
“Aku pulang." Ucap Luna.
Luna sampai di rumahnya. Dia membuka pintu dan mengucap salam. Luna segera naik ke lantai 2 rumahnya. Dia kesal dengan sikap Tio tadi. Dia segera masuk ke kamarnya, Luna mulai mengomel sendiri di depan cermin.
“Apa sih maksudnya dia tadi? Padahal aku hanya ingin berteman dengannya, setidaknya jadi teman pertama untuknya. Aku tidak tega dengan keadaan dirinya sekarang." Ucap Luna kesal di depan cermin.
Luna tidak tahu apa yang akan dia lakukan besok. Mengingat tadi, Tio menyuruh Luna untuk tidak mendekatinya. Luna sudah buntu, kemudian ibu Luna memanggilnya.
“Luna, air hangat untuk mandi sudah siap. Segera mandi dan bantu ibu menyiapkan makan malam, ayah sebentar lagi pulang." Panggil ibu Luna.
Luna melihat ke arah jam dinding di kamarnya. Ternyata sudah hampir malam, dia masih memiliki tugas memasak untuk makan malam. Luna mengambil handuk lalu keluar dari kamar.
“Baik bu." Luna menjawab
Luna segera bergegas mandi. Setelah selesai, dia lalu pergi ke dapur untuk membantu ibunya memasak. Luna melihat ibunya sedang memotong sayuran, dia bergegas mengambil peralatan memasak karena memang dia dilatih oleh ibunya agar menjadi seorang gadis yang pandai memasak. Saat di dapur, Luna teringat dengan kekesalannya tadi. Dia bertanya pada ibunya.
“Bu." Panggil Luna.
“Ya, ada apa Luna?" Jawab ibunya.
“Bagaimana cara mendekati seseorang laki-laki tapi sikap orang itu sangat dingin?” Tanya Luna.
Ibu Luna berhenti memotong sayuran. Beliau sedikit terkejut dengan pertanyaan Luna ini. Ibu Luna sadar pada akhirnya Luna juga akan menjadi seorang gadis dewasa nantinya, ketertarikan akan lawan jenispun akan jadi hal yang sudah biasa.
“Ah anak ibu sudah besar ternyata. Apa kamu sedang naksir seseorang nak?" Goda ibunya.
Wajah Luna memerah. Dengan cepat dia membantah pertanyaan ibunya itu.
“Ti-tidak ibu, aku serius kali ini. Jangan bercanda dulu." Teriak spontan Luna.
“Lalu, untuk apa kamu bertanya begitu jika tidak tertarik pada seseorang?” Balas ibunya.
Luna menjadi kebingungan. Harus darimana dia menjelaskan kepada ibunya tentang Tio. Dia sudah berjanji untuk tidak bercerita kepada siapapun.
“Anu, anu..” Luna bingung.
Melihat Luna yang kebingungan, ibu Luna tersenyum sendiri. Beliau malah menggoda Luna lagi.
“Benarkan, anak ibu sudah besar." Canda ibunya lagi.
“Bukan ibu. Aku sedang tidak tertarik dengan siapapun saat ini." Balas Luna cemberut.
Sebagai perempuan, ibu Luna kemudian memahami Luna. Luna tidak berbohong, raut wajahnya tidak menunjukkan orang yang sedang kasmaran melainkan Luna hanya sedang kebingungan akan sesuatu.
“Lalu kenapa?” Tanya ibunya penasaran.
Ibu Luna melanjutkan memberikan bahan makanan yang sudah dipotong kepada Luna. Luna juga sudah siap dengan semua bumbu-bumbunya. Luna mulai memasak sambil menjawab pertanyaan ibunya.
Srengg.. (Suara memasak)
“Hmm begitu rupanya. Ibu kira kamu naksir seseorang." Ibu Luna masih menggodanya.
Ibu Luna akhirnya menemukan kebingungan anaknya itu. Namun pada akhirnya mereka bermain rahasia-rahasiaan juga. Ibu Luna tidak berhenti menggoda Luna.
“Ibu... Serius ini!" Luna kesal.
Ibu Luna tertawa melihat kelakuan Luna saat ini. Entah apa yang sedang Luna cari dari seseorang yang sedang dekat dengannya. Sesekali ibu Luna juga ingin bercanda dengan Luna mengenai anak laki-laki.
