta untuk mengajukan peralatan baru.
“Peralatan klub semakin menipis dan usang. Kami memerlukan raket baru dan persediaan bola.” Jawab Rin.
“Hmm.. Kalau begitu mana surat pengajuannya?” tanya Kevin lagi.
Kevin meminta surat pengajuan peralatan baru. Biasanya ketua klub langsung menyerahkan surat itu ke Kevin dan sekarang Rin datang meminta peralatan baru tanpa memberikan Kevin surat pengajuannya.
“Hah?.. Surat apa itu?” Rin bingung.
“Ya daftar yang diperlukan klub tenis. Berapa banyak dan apa saja yang kalian butuhkan. Tanpa surat pengajuan, aku tidak bisa menurunkan alat baru untuk klub kalian. Kepala sekolah juga harus tahu, sehingga bisa menentukan budget untuk klub kalian.” Jelas Kevin.
Kevin memberi tahu Rin kegunaan surat pengajuan dan ternyata Rin bahkan tidak mengetahui itu surat apa? Dia hanya disuruh bilang ke Kevin.
“Oh begitu rupanya!” Rin mulai mengerti.
“Lalu mana suratnya?” Kevin meminta surat pengajuannya.
“Itu.. Anu..” Rin tambah kebingungan.
Rin malah terlihat kebingungan, di sini Kevin mulai merasa aneh. Biasanya kak Airi yang datang langsung ke Kevin mengajukan peralatan baru karena kak Airi adalah ketua dari klub OSIS.
“Memangnya kak Airi kemana? Biasanya dia yang mencariku jika ada urusan soal klub tenis.” Tanya Kevin.
Kana menggelengkan kepalanya melihat Rin yang sedang kebingungan. Kana kemudian menghela nafas dan berbicara kepada Kevin.
“Sebenarnya jabatan ketua klub tenis sudah dipindahkan kepada Rin!” Kana memberi tahu Kevin.
“Loh kenapa? Ada apa dengan kak Airi?” Kevin sedikit kaget.
Kevin mendapatkan sebuah berita yang sedikit mengejutkan. Secara tiba-tiba jabatan ketua klub tenis dipindahkan kepada Rin. Ini benar-benar di luar dugaan.
“Kak Airi kan sudah kelas 3. Dia bilang sebentar lagi akan vakum dari klub. Dia ingin fokus belajar untuk ujian. Jadi kemarin kak Airi menunjuk Rin sebagai ketua klub yang baru.” Jelas Kana.
Kana menjelaskan situasi di klub OSIS kepada Kevin. Namun di sini, Rin masih saja belum menerima jika dia yang jadi ketua. Rin tidak menginginkan posisi itu di klub.
“Padahal aku sudah tidak mau. Tetap saja aku dipilih!” Gerutu Rin.
“Ya mau bagaimana lagi, permainanmu paling bagus di antara yang lain. Jelas kak Airi memilihmu!” Balas Kana.
Kevin akhirnya mengerti, memang ketika kelas 3 semuanya akan keluar dari klub masing-masing. Itu juga berlaku di OSIS, jadi sewaktu kelas 3 lulus maka OSIS tidak perlu lagi mencari pengganti dari masing-masing jabatan di OSIS. Kemudian Kevin membuka tasnya dan mengeluarkan selembar kertas.
“Ini surat pengajuan. Segera isi sebelum jumat jika ingin minggu depan alat itu sudah tersedia!” Kevin menyodorkan selembar surat.
Rin menerima surat itu lalu sedikit mengamati suratnya. Saat dia melihatnya yang ada hanyalah kolom kosong.
“Isi surat ini hanya kolom yang kosong!” Sahut Rin.
“Ya diisi lah jika ingin ada isinya!” Kevin kesal.
Kevin menjadi kesal dengan betapa polosnya jawaban Rin. Ya iya lah suratnya kosong maka itu harus diisi sendiri dengan barang yang dibutuhkan klub.
“Tapi aku tidak tahu harus menulis apa?” Rin memasang wajah sedih.
Kevin meninggalkan Rin dan Kana, dia lapar ingin makan di kantin. Sementara itu, Rin masih kebingungan dengan apa yang harus dia lakukan.
“Bagaimana ini?” Rin semakin bingung.
“Ya sudah, ayo kita cari kak Airi saja!” Ajak Kana.
Mereka berdua melanjutkan dengan mencari kak Airi. Mereka berputar mengelilingi sekolah berharap menemukan kak Airi. Karena ini waktu istirahat, jadi mereka berdua tidak tahu posisi kak Airi ada di mana?
Kemudian di lorong kelas 2, mereka menemukan seorang gadis yang mirip dengan kak Airi. Rin dan Kana malah bertemu dengan Aria.
“Kak Ai.. Loh kak Airi kok rambutnya panjang?” Rin heran.
“Benar kenapa bisa begitu ya?” Tambah Kana.
Aria menoleh ke arah kedua gadis yang memanggilnya. Dia sedikit kebingungan karena tidak mengenal mereka berdua dan tiba-tiba memanggilnya.
“Anu.. Kalian siapa ya?” Tanya Aria.
“Kejamnya kakak tidak mengenali kami!” Rin sedih.
Aria kemudian menghela nafas dan memberi tahu mereka berdua yang sebenarnya. Mungkin mereka telah salah sangka terhadapnya.
“Maafkan aku, tapi mungkin kalian salah orang. Aku Aria, adik kembar dari kak Airi.” Aria memberi tahu mereka berdua.
“Wah pantas saja sangat mirip, ternyata kalian kembar!” Kana kagum.
Ternyata benar jika kedua gadis itu salah mengira Aria itu adalah Airi. Kemudian Aria menanyakan kepada kedua gadis itu apakah mereka sedang mencari kakaknya.
“Kalian mencari kak Airi?” Tanya Aria.
“Iya kak Aria, kami ada perlu soalnya.” Jawab Kana.
“Baiklah kalau begitu, ayo aku antar!” Ajak Aria.
Aria mulai berjalan, Rin dan Kana lalu mengikutinya. Beberapa saat setelah mereka berjalan, Rin kembali mengajak Aria mengobrol.
“Memangnya kak Aria tahu di mana kak Airi sekarang?” Tanya Rin.
“Tahu lah! Karena kami membawa bekal pagi ini, kak Airi pasti ada di kelasnya!” Jawab Aria.
“Benarkah?” Rin sedikit tidak percaya.
“Iya, karena jika kami tidak membawa bekal pasti kak Airi mengajakku ke kantin. Dia jarang sekali ke kantin sendirian atau bersama temannya.” Jelas Aria.
Rin dan Kana akhirnya mengerti tentang seluk beluk kak Airi setelah dijelaskan oleh Aria. Ternyata kedua kakak itu lebih senang membawa bekal sendiri dan memakannya di kelas. Bagi Kana itu adalah hal bagus karena kita tidak perlu keluar kelas untuk berjalan dan mengantri di kantin.
“Ohh jadi begitu! Tapi ada satu hal yang aku heran lagi kak Aria!” Lanjut Kana.
“Apa itu?” Tanya Aria.
“Kenapa aku jarang sekali melihat kak Aria? Bahkan baru kali ini aku melihat kakak sampai-sampai aku salah orang.” Kana penasaran.
“Ohh karena aku orangnya tidak seaktif kak Airi. Kami juga berbeda klub. Aku dulunya ikut klub sastra, jadi aku lebih sering di perpustakaan. Lagipula sekarang aku adalah anggota OSIS, maka dari itu di waktu istirahat aku jarang terlihat. Aku sudah keluar klub lalu fokus di kegiatan OSIS.” Jelas Aria.
“Wah hebat, kakak anggota OSIS juga rupanya!” Balas Kana yang kagum dengan Aria.
“Iya, aku sekretaris di OSIS.” Lanjut Aria.
Kemudian mereka bertiga sampai di depan kelas Airi. Aria telah mengantar kedua gadis itu ke tujuan yang benar kali ini.
“Nah kita sudah sampai!” Ucap Aria.