“Maaf, maaf. Soalnya sudah lama ibu tidak mendengar kamu bicara tentang laki-laki, bahkan sepertinya ini baru pertama kalinya kamu bertanya hal itu pada ibu. Jadi ibu tidak tahan menggodamu." Balas ibu Luna.
“Lalu apa saran ibu?” Tanya Luna.
Luna meminta saran pada ibunya sambil menatap ke arah masakan yang sedang dia masak. Luna harus mengatasi kegelisahan tentang apa yang sedang dia rasakan saat ini.
“Jangan buat dia terganggu nak. Karena jika dia sudah terganggu nantinya dia akan pergi menjauhimu." Jawab ibunya.
Ibu Luna berpindah ke tempat cuci piring, beliau mencuci peralatan yang baru saja digunakan untuk menyiapkan masakan. Mendengar ucapan ibunya, Luna langsung menoleh ke belakang.
“Tapi aku ingin sekali berteman dengannya. Kasihan dia selalu sendirian di pojok kelas dan tidak memiliki teman. Tempat duduknya berada di sampingku, lebih tepatnya selama satu tahun ini dia menjadi teman samping tempat dudukku." Luna mengeluarkan unek-uneknya.
“Ada yang perlu kamu ingat nak. Jangan karena kamu kasihan dengan keadaannya lalu kamu ingin berteman dengannya. Ibu yakin dia pasti akan membencimu saat mengetahuinya dan malah akan menjauhimu sejauh-jauhnya. Itu akan menjadi kesalahan besar untukmu." Nasihat ibu Luna.
Luna kembali fokus memasak. Dia masih belum mendapatkan jawaban dari kegelisahannya itu.
“Lalu, apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar bingung sekarang. Aku kesal saat pulang tadi dia bilang padaku agar aku jangan mendekatinya lagi besok apalagi mengajaknya bicara." Luna murung.
Ibu Luna menemukan bahan untuk menggoda Luna lagi. Diam-diam rupanya mereka sudah pulang sekolah berdua. Itu mengingatkan ibu Luna ke masa mudanya dulu. Ibu Luna tidak ingin anaknya murung, jadi....
“Aduh anak ibu habis kencan rupanya. Jadi ingat masa lalu, indah sekali rasanya pulang bersama orang yang disukai." Goda ibu Luna lagi.
“Ibuuuuuu... Aku lempar sutil nih." Luna bersiap melempar sutil yang dia pegang.
Luna kesal dan wajahnya memerah. Jujur dia sendiri bahkan belum mengetahui apa itu perasaan suka terhadap anak laki-laki. Sejak kelas 2 SMP sebenarnya sudah ada beberapa anak laki-laki yang menyatakan perasaan kepadanya. Luna selalu menolaknya dengan halus, dia juga menjawab jika dia bahkan belum merasakan apa itu cinta yang sesungguhnya.
“Maaf, maaf. Habisnya kapan lagi ibu mendengar hal seperti ini lagi. Anak ibu memang sudah besar sekarang. Saran dari ibu, jangan terlalu dekat dengannya untuk sementara. Sapa dia seperlunya dan jangan mencuri perhatian orang lain karena kamu terlalu dekat dengannya. Percaya atau tidak, pasti ada seseorang selain dia yang tertarik kepadamu, itu akan memperburuk keadaan. Selain itu, jika dia memiliki masalah dengan teman sekelasmu, lebih baik kamu jangan ikut campur masalah pribadinya. Kalau kamu terlalu dekat dengannya dan menarik perhatian orang lain maka itu akan menjadi masalah untuknya. Dekati dia seperlunya dan jika ada kesempatan untuk berteman jangan sia-siakan kesempatan itu." Saran ibu Luna.
Akhirnya, Luna mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Luna sangat senang, dia pun berterima kasih kepada ibunya.
“Baik bu, terima kasih atas sarannya. Aku sedikit lega mendengarnya." Luna tersenyum.
“Sama-sama." Ibunya mengelus rambut Luna.
Luna dan ibunya kembali melanjutkan memasak dan menyiapkan makan malam. Tak lama kemudian ayah Luna pulang dan mereka makan malam bersama. Makan malampun usai, Luna menonton televisi sebentar lalu kembali ke kamarnya untuk belajar. Luna belajar pelajaran besok dan juga memikirkan Tio, apa yang harus dia lakukan agar bisa berteman dengannya?
“Aku harus melakukan sesuatu besok." Ucap Luna dengan semangat.